Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Maafkan kami kepala pelayan, kami tidak bermaksud sperti itu," ucap mereka seketika ketakutan.
"Tidak bermaksud apanya? Kalian benar-benar bergosip, kurang kerjaan, baik lah, kalau begitu hari ini kalian berdua aku hukum membersihkan halaman belakang, pergi sekarang juga," ucap kepala pelayan keluarga Pratama yang terkenal galak dan juga tegas dalam mendisiplinkan bawahnya.
"Baik-baik, baik kepala pelayan, kami akan membersihkan," ucap mereka bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu, dari kejauhan tampak Lilian yang berjalan mendekati ruang makan mansion tersebut.
"Nona," panggil kepala pelayan yang kemudian menghampiri Lilian.
"Nan, sudah lama tidak bertemu, syukurlah kau masih di sini," ucap Lilian yang tampaknya sangat mengenal baik kepala pelayan Nan.
"Selamat kembali ke keluarga Pratama nona, bagaimana kabarmu? Kau tampak sangat kurus," ucap kepala pelayan Nan kepada Lilian.
"Kondisi ku tidak baik, kau tau sendiri kan? Oh ya, apa kakak dan papa sudah menunggu lama? Aku ingin segera bertemu mereka," ucap Lilian tak ingin basa-basi lagi.
"Ah iya, maafkan aku nona, aku malah mengajak mu berbincang di sini, ayo ku antar ke ruang makan, mereka memang sudah menunggu lama," ucap kepala pelayan Nan yang kemudian mendampingi Lilian ke ruang makan keluarga.
Tak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di sana, namun suatu hal membuat langkah kaki Lilian berhenti seketika, ia mematung setelah melihat sang kakak , Karen yang saat itu duduk di atas kursi roda.
"Lilian, ayo kemarilah," ucap sang papa.
Karen menatap sang papa sekilas dan kemudian berbalik ke arah samping, ia tau kalau kini sang adik sudah tiba. Dalam sekejap tatapan mereka bertemu.
"K-kak," lirih Lilian yang kini berdiri tepat di hadapan sang kakak.
"Lilian, kemarilah," ucap Karen, ia yang sudah lama tidak pernah tersenyum kini tiba-tiba tersenyum manis sambil merentangkan kedua tangannya berharap Lilian segera menghambur kedalam pelukannya.
Air mata Lilian seketika mengalir deras, dengan langkah gemetar ia mendekati sang kakak, berlutut di hadapannya sambil memegang kedua kaki Karen.
"K-kenapa? Kenapa jadi seperti ini? Apa yang sudah terjadi selama aku tidak ada di rumah? Sejak kapan kau duduk di kursi roda? Katakan kak, katakan padaku?" ucap Lilian dengan Isak tangis yang terdengar gemetar.
Ia tampak sangat syhok setelah melihat keadaan sang kakak yang kini lumpuh.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir dan jangan menangis, hapus air matamu dan jangan bersedih," ucap Karen sambil mengusap air mata Lilian dengan ibu jari tangan nya.
Lilian segera memeluk kedua kaki sang kakak dan kembali menangis.
"Jelaskan padaku kenapa kau jadi sperti ini kumohon," ucap Lilian lagi.
"Melihat ku sperti ini saja dia sangat sedih, apalagi kalau dia tau dialah yang jadi penyebab kakiku jadi cacat, dia mungkin akan sangat frustasi," batin Karen.
Karen menatap sang papa sekilas, melihat anggukan kepala dari sang papa ia pun segera memegang kedua pundak Lilian.
"Duduk lah dulu, nanti aku akan bicarakan tentang kaki ku ini, tapi kita sarapan dulu, makanan nya sudah hampir dingin," ucap Karen membujuk Lilian.
"Apa tidak bisa bilang sekarang saja kak? Aku tidak bisa makan jika tidak tau semuanya dengan jelas," jawab Lilian kekeh.
"Huh, memang sulit menghadapi mu, aku benar-benar tidak bisa menunda nya sedikit pun, baiklah aku beri tahu, kau jangan khawatir kaki ku ini hanya sedikit terluka karena baru-baru ini tidak sengaja mengalami kecelakaan, ini hanya butuh waktu, nanti juga akan sembuh dan bisa berjalan lagi," ucap Karen sambil kembali menampilkan senyum manisnya kepada sang adik setelah mengatakan kata-kata bohong itu.
"Benarkah? Itu hanya kecelakaan ringan? Apakah sekarang kakak benar-benar sedang dalam masa pemulihan?" tanya Lilian, ia segera menghapus sisa air matanya.
"i-ya," jawab Karen tampak sedikit gugup.
"Sudah, jangan bersedih, sekarang yang terpaling penting adalah kita semua sudah berkumpul bersama, ayo Lilian, duduk lah di samping kakak ku, ayo sarapan, kau sangat kurus, ayo makan yang banyak," ucap sang papa buru-buru mengalihkan perhatian Lilian.
"Baik pa, oh iya, mulai sekarang aku akan menemani kakak ke dokter sampai kaki nya pulih, aku akan merawatnya," ucap Lilian sambil tersenyum dan kemudian duduk di kursi berdampingan dengan Karen.
Karen dan papa Ardan yang mendengar itu seketika terdiam, kebohongan yang mereka jalani kini malah seolah-olah memukul diri mereka sendiri, tapi demi menjaga hati Lilian, mereka harus melakukan nya.
Sementara itu di kediaman keluarga Bayron ...
"Aaaaaaa! Kak Alen! Tolong! Lilian kabur dari rumah!" suara jeritan Raya terdengar sangat nyaring, kini dia berdiri di depan pintu kamar Lilian yang barusan dia buka, isi di dalam kamar tersebut tampak kosong melompong tak satupun barang milik Lilian ada di sana.
Flashback on
"Sudah sesiang ini kenapa Lilian belum juga keluar dari kamar nya? Apa yang dia lakukan? Aku sudah sangat lapar, di bawah juga tidak ada satupun makanan yang masak, biasanya jam segini baru masakan Lilian sudah menyebar di seluruh ruangan dalam rumah," ucap Raya berjalan cepat menuju kamar Lilian sambil menggosok perutnya yang terasa perih akibat belum sarapan.
"Lilian, apa yang kau lakukan di dalam? Buka pintunya," ucap Raya yang kini telah berdiri tepat di depan pintu kamar Lilian.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Ia terus mengetuk pintu kamar tersebut beberapa kali berharap Lilian membuka pintu kamar tersebut.
Namun kenyataan yang terjadi malah sebaliknya, tidak ada suara langkah kaki apalagi gagang pintu yang bergerak sebagai tanda kalau di dalam ada orang nya.
"Lilian! Kau di dalam tidak sih?" Bentak Raya, dia tampak semakin geram.
Tangan nya kemudian menggenggam erat gagang pintu tersebut dan mencoba membuka nya, namun pintu itu terkunci, Raya segera melihat sekeliling dan matanya tertuju kepada vas bunga yang ada di samping pintu kamar tersebut.
"Tumben dia mengunci kamar nya, dia bahkan meninggalkan kunci kamar di vas bunga hiasan," gumam Raya.
dengan perasaan yang sedikit tidak enak, Raya mengambil kunci tersebut dan segera membuka pintu kamar Lilian, alangkah kagetnya Raya setelah mendapati ruang kamar yang kini sudah kosong, seluruh barang milik Lilian tak lagi ada di dalam nya.
Flashback off.
Semua orang kini berlarian menuju kamar Lilian, termasuk Alen dan mama Sinta yang mendengar teriakan Raya.
Sementara itu, Tasya yang sudah tau kalau Lilian sudah tidak ada di rumah itu merasa sangat bahagia, ia berjalan cepat menaiki tangga untuk memastikan kalau Lilian telah benar-benar meninggalkan keluarga Bayron.
****
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍