NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017

Kevin Wibowo

Yolanda belum sempat membuat gerakan kedua ketika Gerbang Majapahit kedatangan pemain baru yang membuat studio kembali ramai.

Kevin Wibowo datang menjelang siang, terlambat tiga menit dari jadwal, tetapi cukup pandai meminta maaf sehingga Gunawan hanya memarahinya selama dua menit, bukan sepuluh.

"Maaf, Om Gunawan. Macet dari lokasi fitting," ucap Kevin sambil menunduk sopan.

"Jakarta memang macet sejak sebelum kamu lahir. Jangan jadikan itu alasan kreatif," balas Gunawan.

Beberapa kru tertawa.

Kevin ikut tertawa kecil. Ia tampan dengan cara yang lebih hangat daripada Rayhan. Senyumnya mudah, matanya ramah, dan sikapnya cukup rendah hati untuk membuat orang cepat merasa nyaman. Jika Rayhan adalah malam dingin yang membuat orang menjaga jarak, Kevin seperti matahari sore yang tidak menyilaukan.

Kiara menatapnya dari balik naskah.

Nama itu ia kenal.

Kevin Wibowo. Aktor yang dalam alur novel akan masuk ke Gerbang Majapahit sebagai jenderal muda, lalu perlahan tertarik pada Kiara. Ia juga anak Herman Wibowo dan keponakan Bu Melinda, istri muda Hartono Purnawan. Dengan kata lain, ia berdiri di simpul keluarga yang suatu hari akan menjadi masalah besar bagi Rayhan.

Santi berbisik, "Kak, itu Kevin Wibowo. Aktor film festival tahun lalu."

"Aku tahu."

"Dia ganteng juga."

Kiara menoleh.

Santi langsung menutup mulut. "Tapi tentu saja Pak Rayhan lebih... menakutkan. Maksudku, lebih berwibawa."

Kiara hampir tertawa.

Gunawan menepuk meja. "Kevin, kamu duduk di sana. Kita baca adegan pertemuan Putri Mahkota dan jenderal muda."

Kursi yang ditunjuk berada tepat di seberang Kiara.

Kevin berjalan mendekat, lalu tersenyum padanya.

"Kiara Tanuwijaya?"

"Iya."

"Aku dengar kamu luar biasa kemarin. Rio bilang aku harus hati-hati kalau tidak mau kalah."

Kiara tersenyum sopan. "Rio terlalu baik."

"Atau kamu memang bagus."

Kalimat itu bukan rayuan terang-terangan. Nada Kevin ramah, profesional, mudah diterima. Tapi setelah beberapa minggu hidup di dekat Rayhan yang setiap tatapannya seperti mengambil seluruh udara, keramahan Kevin terasa terlalu normal sampai Kiara hampir lupa untuk waspada.

Hampir.

Yolanda berdiri tidak jauh dari meja snack, memperhatikan mereka dengan senyum lembut.

Gunawan mulai membaca arahan adegan.

Dalam adegan itu, jenderal muda baru kembali dari medan perang dan melapor pada Putri Mahkota. Ada ketegangan politik, juga benih kepercayaan yang nantinya penting bagi alur film. Bukan adegan romantis, tapi cukup intens.

Kevin membaca dialog pertamanya dengan suara mantap.

"Hamba membawa kabar buruk dari perbatasan."

Kiara masuk setelah jeda pendek.

"Di istana ini, kabar buruk bukan tamu. Ia penghuni lama."

Kevin mengangkat kepala.

Responsnya bagus. Matanya berubah seperti benar-benar melihat seorang putri yang tidak semudah itu diguncang.

Mereka membaca beberapa halaman. Ritmenya cepat terbentuk. Kevin tidak mencoba mencuri fokus, Kiara tidak tenggelam. Gunawan yang awalnya siap mengomel justru diam lebih lama dari biasanya.

"Lumayan," katanya akhirnya.

Bagi Gunawan, itu hampir setara pujian besar.

Kevin menutup naskah dan menatap Kiara. "Kamu mudah diajak main."

"Kamu juga."

"Nanti kalau ada waktu, mau latihan adegan ini lagi? Biar pas blocking tidak kaku."

Kalimat itu wajar.

Sangat wajar.

Namun sebelum Kiara menjawab, udara di ruangan mendadak turun beberapa derajat.

Rayhan berdiri di pintu.

Tidak ada yang tahu sejak kapan ia datang.

Adi berada setengah langkah di belakangnya, wajah datar seperti biasa, tapi matanya sekilas bergerak ke Kevin. Jelas ia juga mengenali nama Wibowo.

Kevin berdiri lebih dulu.

"Pak Rayhan."

Rayhan menatapnya.

"Kevin Wibowo."

Ia menyebut nama itu seperti membaca laporan risiko.

Kevin tetap tersenyum sopan. "Tidak menyangka Pak Rayhan ikut memantau latihan."

"Aku menjemput Kiara."

Jawaban itu membuat ruangan kembali hening.

Gunawan mengangkat tangan. "Sebelum kamu mulai memancarkan aura pembunuh, latihan hari ini memang selesai lima belas menit lagi."

Kiara memejamkan mata sebentar.

Aura pembunuh.

Sayangnya tepat.

Kevin melirik Kiara, lalu tersenyum ringan. "Kalau begitu latihan tambahan kita bisa lain kali."

Rayhan berkata sebelum Kiara membuka mulut, "Tidak perlu."

Kali ini bahkan Gunawan menatapnya.

Kiara berdiri. "Koh Rayhan."

Rayhan menoleh padanya.

Tatapan dingin itu melunak sedikit, tapi tidak hilang sepenuhnya.

"Latihan adegan itu bagian dari pekerjaanku," kata Kiara pelan, cukup untuk didengar orang dekat mereka.

Rayhan diam.

Beberapa kru menahan napas, mungkin menunggu apakah pria paling ditakuti di ruangan itu akan tetap memaksa.

Lalu Rayhan berkata, "Di studio. Dengan jadwal resmi."

Kiara menghela napas kecil. "Baik."

Kevin mengangkat kedua tangan dengan ramah. "Tentu. Aku juga tidak bermaksud membuat tidak nyaman."

"Bagus," kata Rayhan.

Satu kata itu datar, tapi cukup membuat senyum Kevin menegang setengah detik.

Di luar ruang baca, setelah latihan benar-benar selesai, Kiara berjalan lebih dulu bersama Santi. Rayhan sengaja memperlambat langkah, membuat Kevin yang hendak keluar berhenti di dekat pintu.

"Pak Rayhan?" Kevin menatapnya sopan.

Rayhan tidak membuang waktu.

"Aku tahu kamu anak Pak Herman."

Senyum Kevin memudar sedikit.

"Dunia ini kecil."

"Jangan buat lebih kecil dengan mendekati Kiara untuk urusan keluarga Wibowo."

Kevin menatap Rayhan beberapa detik. Kali ini keramahan di wajahnya tidak sepenuhnya menutupi sesuatu yang lebih tajam.

"Saya mendekati lawan main saya sebagai aktor."

"Pastikan tetap begitu."

Rayhan melangkah pergi sebelum Kevin menjawab.

Di mobil, Kiara sudah menunggu dengan wajah tidak senang.

"Kamu mengancam dia?"

Rayhan masuk dan menutup pintu. "Aku memperingatkan."

"Itu bedanya apa?"

"Ancaman punya konsekuensi langsung. Peringatan memberi kesempatan."

Kiara menatapnya tidak percaya.

Adi di depan batuk pelan, mungkin untuk menyembunyikan sesuatu yang hampir mirip tawa.

Rayhan menoleh pada Kiara, suaranya turun.

"Dia Wibowo."

"Aku tahu."

"Dan dia melihatmu terlalu lama."

Kiara ingin membalas, tapi wajah Rayhan yang serius membuat kata-katanya tersangkut.

Ternyata alasan kedua jauh lebih jujur daripada alasan pertama.

Ia menahan senyum kecil. "Koko cemburu?"

Mobil mendadak sangat sunyi.

Rayhan menatapnya.

Kiara baru sadar panggilan itu keluar terlalu natural.

Telinganya panas.

Rayhan meraih tangannya yang sehat, menggenggamnya pelan.

"Iya," katanya tanpa malu. "Jadi jangan sengaja memancingku."

Jantung Kiara langsung kacau.

Di luar studio, Kevin berdiri di dekat pintu kaca, menatap mobil hitam itu pergi.

Senyumnya kembali muncul.

Tapi kali ini, senyum itu tidak sepenuhnya ramah.

Ponselnya bergetar.

Nama Tante Melinda muncul di layar.

Tante Melinda: Sudah bertemu Kiara Tanuwijaya?

Kevin menatap pesan itu beberapa detik, lalu mengetik balasan singkat.

Kevin: Sudah. Dia tidak seperti rumor.

Balasan Melinda datang cepat.

Tante Melinda: Justru itu yang menarik. Dekati dia pelan-pelan. Jangan sampai Rayhan sadar terlalu cepat.

Kevin mematikan layar.

Sayangnya, dari cara Rayhan menatapnya tadi, ia tahu satu hal.

Rayhan sudah sadar sejak detik pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!