Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Jangan Janji Kalau Tidak Bisa
"Kei..." Suara Bagas gemetar. "Kelvin..."
Keiko tidak langsung panik dengan suara. Dia panik dengan jeda setelahnya.
Bagas yang biasanya bisa bicara tanpa titik tiba-tiba hanya bernapas putus-putus. Di belakangnya ada bunyi logam jatuh, teriakan orang, dan suara Dimas yang terdengar jauh menyuruh seseorang mundur.
"Bas, lokasi," kata Keiko.
Bu Tuti langsung menoleh dari kursi depan. "Nduk?"
"Kei, dia..."
"Lokasi, Bagas."
Suara Keiko keluar lebih tegas daripada yang dia duga. Tangannya gemetar di atas helm pink, tetapi kata-katanya tidak. Mungkin karena jika dia ikut gemetar seperti Bagas, tidak akan ada yang bergerak.
"Gang belakang... dekat futsal kecil. Bengkel tutup. Aji bawa banyak orang."
Keiko menutup matanya satu detik. "Jangan tutup telepon."
Dia menekan tombol speaker, lalu langsung menelepon Pak Arif dengan ponsel Bu Tuti. Pak Arif mengangkat pada nada kedua.
"Keiko?"
"Pak, Kelvin, Bagas, dan Dimas ada di gang belakang dekat futsal kecil. Aji bawa banyak orang. Bagas menelepon saya sekarang."
Di seberang, suara Pak Arif berubah. Tidak panik, tetapi langsung tajam. "Kamu di mana?"
"Di mobil Bu Tuti, depan sekolah."
"Jangan masuk gang. Saya menuju ke sana dengan satpam. Minta Bu Tuti putar ke jalan besar, berhenti di depan futsal. Jangan turun dulu."
Keiko menatap Bu Tuti.
Bu Tuti tidak menunggu penjelasan. Beliau menyalakan mesin, wajahnya memucat, tetapi tangannya tegas di setir.
"Pegangan, Nduk."
Mobil melaju keluar dari lobby. Keiko tetap memegang dua ponsel. Dari speaker ponselnya sendiri, Bagas masih terhubung. Suaranya naik turun, kadang tertutup benturan dan napas.
"Bas," kata Keiko, "dengar aku. Pak Arif dan satpam sedang ke sana. Kalau bisa, menjauh dari tengah gang. Jangan masuk lagi."
"Dimas masih di sana."
"Bagas."
"Gue nggak bisa ninggalin mereka."
Keiko menggigit bibir sampai sakit. Dia ingin berkata jangan bodoh, tetapi kata itu tidak keluar. Bagas memang berisik, impulsif, sering membuat orang lelah. Namun di momen seperti ini, dia tidak pergi.
"Kalau kamu jatuh juga, siapa yang telepon?" kata Keiko.
Ada jeda. Lalu napas Bagas pecah. "Oke. Oke, gue mundur."
Mobil berhenti di tepi jalan besar dekat lapangan futsal. Dari sana, gang kecil terlihat seperti celah gelap di antara bangunan. Bu Tuti menarik rem tangan.
"Keiko, jangan turun."
Keiko sudah membuka sabuk pengaman.
"Nduk."
Panggilan itu membuat tangannya berhenti.
Bu Tuti menoleh penuh. Mata beliau basah oleh takut dan marah. "Bu tahu kamu takut. Tapi kalau kamu jatuh di tengah jalan, siapa yang Bu tolong duluan?"
Kalimat itu menampar Keiko lebih keras daripada larangan.
Dia kembali duduk, tetapi seluruh tubuhnya condong ke depan. Napasnya terasa pendek. Di pangkuannya, helm pink seperti benda asing.
Tidak sampai dua menit kemudian, Pak Arif muncul dari arah sekolah bersama dua satpam. Mereka berlari menuju gang. Beberapa orang di warung mulai berdiri, menoleh, lalu ikut berteriak ketika melihat satpam masuk.
Suara motor menyala bersamaan.
Satu per satu motor keluar dari ujung lain gang, beberapa hampir saling menabrak. Keiko melihat jaket hitam Aji sekilas di antara mereka, lalu hilang di tikungan.
Pak Arif keluar beberapa detik kemudian, wajahnya keras. Di belakangnya, Dimas berjalan sambil memegangi lengan kiri. Bagas keluar dengan rambut berantakan dan satu sisi seragam kotor. Lalu Kelvin.
Keiko lupa cara duduk.
Kelvin berjalan sendiri, tetapi langkahnya tidak rata. Sudut bibirnya pecah, pipinya memerah gelap, dan ada bekas darah tipis di dekat alis. Seragamnya kusut, bagian bahunya kotor oleh tanah. Dia tetap tegak, seolah tubuhnya menolak memberi Aji bukti bahwa dia berhasil dijatuhkan.
Namun ketika matanya menemukan Keiko di mobil, wajahnya berubah.
Bukan lega.
Takut.
Keiko turun sebelum Bu Tuti sempat menahan lagi.
"Keiko," Kelvin memanggil, suaranya serak. "Kenapa kamu turun?"
Keiko berhenti satu langkah di depannya. Dari dekat, luka di wajahnya lebih jelas. Dia ingin menyentuh, tetapi takut menyakitinya.
"Kamu bilang akan kabari," katanya.
Kelvin membuka mulut.
Tidak ada jawaban yang pantas.
Pak Arif mendekat. "Semua ikut ke UKS dulu. Setelah itu saya hubungi orang tua dan buat laporan ke sekolah."
Bagas langsung protes. "Pak, jangan orang tua saya dulu, nanti Bu Yuni panik."
"Justru karena kamu luka, orang tua harus tahu." Pak Arif menatapnya, lalu menatap Kelvin. "Dan kamu, jangan coba-coba kabur."
Kelvin tidak membalas.
Di UKS, suasana menjadi terlalu terang. Lampu putih, bau obat merah, suara lemari kecil dibuka-tutup. Petugas UKS membersihkan luka Bagas dan Dimas terlebih dahulu karena mereka lebih banyak bicara. Bagas meringis setiap kapas menyentuh kulitnya, tetapi masih sempat mengeluh bahwa harga dirinya lebih sakit daripada pipinya.
Dimas duduk diam. "Harga dirimu memang rentan."
"Dim, gue lagi terluka."
"Aku lihat."
Keiko berdiri di dekat pintu, menggenggam botol air mineral yang diberikan Bu Tuti. Setiap kali Kelvin mengernyit saat lukanya dibersihkan, jari Keiko mengencang di botol itu.
Kelvin akhirnya menoleh. "Jangan lihat."
"Kenapa?"
"Nanti kamu takut."
Keiko menatapnya. "Aku sudah takut."
Kalimat itu membuat ruangan kecil tersebut hening sesaat.
Kelvin menurunkan pandangan.
Setelah petugas UKS selesai membersihkan luka luar dan menyarankan mereka ke klinik untuk pemeriksaan lebih lanjut, Pak Arif mengantar Bagas dan Dimas keluar untuk menunggu wali murid. Bu Tuti berbicara pelan dengan petugas UKS di dekat lemari obat, memastikan tidak ada luka yang terlihat berbahaya.
Keiko dan Kelvin tertinggal di sisi ranjang periksa.
Kelvin duduk di tepi ranjang, satu tangan memegang kompres dingin di tulang pipi. Dia terlihat lebih muda ketika diam seperti itu. Bukan bad boy yang membuat orang minggir di koridor. Bukan anak konglomerat yang dilatih menahan pukulan. Hanya laki-laki tujuh belas tahun yang lelah.
"Maaf," katanya.
Keiko tidak langsung menjawab.
"Aku pikir kalau aku datang, selesai di sana. Dia nggak akan cari kamu."
"Kamu tidak bisa memastikan itu."
"Aku tahu."
"Jangan janji kalau tidak bisa," kata Keiko.
Kelvin menatapnya.
Suara Keiko tidak tinggi. Justru karena pelan, setiap kata terdengar jelas. "Jangan bilang `aku kabari` kalau kamu tahu mungkin tidak sempat. Jangan bilang `nggak apa-apa` kalau kamu pulang dengan darah di wajah. Aku tidak marah karena kamu terluka. Aku marah karena kamu membuatku menunggu dalam gelap."
Kelvin menggenggam kompres lebih kuat.
"Aku salah," katanya.
Itu bukan pembelaan. Bukan alasan. Hanya pengakuan.
Keiko menunduk. Kemarahan yang menahannya sejak tadi tiba-tiba retak, menyisakan lelah yang lebih berat. Perutnya terasa mual. Mungkin karena obat tadi malam. Mungkin karena stres. Mungkin karena tubuhnya memang semakin mudah menyerah.
Kelvin langsung melihat perubahan wajahnya. "Keiko?"
"Aku baik-baik saja."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Kelvin hampir berdiri, tetapi Keiko mengangkat tangan. "Duduk. Kamu yang luka."
Bu Tuti mendekat pada saat yang sama, matanya langsung menangkap pucat di wajah Keiko. "Nduk, kita pulang."
Keiko mengangguk.
Sebelum pergi, dia meletakkan helm pink di kursi sebelah Kelvin.
"Besok aku ada urusan keluarga," katanya. "Jadi tidak ikut belajar."
Kelvin masih memperhatikannya. "Urusan apa?"
"Biasa."
Kata itu terlalu tipis untuk menutupi apa pun, tetapi Kelvin sedang terlalu lelah untuk mengejar.
Malam itu, setelah memastikan Kelvin, Bagas, dan Dimas sudah diperiksa di klinik dekat sekolah dan tidak ada cedera serius yang perlu rawat inap, Keiko pulang bersama Bu Tuti. Di mobil, rasa mualnya datang lagi. Kali ini lebih tajam, seperti tangan dari dalam perut yang memutar pelan.
Bu Tuti menggenggam setir erat. "Besok jadwal kemo, Nduk."
Keiko bersandar ke kaca jendela. Lampu jalan lewat satu per satu di wajahnya.
"Iya."
"Kali ini dokter bilang obatnya lebih kuat."
Keiko menutup mata.
Di ponselnya, pesan Kelvin masuk.
**Kelvin**: Sudah sampai klinik. Bagas ribut. Dimas hidup. Aku juga.
Keiko membaca pesan itu dua kali. Lalu, dengan jari yang mulai dingin, dia membalas seperti biasa.
**Keiko**: Bagus. Aku juga sudah sampai.
Dia tidak menulis bahwa besok tubuhnya akan kembali dibawa ke ruang yang baunya seperti alkohol dan plastik infus.
Dia tidak menulis bahwa kali ini, dia takut.