NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Perjalanan panjang melintasi benua akhirnya berakhir saat jet pribadi mereka mendarat mulus di Bandara Internasional Incheon, Seoul.

Suasana bandara yang dingin segera berganti dengan kepanikan yang terorganisir begitu pintu pesawat terbuka.

Tim medis dari rumah sakit mitra Dokter Han—rekan lama Baskara yang paling dipercaya di Korea—sudah menunggu di landasan pacu dengan ambulans yang siap siaga.

Baskara dipindahkan dengan sangat hati-hati ke atas tandu ambulans.

Mengingat rasa nyeri yang tak tertahankan di punggungnya, ia harus berbaring miring sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.

Alena, yang kondisinya jauh lebih stabil, duduk setia di samping brankar, jemarinya tak sedetik pun melepaskan genggaman erat dari tangan suaminya.

Di tengah deru sirene ambulans yang membelah jalanan Seoul yang mulai sibuk, Baskara melirik istrinya dengan tatapan penuh kasih, meski wajahnya tampak lelah menahan sakit.

"Sayang, kamu lapar?" tanya Baskara dengan suara serak, mencoba mengalihkan perhatian istrinya dari rasa cemas yang masih membekas di wajah Alena.

Alena terdiam sejenak, lalu perlahan menganggukkan kepalanya.

"Iya, Bas. Tiba-tiba saja aku sangat ingin makan tteokbokki," ucapnya, matanya berbinar kecil saat membayangkan jajanan pinggir jalan khas Korea yang kenyal dan berlumur saus merah menggoda.

Baskara sedikit mengernyit, raut wajahnya berubah menjadi protektif.

"Sayang, itu kan pedas. Ingat, ada si kecil di dalam sana. Perutmu sedang sensitif sekarang," ucapnya lembut namun tegas.

Alena mengerucutkan bibirnya, tampak sedikit kecewa, namun ia tahu suaminya benar.

Baskara mengusap punggung tangan Alena dengan ibu jarinya.

"Jangan cemberut begitu. Nanti saja ya, kalau kita sudah sampai di rumah sakit dan kondisimu sudah benar-benar dipastikan aman oleh dokter, nanti biar Tanti yang mencarikannya untukmu—tapi yang tidak terlalu pedas, ya?"

Alena tersenyum tipis mendengar perhatian Baskara. "Baiklah, janji ya?"

"Janji," jawab Baskara singkat.

Ia kembali memejamkan mata, menahan nyeri yang menusuk di punggungnya saat ambulans melintasi jalanan Seoul yang bergelombang, hatinya bertekad bahwa setelah pemulihan ini, ia akan memastikan dunia istrinya kembali aman dan jauh lebih indah dari sebelumnya.

Setengah jam perjalanan melintasi gemerlap lampu kota Seoul yang samar terlihat dari jendela ambulans, kendaraan medis tersebut akhirnya berhenti di depan lobi VIP Medical Center yang megah.

Pintu belakang terbuka, dan udara dingin khas Korea menyambut mereka.

Dokter Han, seorang pria paruh baya dengan wibawa tinggi dan kacamata berbingkai perak, sudah berdiri menunggu di sana bersama tim medisnya yang sigap.

Ia menyambut mereka dengan anggukan kepala yang menenangkan.

"Selamat datang, Baskara. Alena," sapa Dokter Han dengan bahasa Indonesia yang fasih.

"Kita tidak punya waktu untuk berbasa-basi. Ayo, kita segera masuk."

Perawat dengan sigap mendorong ranjang Baskara ke dalam lobi, melewati koridor rumah sakit yang bersih dan steril.

Alena berjalan cepat di samping ranjang, tangannya masih setia menggenggam jemari Baskara, memastikan ia tetap berada di sisi suaminya sampai ke dalam ruangan perawatan yang telah disiapkan secara khusus.

Begitu sampai di dalam ruang perawatan yang tenang dan mewah, tim medis segera memindahkan Baskara ke tempat tidur pasien yang dilengkapi dengan monitor canggih.

Dokter Han mendekat, ia memeriksa grafik tanda vital yang mulai muncul di layar, lalu menatap Baskara dengan tatapan profesional yang tajam.

"Kondisimu sudah jauh lebih stabil dibandingkan laporan medis yang kuterima saat kamu masih di pesawat," ujar Dokter Han sambil menuliskan sesuatu di catatan medisnya.

"Namun, kita harus bergerak cepat sebelum infeksi pada jaringan kulit yang terbakar itu semakin menyebar."

Dokter Han berhenti sejenak, lalu menatap Baskara dengan serius.

"Besok pagi, tepat pukul delapan, kita akan melakukan operasi tahap pertama, Bas. Kita akan fokus pada debridement mendalam dan penutupan jaringan kulit yang rusak di punggungmu."

Baskara yang berbaring miring, menoleh sedikit dan menatap Dokter Han dengan tatapan yang tenang namun penuh keyakinan.

Ia menganggukkan kepalanya pelan, sebuah tanda kesiapan untuk menempuh jalan panjang pemulihan yang akan menjadi langkah awal dari rencana pembalasannya.

"Lakukan yang terbaik, Dok," ucap Baskara pendek.

"Aku harus segera sembuh. Ada tanggung jawab besar yang menungguku setelah ini."

Dokter Han memberikan isyarat kepada para perawat untuk menyiapkan keperluan pra-operasi sebelum ia melangkah keluar ruangan, memberikan privasi bagi keluarga Baskara.

Begitu pintu tertutup, Baskara menoleh ke arah Tanti yang berdiri dengan sigap di sudut ruangan.

"Tanti," panggil Baskara dengan suara yang sedikit lebih bertenaga.

"Tolong belikan makanan untuk Alena. Kamu... apa kamu bisa bahasa Korea?"

Baskara tampak ragu, khawatir kendala bahasa akan menyulitkan mereka di negara asing ini.

"Kalau kamu tidak bisa, aku akan minta tolong staf rumah sakit—"

"Siap, Pak Bos!" potong Tanti dengan semangat, wajahnya cerah.

"Saya bisa bahasa Korea, Pak. Dulu saya pernah mengambil kursus bahasa sebelum bekerja dengan Ibu Alena, jadi tenang saja, saya sudah sangat fasih."

Baskara tertegun sejenak, lalu terkekeh pelan meski rasa nyeri di punggungnya sempat mencubit. Ia merogoh saku jaketnya—yang sebelumnya sudah diamankan oleh timnya—dan mengeluarkan dompet berisi uang Won Korea dalam jumlah yang cukup banyak.

Ia menyerahkan lembaran uang itu kepada Tanti.

"Baguslah kalau begitu," ujar Baskara sambil memberikan uang tersebut.

"Tolong belikan makanan yang enak untuk Alena, apa pun yang dia inginkan termasuk tteokbokki yang dia mau tadi, tapi pastikan tidak terlalu pedas."

Ia menatap dua karyawan baru yang tampak berdiri canggung di belakang Tanti.

Baskara memberikan isyarat dengan matanya agar mereka juga ikut.

"Kalian berdua, ikut Tanti," perintah Baskara lembut.

"Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh. Kamu dan mereka juga beli makanan ya, jangan sampai kelaparan. Gunakan uang itu untuk makan yang enak dan cukup, kalian sudah banyak membantu kami."

Tanti menerima uang itu dengan sopan, wajahnya tampak terharu melihat perhatian bosnya meski dalam kondisi terluka parah.

"Terima kasih banyak, Pak Baskara. Kami akan segera kembali dengan makanan yang enak untuk Ibu Alena."

Tanti pun memberi kode kepada dua rekannya. Mereka membungkuk hormat kepada Baskara dan Alena sebelum bergegas keluar ruangan dengan langkah cepat dan penuh semangat untuk menjalankan tugas mereka.

Alena menatap wajah suaminya yang terlihat letih namun tetap berusaha tenang.

Ia mengusap lengan Baskara pelan, keraguan yang sedari tadi bersarang di benaknya akhirnya terucap.

"Bas..." panggilnya lirih.

Baskara yang tadinya sempat memejamkan mata untuk menahan denyut di punggungnya, langsung membuka mata dan menatap Alena.

"Ada apa, Sayang?"

"Apa... apa kedua orang tuaku tahu kalau kita ada di sini? Maksudku, apakah mereka tahu kalau kita masih hidup dan sedang berada di Korea?" tanya Alena dengan nada khawatir.

Ia takut jika kabar bohong ini sampai ke telinga orang tuanya, mereka akan sangat terpukul.

Baskara meraih tangan Alena, lalu mengelusnya lembut. Ia memberikan senyuman menenangkan.

"Jangan khawatir," jawab Baskara pelan.

"Kenan sudah mengatur semuanya. Dia sudah berbicara dengan orang tuamu secara pribadi sebelum berita kematian kita tersebar. Mereka sudah tahu rencana kita. Bahkan, mereka sudah dilatih untuk berpura-pura menangis sesenggukan di depan kerabat dan media agar drama kematian kita ini terlihat sangat meyakinkan."

Alena tertegun sejenak, membayangkan kedua orang tuanya yang harus memendam kebahagiaan karena anaknya selamat, namun di saat yang sama harus bersandiwara di depan publik.

"Mereka setuju melakukan itu?" tanya Alena lagi.

"Mereka mendukung penuh, Sayang," lanjut Baskara dengan nada mantap.

"Karena mereka tahu, ini satu-satunya cara agar musuh-musuh kita lengah sepenuhnya. Semakin meyakinkan tangisan mereka, semakin dalam kuburan yang digali oleh musuh kita sendiri karena kesombongan mereka."

Mendengar penjelasan itu, perlahan-lahan beban di hati Alena terangkat.

Ia menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Baskara dan tersenyum tipis—sebuah senyum yang kini mengandung kekuatan baru.

Ia sadar, sandiwara ini adalah bagian dari badai yang akan mereka siapkan untuk menghancurkan mereka yang telah membakar toko roti kebanggaannya.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!