IG: ras_by.ar_
Fuxin (70 tahun), seorang Queen Mafia asal Tiongkok yang tidak begitu terkenal geng Mafia nya. Meninggal karena habis usia, tidak terima harus masuk neraka karena merasa dia tidak pernah berbuat kejam.
Maka Kakek langit memberinya sebuah misi untuk pergi ke dunia Beastman. Dengan misi harus menjaga dunia dari kepunahan, dia di bekal dengan sebuah sistem melahirkan banyak keturunan.
Siapa takut? Tidak tahu saja pekerjaan lainnya selain sebagai Queen Mafia Gadungan adalah sebagai Sugar Mommy.
"Banyak sekali laki-laki tampan yang Sixpack di sini?!"
"Kamu imut sekali! Bulu dan kuping nya sangat lembut!" -Fuxin.
"Kakak, aku belum dewasa!" Jantan yang belum dewasa dengan merona.
[ Tuan rumah tolong serius! Jangan mengoleksi suami terus, tidak tahu ya sedang misi? ]
"Kamu pikir aku sedang apa? Tentu saja membuat keturunan untuk misi!"
Sistem menghela napas, entah Kakek langit terlalu tepat memilih host atau emang perempuan ini agak eror...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Kerak Lumpur Sirna Sudah (ʘᴗʘ )
Fuxin melangkah keluar dari gua ayahnya, ekor kusutnya bergoyang lesu di belakang.
“Ya ampun, aku tidak sabar ingin mandi…” Gumamnya sambil menahan aroma dan lumpur lengket yang menempel di seluruh tubuhnya.
Rencana sederhananya, sungai terdekat, air jernih, mandi cepat, dan merapikan bulu agar lebih lumayan.
Namun baru lima langkah keluar dari gua, suara berat terdengar dari arah pepohonan.
“Fuxin…”
Fuxin berhenti. Dari balik bayangan pohon muncul Beastman rubah jantan—tinggi, berotot, ekor panjang, mata tajam, dan aura dingin yang membuat udara sekitar terasa tegang.
Fuxin mengenali sosok itu. Fulong, kakaknya.
Fuxin tersenyum, dia ingat meskipun Kakak nya dingin namun terkadang Kakak nya masih menunjukkan kepedulian. Namun karena pemilik tubuh sendiri yang suka bisu jika di ajak bicara oleh Kakak nya dan kadang menghindar, maka hubungan mereka pun renggang.
“Fulong kakak~” Fuxin melangkah maju, ekornya berkibar liar sembari tersenyum jelek, walaupun sebenarnya mencoba tampil cantik.
Fulong mengerutkan kening. Nada suaranya dingin seperti biasa, tapi ada garis kebingungan di matanya.
“Biasanya kau diam. Bahkan kalau diajak bicara, kau hanya menatap seperti orang bisu. Sekarang kau… Bicara lancar kepadaku, bahkan dengan nada seperti ini…”
Fuxin tersenyum lebar.
“Aku cuma ingin ngobrol, kakak. Lagipula, hari ini aku ingin ke sungai—mungkin sekalian merapikan bulu.”
Fulong menatap tubuh adiknya yang penuh lumpur, ekor yang acak-acakan, dan wajah yang… tetap berantakan tapi penuh percaya diri.
Fuxin mengedip, mencondongkan badan sedikit.
“Kakak, jangan khawatir. Aku akan cepat saja ke sungai. Tidak akan bikin masalah.”
Fulong menahan napas sebentar, menatapnya dingin tapi ada rasa bersahabat. "Mundurlah, kau bau" ucapnya dingin.
Fuxin mengerutkan kening dan mencebik kan bibirnya, sebelum dia sempat membalas. Fulong sudah lebih dulu menghilang dari pandangan nya.
"Shiba-ll sheky--aa! " Umpat nya dengan mata nanar, nada pelan sambil tersenyum.
Dengan itu, Fuxin berlari ke arah sungai, lumpur masih menempel di tubuhnya, tapi matanya bersinar penuh semangat.
Fulong belum pergi, dia menatap punggung adiknya, meskipun wajahnya terlihat datar, namun sorot matanya melembut menatap adiknya.
Fuxin menatap jauh ke arah sungai yang deras.
Airnya mengalir dengan kecepatan menakutkan, ombak kecil berdesir, dan bebatuan licin menonjol di sana-sini. Aroma segar air sungai memenuhi udara… Tapi ada sesuatu yang salah.
Ia menekuk ekor dan mendengus.
“Sepertinya… kalau aku langsung terjun ke sana, aku bisa terbawa arus dan hilang. Tidak bisa jadi profesional kalau begitu.”
Ia menatap sekeliling, kemudian berjalan pelan sambil menenangkan diri. Fuxin memutuskan satu hal-- harus menelusuri ingatan tubuh asli.
Ia menutup mata sejenak, membayangkan rutinitas tubuh inang sebelumnya. Segera teringat adegan-adegan sederhana.
Mengambil ember dari gua, menyiapkan air di tepi sungai.
Menggosok badan dengan daun-daun lembut.
Berhati-hati dengan arus sungai, karena tubuh ini ringan dan kurang kuat berenang.
Melompat di area dangkal dulu, baru perlahan masuk ke air lebih dalam.
Fuxin mengangguk pelan. “Oke, versi profesional. Tidak boleh gegabah.”
Ia melangkah mengikuti memori tubuh asli, kaki menapak tanah, hati-hati menyeberangi batu-batu licin di pinggir sungai.
Saat ia sampai di area yang relatif aman, mata Fuxin menangkap beberapa sosok yang familiar.
“Oh… iya.” Fuxin melotot.
Di depannya berdiri beberapa betina rubah muda, berpenampilan bersih, rapi, dan terlihat cantik biasa. Dengan di kelilingi jantan-jantan mereka.
Fuxin tersenyum pahit.
Mereka adalah orang-orang yang membuat tubuh asli kabur setelah upacara kedewasaan.
Tubuh inang ini dulu lari setelah upacara kedewasaan bukan karena ingin main lumpur semata—tapi kalah mental dan ucapan. Betina-betina itu pandai menekan lawan bicara, membuat tubuh asli merasa tidak mampu bersaing, dan memaksa lari sebelum sempat mencari jantan.
Fuxin melirik mereka satu per satu.
“Oh, jadi ini penyebab reputasi burukmu, Fuxin,” gumamnya pelan, menatap tubuh yang dipakai saat ini.
Author said: Tidak juga, kamu juga terkenal suka mencuri makanan orang kalo lagi gabut.
Ekor gemetar sedikit, tapi senyum nakal muncul di wajahnya.
Ia mendekat sambil menahan diri, tapi suara dalam hati berdesis: “Profesional tetap profesional. Tidak boleh ribut, tapi… jangan biarkan mereka lupakan aku begitu saja.”
Salah satu betina menatap Fuxin, tersenyum sinis.
“Lari lagi, Fuxin? Di suku rubah ini, kau memang betina yang berbeda dari yang lain.”
Fuxin tidak terprovokasi, malah dia mencondongkan tubuh dengan senyum tipis menantang.
“Beda? Iya, tentu saja. Aku ini spesial eksklusif, tidak seperti kalian yang pasaran!"
"Kamu!" Meski tidak mengerti kata-katanya, namun melihat wajah hitam berlumpur yang terlihat memprovokasi, membuat nya merasa Fuxin sedang meremehkan nya.
Mereka merasa marah namun menyadari sesuatu dan terdiam sejenak. Ada aura aneh yang keluar dari tubuh Fuxin sekarang—tidak lagi bar-bar, bodoh dan panikan, tapi penuh percaya diri dan terlihat... Chill! Bahkan betina yang biasanya mengintimidasi pun terlihat sedikit terkejut.
Fuxin menatap sungai yang aman di dekatnya, menarik napas panjang, dan mengibaskan ekor.
“Oke, area aman sudah ketemu, wajah-wajah lama sudah dikenali. Sekarang, saatnya mandi.”
Namun sebelum melangkah ke air, Fuxin menatap ke arah betina-betina itu.
“Tenang saja, aku tidak akan langsung masuk arus deras seperti dulu. Tapi kalian… ingat baik-baik, aku akan membuat tubuh ini layak disebut ‘Putri Kepala Suku’.”
Betina-betina itu saling berpandangan, tampak bingung, tapi tidak ada yang berani mendekat setelah melihat kepercayaan diri nya dan kata 'Putri kepala suku'
Fuxin tersenyum puas.
“Langkah pertama selesai, tidak langsung terbawa arus. Langkah kedua, menyapa wajah lama dengan profesional dan mulai, versi baru Fuxin!”
Ekor kusutnya bergoyang, lumpur di kaki mulai terhapus perlahan, dan sebuah aura percaya diri baru muncul dari tubuh yang dulu dianggap buruk dan lemah.
Alasan mengapa pemilik tubuh ini jarang bahkan hampir tidak pernah mandi, karena pernah di kerjai, pemilik tubuh ini emang agak bodoh, jadi bisa saja di kerjain hingga melompat ke sungai deras. Alhasil insiden itu meninggalkan ketakutan di hatinya hingga membuat nya tidak mau mandi di sungai lagi, jadi mandi pun hanya jika hujan.
Fuxin tidak dulu mau ber kontraversi dengan para betina itu, karena mereka bukan prioritas profesionalitas tugas nya. Selagi mereka tidak mengganggu dirinya lagi, maka abaikan saja. Namun jika tetap menganggu, maka niscaya dia akan membalas dendam cara paling kalem dan profesional.
Fuxin berjalan ke area batu besar dan mandi di balik batu besar, lalu mulai membuka pakaian nya dan memasukkan seluruh tubuhnya ke air.
Lumpur basah dan lumpur kering sudah menempel di kulitnya selama bertahun-tahun, di gosok saja tidak akan bersih. Hingga dia menggunakan batu yang agak runcing untuk menggosok kerak lumpur di kulit nya, air yang jernih menjadi keruh. Untung saja Fuxin masih pintar, mandi di bagian depan hilir dari tempat para betina itu, sehingga tidak akan kena protes dan bisa mandi dengan nyaman.
"Sistem, apakah kau tidak menyediakan sabun mandi?"