NovelToon NovelToon
Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Anak Genius / Mafia
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.

Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Bekal Untuk Leon

Pagi itu, suasana Wijaya Mansion kembali sibuk seperti biasanya. Beberapa pelayan berlalu-lalang membawa nampan sarapan, sementara suara langkah kaki terdengar bersahutan di sepanjang lorong mansion yang luas.

Nathan telah mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Sebuah jam tangan mewah melingkar di pergelangan kirinya, melengkapi penampilannya yang selalu rapi dan berwibawa.

Pria itu berjalan menuruni tangga tanpa tergesa.

"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa para pelayan serempak sambil membungkukkan badan.

Nathan hanya mengangguk tipis. Tatapannya sekilas menyapu ruang makan. Alan Wijaya sudah duduk menikmati secangkir kopi hitam, sedangkan Rieke tengah membaca koran pagi.

Naomi juga berada di sana. Perempuan itu mengenakan blouse berwarna biru muda dipadukan rok panjang berwarna krem. Penampilannya sederhana, tetapi justru memancarkan kesan hangat yang berbeda dari penghuni mansion lainnya.

Saat melihat Nathan datang, Naomi berdiri pelan. "Selamat pagi."

Nathan hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum menarik kursinya.

Tak ada percakapan di antara mereka. Suasana meja makan kembali dipenuhi keheningan. Beberapa menit kemudian Nathan meletakkan cangkir kopinya.

"Mama, Papa... saya berangkat."

Alan mengangguk. "Hati-hati."

Nathan berdiri. Sebelum melangkah keluar, tanpa sadar pandangannya sempat bertemu dengan Naomi. Namun hanya sesaat. Pria itu segera membuang wajah dan berjalan menuju pintu depan. Tak lama kemudian suara mesin mobil terdengar menjauh meninggalkan mansion.

Naomi mengembuskan napas pelan. Entah mengapa... keberadaan Nathan selalu membuat suasana menjadi kaku. Setelah sarapan selesai, Naomi membantu para pelayan membereskan meja makan.

"Tidak usah, Nyonya."

Seorang pelayan buru-buru mengambil piring dari tangannya. "Ini memang pekerjaan kami."

Naomi tersenyum kecil. "Aku hanya membantu."

"Tapi kalau Tuan Nathan tahu...."

Naomi menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."

Melihat perempuan itu tetap bersikeras, para pelayan akhirnya membiarkannya. Meski baru beberapa hari tinggal di mansion itu, Naomi tidak pernah bersikap layaknya seorang nyonya besar. Ia bahkan ikut mengangkat piring-piring kotor menuju dapur. Hal itu membuat beberapa pelayan saling bertukar pandang.

"Nyonya muda benar-benar berbeda...."

"Iya...."

"Belum pernah ada yang seperti ini."

Bisikan-bisikan kecil terdengar di sudut dapur. Naomi tentu tidak menyadarinya.

Perhatiannya justru tertuju pada seorang kepala pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sebuah kotak makan berwarna hitam.

Kotak itu diisi dengan sangat rapi ada nasi.

Steak sapi. Kentang panggang. Salad dan buah potong. Semuanya terlihat mewah. Naomi memperhatikan beberapa saat sebelum akhirnya bertanya pelan,

"Itu untuk siapa?"

Kepala pelayan menoleh. "Untuk Tuan Muda Leon."

Naomi mengangguk pelan. tapi belum sempat ia mengalihkan pandangan, kepala pelayan kembali berucap sambil menghela napas.

"Sayangnya...."

"Kenapa?"

"Bekal ini hampir setiap hari kembali utuh."

Naomi sedikit terkejut. "Tidak dimakan?"

Kepala pelayan menggeleng. "Kadang dibuang. Kadang malah tidak disentuh sama sekali. Sudah bertahun-tahun seperti itu."

Naomi terdiam. Entah mengapa, hatinya terasa tidak nyaman mendengar penjelasan tersebut. Sulit baginya membayangkan seorang anak pulang sekolah setiap hari tanpa pernah menyentuh bekal yang telah disiapkan untuknya dengan penuh perhatian.

"Bukankah itu sayang?"

"Kami juga berpikir begitu."

"Tapi Tuan Muda Leon memang sulit ditebak."

"Kalau dipaksa makan, beliau justru semakin marah."

Naomi memandang kotak makan itu cukup lama. Pikirannya melayang pada kejadian pagi tadi. Leon memang terlihat keras kepala.

Namun tatapan matanya menyimpan kesepian yang tidak bisa disembunyikan.

Naomi tersenyum tipis. "Kalau begitu...."

Semua pelayan menoleh kepadanya, menunggu dengan saksama apa yang akan diucapkan Naomi berikutnya.

"Boleh aku mencoba membuat bekalnya hari ini?"

Ucapan itu langsung membuat suasana dapur mendadak sunyi. Bahkan suara dentingan peralatan masak yang sejak tadi terdengar pun seolah ikut menghilang.

Sementara kepala pelayan tampak ragu. "Nyonya... bukannya tidak boleh. Hanya saja Tuan Muda Leon tidak pernah menyukai masakan orang lain."

Naomi terkekeh pelan. "Belum tentu, lagipula

kalau belum mencoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya."

Ucapan sederhana itu membuat kepala pelayan akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau begitu silakan."

Naomi langsung mencuci kedua tangannya.

Ia mengenakan celemek sederhana yang diberikan salah satu pelayan. Melihat pemandangan itu, beberapa pelayan lagi-lagi saling berpandangan. Belum pernah ada nyonya keluarga Wijaya yang masuk ke dapur hanya demi membuat bekal makan siang.

Naomi membuka lemari pendingin. Isinya begitu lengkap. Namun ia tidak memilih bahan-bahan mahal. Tangannya justru mengambil ayam segar, telur, wortel, bayam, dan beberapa bumbu dapur sederhana.

"Apa Nyonya yakin hanya memasak ini?" tanya salah seorang pelayan.

Naomi mengangguk sambil tersenyum. "Kadang yang dirindukan bukan makanan mahal. Tapi rasa seperti di rumah," jelas Naomi yang membuat beberapa pelayan terdiam.

Perlahan aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi dapur. Naomi memasak ayam kecap dengan bumbu sederhana. Ia juga membuat telur dadar yang dipotong rapi menjadi beberapa bagian. Sayur bening bayam dimasaknya dengan kuah hangat yang segar.

Tak lupa nasi putih yang masih mengepul dimasukkan ke dalam kotak makan. Semuanya ditata serapi mungkin. Tak ada hiasan berlebihan ataupun makanan mewah.

Namun setiap hidangan dibuat dengan penuh perhatian.

Lalu Naomi memandang hasil masakannya sambil tersenyum puas. "Semoga ...dia mau mencobanya."

☘️☘️☘️☘️☘️

Teng... teng... teng...

Bel tanda waktu istirahat siang berbunyi nyaring memenuhi seluruh area sekolah.

Para siswa berhamburan keluar dari kelas. Koridor yang semula tenang seketika dipenuhi suara tawa dan obrolan. Sebagian bergegas menuju kantin, sementara yang lain memilih duduk di taman atau gazebo sekolah sambil menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah.

Leon berjalan santai menyusuri koridor dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

"Leon! Ke kantin, yuk!" seru salah seorang temannya.

"Nanti," jawab Leon singkat tanpa menghentikan langkah.

Ia justru menuju bangku panjang di bawah pohon ketapang yang cukup rindang di sudut taman sekolah. Setelah meletakkan tasnya di samping, pikirannya tanpa sengaja kembali teringat ucapan kepala pelayan sebelum ia berangkat ke sekolah tadi.

"Tuan Muda, bekal hari ini berbeda. Nyonya muda yang memasaknya sendiri khusus untuk Anda."

Leon mendecak pelan. "Ck... sok perhatian."

Meski begitu, tangannya perlahan meraih kotak makan yang tersimpan di dalam tas. Lalu, ia membukanya dengan ragu.

Bersambung

1
Nar Sih
brati ada penyusup msuk suruhan alicia ,
Nar Sih
mungkin kah satpam tersebut suruhan alicia ,untuk memata,,i naomi hnya kak ayu yg tau
guest1053527528
siapa yg mata2 Thor dan semoga Naomi segara dapat orangx
Nar Sih
semagat nathan dan naomi💪
Nar Sih
semagat 💪 nathan ,cpt selesai kan mslh mu dgn si adrian biar semua nya tenang
Nar Sih
semagat naomi💪
Nar Sih
cerita lah pada nathan ,naomi tentang ancaman alicia mingkin suami mu bisa membantu mslh ini
mama
apa aq bilang nathan itu CEO terbodoh🤣..ada musuh di dlm perusahaan aj gk tau🤭..setelah bangkrut baru dah tau si nathan klu musuh ny ad dideket ny🤣
Nar Sih
hti,,nathan musuh di dekat mu ,waspadalah
Nar Sih
siap kak semoga lolos di 20 bab💪
Ayumarhumah: Aamiin Kak ....🤲🤲🤲🤲
total 1 replies
Nar Sih
satu mslh tentang msa lalu natan dan alicia sgra terungkap
Mita Paramita
bahasa Naomi manggil Nathan tuan terlalu baku jadi kesan ny kayak majikan dan budaknya 🤣🤣🤣
Ayumarhumah: biarkan saja kak nanti ada saatnya berubah🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
sip naomi sgra kirim poto kakak mu ke suami mu biar tau
Mita Paramita
ternyata Nathan duda beranak satu ya🤣🤣🤣
Mita Paramita
Alicia kakak laknat 🤣🤣🤣jebak adiknya sendiri
Nar Sih
semoga ini awal perubahan yg lebih baik dari suami mu naomi
Nar Sih
semoga dgn selesai dan terbongkar nya mslh leon yg ngk berslh ,bisa membuat hubungan ayah dan ank lebih baik lgi
mama
hmmm dasarnya kepala sekolah ny oon pisan,makany jgn asal nuduh duluu... cek lah CCTV-nya biar gk asal main hukum aj tu si nathan dan marah2 leon
Nar Sih
ahir nya kbnran terungkap ,dan bnr kan kata naomi ,leon gk slh ,natan yg kurang perhaitaan ke putra nya yg bikin leon diam
Oma Gavin
makanya nathan jadi ortu jangan arisan merasa dirimu selalu benar snak sendiri jadi korban sekarang rasakan leon sudah terlanjur membenci mu sampai kapanpun ingatan leon tetap ada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!