Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 MATA YANG MULAI TERBUKA
Lin Mo melangkah memasuki desa yang sederhana dan miskin itu. Jalan setapak yang berdebu dan berlumpur itu masih sama persis seperti yang dikenalnya sejak kecil. Rumah-rumah bambu yang reyot berdiri berderet di sepanjang jalan. Udara terasa bercampur bau tanah lembap dan asap kayu bakar. Namun bagi Lin Mo, desa yang dulu terasa sempit dan suram itu kini tampak sedikit berbeda. Cahaya matahari yang menyinari atap-atap rumbia itu terasa lebih hangat dan lebih jernih. Setiap helai daun dan setiap butir debu yang melayang di udara tampak terlihat lebih jelas dan lebih nyata dari sebelumnya.
Itu bukan karena pemandangan di desa itu yang berubah. Yang berubah adalah mata dan perasaan Lin Mo sendiri. Sejak lautan Qi di dalam perut bawahnya terbangun dan mulai berdenyut jernih dan murni, pandangan dan pendengarannya pun perlahan menjadi jauh lebih tajam dari sebelumnya. Ia dapat mendengar suara aliran sungai yang berada jauh di balik bukit. Ia dapat melihat jejak kaki yang samar di tanah yang jauh beberapa puluh langkah di hadapannya. Dan setiap kali ia menarik napas, ia dapat merasakan aliran hawa murni yang tersebar di udara, membedakan mana yang bersih dan mana yang kotor, mana yang bermanfaat dan mana yang justru berbahaya bagi tubuh.
Lin Mo menyadari bahwa semua itu terjadi karena lautan Qi di dalam tubuhnya kini telah terbangun dan mulai mengalir menyusuri meridian yang tersumbat. Setiap kali lautan Qi berdenyut, sebagian kecil energi Qi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual yang melapisi seluruh tubuhnya secara samar. Energi spiritual itu lemah dan tipis, belum mampu melindunginya dari serangan yang kuat. Namun energi spiritual itu memperhalus indranya dan memperjelas pandangannya seakan menyapukan kabut tebal yang selama ini menutupi matanya.
Saat berjalan melewati alun-alun kecil di tengah desa, banyak orang yang sedang duduk berkumpul di sana serentak menoleh menatap Lin Mo. Wajah mereka penuh keheranan dan rasa ingin tahu. Sebagian besar dari mereka mengenali pemuda kurus dan berpakaian lusuh itu. Itu adalah Lin Mo. Anak yatim piatu yang lemah dan tak berdaya yang tinggal di gubuk tua di ujung desa. Yang beberapa hari lalu menghilang tanpa kabar berita dan kini tiba-tiba muncul kembali dengan wajah yang tenang dan langkah yang tegak.
Beberapa orang yang dulu bersikap dingin dan kasar kepadanya kini saling berbisik sambil menatap Lin Mo yang berjalan tenang melintasi tengah alun-alun. Mereka merasa ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu. Namun tak ada yang dapat menyebutkan dengan pasti apa yang berubah. Pakaiannya masih sama lusuhnya. Tubuhnya masih sama kurusnya. Namun tatapan matanya yang jernih dan tenang itu membuat siapa pun yang bertemu pandang dengannya secara tak sadar merasa seakan sedang menatap mata orang yang jauh lebih tua dan jauh lebih bijaksana dari usianya yang baru enam belas tahun.
Di sudut alun-alun berdiri seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian yang jauh lebih rapi dan lebih baik dibandingkan warga desa lainnya. Pria itu bernama Liu He. Ia adalah kerabat jauh keluarga kaya di desa itu dan bertugas mengurus urusan tanah dan pajak di desa tersebut. Liu He berdiri diam menatap Lin Mo yang berjalan mendekat. Matanya menyipit menatap tajam seakan sedang berusaha menembus ke dalam hati pemuda itu. Ia adalah salah seorang yang paling sering menindas dan merendahkan Lin Mo. Ia pula yang menyuruh orang-orangnya membuang Lin Mo ke hutan dalam beberapa hari lalu dengan alasan yang tak masuk akal.
Liu He melangkah maju dan berdiri tegak menghadang jalan Lin Mo. Wajahnya tampak dingin dan penuh keangkuhan. Ia menatap Lin Mo dari atas hingga ke bawah dengan tatapan merendahkan yang biasa ia berikan kepada orang-orang miskin dan lemah.
Kukira kau sudah mati dimakan binatang buas di dalam hutan ujar Liu He dengan suara yang berat dan penuh nada ancaman. Siapa yang memberanikanmu kembali ke desa ini? Bukankah sudah kubilang agar kau pergi dan tak pernah kembali? Kau yang tidak memiliki kerabat dan tidak memiliki kekuatan apa pun seharusnya tahu diri dan pergi jauh dari sini. Mengapa kau harus kembali membawa masalah bagi kami?
Warga desa yang berkumpul di sana seketika menjadi hening. Mereka menatap Lin Mo dengan pandangan iba namun tak ada yang berani maju membela. Mereka takut pada kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki Liu He. Mereka tahu bahwa Liu He memiliki hubungan dengan sekte besar di kota sebelah dan dikatakan memiliki dasar kultivasi yang cukup kuat untuk menjadi penguasa kecil di desa ini.
Lin Mo berhenti melangkah tepat di hadapan Liu He. Ia tidak menunduk dan tidak pula menatap dengan pandangan menantang. Ia hanya menatap lurus ke arah mata Liu He dengan pandangan yang tenang dan jernih. Lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut dan stabil. Energi Qi belum mengalir keluar dan belum berubah menjadi energi spiritual. Lin Mo tidak ingin memamerkan kemampuannya kepada orang yang belum tentu pantas mengetahuinya. Ia hanya ingin menyelesaikan urusan ini dengan tenang dan melanjutkan perjalanannya.
Aku lahir di desa ini ujar Lin Mo pelan dan suaranya terdengar jelas di keheningan alun-alun. Rumah tempat tinggal orang tuaku masih berdiri di ujung sana. Tanah tempat kakinya berpijak ini bukan milik seorang Liu He saja. Ini adalah tanah tempat leluhurku dimakamkan. Aku tidak datang mencari masalah. Aku hanya pulang ke rumahku sendiri. Mundurlah. Aku tidak ingin berurusan denganmu saat ini.
Mendengar jawaban itu, Liu He seketika tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar kasar dan penuh penghinaan. Warga desa yang berdiri di sekitar mereka pun terkejut mendengar jawaban Lin Mo. Tak pernah ada yang berani berbicara kepada Liu He dengan nada seperti itu. Apalagi Lin Mo yang selama ini selalu tunduk dan diam saja saat dimarahi atau dipukuli.
Liu He berhenti tertawa. Wajahnya berubah menjadi dingin dan penuh kemarahan. Ia melangkah maju selangkah dan menatap tajam ke arah wajah Lin Mo.
Anak kurang ajar! bentak Liu He dengan suara yang menggelegar. Berani kau bicara seperti itu kepadaku! Mungkin kau belum sadar akan posisimu sendiri. Tanah dan rumah itu sudah disita sebagai ganti hutang yang tak pernah dibayar oleh orang tuamu yang telah mati itu. Kau tidak memiliki apa pun di desa ini. Termasuk nyawamu pun ada di bawah kekuasaanku. Jika kau masih ingin hidup, segera berlutut dan memohon ampun saat aku masih bersikap baik. Jika tidak... jangan salahkan aku jika kau kembali dibuang dan kali ini tak akan ada yang tahu di mana tubuhmu terkubur.
Lin Mo tetap berdiri tegak di tempatnya. Wajahnya tetap tenang dan hatinya tetap damai. Namun perlahan lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut sedikit lebih cepat dan sedikit lebih kuat dari biasanya. Energi Qi perlahan mengalir menyusuri meridian tubuhnya menuju lengan kanan. Ia belum berniat menyerang. Namun ia bersiap melindungi dirinya sendiri jika Liu He benar-benar berani bertindak kasar di depan banyak orang.
Aku tidak berhutang apa pun kepadamu ujar Lin Mo dengan suara yang tetap tenang namun tegas. Dan rumah itu adalah peninggalan orang tuaku. Tidak ada yang berani mengambilnya tanpa alasan yang benar. Jika kau ingin aku pergi... kau harus mampu melakukannya sendiri. Namun aku memperingatkanmu... jangan mencoba memaksakan kehendak dengan kekuasaan yang kau miliki. Karena kekuasaan itu bisa saja lenyap dalam sekejap mata jika dihadapkan pada kebenaran yang sesungguhnya.
Liu He tersentak seketika. Ia merasakan sesuatu yang aneh saat berdiri begitu dekat dengan Lin Mo. Meski pemuda itu tampak kurus dan lemah, namun dari tubuhnya terpancar ketenangan yang luar biasa. Seakan pemuda itu sama sekali tidak takut pada ancaman dan kekuatannya. Dan ketakutan yang tak dapat dijelaskan itu justru membuat kemarahan Liu He semakin membakar dadanya. Ia tidak dapat menerima dipermalukan oleh pemuda yang dulu dianggap sampah dan lemah tak berdaya.
Liu He mengangkat tangan kanannya dan hendak menampar wajah Lin Mo dengan kekuatan yang penuh amarah. Energi Qi yang kasar dan keruh mengalir di sepanjang lengannya dan berubah menjadi energi spiritual yang berwarna abu-abu kusam. Tamparan itu datang dengan cepat dan keras. Warga desa yang melihatnya serentak menahan napas dan menutup mata seakan sudah melihat wajah Lin Mo berdarah dan jatuh terhempas ke tanah.
Namun sesuatu yang luar biasa terjadi di saat itu. Saat telapak tangan Liu He hampir menyentuh wajah Lin Mo, lautan Qi di dalam perut bawah Lin Mo berdenyut kuat namun teratur. Energi Qi mengalir deras menyusuri meridian lengan kanannya dan berubah menjadi energi spiritual yang berwarna putih keemasan yang lembut namun padat dan murni. Lin Mo mengangkat tangan kanannya perlahan dan menangkis pergelangan tangan Liu He dengan gerakan yang tenang dan tak terburu-buru.
Dua kekuatan yang berbeda sifat dan asalnya bertemu di udara. Energi spiritual yang keruh dan kasar milik Liu He seketika terpecah dan terdorong mundur saat bersentuhan dengan energi spiritual yang murni dan jernih milik Lin Mo. Tubuh Liu He terhuyung mundur beberapa langkah hingga akhirnya terpaksa menginjakkan kaki berkali-kali agar tidak jatuh terbalik. Wajahnya memucat seketika. Matanya terbelalak menatap Lin Mo dengan pandangan penuh ketakutan dan ketidakpercayaan. Ia merasakan dengan jelas bahwa energi yang baru saja menangkis serangannya itu jauh lebih murni dan jauh lebih dalam dibandingkan dengan energi yang ia miliki.
Lin Mo tidak menyerang balik. Ia hanya berdiri diam di tempatnya. Tangan kanannya perlahan turun ke sisi tubuh. Energi Qi yang tadi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual perlahan kembali masuk ke dalam tubuh dan menyatu kembali dengan lautan Qi yang berdenyut tenang di perut bawahnya. Seakan tidak terjadi apa-apa selain angin yang lewat sebentar dan kemudian pergi kembali.
Liu He menatap Lin Mo dengan napas yang sedikit memburu. Ia menatap tangan kanan Lin Mo yang kurus dan tampak tak berdaya itu dengan pandangan yang bercampur rasa takut dan rasa heran yang mendalam. Ia tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Namun rasa sakit dan kesemutan yang menjalar dari pergelangan tangannya hingga ke bahu membuktikan bahwa semua itu sungguh nyata.
Kau... kau memiliki energi Qi? tanya Liu He dengan suara yang sedikit bergetar. Mustahil... dulu kau sama sekali tidak memiliki tanda-tanda lautan Qi terbangun di dalam tubuhmu. Siapa gurumu? Di mana kau mendapatkan kekuatan ini?
Lin Mo menatap Liu He dengan tenang. Ia tidak bermaksud memamerkan kekuatannya dan tidak pula bermaksud menyakiti orang itu. Ia hanya melindungi dirinya sendiri.
Aku tidak memiliki guru ujar Lin Mo pelan. Dan aku tidak memiliki kekuatan yang besar. Aku hanya tahu satu hal. Kekuatan bukanlah sesuatu yang digunakan untuk menindas orang yang lemah. Jika kau mencoba menyerangku lagi... aku tidak akan selembut tadi. Mundurlah. Biarkan aku pulang ke rumahku. Dan jangan pernah lagi menggangguku tanpa alasan yang benar.
Liu He menatap Lin Mo cukup lama. Ia melihat ketenangan dan keteguhan di mata pemuda itu. Ia menyadari bahwa Lin Mo yang berdiri di hadapannya saat ini bukan lagi pemuda lemah yang dapat ia perlakukan sesuka hati seperti dulu. Sesuatu yang besar telah berubah dalam diri pemuda itu. Dan jika ia terus memaksakan diri, mungkin ia sendiri yang akan malu dan terluka lebih parah dari sebelumnya. Dengan gigi yang gemeretak karena menahan amarah dan rasa malu, Liu He akhirnya melangkah mundur perlahan. Ia menatap Lin Mo dengan pandangan penuh kebencian dan ancaman yang tak terucapkan.
Baik... katanya Liu He dengan suara yang berat dan penuh dendam. Hari ini aku membiarkanmu pergi. Namun jangan berpikir bahwa hal ini sudah selesai. Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Dan saat itu datang... aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja.
Liu He berbalik dan pergi dengan langkah yang tergesa-gesa namun penuh kemarahan yang tertahan. Warga desa yang berdiri di tempat itu masih terdiam serentak. Mereka menatap Lin Mo dengan pandangan yang bercampur rasa heran, rasa kagum, dan rasa takut. Tak ada yang menyangka bahwa pemuda yang selama ini dianggap lemah dan tak berdaya itu ternyata mampu membuat Liu He yang berkuasa mundur tanpa berani berbuat apa-apa.
Lin Mo tidak menoleh kepada siapa pun. Ia melanjutkan langkahnya menuju ujung desa menuju gubuk tua tempat tinggalnya. Ia tahu bahwa kejadian tadi pasti akan membawa masalah baru kepadanya. Namun ia tidak takut. Selama lautan Qi di dalam tubuhnya tetap jernih dan murni, dan selama hatinya tetap tenang dan damai... maka ia siap menghadapi apa pun yang akan datang. Karena mata yang selama ini tertutup perlahan mulai terbuka. Dan jalan yang panjang itu kini tampak terang di hadapannya.