NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Sandiwara Pasca-Sofa & Jarak yang Canggung

Detak jantung Riko serasa bertalu-talu di dinding dadanya, menciptakan gaung yang begitu bising di dalam ruang kerja yang mendadak terasa sempit itu. Di atas sofa kulit tersebut, tubuh Rani terasa begitu ringan namun sekaligus memberikan tekanan yang nyata di atas dadanya. Jarak di antara wajah mereka terangkas habis, menyisakan ruang begitu tipis hingga Riko bisa melihat pantulan bayangan dirinya sendiri di dalam manik mata Rani yang masih berkaca-kaca.

Aroma parfum cendana bercampur keharuman feminin yang manis dari tubuh Rani seolah mengunci seluruh indra penciuman Riko, membuatnya sempat lupa bagaimana cara membuang napas dengan benar.

Rani adalah yang pertama kali tersadar dari syok. Begitu menyadari posisi mereka yang teramat intim dan di luar batas koridor kontrak, sepasang mata indahnya melebar sempurna. Rona merah pekat langsung menjalar cepat dari leher hingga ke seluruh permukaan pipinya yang mulus.

Dengan gerakan panik, Rani mendorong dada bidang Riko menggunakan kedua telapak tangannya, berusaha menegakkan tubuhnya kembali. "M-mundur, Riko!" serunya dengan suara yang sedikit melengking akibat salah tingkah setengah mati.

Riko yang refleknya kembali pulih segera melepaskan lingkaran tangannya di pinggang ramping Rani, membiarkan wanita itu berdiri dengan canggung. Rani buru-buru merapikan jubah tidur sutra hitamnya yang sempat sedikit bergeser, memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan wajahnya yang kini sudah sewarna kepiting rebus.

Riko ikut bangkit dari sofa, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa hangat. "Kamu tidak apa-apa? Kakimu tidak terkilir?" tanya Riko, mencoba meredakan debaran gila di dadanya dengan memasang suara datar, meski monolog batinnya masih bergejolak hebat akibat sentuhan fisik tak terduga barusan.

"Aku tidak apa-apa!" jawab Rani ketus, menoleh sebentar lalu dengan cepat menyambar map cokelat lusuh yang tergeletak di lantai dekat kaki sofa. Dia memasukkan kembali berkas masa lalu itu ke dalam laci paling bawah meja kerjanya, menguncinya dengan rapat, lalu memasukkan anak kuncinya ke dalam saku jubah tidurnya.

Dinding es Rani kembali terpasang kokoh, seolah-olah air mata dan kerapuhan yang dia tunjukkan beberapa menit lalu hanyalah halusinasi Riko semata.

Rani berbalik menatap Riko, sorot matanya kembali menajam penuh keangkuhan seorang Alpha Woman, walau rona merah di pipinya belum sepenuhnya pudar. "Keluar dari ruanganku sekarang, Riko. Dan ingat aturan nomor satu, jangan pernah masuk ke sini lagi tanpa izinku. Apa yang kamu baca tadi... anggap saja kamu tidak pernah melihatnya."

Riko menatap Rani lekat-lekat. Rasa bersalah yang teramat besar kembali menghimpit ulu hatinya saat mengingat fakta bahwa Rani telah berkorban demi dirinya tiga tahun lalu. Namun, melihat bagaimana Rani kembali menarik jarak dan memasang pertahanan kokoh, Riko tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mendesak penjelasan lebih jauh. Gengsi wanita itu terlalu tinggi untuk mengakui pengorbanannya.

"Baiklah, aku keluar," ujar Riko pelan, suaranya merendah sarat akan rasa sesal. "Tapi Rani... tentang masa lalu... aku benar-benar minta maaf."

Tanpa menunggu jawaban dari Rani yang kini kembali terdiam mematung, Riko melangkah keluar dari ruang kerja tersebut, menutup pintu ganda kayu jati itu dengan pelan. Malam itu, di dalam kamar utama mereka, keheningan terasa jauh lebih pekat dan menjepit daripada malam-malam sebelumnya. Riko berbaring di atas sofa kulit sudut kamar, matanya menatap langit-langit dengan pikiran yang berkecamuk, sementara beberapa meter di seberangnya, Rani meringkuk di balik selimut tebalnya dengan debaran jantung yang tidak juga mau melambat.

Keesokan paginya, atmosfer canggung itu tidak kunjung mencair, melainkan bergeser menuju sebuah panggung yang jauh lebih besar dan berbahaya: Gala Dinner & Grand Opening kompleks bisnis terbaru di kawasan segitiga emas Jakarta.

Sebagai CEO wanita paling bersinar tahun ini, kehadiran Rani tentu saja menjadi magnet utama bagi para kuli tinta dan jurnalis bisnis nasional. Dan sesuai dengan kontrak yang telah mereka sepakati, Riko hari ini wajib hadir mendampinginya sebagai sosok "suami sah" yang baru saja dinikahinya.

Mobil sedan mewah milik Rani berhenti tepat di depan karpet merah yang membentang di lobi hotel bintang lima tempat acara berlangsung. Begitu pintu mobil dibukakan oleh petugas, suara jepretan kamera dan kilatan lampu flash jurnalis langsung menyambar secara bertubi-tubi bagai badai.

Rani turun terlebih dahulu, tampil memukau dan luar biasa anggun mengenakan gaun malam panjang berpotongan sabrina berwarna biru malam yang mempertegas bahu indahnya yang putih bersih. Rambutnya ditata ke atas dengan elegan, menyisakan aura tegas seorang ratu bisnis.

Riko menyusul turun dari pintu sebelah. Dia mengenakan setelan tuksedo hitam formal yang sangat pas membungkus tubuh tegapnya. Meski perusahaannya sedang di ambang batas, wibawa alami seorang Riko Pratama tidak pernah luntur. Wajahnya yang tegas dan garis rahangnya yang kokoh membuatnya tampak sangat serasi bersanding di samping Rani.

Begitu melangkah di atas karpet merah, puluhan mikrofon dari berbagai media nasional langsung disodorkan ke arah mereka. Pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan kilat mereka yang mendadak tanpa pesta resepsi langsung berondong diajukan.

"Ibu Rani! Apakah benar pernikahan Anda dengan Bapak Riko Pratama adalah taktik merger bisnis antara Rani Group dan Pratama Corp?!"

"Bapak Riko! Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor yang mengatakan bahwa perusahaan Anda sedang mengalami krisis keuangan dan Anda menikahi Ibu Rani demi suntikan dana?!"

Mendengar pertanyaan sensitif dari wartawan mengenai krisis finansialnya, rahang Riko sempat mengencang. Gengsinya kembali terusik di depan publik. Namun, sebelum dia sempat bereaksi, sebuah sentuhan lembut namun tegas mendarat di lengan kirinya.

Rani melingkarkan lengan indahnya ke siku Riko. Tidak hanya itu, wanita itu dengan sangat luwes mengaitkan jari-jemarinya ke sela-sela jari tangan Riko, menggenggamnya dengan erat di depan jepretan kamera yang kian menggila. Kontak fisik yang mendadak itu membuat Riko sedikit tersentak, namun dia langsung menoleh ke arah Rani.

Rani menatap ke arah kerumunan wartawan dengan senyuman paling manis, paling hangat, dan paling memukau yang pernah Riko lihat—sebuah akting kelas dewa yang sangat rapi.

"Pernikahan kami murni karena komitmen personal, bukan karena urusan korporasi atau merger," suara Rani terdengar sangat merdu dan penuh percaya diri di depan mikrofon. "Mengenai rumor finansial Pratama Corp, kurasa itu hanya bualan kompetitor yang tidak sehat. Suamiku, Riko, adalah seorang pria yang mandiri dengan visi bisnis yang luar biasa. Saya sangat menghormati dedikasinya, dan kami berdua memilih untuk fokus membangun masa depan bersama tanpa perlu pamer lewat pesta resepsi yang berlebihan."

Rani menoleh menatap Riko, matanya berkilat memberikan kode sandiwara, sementara senyum manisnya tetap terkembang di wajahnya. "Benar kan, Sayang?"

Riko menarik napas dalam-dalam, menekan semua rasa canggung dan gejolak asing di dadanya. Dia membalas genggaman erat jemari Rani, lalu tersenyum hangat menatap wajah istrinya di depan ratusan kilatan kamera media.

"Tentu saja, Sayang. Kebahagiaan kami tidak diukur dari seberapa megah pesta yang kami buat, melainkan dari bagaimana kami saling mendukung di balik layar," balas Riko dengan nada suara yang dalam dan penuh karisma, membuat para wartawan langsung sibuk mengambil foto kedekatan intim pasangan emas baru dunia bisnis tersebut.

Mereka terus berjalan melewati koridor karpet merah dengan tangan yang masih bertautan erat. Di permukaan, mereka tampak seperti sepasang suami istri baru yang sedang dimabuk cinta dan saling memuja. Namun di balik genggaman erat tangan mereka, baik Riko maupun Rani sama-sama tahu bahwa ada keringat dingin yang mengucur dan debaran jantung yang berpacu gila akibat sentuhan fisik yang terpaksa mereka lakukan demi menjaga topeng kontrak ini tetap utuh di depan dunia.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!