"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macha Lindu, Daddy
Siang itu, ketika Marsha tengah terlelap di bangsal rumah sakit, Alina menyempatkan diri kembali ke kontrakan untuk mengambil pakaian ganti.
Belum juga pintu itu ia buka, Cyntia sudah memanggil dari kejauhan. "Mba Alina.... ."
Memaksa Alina berbalik. "Cyn, dari mana?"
"Abis belanja mba." Serunya, sembari mengangkat tinggi-tinggi barang belanjaanya. "Mba Alina lama tidak kelihatan, dari mana aja? Marsha mana?" Sembari menoleh kesana-kemari, mencari keberadaan Marsha yang sudah lama tak pernah ia jumpai.
"Marsha lagi di rawat di rumah sakit, Cyn."
Membuat Cyntia yang mendengarnya itu pun terkejut bukan main. "Ya Tuhan, Macha minuman rumput itu sakit apa mba?"
"Hanya demam biasa. Tapi ya tetap saja butuh biaya banyak Cyn. Ini aku juga lagi cari-cari kerja. Hitung-hitung, buat nyukupin kebutuhan sehari-hari." Timpal Alina setengah berbohong.
"Mba mau pekerjaan? Ini aku ada loker, tapi jadi office girl di tempatku mba, gimana?."
"Beneran Cyn?" Serunya, antusias. Ada binar penuh harap yang berpendar.
"Iya. Mba mau? Tapi Cyntia tanya ke HRD dulu ya, udah keisi apa belum."
"Iya, aku mau Cyn. Tolong yaaa... ."
"Okedeh, nanti aku info mba ya kalau sudah ACC."
"Makasih ya Cyn."
Pagi itu, Alina tengah bersiap untuk berangkat bekerja setelah sebelumnya Cyntia menginformasikan jika ia sudah bisa berkerja mulai hari ini. Meskipun hanya sebagai office girl, Alina tetap bersyukur. Setidaknya, setiap bulan ada pemasukan walaupun tak seberapa.
"Sayang, mommy berangkat kerja dulu ya. Marsha tidak apa-apa kan mommy tinggal sebentar?" Jujur, Alina khawatir. Tapi mau bagaimana lagi. Jika ia tidak bekerja, lalu dari mana lagi biaya pengobatan Marsha bisa terkumpul.
"Ndak apa-apa mommy. Macha kan anak kuat."
Melihat senyum manis yang terukir dari bibir kecil itu, sungguh Alina teriris. "Maafkan mommy ya sayang... ."
Saat itu, untuk pertama kalinya, Alina tak dapat menahan tangis di hadapan putri kecilnya. Dalam hati itu ia merutuk. Lihat, gadis kecil itu saja bisa sekuat itu. Mengapa ia begitu lemah, Alina.
"Mommy kenapa menangish? Mommy tapek ya? Maaf ya mommy, Macha janji ndak jajan banak-banak lagi. Macha nanti minum ail putih aja dehh... Macha ndak shuka shushu ulta mimi lagi."
Mendengar hal itu, bertambah sesaklah hati kecil itu.
"Tidak sayang. Mommy hanya merasa sangat bahagia karena Tuhan kasih Marsha buat Mommy. Mommy bersyukur karena mommy punya Marsha yang sangat kuat dan hebat."
Gadis kecil itu pun terkikik. "Hihihi, mommy shepelti anak kecil. Tengeng. Hahahahaha.... Cup cup mommy... ."
Baiklah. Alina harus segera berangkat atau ia akan terlambat di hari pertamanya.
"Mommy pergi dulu ya sayang... ."
"Dadahhh mommy. Hati-hati dalan... ."
Gadis kecil itu melambaikan tangan seiring dengan kepergian ibunya yang menghilang diantara celah pintu yang tertutup rapat. Menyisakan Marsha juga seorang perawat yang Alina mintai tolong untuk menjaga gadis kecil itu saat ia bekerja.
"Marsha mau bermain?"
Gadis kecil itu terlihat lesu. "Tidak kakak custell. Macha tapek shekali ya. Mau bobok shaja." Niat hati mau berbaring, pintu kembali terbuka, menampilkan sosok laki-laki berjas hitam perlahan menyeruak dari balik pintu. Membuat Marsha seketika memekik girang.
"Daddy... ."
Marsha berseru antusias, gegas ia berdiri dengan tak sabar, membuat selang infus itu bergerak tak karuan hingga darah mulai naik perlahan.
"Hati-hati, Marsha." Seru perawat itu memperingati, namun tak sedikitpun di gubris Marsha yang kini girang setengah mati.
"Daddy, Macha lindu bellat shama Daddy... ." Ucapnya manja sembari merentangkan kedua tangannya ingin dipeluk.
Namun anehnya, laki-laki itu menurut. Ia mendekat dan merengkuh Marsha seolah telah lama tak bertemu.
Dibelakangnya, Max juga tampak terkejut melihat hal itu. Leon bukan tipe yang gampang akrab, apalagi pada anak kecil. Merepotkan.
"Daddy kenapa ballu datang? Mommy ballu shaja belangkat bekelja."
"Mommy bekerja?"
Marsha mengangguk yakin. "Ya, shebelum belangkat tadi mommy menangish shepelti anak kecil, hihihi. Lutu na mommy na Macha."
"Kenapa menangis?"
"Tak tahu pun. Biasa na mommy kalau menangish shuka umpet umpet. Macha pula pula ndak tau shaja. Ahahahaha.... ."
"Kamu suka boneka barbie?" Seru Leon tiba-tiba.
"Shuka. Daddy bawa belbi buat Macha?" Timpalnya penuh percaya diri.
"Ini buat kamu." Sebuah papper bag besar ia berikan pada gadis kecil itu, membuat Marsha sontak memekik girang karena mendapat hadiah super besar.
"Woww, badus shekali Daddy. Ini untuk Macha shemua-mua?"
"Hmmm, untuk kamu semua. Lain kali kamu harus berhati-hati. Jangan pernah mau ikut dengan orang yang tidak kamu kenal lagi. Oke?"
Termasik dirinya, batik Leon.
Ia kesini membawakan hadiah, hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban karena gadis kecil itu tak sadarkan diri di Mall miliknya.
"Shiap glakk, daddy."
Laki-laki itu pun beranjak hendak pergi, membuat Marsha seketika memberengut. "Daddy mau pelgi?"
"Kamu harus istirahat. Biar cepat sembuh."
"Tapi Daddy halush janji, Daddy nanti shini lagi ya."
Leon mengangguk, kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong chingu
Tok tok
Ada penghuninya ngga ya, hehe
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar