NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Singgasana yang Melelahkan

Siang hari yang gerah membungkus kota, sekontras atmosfer di dalam sebuah mobil sedan hitam yang baru saja meninggalkan area markas kepolisian. Di kursi belakang, Chynthia duduk dengan napas memburu dan rahang yang mengeras. Berkat jaminan uang yang tidak sedikit serta pengaruh tim pengacara yang dikerahkan oleh ayahnya, Herman Wijaya, wanita itu akhirnya bisa menghirup udara bebas siang ini. Namun statusnya belum sepenuhnya aman,dia dikenakan wajib lapor dan ruang geraknya diawasi ketat oleh mata-mata suruhan Baskara.

Chynthia meraba tas tangannya, mengeluarkan sebuah ponsel cadangan yang baru saja diserahkan oleh pengacaranya. Dengan tergesa-gesa, menekan sebuah nomor yang sudah dia hafal di luar kepala. Begitu sambungan terhubung, suara bisikan cemas Natasha terdengar di seberang sana.

"Mami? Mami sudah keluar? Papi benar-benar menakutkan, Mi. Dia membela jalang kampung itu di depan semua orang!" adu Natasha dengan nada bergetar, setengah berbisik karena takut terdengar oleh pelayan rumah.

Chynthia mendengus kasar, matanya memancarkan kilat kebencian yang teramat pekat. "Tenang, Natasha! Mami sudah keluar. Tapi sekarang Papimu menutup semua akses Mami untuk masuk ke rumah itu. Kita tidak bisa menyerang dari luar," ucap Chynthia, suaranya merendah namun penuh penekanan yang sarat akan racun. "Dengar Mami, Natasha. Perempuan kampung itu pasti punya motif tersembunyi. Tidak mungkin dia sekadar mau dinikahi pria yang jauh lebih tua tanpa mengincar hartanya. Kau harus mencari kelemahannya di dalam rumah itu!"

"Ta-tapi bagaimana caranya, Mi? Papi bilang kalau aku bertingkah lagi, dia akan memotong uang jajanku," sahut Natasha ragu.

"Cari di kamarnya,Cari tahu apa yang dia sembunyikan Pasti ada surat perjanjian rahasia, dokumen masa lalu, atau barang-barang dari kampungnya yang bisa kita pakai untuk membuktikan pada papamu kalau perempuan itu hanya memanfaatkan kekayaan keluarga Dirgantara Begitu kita punya bukti, papamu pasti akan menendangnya!" doktrin Chynthia dengan beringas sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.

Di kamarnya, Natasha menurunkan ponsel dengan tangan gemetar. Kata-kata maminya meresap ke dalam kepalanya yang dipenuhi rasa iri. Benar, dia harus mencari cara untuk menjatuhkan Kinanti.

Sementara itu, di sisi lain koridor lantai dua, Kinanti melangkah masuk ke dalam kamar utama yang megah. Begitu pintu tertutup rapat di belakang punggungnya, topeng ketenangan yang sejak pagi dia kenakan seketika runtuh. Langkah kakinya terasa begitu berat saat berjalan mendekati ranjang besar bertirai elegan itu. Kinanti mendudukkan diri di tepian kasur, lalu menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

Sebenarnya, gadis itu sangat lelah. Luar biasa lelah dengan segala drama yang dibuat oleh anak tirinya. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun usia di mana teman-teman sebayanya di kampung sedang menikmati masa muda atau sibuk memikirkan kuliah Kinanti justru harus menanggung semuanya sendirian. Dia harus menghadapi kebencian, tatapan merendahkan, dan intrik licik dari keluarga konglomerat ini.

"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak sekuat itu..." bisik Kinanti pada dirinya sendiri, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang menyesak di dada. Air mata yang sejak tadi dia tahan hampir saja menetes, namun dia buru-buru menyekanya dengan kasar. Dia tidak boleh terlihat lemah, bahkan ketika dia sedang sendirian di kamar ini.

Pikiran Kinanti kemudian beralih pada sosok pria tegap yang kini berstatus sebagai suaminya. Baskara. Mengingat pria matang itu membuat rasa cemas yang berbeda merayap di benaknya.

"Dan untuk Om Baskara... lambat laun pria itu pasti akan meminta haknya padaku," ucap Kinanti kembali dengan nada lirih, meraba jemarinya yang kini dilingkari cincin pernikahan mahal. "Aku belum siap. Sama sekali belum siap. Tapi... harus bagaimana lagi? Aku sudah menjadi istri sahnya."

Ketakutan akan kehidupan ranjang bersama pria sedingin dan sedominan Baskara membayangi pikirannya. Pernikahan ini memang dimulai karena paksaan dan utang budi, namun hukum agama dan negara mengikatnya tanpa celah. Keharusan untuk menyerahkan diri pada pria yang hampir tak dikenalnya itu terasa bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Namun, ketukan halus di pintu kamar seketika membuyarkan lamunan Kinanti. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan dalam sekejap, wajah datarnya kembali terpasang rapi. Sisi rapuhnya sengaja dia kunci rapat-rapat di dasar hati. Dia tahu, jika dia terus meratap, Natasha dan Chynthia akan dengan mudah menginjak-injaknya. Dia harus melawan dengan otaknya.

Saat keluar kamar untuk mengambil air minum di lantai bawah, mata jeli Kinanti menangkap siluet Natasha yang sedang mengintainya dari balik pilar koridor dengan tatapan penuh rencana tersembunyi. Kinanti tersenyum sinis di dalam hati. Ular kecil itu tampaknya sudah mulai menyusun strategi baru setelah menelepon maminya. Dan Kinanti memilih untuk menyediakan umpan yang tidak akan bisa ditolak oleh Natasha.

Kembali ke dapur, Kinanti sengaja berbicara dengan volume suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke lantai atas. "Bi Asih, saya mau pergi ke supermarket depan sebentar. Ada beberapa keperluan pribadi dan ramuan herbal dari kampung yang perlu saya beli, karena di rumah ini tidak ada."

"Oh, baik, Nyonya Muda. Mau diantar supir?" tanya Bi Asih hormat.

"Tidak usah, Bi. Saya bisa pakai taksi atau supir depan saja. Saya pergi tidak lama," jawab Kinanti.

Sebelum melangkah keluar rumah, Kinanti kembali ke kamar utama. Dia sengaja mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil bermotif kuno dengan ukiran khas Jawa dari dalam tas mudiknya. Kotak itu sebenarnya hanya berisi beberapa perhiasan imitasi murah dan batu kerikil keberuntungan dari sungai dekat rumah kampungnya sama sekali tidak berharga.

Namun, Kinanti meletakkannya tepat di atas meja rias yang mencolok. Dia sengaja membiarkan laci meja itu sedikit terbuka, memberikan kesan seolah dia terburu-buru hingga teledor dan lupa mengunci barang pribadinya. Setelah umpan terpasang sempurna, Kinanti melangkah keluar dan menutup pintunya tanpa dikunci.

Sepuluh menit setelah suara mobil yang membawa Kinanti terdengar menjauh membelah gerbang depan, Natasha langsung bergerak. Dengan langkah berjingkat dan jantung yang berdebar kencang, dia menyelinap masuk ke dalam kamar utama.

Pandangan mata Natasha langsung tertuju pada meja rias. Di sana, kotak kayu kuno yang menyembul dari laci yang tidak tertutup rapat langsung menarik perhatiannya.

"Ketemu," bisik Natasha dengan senyum kemenangan.

Dia berlari kecil mendekati meja rias, lalu dengan kasar menarik kotak kayu itu. Dengan tangan yang tidak sabaran, dia membuka penutupnya, berharap menemukan surat kontrak rahasia atau dokumen masa lalu yang memalukan milik Kinanti. Namun, dahi Natasha berkerut saat melihat isinya yang hanya berupa kalung manik-manik murahan dan beberapa batu kerikil.

"Apa-apaan ini? Cuma sampah?!" gumam Natasha kesal, mengobrak-abrik isi kotak itu dan membuangnya ke atas meja marmer dengan kasar.

Klik.

Suara pintu kamar yang dibuka membuat seluruh bulu kuduk Natasha berdiri tegak. Tubuhnya seketika membeku. Dia membalikkan badannya dengan patah-patah, dan matanya membelalak sempurna saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.

Kinanti Larasati berdiri di sana, bersedekap dada dengan santai, bersandar pada kusen pintu dengan tatapan mata yang teramat datar dan dingin. Ternyata, Kinanti hanya meminta supir memutar mobil di gerbang depan, lalu dia kembali menyelinap masuk lewat pintu belakang rumah yang terhubung dengan dapur.

"Sedang mencari sesuatu, Natasha?" tanya Kinanti dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh intimidasi.

"Ka-kamu... bukannya kamu pergi ke supermarket?!" gagap Natasha, wajahnya memucat karena tertangkap basah. Dia mencoba menyembunyikan kotak kayu itu di belakang punggungnya.

Kinanti melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekati Natasha dengan langkah yang teratur. Setiap ketukan sepatu rumahan Kinanti di atas lantai marmer terdengar seperti tekanan mental bagi nyali Natasha.

"Kalau aku tidak berpura-pura pergi, bagaimana aku bisa melihat tikus kecil menyelinap ke kamarku dan mengobrak-abrik barangku?" sahut Kinanti dingin. Dia berhenti tepat dua langkah di depan Natasha, lalu dengan gerakan cepat dan tak terduga, Kinanti mencengkeram pergelangan tangan Natasha dan merebut kotak kayunya kembali.

"Lepaskan! Jangan lancang menyentuhku, Gadis Kampung!" bentak Natasha, mencoba mengembalikan harga dirinya yang runtuh dengan cara berteriak.

Kinanti tidak melepaskan cengkeramannya, justru semakin menekannya hingga Natasha meringis kecil. Kinanti menatap lurus ke dalam mata Natasha dengan kilat mata yang sangat tajam.

"Dengar baik-baik, Natasha," ucap Kinanti, suaranya merendah menjadi bisikan yang berbahaya. "Kau ingin mencari kelemahanku atas perintah mamimu yang gila itu? Cari saja sampai kau lelah. Tapi ingat satu hal... setiap kali tangan kotormu ini menyentuh barang-barang di kamarku lagi, posisi mamimu di penjara akan semakin sulit. Aku hanya perlu mengatakan satu patah kata pada Om Baskara bahwa anaknya yang tidak tahu sopan santun ini mencoba mencuri barangku, dan suamiku itu tidak akan segan-segan memperberat kasus hukum mamimu di kantor polisi."

Mendengar ancaman psikologis yang sangat telak itu, Natasha mati kutu. Napasnya memburu, matanya berair karena kombinasi antara rasa marah, malu, dan ketakutan yang teramat sangat.

"Kau... kau ular yang licik!" desis Natasha dengan penuh kebencian.

Kinanti melepaskan cengkeraman tangannya dengan sentakan kasar, membuat Natasha mundur satu langkah. "Aku tidak licik, Natasha. Aku hanya sedang mengajarimu bagaimana cara menghormati nyonya di rumah ini. Sekarang, keluar dari kamarku sebelum aku memanggil pelayan untuk menyeretmu keluar," perintah Kinanti mutlak.

Natasha menghentakkan kakinya dengan kasar dan berlari keluar dari kamar utama sambil membanting pintu, menahan tangis kekalahannya yang memalukan.

Sore harinya, jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore ketika deru mesin mobil Baskara terdengar memasuki pelataran rumah. Pria matang itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan gurat sedikit kelelahan yang samar di wajah tampannya setelah seharian berada di pabrik beras milik ayahnya. Lengan kemejanya digulung hingga siku, dan kancing teratasnya sudah terbuka, memancarkan aura maskulin yang kuat namun lelah.

Suasana rumah tampak sepi tidak seperti biasanya. Biasanya, Natasha akan ada di ruang tamu, bersantai di sofa, atau setidaknya berkeliaran di lantai satu memamerkan barang belanjaan barunya. Baskara mengedarkan pandangan, namun dia juga tidak melihat keberadaan istri kecilnya di sekitar sana.

Ketukan langkah kakinya terdengar berat di atas marmer saat dia menghampiri seorang pelayan. "Dimana istriku, Bi?" tanya Baskara singkat.

"Nyonya ada di kamarnya, Tuan," jawab Bi Asih dengan takzim.

Baskara mengangguk pelan. Dia melangkah menaiki anak tangga marmer satu per satu menuju lantai dua. Begitu sampai di depan pintu kamar utama, dia memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci, lalu mendorongnya perlahan.

Di dalam kamar, Kinanti sedang duduk di tepi ranjang. Tatapannya lurus menatap lantai, tenggelam dalam lamunannya sendiri hingga tidak menyadari bahwa ada Baskara yang sudah melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Wajah gadis itu tampak sedikit layu, sisa dari kelelahan mental setelah konfrontasinya dengan Natasha siang tadi.

Pria itu berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara berarti.ada yang terjadi di rumah ini saat aku tidak ada, Kinanti?" tanya Baskara langsung pada intinya. Suaranya yang berat, dalam, dan serak khas pria lelah seketika menggema di keheningan kamar.

Kinanti terkejut mendengar suara Baskara yang tiba-tiba memecah kesunyian. Jantungnya sempat mencelos, namun dengan kecepatan luar biasa, Kinanti bisa menguasai dirinya kembali. Dia mendongak, memasang wajah datar andalannya tanpa ada riak emosi yang tersisa.

"Tidak ada apa-apa. Rumah ini aman-aman saja," jawab Kinanti bohong.

Dia memilih untuk menyembunyikan masalah Natasha secara rapat. Egonya yang tinggi menolak keras untuk terus-menerus terlihat lemah, tak berdaya, dan berakhir mengadu pada suaminya seolah dia adalah anak kecil yang butuh dilindungi. Kinanti ingin menunjukkan bahwa dia bisa bertahan di sangkar emas ini dengan kakinya sendiri.

Baskara mendengus tipis. Dia melangkah maju dua langkah cepat, mengikis jarak di antara mereka hingga tubuh tegapnya menaungi Kinanti sepenuhnya.

"Kau berbohong, Kinanti," bisik Baskara, suaranya merendah namun dipenuhi oleh otoritas yang menuntut kepatuhan. Pria itu mengulurkan tangannya, mencengkeram lembut namun kokoh pinggang ramping Kinanti, lalu dengan gerakan mendominasi yang tak terbantahkan, dia menarik tubuh gadis itu berdiri dan memojokkannya ke dinding kaca besar di sudut kamar.

Dug.

Punggung Kinanti membentur dinding kaca yang dingin secara perlahan. Dada bidang Baskara mengurungnya rapat, menutup segala celah untuk melarikan diri. Sinar matahari pukul lima sore yang mulai meredup dari luar kaca menyinari wajah mereka yang kini hanya berjarak beberapa senti saja.

Napas Kinanti seketika tercekat. Kedekatan yang teramat intim ini memicu kembali ingatan ketakutannya siang tadi tentang bagaimana pria dewasa di depannya ini suatu saat akan meminta haknya sebagai suami. Jantungnya berpacu liar tak beraturan.

"Lepaskan, Om... apa-apaan ini?" bisik Kinanti, mencoba mendorong dada bidang Baskara yang sekeras batu karang.

Baskara menurunkan wajahnya sedikit lagi, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata bening Kinanti. Tangannya yang besar bergerak naik, mengelus lembut sisi leher Kinanti yang hangat, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat.

"Kau adalah istriku sekarang, Kinanti. Berhentilah bersikap keras kepala seolah-olah kau harus berjuang sendirian menghadapi ular-ular di rumah ini," ucap Baskara dengan nada serak yang teramat intim. "Katakan padaku apa yang dilakukan Natasha tadi siang, atau aku yang akan memaksamu berbicara dengan caraku sendiri... dan percayalah, kau tidak akan menyukai caraku memintanya."

Kinanti mencengkeram kemeja Baskara dengan erat, napasnya naik turun memburu. Di bawah tatapan mengunci sang Tuan Pemaksa, seluruh pertahanan ego Kinanti rasanya mulai goyah, menyisakan debaran yang kian menggila di bawah temaramnya langit sore.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!