Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flash Back 2 Tahun Lalu (Ben)
"Mama tidak suka kamu berhubungan dengan gadis itu Ben," kata mamanya ketika Ben ketahuan pacaran dengan Indah gadis biasa teman kuliahnya.
"Kenapa mah! Indah gadis baik-baik dia sopan, pintar, cantik, apa kurangnya," kata Ben tidak mau kalah.
"Dia tidak sejajar dengan kita Ben," jelas mamanya dengan nada sinis.
"Apa maksud mama Indah dari keluarga baik-baik ma, mana mungkin dia tidak pantas untuk Ben."
"Derajat keluarga dia berbeda dengan kita Ben, ingat itu," ucap mamanya tegas memandang Ben.
Ben terkejut bukan main mendengar ucapan mamanya, jadi yang mama maksud selama ini adalah tentang si kaya dan si miskin begitulah kira-kira.
"Apa maksud mama Ben tidak mengerti."
"Dengar mama keturunan kita itu adalah orang terpandang jadi tidak bisa sembarang orang bisa masuk menjadi bagian dari keluarga kita," jelas mamanya.
"Itu semua tidak ada artinya mah yang penting saling sayang dan saling mencintai."
"Cinta saja tidak cukup Ben, bagi keluarga ini derajat, jabatan adalah yang terpenting, jika kamu menikahi gadis biasa apa kata rekan bisnis kita! Mau di taruh di mana muka kita, mama tetap tidak setuju jika kamu masih berhubungan dengan gadis itu!" bentak mamanya dengan nada sinis.
"Mah Ben selalu menuruti kemauan mama dan papa, untuk kali ini apa Ben tidak bisa memilih sendiri."
"Tidak bisa Ben, kamu tidak bisa berbuat apa pun sendiri seenak kamu."
"Mah...apakah mama dan papa tidak begitu egois, Ben hanya meminta untuk pendamping hidup Ben. Pilihan Ben sendiri."
"Ben ini sudah tradisi sedari dulu dan tidak bisa di bantah."
"Walaupun hati Ben terluka ma."
"Kamu akan mengerti nanti Ben, semua itu demi kamu yang di dapat semuanya untuk mu Ben."
"Untuk Ben atau untuk perusahaan papa ma!" kara Ben membalikan ucapan mamanya.
"Untuk kita semua Ben, susah payah kakek buyut kamu membangun ini semua untuk kita dan kamu ingin menghancurkannya!" kata mamanya yang masih dengan nada meninggi.
"Ben hanya memilih pendamping hidup mah, bukan mau menghancurkan perusahaan."
"Itu sama saja Ben, kamu harus mempunyai calon istri dari orang terpandang bukan gadis biasa, pokoknya mama dan papa tetap tidak setuju dan mama harap kamu mengerti lalu memutuskan hubungan kamu dengannya."
"Jika Ben tidak mau mah!" kata Ben balik tanya.
"Mama dan papa akan membuang kamu ke jalanan hidup seperti pengemis, mem-blacklist namamu dari silsilah keluarga, mama pastikan hidupmu akan menderita tidak senyaman sekarang. Apa kamu sudah siap kehilangan semuanya," ancam mamanya menatap Ben tajam.
Ben hanya terdiam mendengar ucapan mamanya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika mama dan papanya benar-benar membuangnya seperti kiamat bagi Ben.
"Pikirkan itu Ben, apa kamu rela kehilangan semua masa depan kamu hanya untuk cinta bodoh mu itu," lanjut mamanya.
Air mata Ben jatuh ke pipi ketika ia mengingat itu, kini ia tidak bisa berbuat apa-apa sungguh sudah terlambat untuk mengembalikan semuanya hanya rasa penyesalan yang tersisa di hati Ben.
*Ak**u tidak cukup kuat, aku tidak cukup tangguh, aku tidak cukup berani mengambil keputusan waktu itu, andai saja aku punya kekuatan waktu itu mungkin aku tidak akan pernah menyesali hidupku selama ini, aku tidak ingin Gladis sepertiku. Aku tau meski pun Gladis bicara lain aku bisa merasakan hatinya terluka*.
Di lain kamar
Gladis menerima telepon dari Fadli hatinya campur aduk, senang, sedih, kecewa, hancur..ia mencoba menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh Fadli di ujung telepon sana.
"Kamu kemana aja aku kangen sama kamu. Aku khawatir sama kamu, aku hampir frustasi tidak mendapat kabar dari kamu sampai-sampai aku menyuruh Ando untuk mencari kamu," kata Fadli terlihat panik dan khawatir.
Mendengar perkataan Fadli, Gladis menangis ia mencoba menahannya, tetapi air matanya di pipi keluar dengan deras. Ia terus mencoba untuk tenang agar tangisnya tidak pecah.
"Maafkan aku," kata Gladis dengan suara parau.
"Kamu masih sakit! Aku dengar kamu sakit kenapa tidak memberitahuku."
Lagi-lagi pertanyaan Fadli membuat Gladis menangis ia tau Fadli adalah sosok orang yang amat baik untuk dirinya.
"Aku sudah lebih baik, kamu tidak usah khawatir maafkan aku tidak memberi tahu kamu kabar. Tapi kamu jangan khawatir aku baik-baik saja."
"Aku belum bisa tenang jika belum bertemu denganmu Gladis."
Deg......hati Gladis amat teriris mendengarnya, ia tidak mampu lagi rasanya untuk bicara lama-lama dengan Fadli, ia tidak sanggup air matanya terus keluar dan sesekali tangannya menutup mulutnya, ia pun sesekali menggigit bibirnya.
"Aku baik-baik saja maafkan aku sudah membuat kamu khawatir," kata Gladis sambil menahan tangisnya.
"Besok lusa aku pulang, sepulang dari Bandung aku langsung menemui mu."
"Besok akan mau pergi dengan kak Ben."
"Kak Ben! Loh dia ada di sana, sejak kapan dia datang."
"Dua hari yang lalu."
"Oh begitu, mau pergi kemana kamu!"
"Aku mau liburan bersama kak Ben, tidak tau ke Bali atau ke Lombok."
"Mendadak sekali! Bukankah kamu sedang sakit."
"Aku sudah sehat, bolehkan aku pergi!" kata Gladis meminta izin kepada Fadli.
"Ya sudah pergi sana baru saja aku mau pulang menemui kamu, eh kamu nyatanya pergi. Tapi tidak apa nanti juga kita bertemu lagi. Ya udah tidur sana sudah malam jaga kesehatan, aku sayang kamu."
Kata terakhir Fadli membuat tangisnya Gladis makin pecah, ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Fadli jika ia tau semuanya. Hatinya pasti akan hancur.
"Gladis...aku berjanji suatu hari nanti setelah aku pulang dari Bandung aku akan bertemu dengan orangtuamu, aku akan meyakinkan kepada mereka bahwa aku mencintaimu dan aku akan menikahi kamu."
Kali ini Gladis tidak bisa menahan air matanya, tangis yang ia tahan sedari tadi pecah karena perkataan Fadli. Hatinya hancur sakit bukan main, Fadli masih belum menyerah untuk hubungan mereka.
"Aku harap kamu bersabar dan terus mendukungku, karena dukungan darimu adalah penyemangatku Gladis. Bersabarlah semoga orangtuamu merestui hubungan kita, aku berjanji tidak akan pernah lelah memperjuangkan ini semua dan aku juga selalu berdoa semua kesedihanmu akan menjadi bahagia untuk kita."
Fadli mengetahui wanita yang di cintai nya itu menangis ia tau bahwa Gladis sangat terluka saat in.i
"Teruslah mendukungku Gladis, cobalah bertahan sedikit lagi hanya semangatmu yang menguatkan aku. Sekarang kamu istirahat jaga diri kamu ya selalu kabari aku," kata Fadli.
"Iya..pasti," jawab Gladis sambil menangis dengan suara agak berat dan parau.
"Aku sayang kamu Gladis, sayang kamu."
"Aku juga," balas Gladis sambil terus menangis.
"Ya udah selamat malam, miss you."
"Miss you too," kata terakhir Gladis sambil mematikan sambungan handphonenya.
Gladis terus menangis tak henti mendengar semua ucapan Fadli, bagaimana ia bisa memberitahu Fadli soal perjodohannya.
David sedari tadi melamun di kamarnya pikirannya mengingat Gladis.Ya di kamar inilah untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang memasuki kamarnya selain mamanya dan Devi. Hanya Gladis yang masuk ke kamar ini, tidur di tempat tidurnya sampai-sampai meninggalkan kenangan memori yang cukup tidak enak untuk David dan Gladis.
*K**enapa sih gw harus memikirkan dia! Biarkan saja dia mau dengan siapa buka urusan gw. Mau dia pulang dengan siapa juga, kenapa gw harus memikirkan dia*.
Dretttt....handphone milik David berbunyi, David yang tadinya melamun kini tersadar lalu ia segera mengambil handphone yang ada di meja samping tempat tidur ternyata itu pesan dari pak Rony.
*T**uan muda....apa anda mau aku mencari tau tentang keadaan nona Gladis*!
Isi pesan dari pak Rony.
Tidak *usah pak Rony, anda urus saja urusan kantor, Gadis biar menjadi urusan**ku*.
*B**aik tuan muda*.
Isi pesan antara pak Rony dan David
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham