NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 #Cemburu yang membakar

​"Tunggu dulu, Kai. Mama harus menunggu Om Arfan datang lebih dulu," tahan Bening lembut saat Kaivandra sudah tidak sabar menarik tangannya ke arah pintu. "Lagipula Mama harus mandi dan ganti baju dulu. Lihat... daster Mama terkena krim kue dan noda tepung."

​Kaivandra menghentikan langkahnya. Bocah kecil itu menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan mungilnya. "O-o! Maafkan Kai, Mama... Kai lupa melihat penampilan Mama karena saking senangnya mau belanja baju!"

​Bening terkekeh pelan, mengusap puncak kepala anaknya yang menggemaskan.

​Namun, keceriaan itu seketika terusik oleh suara berat yang terdengar begitu kaku di belakang mereka.

​"Pria itu lagi?" tanya Gibran dengan alis bertaut tajam. Matanya menatap Bening penuh selidik, sementara di dalam relung dadanya, ada letupan panas yang mendadak membakar, sebuah rasa cemburu yang begitu asing namun mencengkeram kuat. "Untuk apa dia datang ke rumahmu siang-siang begini?"

​Bening menghentikan usapannya di kepala Kai, menatap Gibran dengan wajah datar tanpa riak emosi.

​"Untuk mengambil pesanan kue," jawab Bening singkat dan formal. "Itu semua pesanan khusus dari ibunya Mas Arfan."

​Tanpa menunggu balasan atau tanggapan lebih jauh dari mantan suaminya, Bening berlalu begitu saja melangkah masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih pantas.

​Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki di halaman luar mengudara, disusul ketukan pintu yang ramah. Suasana ruang tamu yang tadinya sunyi berubah saat Dokter Arfan melangkah masuk.

​Gibran yang duduk di sofa langsung menegakkan posisinya, memasang wajah kaku dan dingin khas seorang pimpinan tertinggi konglomerat.

​Arfan sedikit terkejut melihat keberadaan mantan suami Bening di sana, namun ia tetap tersenyum sopan. "Eh, ada Pak Gibran di sini..." Arfan lalu beralih menatap bocah di samping sofa. "Hai, Kai! Sudah sangat sehat ya sekarang, Jagoan?"

​"Iya, Om Arfan! Papa ada di sini karena kita mau pergi membeli baju kembaran untuk acara sekolah Kai nanti!" jawab Kai penuh semangat,

​"Wah, seru sekali ya!" puji Arfan ramah. Matanya mengedar menyapu ruang tamu yang sepi. "Ngomong-ngomong, Mama di mana, Kai?"

​"Eh, Mas Arfan sudah datang?"

​Pintu kamar terbuka. Bening keluar dengan setelan blouse sederhana dan celana kain yang rapi, rambutnya diikat rapi ke belakang. Senyum ramah murni terpatri di wajah cantiknya saat menatap Arfan, dan nada bicaranya melunak halus, sangat berbeda dari cara bicaranya pada Gibran. "Sebentar ya, Mas... aku ambilkan kotak-kotak kuenya di dapur."

​Melihat senyuman hangat dan mendengar nada lembut Bening pada pria lain, telinga Gibran seketika terasa panas. Dadanya bergemuruh hebat.

​"Biar aku bantu membawanya ke dalam mobil, Bening," tawar Arfan dengan nada penuh perhatian, beranjak hendak menyusul Bening ke area dapur.

​Namun, sebelum langkah Arfan benar-benar mencapai ambang pintu dapur, sosok tinggi Gibran sudah menyerobot masuk lebih dulu. Karena dorongan rasa cemburu yang kian membakar dada, Gibran dengan cepat mengangkat dua kantung plastik besar berisi tumpukan kotak kue dari atas meja dapur, tepat sebelum jemari Arfan sempat menyentuhnya.

​"Biar saya saja yang membantu," potong Gibran dingin dengan tatapan menantang yang sangat jelas. "Pak Arfan mungkin bisa membantu dengan membukakan bagasi mobil Anda di luar."

​Arfan sempat tertegun sejenak melihat aksi impulsif CEO dingin itu, namun senyum tipis yang penuh pemahaman perlahan terbit di bibirnya. "Baik, Pak Gibran. Terima kasih banyak," sahut Arfan tenang lalu berjalan mendahului ke luar rumah.

​Bening yang berdiri di sudut dapur hanya menatap kelakuan mantan suaminya dengan kebingungan yang membuncah di dalam hati. 'Apa-apaan Mas Gibran ini? Kenapa dia yang repot-repot mengangkat kue?' batin Bening bertanya-tanya, meski ia memilih menyimpan rapat pertanyaan itu.

​Usai tumpukan kotak kue tertata rapi di dalam bagasi mobil Arfan, Gibran sengaja berdiri menghalangi jalan Arfan dengan cara halus namun tegas.

​"Sebaiknya Pak Arfan segera berangkat agar kualitas kuenya tetap terjaga sebelum dimakan," ucap Gibran dengan nada mengusir secara tersirat. "Kami juga harus segera pergi sekarang, Kaivandra sudah tidak sabar untuk belanja."

​Arfan mengangguk paham, lalu menoleh pada Bening yang berdiri di dekat teras. "Bening, saya pamit ya. Untuk pembayarannya, uangnya sudah saya transfer ke rekeningmu seperti biasa, ya."

​"Iya, Mas Arfan. Terima kasih banyak ya," balas Bening ramah.

​"Permisi, Pak Gibran," pamit Arfan sopan. "Dadaaah Jagoan!"

​"Dadaaa Om Arfan!" seru Kai melambaikan tangan sampai mobil SUV putih itu melaju keluar dari halaman rumah Bening.

​Bening memandangi punggung Gibran yang tampak kaku di depannya. Di dalam benak Bening, sebuah keraguan kecil mulai menyusup. 'Apakah... mantan suamiku ini sedang cemburu? Tapi untuk apa? Bukankah dia sendiri yang menghempaskanku tujuh tahun lalu?'

.

.

​Tak berapa lama kemudian, mereka bertiga sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan paling mewah di pusat kota.

​Bening melangkah canggung di samping Gibran dan Kai. Begitu memasuki area toko pakaian keluarga ternama, mata Bening melebar menatap deretan label harga yang tertera di baju-baju yang dipajang. Untuk satu potong kemeja saja, harganya bisa setara dengan hasil penjualannya selama seminggu penuh.

​"Mas... ini terlalu mahal," bisik Bening pelan, meremas tali tasnya saat mendekati Gibran. "Kita bisa cari di toko pakaian biasa di luar mall ini..."

​"Untuk putraku, aku tidak mau memberikan barang yang biasa saja, Bening," potong Gibran cepat, menatap Bening tajam namun tersirat nada perlindungan di sana. "Dia berhak mendapatkan yang terbaik."

​Sebelum Bening sempat membantah lagi, Kaivandra sudah berlari riang menuju salah satu manekin di sudut ruangan.

​"Mama! Papa! Lihat deh, ada baju lucu banget!" seru Kai heboh, menunjuk tiga setel pakaian yang dipajang berurutan.

​Baju yang dimaksud Kai adalah tiga kemeja couple. Kemeja-kemeja itu berbahan katun premium berwarna krem hangat. Di bagian belakangnya, terdapat bordiran bergambar siluet kepala singa yang gagah namun imut, lengkap dengan sulaman tulisan berwarna emas di bawahnya, Dad untuk ukuran dewasa pria, Mom untuk ukuran wanita dewasa, dan Son untuk kemeja ukuran anak-anak.

​"Ada tulisan Mom, Dad, sama Son-nya!" Kai melompat-lompat gembira. "Papa, ayo kita coba yang ini! Kai mau pakai yang ini!"

​Gibran tersenyum lebar, senyuman tulus yang sangat langka terlihat di wajah kaku sang CEO. "Pilihan yang sangat bagus, Jagoan. Ayo kita coba."

​Gibran memanggil pelayan toko untuk mengambilkan ukuran yang pas untuk mereka bertiga. Sepuluh menit kemudian mereka bertiga sudah mencoba kemeja itu. Namun saat di depan cermin besar fitting room, Bening dengan sigap tetap menjaga jarak aman. Saat memperagakan kemeja itu di depan Kai, Bening berdiri sejauh satu meter dari Gibran. Ia sengaja mengalihkan pandangannya, enggan bersikap terlalu dekat atau memperlihatkan rasa senangnya.

​Sikap Bening yang secara konsisten menarik diri dan membangun tembok pembatas tinggi itu justru membuat pertahanan ego Gibran semakin terkikis habis. Bukannya marah karena Bening bersikap dingin, Gibran justru merasa dadanya teremas pilu.

​Saat melihat Bening bercermin dengan kemeja bertuliskan Mom di samping Kai yang memakai kemeja Son, pantulan bayangan mereka bertiga di cermin terlihat sangat utuh,nseperti sebuah keluarga sempurna yang selama ini hilang dari hidupnya.

​"Ganti bajumu, Bening. Kita ambil setelan yang ini," kata Gibran, suaranya melunak tak lagi sekeras biasanya.

​Bening menoleh pelan, menatap mata Gibran lewat pantulan cermin. Ada pancaran kerinduan dan rasa penyesalan yang kini memancar begitu jelas dari iris mata pria itu, membuat dada Bening berdesir hebat hingga ia harus dengan cepat menundukkan kepalanya.

​"Baik... aku akan ganti baju dulu," bisik Bening pelan, bergegas masuk kembali ke dalam ruang ganti untuk menyembunyikan getaran di dadanya yang kian tak terkendali.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!