NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi

Di gazebo suasana ramai. Kertas HVS, spanduk, dan balon ungu-putih berserakan. Di tengah spanduk besar tertulis: "CHARITY BOOTH: SUARA YANG DIAM"

Berani Bicara, Berani Selamat.

Anak-anak panitia duduk lesehan. Ada yang sedang menghitung stok gelang, ada yang latihan orasi.

Di tengah keributan itu, Jake sadar.

Serena hanya diam.

Sepanjang pembicaraan ia hanya menjawab seperlunya. Kalau ditanya, ia mengangguk. Kalau diminta pendapat, ia menunduk, mencoret-coret kertas kosong.

Sesekali tatapan mereka bertemu. Tapi cepat-cepat Serena mengalihkannya. Ke spanduk. Ke balon. Ke mana saja, kecuali ke Jake.

"Jadi booth kita nanti ada simulasi konseling juga ya," kata salah satu panitia. "Biar orang tau kemana harus lapor kalau di rumah nggak aman."

Kalimat itu menggantung.

Tangan Serena yang memegang pulpen berhenti.

Alya meliriknya sekilas, lalu menjawab cepat. "Iya. Harus. Banyak yang di luar sana butuh bantuan tapi takut."

Jake bersandar ke tiang gazebo. Matanya nggak lepas dari Serena.

"Eh Ren," panggilnya pelan. "Lo kenapa diem aja dari tadi?"

Serena kaget. Ia mendongak.

"Nggak... nggak apa-apa, Kak." jawabnya cepat. Terlalu cepat. "Aku setuju aja sama semuanya."

Jake mengernyit. "Yakin? Muka lo pucat."

"Udah ah, lanjut bahas stand makanan aja." potong Serena sambil buru-buru berdiri. "Aku ke kantin dulu ya. Haus."

Tanpa nunggu jawaban, ia langsung pergi. Meninggalkan kertas coretan yang isinya cuma satu kata berulang-ulang:

takut. takut. takut.

Serena berjalan cepat memotong lapangan. Angin siang panas, tapi punggungnya dingin.

Langkah kaki terdengar di belakangnya.

Ia tidak menoleh.

Sampai di lorong sepi belakang gedung, suara itu memanggil.

"Ren."

Serena terkejut. Ia menoleh.

Jake. Napasnya terengah-engah, seperti telah berlari mengejar serena.

"Kak Jake... ada perlu apa?" tanyanya. Suaranya dibuat setenang mungkin.

Jake menyelipkan tangan ke saku. Ia menatap Serena lama.

"Lo gapapa kan, Ren?"

Serena memaksakan senyum kecil. Senyum yang bahkan tidak sampai ke mata.

"Nggak apa-apa, Kak. Aman aja kok."

Hening.

Suara jangkrik dan kipas AC dari jendela kelas jadi satu-satunya yang kedengeran.

Lalu Jake bertanya pelan.

"Lo... masih tinggal sama Revan?"

Dunia Serena berhenti.

Ia terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Jantungnya berdebar sampai ke tenggorokan.

Tanpa jawaban, ia memalingkan wajah. Tasnya ia peluk lebih erat.

Lalu ia buru-buru pergi. Meninggalkan Jake berdiri di tempat, dengan pertanyaan yang menggantung di udara panas.

 

Langit sore memerah ketika Serena keluar dari gerbang kampus bersama Alya.

Langkah mereka terhenti sejenak.

Di seberang jalan, di bawah rindang pohon, terparkir sebuah mobil hitam. Bersandar pada kap mesinnya, berdiri Revan.

Ia mengenakan kaus hitam dan celana panjang. Satu tangannya masuk ke dalam saku, sementara tangan satunya sibuk memainkan ponsel. Wajahnya datar. Seolah sudah cukup lama menunggu di tempat itu.

Alya menyenggol lengan Serena pelan.

“Eh, Ren. Itu siapa? Kakakmu?”

Jantung Serena seakan merosot.

Ia mengangguk sekali.

“Iya. Aku duluan, ya.”

Tanpa menunggu jawaban Alya, Serena melangkah pergi.

Revan tidak menyapa. Tidak juga tersenyum. Ia hanya menoleh ketika Serena telah berdiri di sampingnya.

Kemudian ponsel itu dimasukkan ke dalam saku. Terdengar bunyi klik pelan. Pintu mobil di sisi penumpang terbuka.

“Masuk.”

Hanya itu yang ia ucapkan.

Serena menurut. Ia duduk, lalu memasang sabuk pengamannya sendiri.

Dari kejauhan, di area parkiran, Jake masih berdiri.

Ia menyaksikan semuanya. Pintu yang dibukakan untuk Serena. Revan yang berputar menuju kursi pengemudi. Lalu masuk dan menutup pintu mobil.

Genggaman tangan Jake di dalam saku mengerat.

 

Pintu mobil tertutup.

Hening.

Cuma ada suara mesin yang dinyalakan, dan AC yang langsung dingin menusuk kulit. Serena memeluk tasnya di pangkuan. Matanya lurus ke depan.

Revan tidak langsung menjalankan mobil.

Ia diam beberapa detik. Lalu tangannya meraih ke kursi belakang.

Sebuah buket besar muncul di sela jok. Bunga lili putih. Banyak. Sampai memenuhi hampir seluruh dashboard. Wanginya langsung memenuhi kabin mobil.

Revan meletakkannya di pangkuan Serena. Tanpa menoleh.

Di tengah tangkainya, terselip secarik kertas kecil. Tulisan tangan.

Maaf.

Cuma satu kata.

Serena menatap buket itu. Jari-jarinya bergetar. Ia tidak menyentuhnya.

"Turunkan." ujar Revan akhirnya. Suaranya rendah.

Serena kaget. "Hah?"

"Kaca." ulangnya.

Serena buru-buru menekan tombol. Kaca jendela turun setengah. Angin sore langsung masuk, menerbangkan kelopak lili yang hampir rontok.

Revan baru menjalankan mobil setelah itu.

Sepanjang jalan tidak ada yang bicara. Tidak ada radio. Tidak ada tanya "hari ini gimana".

Yang ada cuma wangi lili yang terlalu pekat. Dan satu kata di kertas itu yang rasanya lebih berat dari buketnya sendiri.

Maaf.

Maaf untuk apa?

Untuk semalam? Untuk teriakannya? Untuk... Tindakan lancang nya yang membuka ponselnya tanpa izin?.

Serena menunduk. Ia ingin membuang buket itu. Tapi tangannya tidak sanggup.

Di sepanjang perjalanan tidak ada dari mereka yang membuka mulu, hingga mobil berhenti di pelataran apartemen.

Revan mematikan mesin. Tidak ada kata "sampai". Tidak ada "turun".

Ia keluar duluan. Pintunya ditutup pelan.

Serena masih duduk di dalam. Buket lili putih itu masih di pangkuannya. Wanginya sekarang mulai membuat nya mual.

Ia turun dan meninggalkan buket itu di dalam mobil. Sebelum serena melangkah, dia berubah fikiran. Serena kembali membuka pintu mobil dan mengambil buket itu lalu berjalan masuk menuju kamar apartemen.

Saat sampai di dalam ruang tamu kosong. hanya terdengar suara jam dinding. Tik. Tak. Tik. Tak.

Revan sudah berada di dalam kamar. Tapi bukan kamar biasa yang ditempati Serena. Kamar satunya lagi, kamar yang mulai sekarang Revan lebih sering tempati.

Pintu nya tidak di kunci. Serena melihat beberapa dokumen di meja dekat sofa. Laptopnya juga tidak ada di sana. Dia pasti sedang sibuk sekarang. Pikir Serena.

Serena masih berdiri di ambang pintu. Di tangannya, buket itu. Kertas kecil dengan tulisan Maaf masih nyangkut di pita.

Ia berjalan ke sofa. Meletakkan buket itu di atas nya. Rapi.

Serena meletakkan tas nya di sofa, tepat di samping buket itu. Lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar, berniat membersihkan diri.

Beberapa menit kemudian, Serena keluar dari kamar. Rambut nya setengah basah. Ia berniat untuk menemui Revan. Ingin membahas soal tugas kelompok nya, yang ada Jake di dalam kelompok itu.

Namum langkahnya ragu. Tangan nya sudah menyentuh gagang pintu itu. Serena memandang cicin diamond pink yang melingkar di jari manis nya.

Setelah mengumpulkan keberaniannya Serena membuka pintu itu. Tapi. Belum sempat dia membuka, Revan sudah lebih dulu keluar. Serena tersentak. Terkejut.

Wajah Revan datar tanpa ekspresi, suaranya rendah "Ada apa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!