**Kirana Ayu Wardhani cuma punya satu keinginan: punya rumah.**
Bukan rumah yang bisa dibeli. Rumah yang kalau dia pulang, ada yang nanya "udah makan belum?"
Dua puluh satu tahun, mahasiswa kedokteran, tiga pekerjaan sambilan, dan saldo dompet digital tinggal tiga puluh tujuh ribu rupiah — karena sisanya sudah ditransfer ke ibunya, buat bimbel adiknya.
Lalu satu malam mengubah segalanya. Dan sebulan kemudian, saat dia mengangkat kepala di kelas anatomi, laki-laki dari malam itu sedang berdiri di depan kelas.
Namanya **Pak Damar**. Dosen termuda di fakultas. Dan sekarang, dosennya sendiri.
Dua garis di testpack. Dua pilihan dari Pak Damar.
> *"Ada dua pilihan," katanya, sambil melepas kacamatanya. "Yang pertama, kamu sudah tahu. Yang kedua—"*
> *"Saya cuma pengin punya rumah, Pak."*
> *"Kalau begitu, kita nikah."*
Ayahnya menolak jadi wali. Ibunya minta dua ratus juta. Tetangga sudah mulai berhitung tanggal.
Tapi laki-laki yang katanya cuma dosen biasa itu datang ke rumah petak di Bekasi dengan **mahar** yang membuat seluruh kampung terdiam — satu set instrumen bedah jantung, dan akta notaris atas biaya kuliahnya sampai lulus.
*"Saya nggak taruhan di badan kamu. Saya taruhan di masa depan kamu."*
Mereka menikah. Mereka tidur di kamar terpisah.
Sampai malam itu Pak Damar berdiri di depan pintu kamarnya sambil memeluk bantal.
*"AC kamarku mati. Semalam aja."*
Besoknya dia datang lagi. *"Belum diperbaiki."*
Malam ketiga, dia nggak repot-repot bikin alasan. Dia cuma meletakkan bantalnya dan bilang:
**"Hemat listrik. Buat anak."**
Rana kira dia sudah tahu bentuk paling buruk dari hidupnya.
Dia belum tahu apa-apa.
Dia belum tahu bahwa gelas yang diminum suaminya malam itu **ada yang menaruh sesuatu di dalamnya** — dan orang itu sekarang berjalan di koridor fakultasnya, tersenyum kepada semua orang, membagikan takjil di bulan Ramadan.
Dia belum tahu bahwa lima tahun kemudian, dia akan pulang sebagai dokter — dan anak perempuannya sendiri akan menatapnya, lalu bertanya kepada ayahnya:
**"Ayah, itu siapa?"**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Kartu Nama di Dalam Tas
Rana menemukan kartu nama itu ketika Damar memintanya mengambil pulpen dari tas kerja.
Tas terbuka di kursi makan. Damar sedang menelepon Fajar di balkon, membahas perubahan jadwal laboratorium. Rana meraba kantong depan dan menemukan kartu putih tebal dengan tulisan timbul.
dr. Damar Aryasatya Wicaksana, Ph.D.
Anggota Dewan Riset
Konsorsium Riset Kesehatan Nasional
Di bawahnya tercetak alamat sebuah gedung di SCBD, bukan alamat kampus. Logo kecil di sudut kartu terasa familier, tetapi Rana tidak ingat pernah melihatnya di mana.
Damar selalu memperkenalkan dirinya sebagai dosen dan peneliti. Anggota dewan riset sebuah yayasan kesehatan mungkin masih berhubungan dengan pekerjaannya. Hanya saja kualitas kartu, alamat kantor, dan nomor sekretariat yang tertera tidak cocok dengan lelaki yang mengaku biasa makan di kantin kampus.
“Ketemu?” tanya Damar dari balkon.
Rana buru-buru mengembalikan kartu ke tempat semula. “Belum.”
Pulpen ternyata terselip di samping laptop. Dia menyerahkannya.
“Mas kerja untuk konsorsium juga?”
Damar berhenti membuka tutup pulpen. “Kadang membantu kajian.”
“Yang di kartu?”
Tatapannya bergerak ke tas, lalu kembali kepada Rana. “Kamu lihat kartunya.”
“Tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa. Itu kartu lama.”
Jawabannya masuk akal dan tidak benar-benar menjelaskan. Sebelum Rana bertanya lagi, Damar mengingatkan bahwa kelasnya mulai empat puluh menit lagi. Rasa ingin tahu terlipat bersama kartu itu dan tertinggal di dalam tas.
Di lift, Rana mencari nama konsorsium itu melalui ponsel. Hasil pertama hanya memperlihatkan kegiatan beasiswa, pendanaan riset, dan seminar kesehatan. Foto dewan tidak terbuka karena sinyal buruk. Damar berdiri di sampingnya sambil memeriksa surel, tidak tahu nama belakangnya sedang diketik di kolom pencarian.
Rana menutup halaman sebelum foto termuat. Dia baru menikah, bukan sedang menyelidiki tersangka. Jika kartu itu penting, Damar akan menjelaskan ketika waktunya tepat. Setidaknya begitu alasan yang dia berikan kepada diri sendiri.
Namun saat mobil berhenti di kampus, Damar menerima panggilan. Orang di seberang menyapanya sangat formal dan meminta keputusan tentang proposal bernilai jauh lebih besar daripada dana laboratorium kampus. Damar menjawab hanya dua kalimat, lalu mengatakan keputusan harus menunggu telaah etik.
“Mas sering membantu konsorsium?” tanya Rana.
“Sesekali.”
“Sesekali sampai orang menunggu keputusan Mas?”
Damar memandangnya, seolah hampir mengatakan sesuatu. Bel kelas dari gedung seberang terdengar.
“Kamu akan terlambat.”
Lagi-lagi benar, lagi-lagi bukan jawaban.
Di kampus, masalah lain sudah menunggu.
Reza berdiri di depan ruang tutorial dengan dua gelas kopi. Dia mengulurkan salah satunya ketika Rana mendekat.
“Gue beli yang biasa lo minum.”
“Gue sudah tidak minum kopi.”
“Kita bisa ngobrol sebentar?”
Nadia yang berjalan di samping Rana mengangkat alis. “Dia bilang tidak.”
Reza mengabaikannya. “Gue cuma mau minta maaf. Kemarin gue kasar.”
“Maaf diterima,” kata Rana. “Tapi kita tidak perlu kembali seperti dulu.”
“Kenapa? Karena lo sudah nikah?”
Beberapa mahasiswa menoleh. Rana menarik napas dan menjaga suaranya tetap rendah.
“Karena waktu gue butuh kejelasan, lo bilang gue terlalu menempel. Sekarang gue sudah berhenti menunggu. Tolong hormati itu.”
Reza memegang kedua gelas lebih erat. “Kita masih bisa belajar bareng.”
“Gue punya kelompok sendiri.”
“Sama Nadia terus?”
“Kenapa terdengar seperti hukuman?” sela Nadia.
Rana hampir tertawa. Ketegangan di bahunya turun sedikit.
Reza akhirnya menyerahkan kopi itu kepada mahasiswa lain dan pergi. Dari ujung koridor, Vania melihat seluruh percakapan. Tatapannya berhenti pada cincin tipis di tangan Rana, lalu mengikuti Reza.
“Dia kelihatan marah,” bisik Nadia.
“Reza?”
“Vania.”
“Dia memang tidak pernah suka gue.”
“Sekarang sepertinya lebih tidak suka.”
Di ruang tutorial, Vania duduk dua meja di belakang Rana. Setiap kali nama Reza disebut, kursinya berderit. Rana mencoba fokus pada kasus, tetapi satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal: Jangan merasa menang.
Dia menunjukkan kepada Nadia. Sahabatnya menyimpan tangkapan layar dan menyuruh Rana tidak membalas.
“Kalau dia cuma mau bikin lo takut, balasan adalah hadiah,” kata Nadia.
Rana memblokir nomor itu. Jari masih dingin, tetapi dia tidak menoleh ke belakang. Hari ini dia sudah menutup satu pintu untuk Reza. Dia tidak akan membuka pintu lain hanya karena Vania mengetuk dengan ancaman.
Rana tidak punya waktu memikirkan itu. Setelah kelas, dia harus menjalani salah satu shift terakhir di Kopi Senja. Damar menjemput pukul sembilan. Dia sudah berjanji tidak mengangkat galon, tidak melewatkan makan, dan menghubungi suaminya jika merasa pusing.
Menjelang magrib, kafe mulai penuh. Mbak Sari menangani kasir, Rana membuat minuman dingin, dan Doni mondar-mandir di belakang konter tanpa pekerjaan jelas.
“Suami lo jemput lagi?” tanyanya.
“Iya.”
“Takut lo kabur?”
Rana menutup blender. “Dia memastikan saya pulang aman.”
Doni tertawa kecil. “Sama saja.”
Mbak Sari memanggil Rana untuk makan. Di ruang istirahat, dia menaruh sebungkus nasi di depan Rana.
“Jangan sendirian di belakang kalau Doni ada,” katanya pelan.
Rana berhenti membuka bungkus. “Kenapa?”
“Dia suka cari alasan dekat pegawai perempuan.”
“Pernah melakukan sesuatu?”
Mbak Sari menggeleng terlalu cepat. “Cuma bikin tidak nyaman. Mungkin saya berlebihan.”
Rana teringat cara Doni menepuk bahunya dan komentar tentang Damar. “Mbak tidak berlebihan kalau merasa tidak nyaman.”
Bel pintu berbunyi sebelum Mbak Sari sempat menjawab.
Suara beberapa perempuan memenuhi kafe. Rana keluar dan langsung melihat Vania berjalan paling depan bersama tiga teman. Mereka memilih meja besar dekat jendela, tempat yang bisa dilihat hampir seluruh pelanggan.
Vania mengangkat tangan tanpa memandang menu.
“Pelayan,” panggilnya.
Rana mengambil buku pesanan. “Selamat malam. Mau pesan apa?”
Vania menyebut empat minuman dengan perubahan yang rumit. Satu tanpa gula tetapi menambah karamel. Satu susu oat tanpa es. Satu kopi dengan dua takar espresso dan krim terpisah. Satu teh persik tanpa potongan buah. Rana mengulang setiap pesanan dan menuliskannya.
“Semuanya benar?” tanyanya.
“Kalau kamu bisa mengingat,” jawab Vania.
Salah satu temannya tertawa.
Rana tidak terpancing. Dia meminta nama pesanan dan mencetak tiket. Vania lalu mengatakan minuman itu untuk acara kecil besok sore, bukan diminum malam ini. Rana mencatat pukul pengambilan dan menempelkan tiket di depan area racik. Doni berdiri beberapa langkah di belakangnya dan memperhatikan.
“Teman kampus?” tanya Mbak Sari.
“Bukan teman.”
Vania menolak membawa salinan pesanan. “Saya ingat apa yang saya pesan. Pastikan besok kamu juga ingat.”
Dia pergi bersama teman-temannya. Di belakang konter, Doni tersenyum seolah sudah menunggu sesuatu terjadi. Rana memegang tiket lebih erat, memastikan tulisan di atasnya tidak akan berubah sekalipun besok empat orang sepakat mengatakan hal sebaliknya.
Besok, catatan itu akan menjadi pertahanan Rana.