NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Yessika segera membuka tutup botol air mineral dan menyodorkannya ke bibir Jordan. Pria itu menyambar botol tersebut dan meminumnya secara rakus, membiarkan tetesan air membasahi kemejanya yang kusut.

Setelah meneguk setengahnya, Jordan bernapas lega, dadanya naik turun dengan napas memburu.

"Terima kasih, Yessika... Hanya kau... hanya kau yang benar-benar peduli padaku," ucap Jordan emosional. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas paha.

"Lihat bagaimana Ayah memperlakukanku! Dia memukulku di depan umum, mengurungku di sini, dan membekukan seluruh hartaku... hanya demi Vanessa! Wanita sialan itu bahkan memalingkan wajahnya saat aku memohon bantuan!"

Yessika menundukkan kepala, membiarkan sebutir air mata lolos menetes ke pangkuannya.

"Ini semua salahku... Harusnya aku tidak menemuimu. Harusnya aku membiarkan Kak Vanessa memfitnah kita. Jika saja Kak Vanessa tidak membenciku, Paman Arthur tidak akan semurka ini padamu..."

"Ini bukan salahmu!" balas Jordan, matanya menyalang penuh dendam.

"Vanessa yang licik! Dia sengaja membesar-besarkan masalah alergi itu agar Ayah membenciku! Dia tahu Ayah sangat menghormati mendiang kakeknya, jadi dia menggunakan posisi itu untuk menindasku!"

Yessika mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam iris mata Jordan yang kini telah dibutakan oleh amarah dan frustrasi. Senyum amat tipis yang tersembunyi di balik raut sedihnya tak terdeteksi oleh Jordan.

"Jordan... apa kau tidak merasa ada yang aneh?" bisik Yessika pelan, memajukan tubuhnya.

"Kenapa Alessio tiba-tiba begitu membelanya? Saat di rumah sakit tadi... Alessio bahkan berani berdiri di sisi ranjang Kak Vanessa dan memberikannya minum secara langsung."

Jordan tersentak. Ingatannya melayang kembali ke tatapan penuh kekhawatiran Alessio saat menggendong Vanessa keluar dari rumah, serta bagaimana saudara itu mendorong dadanya secara agresif.

"Maksudmu... mereka berdua...?" tanya Jordan dengan napas tertahan.

"Aku tidak ingin berburuk sangka..." Yessika memegang jemari Jordan yang dingin. "Tapi tatapan Alessio pada Kak Vanessa sama sekali tidak seperti tatapan seorang adik kepada calon kakak iparnya. Bagaimana jika... Kak Vanessa sengaja menolakmu dan terus membuat masalah, agar pernikahan kalian batal dan dia bisa berpaling pada Alessio?"

Plak!

Jordan memukul lantai marmer dengan telapak tangannya hingga berbunyi nyaring. "Ular betina sialan!" geramnya dengan rahang menegang keras. "Jadi itu rencananya?! Dia ingin mempermalukanku, merebut harta keluarga Carlton melalui Alessio, dan mencampakkanku begitu saja?!"

"Tenanglah, Jordan... Kau harus bertahan," bujuk Yessika halus, menyodorkan kotak bekal berisi roti lapis ke tangan Jordan.

"Gunakan waktu ini untuk berpura-pura tunduk pada Paman Arthur. Turuti semua kemauannya sampai seluruh fasilitas dan kartu kreditmu dikembalikan."

"Lalu setelah itu?" tanya Jordan dengan mata menyipit penuh hasrat membalas dendam.

"Setelah posisimu aman dan pernikahan itu tiba..." Yessika menyunggingkan senyum anggun yang sarat akan muslihat mematikan. "Buat dia bertekuk lutut di bawah kakimu. Buktikan padanya bahwa di Keluarga Carlton, kaulah satu-satunya penguasa, bukan Alessio, dan jelas bukan wanita tak tahu diri seperti Vanessa."

Jordan menatap Yessika dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam. Ia menyambar roti itu dan memakannya cepat, membiarkan racun provokasi Yessika meresap sempurna ke dalam jiwanya.

Di balik kegelapan aula leluhur yang diterangi pendar lilin, Yessika mengelus punggung Jordan dengan lembut, sementara matanya menatap tajam ke arah jajaran papan nama leluhur Carlton.

"Siksa dia sesukamu, Vanessa," batin Yessika dingin. "Semakin kau mendorong Jordan ke jurang, semakin mudah bagiku untuk mengendalikannya sebagai bonekaku."

*****

Pagi menyingsing dengan warna kuning keemasan yang hangat. Sinar matahari menerabas masuk melalui celah ventilasi aula leluhur, menyoroti tubuh Jordan yang masih kaku berlutut di tengah ruangan. Wajahnya pucat, lingkaran hitam membingkai kedua matanya yang merah dan sayu.

Suara engsel pintu yang berat berbunyi nyaring, membelah keheningan.

Arthur Carlton melangkah masuk dengan jubah sutra hitam tebal, disusul Pak Ben yang berjalan tenang di belakangnya. Langkah kaki sang pemimpin keluarga terasa seperti dentuman vonis mati bagi Jordan.

"Berdiri," perintah Arthur pendek. Suaranya serak, dingin, tanpa kehangatan seorang ayah.

Jordan berusaha mematuhi perintah itu. Namun saat ia mencoba merenggangkan lututnya yang membeku, rasa nyeri yang memotong hebat membuat tubuhnya limbung dan roboh mencium lantai marmer. Ia meringis menahan sakit, tetapi segera merangkak bangkit dengan sisa tenaga yang ada.

"A-Ayah... aku sudah merenungi semua kesalahanku semalaman," lirih Jordan dengan kepala tertunduk dalam-dalam. "Aku sadar aku sangat kasar pada Vanessa. Aku... aku siap meminta maaf padanya dan menuruti semua keinginan Ayah."

Arthur menatap putra sulungnya dari atas ke bawah tanpa ekspresi. Ucapan tunduk itu sama sekali tidak melunakkan hatinya.

"Mulai hari ini, kau dilarang keluar dari area kediaman utama tanpa izin dariku," vonis Arthur tegas. "Semua kartu kreditmu tetap dibekukan. Jika aku melihatmu bertindak ceroboh atau menyakiti Vanessa lagi walau hanya seujung kuku... aku tidak akan ragu mencoret namamu dari daftar warisan Keluarga Carlton secara permanen."

Dada Jordan berdegup kencang oleh gelombang amarah yang ia tahan mati-matian di balik katupan giginya. Ucapan Yessika semalam bergema kembali di kepalanya, "Berpura-puralah tunduk sampai posisimu aman."

"Baik, Ayah... Aku mengerti," sahut Jordan pelan.

Arthur berbalik tanpa membuang kata-kata lagi, melangkah keluar meninggalkan aula. Pak Ben sempat melirik Jordan sejenak dengan pandangan datar sebelum menyusul langkah tuannya.

---

Sementara itu, di kamar VIP Rumah Sakit, infus Vanessa akhirnya dilepas oleh perawat. Warna di wajahnya yang ayu mulai kembali, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemas.

Di luar dugaan, Alessio kembali datang pagi itu. Pria itu tampil rapi dengan kemeja hitam yang digulung hingga siku, membawa sebuah tas dokumen tipis di tangannya.

"Kau tidak bekerja?" tanya Vanessa saat melihat Alessio menarik kursi dan duduk santai di samping ranjangnya.

"Perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena aku meninggalkannya beberapa jam," jawab Alessio datar. Ia meletakkan tas dokumen itu di meja nakas. "Bagaimana kondisi tubuhmu?"

"Jauh lebih baik. Dokter bilang aku sudah boleh pulang siang nanti," Vanessa menatap dokumen di atas meja dengan dahi berkerut. "Apa itu?"

Alessio menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke dalam iris mata Vanessa. "Informasi yang kau butuhkan jika kau memang serius ingin menghancurkan pertunanganmu dengan Jordan... tanpa mengorbankan dirimu sendiri."

Vanessa tersentak pelan. Matanya berbinar tajam. "Kau... mau membantuku?"

"Jangan salah paham," sela Alessio cepat, menyilangkan kakinya. "Aku tidak sedang menjadi pahlawanmu. Aku hanya punya musuh yang sama. Jordan... keberadaannya di sekitar Keluarga Carlton sudah terlalu mengganggu."

Vanessa tersenyum tipis, sebuah senyuman anggun yang memancarkan kecerdasan di balik kelembutannya. "Saling memanfaatkan? Aku suka penawaran itu."

"Di dalam map itu ada bukti transaksi rahasia perusahaan cabang yang dikelola Jordan secara serampangan," jelas Alessio dingin. "Dia mengalirkan sejumlah dana besar ke rekening pribadi Rika, ibu kandung Yessika selama enam bulan terakhir. Jordan berpikir dia menggunakan uangnya sendiri, padahal itu adalah aset operasional milik perusahaan Carlton."

Vanessa membuka map tersebut, membaca deretan angka dan nama yang tertera di sana. Jemarinya meremas pinggiran kertas dengan erat.

"Dia memberikan modal bisnis restoran untuk Rika... menggunakan uang perusahaan Ayahnya sendiri?" gumam Vanessa tak percaya, lalu terkekeh sinis. "Pria bodoh. Dia benar-benar dijadikan sapi perah oleh ibu dan anak itu."

"Jordan memang tidak memiliki otak bisnis," timpal Alessio tajam. "Dia hanya mengandalkan nama besar ayahnya. Jika bukti ini jatuh ke tangan Arthur di saat yang tepat, Jordan tidak akan hanya kehilangan kartu kreditnya... tapi juga posisinya di jajaran direksi."

Vanessa menutup map itu dan menatap Alessio lekat-lekat. "Kenapa kau memberikan ini padaku? Kenapa tidak kau serahkan sendiri pada Paman Arthur?"

"Jika aku yang menyerahkannya, Arthur akan menganggap ini sebagai bentuk persaingan antara aku dan Jordan," jawab Alessio rasional. "Tapi jika bukti ini keluar dari tanganmu sebagai calon menantu yang teraniaya, efeknya akan jauh lebih besar."

Vanessa mengangguk mengerti. Ia menyadari betapa tajam dan terukurnya cara berpikir pria di hadapannya ini. Alessio bukan sekadar pria arogan yang bertindak impulsif. Dia adalah seorang ahli strategi yang dingin.

"Kau benar-benar berbahaya, Alessio," bisik Vanessa pelan.

Alessio berdiri dari duduknya, merapikan lengan kemejanya. "Aku hanya mengembalikan permainan ke papan catur yang sebenarnya. Bersiaplah, Vanessa. Setelah kau keluar dari rumah sakit ini, peperangan yang sesungguhnya di kediaman Carlton baru saja dimulai."

1
ryuka
bagusss vanesaa.. mati kutu kan kamu yesika
Mundri Astuti
kalo sebaliknya berarti Jordan yg merat 😛
Titi Liana
suka
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
Tri Handayani
seru semakin seru, up lagi donk kak
rurry Irianty
KK outhor up banyak² yaaa
Muft Smoker
aaaaaa gregeeet ,,

lanjuut kak ,,
ryuka
adduuhhh alesioo semoga rencana kamu berhasil ya
Tri Handayani
up lagi kpn thor🤭🤭🤭
ryuka: 🤭🤭🤭🫠🫠 ku tunggu up nya thoorrr
total 1 replies
Muft Smoker
kata aq mh udh aj pergi Vanessa toh klo 22 ny gx nikah ma km ,, 22 ny juga gx bakal dpat tahta yg mereka ingin kan ,,
Allea
ahh percuma vanes ngancam2 si arthur😅
Ayu Padi
jgn mau Vanessa
Mundri Astuti
kayanya ada sesuatu yg disembunyikan Arthur y, apa Jordan anak Arthur sama emaknya Kunti yak🤔
ryuka
gilaaa.. gillaaaa.. bpak nya gila
Muft Smoker
mungkin tuan Arthur bisa tutup mata dg kelakuan Jordan,, tp tanpa dsadari ia telah membangunkan singa yg sdang tidur ,,
Muft Smoker
ke tunggu peperangan tu terjadi ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏
Muft Smoker
karena hanya aq yg peduli dg harta mu ,,, hrus ny km ngomong ny bgtu yessika ,, 😏😏😏😏
Mundri Astuti
makin seru ini
ryuka
manttaaabbb alesiooo 🔥🔥🔥
Tri Handayani
ku tunggu up selanjutnya ka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!