Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
topeng karismatik Sang Menantu
Pintu jati raksasa di hadapan mereka perlahan terbuka, menyingkap interior rumah utama keluarga Chen yang bernuansa megah namun kaku. Cahaya lampu kristal yang menggantung tinggi di langit-langit memantulkan kilauan hangat ke lantai marmer putih yang mengilap. Lukisan-lukisan klasik berbingkai emas menghiasi dinding, sementara vas-vas porselen antik tersusun rapi di setiap sudut ruangan. Kemewahan rumah itu begitu mencolok.
Tiffany menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya sebelum mengambil langkah pertama memasuki "medan perang". Malam ini bukan sekadar makan malam keluarga. Ini adalah ujian pertama bagi pernikahan kontrak yang mereka bangun di atas kebohongan.
Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, pergerakan di sampingnya membuat Tiffany menoleh.
Gavin tiba-tiba menegakkan punggungnya.
Sifat cengengesan, konyol, dan malas yang biasanya melekat pada pemuda itu mendadak menguap tanpa bekas. Tatapan matanya berubah menjadi tenang, tajam, dan penuh percaya diri. Dengan gerakan yang sangat halus, luwes, serta natural, Gavin menekuk lengan kanannya sedikit, menyodorkannya ke arah Tiffany dengan gestur mengundang yang begitu anggun, khas pria yang terbiasa menghadiri jamuan kalangan elite.
Perubahan itu begitu mendadak hingga Tiffany sempat membeku beberapa detik.
Batinnya dipenuhi tanda tanya.
Bagaimana mungkin pria yang sehari-hari menyebalkan dan tidak tahu aturan ini bisa berubah seperti ini?
Selama ini Tiffany selalu menganggap celotehan Gavin yang mengaku sebagai "Sultan Jakarta" di apartemen hanyalah bualan kosong orang miskin yang sedang berkhayal. Namun, melihat cara Gavin berdiri, cara menatap ruangan, bahkan cara mengendalikan ekspresi wajahnya, benteng logika Tiffany mulai sedikit goyah.
Aura itu terasa terlalu alami untuk sekadar sandiwara.
Tanpa sempat berpikir lebih jauh, Tiffany menerima lengan Gavin. Jemarinya menggenggam pelan sebelum mereka berjalan berdampingan memasuki ruang perjamuan besar.
Suara langkah kaki mereka bergema lembut di atas lantai marmer. Beberapa pelayan yang berdiri berjajar langsung menundukkan kepala dengan hormat. Tidak ada satu pun yang berbicara. Keheningan justru membuat suasana terasa semakin menegangkan.
Di ujung ruangan, Tuan Chen duduk di kursi utamanya dengan wajah tenang. Tatapannya tajam, seolah mampu membaca isi hati setiap orang yang memasuki ruangan itu. Di sampingnya duduk seorang wanita paruh baya berwajah lembut yang menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangat—Ibunda Tiffany chen.
"Silakan duduk. Makan malamnya sudah siap," ujar Ibu Chen sambil mempersilakan mereka menuju meja makan.
Meja makan panjang dari kayu jati itu telah dipenuhi berbagai hidangan khas Tionghoa. Aroma sup ayam herbal berpadu dengan wangi ikan kukus, bebek panggang, tumis sayuran segar, serta aneka dim sum yang masih mengepulkan uap hangat. Penataannya begitu rapi hingga setiap hidangan tampak seperti karya seni.
Gavin mengangguk sopan sebelum melangkah dengan tenang.
Begitu tiba di dekat meja makan, sebelum dirinya sendiri duduk, Gavin melangkah ke belakang kursi Tiffany. Dengan gerakan yang sigap namun tetap elegan, ia menarik kursi tersebut perlahan, mempersilakan Tiffany duduk terlebih dahulu sebelum mendorong kursinya kembali secara hati-hati. Setelah memastikan Tiffany sudah nyaman, barulah Gavin mengambil tempat duduk di sampingnya.
Lagi-lagi Tiffany dibuat terkejut.
Ia menoleh sekilas ke arah Gavin dengan pandangan tidak percaya.
Beberapa hari lalu, pria ini masih tampak seperti tidak memedulikan apa pun. Namun malam ini, setiap gerakannya begitu teratur dan penuh etiket, seolah semua itu sudah menjadi kebiasaan sejak lama.
"Apa dia benar-benar hanya buruh pabrik?" batin Tiffany.
Di sisi lain meja, Tuan Chen yang sejak tadi mengamati dengan mata menyipit perlahan menaikkan alisnya.
Sebagai pebisnis senior yang telah puluhan tahun bergaul dengan pejabat, investor, dan keluarga konglomerat dari berbagai negara, ia tahu betul bahwa bahasa tubuh tidak mudah dipalsukan. Cara Gavin berdiri, menarik kursi, menjaga postur, hingga mengatur kontak mata menunjukkan latihan dan kebiasaan yang panjang.
Kecurigaan Tuan Chen memang belum hilang.
Namun, untuk pertama kalinya, kewaspadaannya sedikit menurun.
"Tuan Chen, Nyonya Chen," sapa Gavin.
Meskipun logat Mandarin-nya masih terdengar agak kental, suaranya tetap terdengar mantap, tenang, dan penuh rasa hormat.
Gavin kemudian mengambil sebuah kotak beludru mewah dari tas yang dibawanya. Dengan kedua tangan, ia menyodorkannya ke atas meja sesuai etiket yang berlaku.
"Ini ada sedikit oleh-oleh dari saya yang baru tiba dari Jakarta. Suplemen herbal sarang burung walet premium dan ginseng merah. Saya dengar Tuan Chen sangat sibuk mengurus perusahaan, jadi ini sangat baik untuk menjaga stamina dan kesehatan... encok Tuan Chen."
Gavin menutup kalimatnya dengan senyum manis tanpa dosa.
Sesaat ruangan itu hening.
Mendengar kata "encok", Tiffany yang sedang mengangkat gelas air hampir saja tersedak. Ia buru-buru menutup mulutnya sambil berusaha menahan batuk.
Matanya langsung melotot tajam ke arah Gavin.
"Dasar manusia menyebalkan! Dia sengaja, ya?" gerutu Tiffany dalam hati.
Sebaliknya, Nyonya Chen justru menutup mulutnya sambil terkekeh pelan. Tawanya yang lembut berhasil sedikit mencairkan suasana yang sejak tadi terasa tegang.
Bahkan beberapa pelayan yang berdiri di belakang hanya bisa saling bertukar pandang sambil mati-matian menahan ekspresi agar tetap profesional.
Tuan Chen sendiri tetap memasang wajah datar, meski sudut bibirnya sempat bergerak nyaris tak terlihat. Ia segera kembali memasang ekspresi dingin sebelum ada yang menyadarinya.
Nyonya Chen menerima hadiah tersebut dengan kedua tangan. Matanya tampak berbinar melihat perhatian kecil dari menantu barunya.
"Astaga, Menantuku. Kamu tidak perlu sungkan seperti ini. Sekarang kita sudah menjadi keluarga. Panggil saja Ayah dan Ibu."
Beliau tersenyum semakin hangat.
"Pantas saja Tiffany mau menikah denganmu. Ternyata kamu orang yang sangat perhatian. Kamu jauh lebih baik daripada yang Ibu bayangkan."
Ucapan itu membuat Tiffany sedikit memalingkan wajahnya. Entah mengapa ia merasa bersalah telah membohongi ibunya, tetapi di saat yang sama ia juga heran melihat Gavin mampu memainkan perannya dengan begitu meyakinkan.
Sementara itu, Gavin hanya membalas dengan senyum rendah hati.
"Terima kasih, Bu. Saya hanya ingin memberikan sedikit tanda hormat. Semoga Ayah dan Ibu berkenan menerimanya."
Jawaban sederhana itu kembali menambah kesan positif di mata Ibu Chen.
Namun, berbeda dengan istrinya, Tuan Chen tidak mudah luluh.
Ia berdehem pelan, lalu melipat kedua tangannya di atas meja jati. Tatapan matanya kembali mengarah lurus kepada Gavin, seolah sedang menilai setiap perubahan ekspresi sekecil apa pun.
Topeng karismatik Gavin memang berhasil mencuri poin pada awal pertemuan.
Akan tetapi, bagi seorang pebisnis setajam Tuan Chen, kesan pertama hanyalah pembuka.
Ujian yang sesungguhnya baru saja akan dimulai . Di balik aroma makanan yang menggugah selera dan suasana makan malam keluarga yang tampak tenang, pertanyaan-pertanyaan sulit telah menunggu untuk dilontarkan kapan saja.
Bagai mana menurutmu versi ini apakah lebih bagus dari versi yang lama