Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Stella yang Penasaran
"Ini... gambar siapa?"
Pertanyaan Louisa menggantung di ruang tamu yang gelap.
Nathanael tidak langsung berjalan mendekat. Ia berdiri di ujung koridor, rambutnya masih basah, satu tangan memegang handuk kecil. Cahaya dari tablet memantul di meja kaca dan membuat gambar gadis di bawah hujan terlihat seperti rahasia yang tidak sengaja terbangun.
"Maaf," ucapnya akhirnya.
Louisa berkedip. "Kenapa kamu minta maaf?"
"Aku meninggalkan tablet terbuka."
Ia maju, tetapi berhenti satu langkah dari meja. Gerakannya tetap pelan, tidak merebut. Louisa mundur sedikit lebih dulu, baru Nathanael mengambil tablet itu dan mematikan layarnya.
Ruangan menjadi lebih gelap.
"Itu gambar kamu?" tanya Louisa.
Jeda terlalu panjang.
"Iya," jawab Nathanael.
Jawaban singkat itu membuat rasa ingin tahu Louisa justru makin kuat. "Kamu menggambar?"
"Kadang."
"Aku lihat ada tulisan Anon."
Tangan Nathanael di tepi tablet menegang.
Louisa melihatnya.
Ia juga mendengar suara Darren di kepalanya, orang normal nggak sesopan itu. Lalu suara Renata, jangan mudah berutang budi. Lalu suara dirinya sendiri saat menandatangani perjanjian pranikah: tidak saling mengganggu privasi.
Ia menarik napas.
"Maaf. Aku tidak seharusnya melihat."
Nathanael mengangkat wajah. "Kamu tidak sengaja."
"Tetap saja, itu barang pribadimu."
"Louisa."
"Iya?"
Nathanael tampak ingin mengatakan sesuatu. Ada kalimat yang hampir keluar, tetapi berhenti di balik bibirnya. Akhirnya ia hanya berkata, "Suatu hari aku akan menjelaskan. Tapi belum malam ini."
Kalimat itu bukan jawaban.
Namun bukan penolakan kasar.
Louisa mengangguk pelan. "Baik."
Tatapan Nathanael berubah, seperti ia tidak menyangka Louisa akan berhenti bertanya.
"Kamu tidak marah?"
"Karena kamu punya rahasia?" Louisa mencoba tersenyum kecil. "Kita menikah dengan perjanjian satu tahun. Aku rasa kita berdua punya terlalu banyak hal yang belum siap dibicarakan."
Nathanael menatapnya lama.
"Benar," katanya, lebih pelan.
Malam itu berakhir tanpa penjelasan. Louisa kembali ke kamarnya dengan segelas air hangat. Nathanael tetap di ruang tamu beberapa saat, duduk dalam gelap dengan tablet yang sudah mati di pangkuannya.
Di balik pintu kamar, Louisa tidak langsung tidur.
Gadis di bawah hujan itu terus muncul di kepalanya.
Terutama gantungan jeruk kecil di tasnya.
***
Pukul tujuh pagi, bel apartemen berbunyi dengan semangat yang tidak sesuai dengan dinginnya ruangan SCBD.
Louisa baru selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah, dan ia mengenakan kemeja linen longgar saat keluar dari kamar. Nathanael sudah berada di ruang makan dengan kemeja putih, membuka laptop. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah bangun setidaknya satu jam lebih awal.
Bel berbunyi lagi.
Kali ini disertai suara dari intercom.
"Ko Nath! Buka! Aku bawa sarapan dan niat baik keluarga!"
Nathanael memejamkan mata sebentar.
Louisa berhenti di tengah koridor.
"Itu..."
"Stella," jawab Nathanael, nada suaranya pasrah.
"Adikmu?"
"Iya."
"Dia tahu password lift?"
"Dia tahu terlalu banyak hal."
Nathanael berjalan ke pintu. Begitu pintu terbuka, seorang perempuan muda masuk dengan dua paper bag besar, satu cup kopi susu, dan senyum yang terlalu cerah untuk pagi hari.
Stella Susanto memiliki rambut sebahu yang digerai rapi, blazer warna mint, dan anting kecil berbentuk bintang. Matanya cepat menangkap semua hal. Sofa, meja makan, laptop Nathanael, lalu Louisa yang berdiri di koridor.
"Akhirnya!" serunya.
Nathanael langsung menahan satu tangan di udara. "Stel."
"Apa? Aku belum bilang apa-apa."
"Kamu sudah bilang akhirnya."
"Itu belum apa-apa." Stella menaruh paper bag di meja, lalu berjalan menghampiri Louisa dengan wajah berseri. "Ci Lou, halo! Aku Stella. Adik paling normal di keluarga Susanto."
Nathanael dari belakang berkata datar, "Klaim itu tidak bisa diverifikasi."
Stella menoleh tajam. "Ko Nath, jangan rusak branding aku di depan kakak ipar."
Kakak ipar.
Louisa masih belum terbiasa dengan kata itu, tapi energi Stella terlalu hangat untuk ditolak.
"Halo, Stella," ucap Louisa. "Terima kasih sudah bawa sarapan."
"Jangan panggil Stella formal banget. Panggil Stel juga boleh. Tapi kalau Ci Lou belum nyaman, Stella juga boleh. Aku fleksibel, kecuali soal sarapan." Ia menunjuk paper bag. "Aku bawa bubur ayam, cakwe, kue lapis, dan kopi susu. Ko Nath bilang Ci Lou nggak terlalu kuat pedas, jadi sambalnya aku pisah."
Louisa menoleh kepada Nathanael.
Nathanael tiba-tiba sangat sibuk menutup laptop.
Stella melihat pertukaran tatapan itu dan senyumnya melebar. "Oho."
"Stel," Nathanael memperingatkan.
"Aku belum ngomong."
"Matamu sudah."
"Mata itu anugerah."
Louisa tidak bisa menahan tawa kecil.
Stella langsung menepuk tangan pelan. "Nah, bagus. Ci Lou ketawa. Berarti apartemen ini belum sepenuhnya mengubah orang jadi patung marmer."
"Aku masih di sini," ucap Nathanael.
"Justru itu."
Mereka sarapan bertiga di meja makan yang kemarin terasa terlalu besar. Stella berbicara seperti orang yang punya cadangan napas tak terbatas. Ia bercerita tentang Bintang Media, artis yang batal syuting karena manajernya salah membaca jadwal, dan Engkong yang semalam mengirim tiga pesan suara berisi daftar makanan yang harus diberikan kepada Louisa.
"Tiga?" tanya Louisa.
"Empat sebenarnya. Yang terakhir cuma Engkong batuk, terus marah sama Pak Hendra karena salah pencet."
Nathanael memijat pangkal hidung.
Louisa tertawa lagi.
Rasanya aneh. Kemarin pagi ia duduk di rumah Renata, berusaha membaca perhatian dari kalimat dingin. Pagi ini, ia dikelilingi bubur ayam, kopi susu, dan adik ipar yang bertanya apakah ia lebih suka kue lapis legit atau lapis Surabaya dengan keseriusan seperti sedang memutuskan merger perusahaan.
"Jadi," Stella meletakkan dagu di tangan, menatap Louisa penuh minat, "Ci Lou kerja di Tanuwijaya Group, ya?"
"Iya."
"Masih?"
Nathanael menatap Stella.
Stella mengangkat kedua tangan. "Aku tanya baik-baik. Ini bukan interogasi. Aku anak media, bukan polisi."
"Kadang lebih buruk," kata Nathanael.
"Fitnah."
Louisa tersenyum, tetapi pertanyaan itu menyentuh bagian yang belum selesai. "Masih. Tapi mungkin tidak lama."
Stella tidak langsung bercanda kali ini.
"Kalau butuh kenalan di industri kreatif, bilang aku. Bintang Media punya beberapa proyek art direction. Bukan karena Ci Lou istri Ko Nath, tapi karena aku kepo sama karya Ci Lou sejak lihat Instagram @jerukmanis.art."
Louisa terkejut. "Kamu tahu akunku?"
"Tentu. Aku profesional dalam mencari informasi."
"Stel."
"Oke, oke. Aku tidak stalking. Cuma riset ringan." Stella mencondongkan tubuh. "Lukisan jeruk kecil Ci Lou lucu banget."
Louisa menatap Stella yang tersenyum tanpa beban.
Untuk pertama kalinya, seseorang dari keluarga Nathanael membicarakan pekerjaannya bukan sebagai hobi sampingan, melainkan sesuatu yang layak dilihat.
"Terima kasih," katanya pelan.
Stella mengangguk puas, lalu berdiri sambil membereskan paper bag kosong.
"Aku harus ke kantor. Tapi besok aku datang lagi."
Nathanael langsung menatapnya. "Tidak perlu."
"Perlu. Ini program inspeksi kakak ipar." Stella memakai tasnya. "Aku harus memastikan Ci Lou tidak mati bosan tinggal di museum hitam putih kamu."
"Stel."
"Sampai besok, Ci Lou!" Stella melambai ceria. "Kalau Ko Nath terlalu kaku, kirim pesan ke aku. Aku punya banyak bahan memalukan dia waktu kecil."
Pintu tertutup di belakang Stella.
Apartemen kembali tenang, tetapi tidak sedingin sebelumnya.
Louisa menatap sisa kue lapis di piring, lalu Nathanael yang tampak menyerah pada nasib.
"Adikmu menyenangkan," ucapnya.
"Dia melelahkan."
"Tapi menyenangkan."
Nathanael menatap pintu yang baru tertutup. Ada kelembutan kecil di wajahnya. "Iya. Dia menyenangkan."
Di luar dugaan, pagi itu Louisa merasa ruang makan SCBD sedikit lebih mudah ditinggali.