Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi sukses
"Hah? Lo serius mau ngelakuin itu?" tanya Rehan seolah tak percaya dengan ide gila yang baru saja kusampaikan.
"Ad, Lo nggak apa-apa Winda ngelakuin itu?" Kali ini John yang bertanya.
Sebelumnya aku memang sudah mengatakan rencanaku ini pada Adri dan dia setuju.
"Gue udah gak tahan dengan gay-boy yang sok alim itu. Kalau ini cara untuk menghajar dia, where not?"
Jawaban Asri membuat Rehan dan John saling berpandangan, masih tidak percaya.
"Percuma. Gue yakin, dia gak akan tunduk. Tau gak, dia bangunkan aku subuh," ujar Rehan.
"Seberapa Lo yakin?" Adri menantang keyakinan Rehan.
"1000%," jawab Rehan mantap. "Oke lah, Winda emang menggoda, gue gak bisa bohongin itu. Tapi gue gak yakin Adam akan tergoda dengannya. Karna dia itu lain."
"Mau taruhan?" John menantang.
"Oke. Siapa takut. Siapa kalah, bulan ini dia yang bayar kontrakan sendiri? Gimana?" Rehan menepuk meja hingga air minuman dalam gelasku keluar.
"Oke! Deal! Kalau dia tergoda dengan Winda gue bayar kontrakan bulan ini. Plus gue tambah gopek buat jajan Lo." John mengulurkan tangan untuk menyetujui taruhan mereka dan Rehan menyambut tanpa ragu.
"Deal!"
***
Dengan menggunakan tanktop di padukan skinny jeans, malam itu aku kerumah Adri seperti yang kurencanakan. Sesampainya disana hanya ada aku sendiri. Adam belum pulang. Tanpa sungkan aku masuk ke kamar Rehan, menutup pintu dan duduk di pinggir ranjang. Mataku menangkap sebuah kasur tipis di sebelah ranjang Rehan, mungkinkah Adam tidur di sana selama beberapa hari ini?
Di banding dengan tempat tidur Rehan, kasur di bawah lebih tertata. Selimut terlipat rapi di atas bantal, alas kasur juga terlihat kencang.
Mataku yang terus mengedar dalam kamar itu, menangkap sebuah koper kecil di atas meja komputer. Itu pasti milik Adam. Ada sebuah fail di atasnya. Penasaran aku pun bangun dan mengambil kertas itu. Fix, ini memang milik Adam.
Fail itu, berisi data-data dirinya. Kubaca sekilas kertas itu.
Name: Umarussadam Abdullah.
Age: 25 years
Marital status: Single
Nationality: Indonesian
Ethnicity: Half Siamase Chinese, Half German.
Terbelalaku mataku membaca darah keturunan Adam. Siamase Chinese German?
"Winda!"
Tiba-tiba satu suara menegurku reflek fail yang kupegang terlepas karna kaget. Cepat-cepat aku menunduk mengambil fail ity dan meletakkan ke tempat semula sebelum menoleh ke sumber suara.
"Eh, Adam." Aku berusaha tetap tenang, menyembunyikan rasa cemas yang tiba-tiba menjalar saat melihat wajahnya yang serius.
Kedming Adam berkerut, matanya tertujubpada fail yang kubaca tacy sebelum memandang kedalam mataku kembali.
"Apa yang Winda lakukan di kamar ini?" tanyanya penuh selidik sambuk meletakkan tas jinjingnya diatas meja komputer Rehan.
Sekarang jarakku dan dia tidak lah jauh.
"Tadinya nyari Rehan sih, tapi dia gak ada. Yang lain pun gak ada," jawabku berusaha setenang mungkin, kemudian kembali duduk di pinggir ranjang yang menghadap ke meja itu sambil memperhatikan Adam melonggarkan dasi, di kerah kemejanya.
"Oh. Sekarang tolong keluar ya? Tunggu Rehan di luar saja," katanya lagi sambil bersandar di meja komputer.
"Gak mau nanya kenapa aku mencari mencari Rehan?" tanyaku lembut.
Sebelah alis Adam terangkat, mungkin dia kaget dengan perubahan sikapku dan aku yakin aku berhasil menangkap matanya saat singgah di dadaku sekilas.
"Bukan urusan saya." Cepat-cepat dia mengalihkan pandangan ke arah lain dan memejamkan mata.
Aku tersenyum kecil. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, segara aku berdiri dan mendekatinya yang masih bersandar di meja komputer.
Membulat mata Adam karna kaget saat membuka mata mendapati aku yang sudah berdiri tepat di depannya. Tubuhnya juga melompat kebelakang, menghindariku.
"Tentu akan jadi urusanmu. Kamu kan satu kamar dengan dia," kataku lembut bersama senyum manis kuhadiahkan padanya, tapi dia malah menangkup matanya dengan tapak tangan.
"Tolong, Winda! Jangan seperti ini. Saya bukan Adri," mohonnya dengan sura bergetar. "Tolong keluarlah, saya tidak akan memberitahukan pada siapa pun."
"Kenapa kamu gak mau melihat saya? Why? Apa wajahku ini terlalu jelek?" Aku luahkan kata-kata itu dengan suara sedih. Lalu kuambil tangannya karna dia hanya diam saja.
Adam kembali terlonjak dan berlari ke sisi ranjang, membelakangiku.
"Winda, tolong keluarlah," pintanya tanpa memandang padaku. Makin sakit rasanya hatiku dengan perlakuannya ini. Tidak mungkin dia se alim yang di katakan Rehan. Aku merasa semakin tertantang ingin menaklukkannya. Perlahan aku mendekat dan memeluknya dari belakang. Terasa betapa tegap tubuhnya saat kupeluk dan aromanya begitu maskulin.
"Adam, aku gak minta banyak. Aku hanya minta sedikit, please." Kali ini dia tidak kaget berlebihan seperti tadi dan menjauhkan diri dariku. Tapi tangannya perlahan melerai pelukanku dan berbalik. Kini posisi kami saling berhadapan. Sangat dekat.
"Winda." Panggilnya penuh hasrat.
Aku sedikit mendongak melihat iris matanya dan tanganku coba kembali memeluknya, tapi tanganku di tahannya. Kukira dia akan melepaskan, namun kedua tanganku masih di tahannya.
"Winda, sadarlah! Yang kamu lakukan ini salah." Suaranya masih tegas, namun ada kelembutan yang bisa kutangkap. Matanya menikam tepat di mataku. Deru nafasnya nyaring di telingaku.
Aku tersenyum dalam hati. Mulutnya mungkin menolak perlakuanku ini. Tapi aku tahu, pertahanannya mulai melemah.
"Apa dimatamu aku ini gak cantik? Atau aku ini begitu jijik di matamu, sampai kamu gak mau menyentuhku?" tanyaku pelan sambil mataku memandangnya penuh simpati.
Deru nafas Adam semakin cepat, mungkin karna marahnya telah bercampur nafsu. Tanganggu yang di cengkramnya perlahan mulai longgar.
"Adam, come on! Aku janji ini hanya akan jadi rahasia kita berdua," bujukku dan dia lansung menggeleng tidak setuju.
"Tidak, Winda. Tolong keluarlah, jangan siksa saya seperti ini." Suaranya lemah penuh permohonan, dan tanganku juga di lepasnya. Dia menangkup lagi kedua matanya dengan tapak tangan.
Karna terlalu geram dengan reaksinya yang sok jaim, lansung saja tanganku mengusap resletinga celana hitamnya.
Keras.
"Winda!" Adam tersentak mungkin karna kaget dengan aksiku yang nekat, sehingga dia terduduk di sudut ranjang ketika tadi sempat terlonjak kebelakang.
Kesempatan itu tidak kusiakan, aku lansung duduk di atas pangkuannya. Dia berusaha memprotes tindakanku, namun saat posisiku tepat mengenai pusat sarafnya, dia terdiam dan kaku. Dua pasang mata saling berpandangan dan jantungku semakin berdenyut kencang.
"Winda....." Suaranya melemah, matanya separuh terbuka. Dadanya kembang kempis, sementara aku meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Lembut.
"Sssthhh.... Sedikit saja," pintaku sambil mengusap rambutnya. Ada perasaan lain yang hadir. Perasaan yang tidak dapat ku ketahui apa. Mungkinkah sama dengan yang kulakukan waktu bercumbu dengan Adri? Tapi sepertinya tidak, deguban jantung ini rasanya berbeda.
Pandanganku jatuh ke bibirnya dan aku bagai terhipnotis untuk merasa kelembutannya menyentuh bibirku. Aku dongakkan kepalanya kearahku, lalu aku tundukkan wajahku menuju bibirnya. Kini bibir kami bersentuhan.
"Sss.... Winda." Adam mendesah memanggil namaku membuat aku semakin bersemangat.
Kulerai ciuman, lalu kupandang matanya dalam-dalam,"Kiss me back, please, Adam." Aku memohon dan kembali mendaratkan bibir ke bibirnya. Kali ini Ada membuka mulut dan membalas ciumanku.
AKU MENANG! AKU BERHASIL!
Ya, harusnya saat itu juga aku berhenti. Aku sudah berberhasil membuatnya menyerah pada nafsu. Harusnya aku mengehentikan permainan itu, bangun dan mengejeknya, mencacinya dengan mengatakan, "Oh, jadi sampai disana aja iman Lo yang sok alim itu?" Itu rencanaku. Tapi sekarang yang terjadi bukan begitu.
Ketika Adam membuka mulutnya membalas ciumanku, aku merasakan satu perasaan lain. Perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelum ini. Perasaan yang hadir itu cukup kuat hingga aku tak mampu berhenti untuk melepaskannya. Tubuhku pun makin meliuk-liuk saat Adam meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh...."
Ciuman Adam terhenti ketika aku mulai menggerakkan pinggulku perlahan diatas pangkuannya. Tangannya kuat mencengkram pinggangku seolah mengaturku agar lebih cepat. Mata kami saling menatap ketika nafsu sama-sama berada di puncak.
Tangannya kuambil dan perlahan kutarik keatas, hingga berada di dadaku. Kemudian aku lepaskan dan aku biarkan tangannya berada di sana. Agak lama dia memperhatikan keberadaan tangannya. Dan saat melihatataku, tangannya mulai meremas perlahan.
Mungkin karna melihat reaksiku yang begitu ter-bakar gairah dengan sentuhannya itu, dia mengalihkan sebelah tangannya lagi dan melakukan hal yang sama. Aku semakin merapatkan badan kearahnya, dan beberapa kecupan lembut singgah di kulit dadaku.
"Adam..." Aku seperti tidak mengenal lagi suaraku. Gerakan pinggul samakin tak terkontrol dan Adam menarik kepalaku. Bibir kami bertaut kembali, dia menahan kepalaku biar tetap berada disana.
"Winda..."
Suara Adam semakin tercekat. Kecupannya semakin menunjukkan sisi grairah, sedang lidah berterung lidah. Tidak lama, kedua tubuh bergerak semakin liar sebelum kami sama-sama mengejang dan nafas serasa terhenti ketika tiba di puncak. Kami sama-sama terkulai di atas ranjang.
Hening. Yang terdengar hanya suara nafas yang berpacu. Aku diam, Adam pun diam. Masing-masing kamu masih teecagup-cagup mengumpulkan nafas. Tangan Adam masih memelukku. Wajahnya di banjiri keringat, dan entah kenapa hal itu membuat aku tersenyum. Namun senyumku lenyap melihat cairan bening keluar dari sudut matanya.
"Adam," panggilku. Karna dia tidak menyahut aku bergerak memandangnya lebih dekat lagi.
"Adam?" Aku panggil sekali lagi dan panggilan itu berhasil membuat Adam tersentak. Dia lansung bangun dan mengambil handuknya yang tergantung di dinding, melilitkan di pinggang menutup celananya yang basah, kemudian menyeka matanya.
"Saya minta maaf," cicitnya dalam menahan isakan.
Aku bangun dan duduk di pinggir ranjang.
"Semua ini harusnya tidak terjadi. Saya berdosa...saya bicarakan kita berzina," katanya lirih, lalu menangkup wajahnya.
Kata-katanya barusan tidak hanya menghilangkan segala nikmat yang baru kudapatkan bersamanya, tapi malah membangkitkan lagi dendam semalam. Di tambah aku juga khilaf tidak mengikuti rencana, malah menikmati semua.
"Oh, setelah Lo puaskan nafsu. Sekarang Lo ngomong soal dosa? Waktu sedang enak-enak tadi, Lo lupa dengan dosa? Udah deh, gak usah sok alim lagi. Munafik!" cercaku meluapkan sakit hati, seolah kata-katanya tadi begitu menghinaku.
"Bukan itu maksud saya, Winda. Saya yang berdosa. Saya sadar apa yang kita lakukan, tapi saya tidak cukup kuat menahan diri saya. Saya bersalah. Saya minta maaf." Semakin luruh air matanya jatuh, namun sedikitpun tidak mengikis emosiku.
"Kamu adalah manusia paling munafik!" makiku, dan rasanya itu belum cukup.
"Semua manusia tidak ada yang luput dari dosa. Tapi Tuhan Maha Pengampun. Pintu taubat selalu terbuka untuk kita. Saya ingin kita bertaubat, Winda."
"Taubat? Taubat memerlukan tanggung jawab, jawab Adam. So, tell me, are you going to be responsible for what happened just now! Gak akan, kan? So, sekarang gak usah deh bicara taubat denganku. Gak usah pakai minta maaf. Kalau Lo mau taubat, pergi sana minta ampun dengan Tuhan Lo!" amukku meluahkan marah. Aku benar-benar tidak bisa lagi membendung emosiku.
"Winda--" Adam coba memanggilku lagu, tapi aku abaikan. Aku berdiri, mengeluarkan kunci rumah ini dari kantong celana lalu meletakkan diatas meja komputer.
Aku meninggalkan rumah itu, lagi-lagi dengan perasaan marah dan ego. Berani dia memutar kead
aan setelah nafsunya terpuaskan. Tak pernah aku merasa terhina begini. Dan yang lebih menyedihkan, aku merasa telah menghianati Adri.
Kekasih seperti apa aku ini?