Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 004
Adik yang Suka Cari Masalah
Tinta tanda tangan Nathanael bahkan belum benar-benar kering ketika ponsel Louisa berdering lagi.
Louisa mengira itu Kevin.
Ia sudah siap melihat nama itu muncul dengan pesan baru yang lebih tidak sabar. Namun layar ponselnya menampilkan foto seorang laki-laki muda dengan hoodie hitam, ekspresi malas, dan topi baseball yang ditarik rendah.
Darren Lesmana.
Louisa langsung mengangkat telepon. "Dar?"
"Ci Lou."
Suara Darren terdengar terlalu pelan untuk ukuran Darren. Biasanya adik angkatnya itu membuka telepon dengan keluhan, candaan, atau pertanyaan tidak penting seperti apakah mi ayam di dekat kampusnya masih buka. Kali ini hanya dua suku kata, dan di belakangnya ada suara orang bicara keras.
Louisa berdiri. "Kamu di mana?"
"Jangan panik dulu."
"Kalau kamu mulai dengan kalimat itu, berarti aku harus panik."
Di seberang sana, Darren mendesah. "Aku di Polsek Kelapa Gading."
Louisa memejamkan mata.
Nathanael yang sedang merapikan dokumen berhenti bergerak. Tatapannya naik, tapi ia tidak bertanya.
"Kenapa bisa di Polsek?" tanya Louisa, menahan suaranya agar tidak naik.
"Cuma salah paham kecil."
"Darren."
"Aku pukul orang."
Louisa menarik napas panjang. Kepalanya yang baru pulih dari hangover kembali berdenyut.
"Kamu luka?"
"Nggak parah."
"Aku tanya kamu luka atau tidak."
"Bibir pecah dikit. Tangan lecet. Udah, nggak usah heboh."
Louisa mengambil tasnya dari kursi. "Tunggu di sana. Aku ke sana sekarang."
"Jangan bilang Mama."
"Aku tidak akan bilang Mama kalau kamu menjelaskan semuanya nanti."
"Ci..."
"Tunggu."
Louisa menutup telepon sebelum Darren sempat menawar.
Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit. Di atas meja, draft perjanjian pranikah masih terbuka, dua nama mereka berdampingan di bagian bawah. Beberapa menit lalu ia berpikir keputusan paling gila hari ini adalah menandatangani kesepakatan menikah. Ternyata hidupnya belum selesai bercanda.
"Adikmu?" tanya Nathanael.
"Darren. Anak Mama Renata." Louisa memasukkan ponsel ke tas. "Dia berantem dan sekarang di Polsek Kelapa Gading."
"Aku antar."
"Nggak perlu. Ini masalah keluarga."
Nathanael berdiri. "Justru karena itu kamu tidak perlu pergi sendiri."
Louisa menatapnya. "Kamu baru saja menandatangani perjanjian pranikah denganku. Kamu tidak harus langsung ikut mengurus adikku yang bikin masalah."
"Di perjanjian tadi tidak ada pasal aku dilarang membantu."
Jawaban itu membuat Louisa kehilangan kata selama satu detik.
Nathanael mengambil map kulit cokelat dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. "Aku tunggu di bawah. Kalau kamu tetap ingin pergi sendiri, aku panggilkan Grab."
Ia tidak memaksa.
Justru karena tidak memaksa, Louisa tidak menemukan alasan untuk menolak.
***
Mobil Nathanael adalah sedan hitam dengan interior kulit yang terlalu rapi untuk seseorang seperti Darren yang mungkin sebentar lagi akan duduk di dalamnya dengan bibir pecah.
Sopir membukakan pintu. Louisa sempat ragu sebelum masuk. Nathanael duduk di sisi lain, memberi jarak yang sama seperti pagi tadi. Di antara mereka ada konsol tengah, botol air mineral, dan kesunyian yang tidak seberat sebelumnya.
"Dia sering seperti ini?" tanya Nathanael setelah mobil keluar dari area apartemen.
"Tidak sering." Louisa berhenti, lalu mengoreksi diri. "Tidak terlalu sering."
Nathanael menoleh sedikit.
Louisa menghela napas. "Darren itu... keras kepala. Dari kecil kalau marah langsung bergerak dulu, mikirnya belakangan. Tapi biasanya dia punya alasan."
"Kamu percaya dia?"
"Aku percaya dia tidak sepenuhnya jahat." Louisa melihat jalanan Kuningan yang padat. "Itu berbeda."
Nathanael mengangguk, seolah jawaban itu cukup.
Louisa menekan nomor Darren lagi. Tidak diangkat.
Ia mengetik pesan.
Jangan kabur. Aku sudah di jalan.
Balasan datang cepat.
Darren: Aku bukan kriminal.
Louisa: Kamu di Polsek.
Darren: Itu detail.
Louisa hampir tertawa meski dadanya masih tegang.
Nathanael melihat sudut bibirnya bergerak. "Dia lucu?"
"Menyebalkan."
"Biasanya dua hal itu datang bersamaan."
Louisa menatap Nathanael. Komentar itu ringan, tetapi tidak dibuat-buat. Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia melihat kemungkinan bahwa pria di sampingnya tidak hanya serius dan rapi seperti dokumen. Ada bagian yang bisa memahami kekacauan kecil dalam hidup orang lain.
"Kamu punya adik?" tanyanya.
"Stella. Dia tidak pernah masuk Polsek, tapi dia bisa membuat satu keluarga panik hanya dengan satu Instagram Story."
Kali ini Louisa benar-benar tersenyum sedikit.
Senyum itu pendek, tapi Nathanael melihatnya. Ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menurunkan pandangan ke jam di pergelangan tangannya.
Jam itu berwarna silver dengan dial gelap. Desainnya sederhana, tetapi Louisa yang pernah menghabiskan waktu mencari hadiah untuk Kevin langsung tahu itu bukan jam biasa.
Ia tidak bertanya.
Belum.
***
Polsek Kelapa Gading tidak seromantis hotel semalam dan tidak sebersih kantor notaris yang akan mereka datangi nanti sore. Ruang tunggunya berbau kopi sachet, kertas lembap, dan sedikit antiseptik. Kipas angin berputar lambat di sudut ruangan. Beberapa orang duduk di bangku panjang, sebagian menunduk ke ponsel, sebagian berdebat pelan.
Darren duduk di kursi dekat meja petugas.
Hoodie hitamnya kusut. Bibir bawahnya pecah. Di tulang pipinya ada memar tipis yang mulai membiru. Namun begitu melihat Louisa masuk, ia malah menarik topinya lebih rendah.
"Ci Lou," gumamnya.
Louisa berhenti di depannya.
"Topi dilepas."
"Ngapain?"
"Aku mau lihat wajahmu."
Darren mendecak, tapi tetap melepas topinya. Rambutnya berantakan. Wajahnya tampak seperti anak kecil yang ketahuan memecahkan vas mahal, meski tubuhnya sudah tinggi dan bahunya lebih lebar dari dulu.
Louisa menyentuh dagunya, memiringkan wajahnya sedikit.
"Sakit?"
"Nggak."
Louisa menekan sedikit area dekat memar.
"Aduh, Ci!"
"Berarti sakit."
Nathanael berdiri beberapa langkah di belakang Louisa, diam. Ia tidak langsung masuk ke lingkaran keluarga itu. Hanya mengamati, menjaga jarak, tetapi cukup dekat jika Louisa membutuhkan sesuatu.
Darren baru menyadari keberadaannya setelah mengaduh. Matanya menyipit.
"Ci Lou bawa cowok siapa ini?"
Louisa menarik tangannya dari dagu Darren. Pertanyaan itu terlalu cepat datang.
"Teman."
Nathanael tidak mengoreksi.
Darren menatap Nathanael dari kepala sampai sepatu. "Teman jam sepuluh pagi bawa mobil semahal itu?"
"Darren," tegur Louisa.
"Apa? Aku cuma nanya."
Seorang petugas berseragam mendekat sambil membawa map. "Keluarga Darren Lesmana?"
Louisa langsung berdiri lebih tegak. "Saya, Pak. Saya kakaknya."
Petugas itu melihat KTP Louisa, lalu mencocokkan dengan berkas. "Tadi terjadi perkelahian di parkiran minimarket. Pihak satu lagi sudah sepakat damai, karena luka ringan dan ada saksi yang bilang awalnya saling dorong. Tapi tetap harus tanda tangan surat pernyataan dan ganti biaya pengobatan."
Louisa menoleh kepada Darren.
Darren membuang muka. "Dia duluan yang ngomong kasar."
"Tentang apa?"
"Nggak penting."
"Kalau tidak penting, kamu tidak akan memukul."
Darren mengatupkan rahang.
Petugas itu melirik mereka, lalu berkata, "Yang bersangkutan juga bilang temannya perempuan diganggu. Jadi mungkin emosinya terpancing. Tapi lain kali jangan main tangan."
Louisa menatap Darren lebih lama.
Darren tetap tidak mau melihatnya. "Aku udah bilang nggak penting."
Hati Louisa melunak, tapi ia tidak membiarkan wajahnya ikut lembut.
"Nanti kita bicara di rumah."
"Jangan rumah. Mama bisa lihat muka gue."
"Maka jangan berantem."
Darren mendengus pelan.
Nathanael maju satu langkah. "Biaya pengobatannya berapa, Pak?"
Petugas menyebut angka.
Louisa cepat membuka tas, tetapi Nathanael sudah mengeluarkan dompet lebih dulu. Louisa menahan pergelangan tangannya.
"Aku bisa bayar."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, biar aku bayar."
Nathanael berhenti. Ia tidak menarik tangannya. Ia hanya menatap Louisa, lalu memasukkan kembali dompetnya.
"Baik."
Darren melihat pertukaran kecil itu dengan alis terangkat.
Louisa membayar biaya pengobatan, menandatangani surat pernyataan sebagai keluarga, lalu memaksa Darren ikut membaca sebelum membubuhkan tanda tangan. Darren menggerutu, tapi menuruti. Saat petugas menjelaskan bahwa ia boleh pulang, Louisa baru merasa bahunya turun sedikit.
Mereka keluar dari Polsek menjelang siang.
Matahari Jakarta terasa tajam setelah ruang tunggu yang pengap. Darren berjalan di samping Louisa dengan langkah malas, satu tangan masuk ke saku hoodie. Nathanael berjalan di sisi lain, membawa map dokumen yang tadi sempat dibawa dari apartemen.
"Jadi," Darren memulai, "teman ya?"
"Iya."
"Teman kantor?"
"Bukan."
"Teman SMA?"
Louisa terdiam setengah detik terlalu lama.
Darren langsung menangkapnya. "Oh? Serius?"
Nathanael membuka pintu belakang mobil untuk Louisa. Darren berhenti, menatap mobil hitam itu, lalu menatap Nathanael lagi. Matanya turun ke jam silver di pergelangan tangan Nathanael.
"Coisíní?" gumam Darren.
Nathanael meliriknya. "Kamu tahu jam?"
"Aku tahu harga barang mahal." Darren menyipitkan mata, lalu melihat emblem mobil, sepatu kulit Nathanael, dan cara sopir menunduk hormat. "Ci Lou, teman kamu ini kayaknya bukan teman biasa."
Louisa belum sempat menjawab.
Darren masuk ke mobil lebih dulu, masih menatap Nathanael dari balik kaca.
Lalu ia berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun, "Orang ini nggak sederhana."