Kisah tentang bagaimana Lia dan Ali membesarkan si kembar. Juga Lia yang harus menghadapi masalah dari Franda yang mulai berulah.
"Kak ali mau apa? mau kita pisah? ya udah. Lia juga gak butuh cowok kayak kak ali, gak bisa milih antara istri sama anaknya? lebih milih wanita lain?" Lia kesal.
"Apaan sih Lia, siapa yang mau minta pisah. Aku bukannya ngebelain Franda."
"Terus apa, Franda itu jahat kak, dia pura-pura, mau celakain Si kembar dan mau misahin kita."
"buat apa Lia, dia itu gak tau apa-apa."
"Buat dapetin kakak. Dia pernah cinta kan sama kakak." kata Lia.
Ali terdiam. Franda didepan Ali sangat polos, tapi dibelakang Ali ingin melakukan apapun untuk memisahkan Lia dan Ali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"Papa, udah dong jangan mukulin kak nathan." Teriak lia dipinggir kolam mernah, dengan ara yang masih terus memegangi lia. Takut lia ikut-ikutan nyebur. Gak tau mau apa.
Bukk
Bukk
Alex bener-bener parah. Dia pukulin nathan gitu aja. Dari nampat pipi, jitakin pala. Sampai Alex ikutan nyebur.
"Kenapa tega sama lia?" Teriak alex menyiratkan air bak anak kecil yang sedang main sirat-siratan air.
"Kenapa gak dengerin penjelasan lia."
"Kenapa kehasut sama mama kamu." Terus begitu, setiap kali pertanyaan, alex akan menyiratkan air kolam ke wajah Nathan.
"Kalo kamu lupa, kamu masih punya hati ali, pakai hati kamu buat rasain, seberapa benci kamu sama mereka, kamu benci banget sama lia, sama lio, sama mama, kamu sendiri yang selametin mama sama si kembar yang masih dalam kandungan, kamu sampai sekarat, kekurangan darah, dan cuma mama kamu yang darahnya sama."
Alex jadi terbawa suasana dan terus menceritakannya. Nathan hanya diam menunduk.
"mama kamu mau donorin darahnya dengan syarat kamu ikut dia. Makannya papa gak ada pilihan lain biarin kamu sama mama kamu. Maafin papa, ali."
Alex akhirnya memeluk Nathan. Nathan tak percaya. Dia dengan kikuk juga memeluk papanya. Lia senang melihat keduanya pelukan.
"Idih, lio gak diajak main air. Kayak anak tk, papa sama kak nathan. Lio ikutan dong." Lio baru turun dan melihat semuanya.
Alex langsung melepas pelukannya pada nathan. Keduanya naik ke kolam mernang bersamaan. Alex dan juga nathan kelihatan kedinginan.
"Lia, suruh ali mandi ya. Pijem baju Lio. Yo, pinjemin." Alex berjalan kearah ara. Lia menghampiri nathan.
"main air, dingin ya mas?" bisik ara sedikit ingin tertawa melihat reaksi alex.
"Demi apa coba, demi anak baik yang sok lupa ingatan itu." bisik alex menjawab ara. Ara menggandeng alex masuk ke kamarnya.
"Gak tau, tiba-tiba disini aja. Di kamar lia masak." kata ara lagi diperjalanan menuju kamarnya.
"Ya bagus dong, gak perlu dipancing udah datang." Alex sudah sampai di kamarnya. Ara menyiapkan air untuk mandi, lalu alex mandi.
"Sayang, siapin pakaian kerja ya, aku mau nengok ke kantor bentar." Alex yang sudah masuk mendongonlkan kepalanya dan memanggil ara lagi.
Sayang? ara tersenyum. Gara-gara lio nih pasti.
***
Sementara di kamar lia, lio sedang mandi di kamar lia. Lia datang ke kamar lio untuk pinjam baju.
"Kak yang bagus apaan sih, pakaian kakak gitu aja semuanya." protes lia melihat isi kamar lio. Bahkan lia hampir memgacak satu lemari penuh lio.
"yaaa.. jangan diacak-acak adek kuh sayanggg..." lio teriak gemas ke lia. Lio menghentikan tangan lia dan mengambilkan kaos santai sport.
"Ini aja, kan cuma mau didalem rumah. Habis itu suruh kak ali beli aja, duit dia kan banyak." Kata lio memberikan bajunya.
"ok." Lia langsung ingin pamit. Ketika akan pergi, lio menarik tangan lia.
"Jadi, kamu tunjukin alat tes kehamilan palsunya?" bisik lio pada lia. Takut nanti tiba-tiba ali muncul dan tau.
"Iya." lia menunduk dan menangis.
"Ihhh udah jangan nangis, lia udah bener kok ngelakuinnya." lio mengusap air mata lianya.
"Iya. Lia ke kamar dulu ya kak." Pamit lia membawa baju lio.
"Mamaaa... papaaa... di kamar lia ada kak ali, di kamar mama ada papaaa.. lio jombloo sendiriiii. Gak mau tau, lio mau cari cewek buat lio masukin ke kamar." Lio teriak kayak orang gila sendiri.
"Hahaha... jomblo ngenest." lia yang udah mau keluar, balik lagi dan ngetawain lio.
"Kurang ajar kamu lia. Ini kan juga ide aku. Awas aja, kamu. Aku cari yang cantik, seksi, bahenol." Kesal lio. Lia hanya berlalu lagi.
***
"Kak nathan, udah selesai mandinya." Lia mengetuk pintu kamar mandi.
"iya udah." Nathan membuka pintunya sedikit, terlihat nathan sudah memakai handuk pakaian milik lia. Handuk berbentuk pakaian milik wanita, udah gitu warna pink pula. Lia ketawa lihat sekilas.
"Kak nathan, keluar. Lia mau lihat, lucu ihh.." kata lia memaksa nathan keluar.
"Gak mau ahh, malu pakai handuk baju kek cewek gini. Kamu gak ada handuk yang biasa apa." Nathan menolak, dia masih berpengan erat dibalik pintu. Lia terus memaksa nathan, sedikit menariknya untuk keluar.
"Keluar, lia mau liat, sinii..." kata lia merengek pada nathan. "Handuk yang biasa masih basah, baru lia jemur tadi. Keluar kak, kan cuma lia, kakak ayooo demi adeknya, ya. Pliss... Papanya lucu bangett." Kata lia, yang gak tau lia dengan lancarnya ngomong gitu aja.
"ayo kakk.."
"Ok, bentar. Aku siapin mental, demi kamu sama adeknya ya kata kamu. Jangan ketawa." kata nathan memepringati lia.
"Iya, gak akan ketawa." Lia berjanji tak akan ketawa, tapi ketika nathan keluar.
Hahahaha....
lia ketawa ngakak, keliatan bahagia banget. Nathan bukan tersinggung, tapi senang melihat lia ketawa lepas.
"Katanya gak mau ketawa, kan udah janji gak akan ketawa. Kok ketawa, kenceng lagi." Nathan yang ngambek kali ini.
"Maafin lia, lia kelepasan. Lucu banget imut, manis. Hahah..." Lia masih sedikit tertawa. Lia langsung memeluk nathan.
"Maafin lia, lia gak akan ketawa lagi. Tapi harus dipeluk cowok manis dan cantiknya." kata lia dalam pelukan nathan.
"Iya, peluk aja sepuas kamu, cowok ini buat lia seutuhnya. Seluruh jiwa dan raganya." kata nathan balik memeluk lia.
"Lia, kangen bibir manis kamu, hampir dua bulan rasanya kayak satu abad kehidupan aku. Ya ampunn lama bangett." nathan menatap bibir lia.
"Iya boleh, ini. Cium aja." Lia mendongak menatap nathan, mempersilakannya. Tanpa membuang waktu nathan langsung mencium bibir lia, awalnya ciuman singkat, tapi malah jadi ketagihan lia pun menikmatinya.
Setelah puas dengan ciuman manis itu, lia memberikan pakaiannya. Nathan mengganti pakaiannya. Lia mengajak nathan turun untuk ikut makan siang di rumah mereka, pertama kali makan siang keluarga dengan papa dan mamanya dulu. Lia sangat antusia, dia mengganden nathan yang berjalan dibelakang lia untuk menuruni tangga.
Sementara di maja makan ada papa dan mamanya, ara yang sedang menyiapkan makanan dan alex yang sudah mulai makan dengan jas kerjanya.
"Papa mau berangkat?" Tanya lia ketika sampai di ruang makan.
"Harusnya tadi, tapi calon suami kamu malah ngajak papa main air kan. Jadi lumayan telat deh. Untung papa bosnya. Jadi bisa melanggar aturan papa sendiri, yang telat pecat. Papa bisa pecat diri papa sendiri, habis itu masukin lagi. Hahaha..." Tawa datar alex memikirkan ini lucu.
"Curang papa." Lia menarik kursi untuk dia duduk dan nathan duduk disampingnya.
"Nath, cepet nikahin lia ya. Biar sah secara catatan sipil dulu aja, tapi jangan bilang-bilang mama sama oma kamu dulu. Kalo kamu sampai bilang, papa gak akan biarin kamu deket sama lia, apalagi ngintip lia dari depan rumah." kata alex selesai makan dan akan berangkat.
Hah?
Nathan kaget, jadi selama ini papanya tau. Dia didepan rumah, tapi sengaja diam. Kok bisa?