NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Meskipun jantungnya berdegup kencang mendengar janji manis Damar, Adera berusaha tetap bersikap tenang dan tidak mudah terbawa perasaan.

Dia menatap lurus ke manik mata pria itu, lalu memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya.

"Masih banyak yang belum jelas buat aku," ucap Adera mulai serius, suaranya tegas. "Jujur deh... apa sih tujuan kamu sebenernya mendekatinya aku? Kenapa kamu terlihat terburu-buru banget kayak gini? Rasanya aneh... seolah-olah kamu ada niat buruk atau ada maunya aja sama aku."

Adera menatap Damar lekat-lekat, menunggu jawaban yang jujur.

Mendengar tuduhan itu, Damar tidak marah, tidak tersinggung, dan tidak juga mempermasalahkannya. Dia justru tersenyum tipis, menerima keraguan gadis itu dengan lapang dada.

"Niat buruk?" tanya Damar pelan, lalu dia menggeleng pelan. "Tidak ada niat buruk sama sekali, Adera."

Damar menarik napas panjang, lalu menatap Adera dengan tatapan yang begitu dalam dan tulus.

"Jujur saja... aku sudah jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama," aku Damar lembut namun tegas.

JLEB!!!

Wajah Adera seketika berubah kaget setengah mati. Matanya membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka tak percaya.

"Hah? Jatuh cinta pandangan pertama?" tanya Adera tergagap, jantungnya serasa ditonjok keras. "Kapan?! Kok bisa?! Kita kan baru ketemu beberapa kali doang!"

Damar bukan tipe pria yang suka bertele-tele atau memutar balikkan fakta. Dia adalah pria yang lugas dan apa adanya.

Dia mengangkat bahunya pelan, lalu menatap Adera dengan senyum yang sangat manis dan tulus.

"Aku juga tidak tahu persis kapan tepatnya," jawab Damar jujur. "Yang aku tahu, perasaan ini mengalir begitu saja ke dalam hatiku secara alami. Entah itu saat pertama kali melihat fotomu, atau saat pertama kali melihatmu secara langsung... rasanya seperti... sudah tertulis begitu saja. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa aku rencanakan, dan tanpa aku sadari kapan awalnya."

Damar mendekatkan wajahnya sedikit.

"Yang jelas, sekarang aku yakin... aku mencintaimu, Adera. Sangat mencintaimu."

Adera terpaku diam. Angin sore seolah ikut mendukung suasana romantis ini. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya berteriak senang, tapi logikanya masih berusaha mencerna bahwa ada pria sesempurna Damar yang bisa mencintainya sebesar ini.

Meski ucapan Damar terdengar begitu tulus dan menyentuh hati, Adera masih tetap mengguncang kepalanya pelan. Dia masih sulit mempercayai semua kata-kata manis itu. Luka di masa lalu akibat dipermainkan Ezra masih membekas cukup dalam di hatinya.

"Gak gampang buat aku percaya begitu aja," ucap Adera pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke depan menghindari tatapan Damar.

"Udah terlalu banyak pria tampan modelan kayak kamu yang bisa ngomong manis di depan wanita. Janji manis itu murah, semua orang bisa ngomongnya," lanjut Adera dengan nada sedikit sinis dan kecewa.

"Dan buat sekarang... aku gak punya waktu lagi buat main cinta-cintaan. Aku udah capek, capek hati, capek pikiran. Aku mau fokus sama diriku sendiri," tegasnya lagi, membangun tembok pertahanan setinggi mungkin.

Mendengar penolakan halus itu, Damar langsung menyahut cepat. Dia tidak terima, dia merasa tidak adil jika dia disamakan dengan pria-pria lain yang pernah menyakiti Adera.

"Tunggu..." potong Damar, suaranya terdengar memprotes. Wajahnya tampak sedikit kecewa dan bertanya-tanya.

"Kenapa aku tidak bisa mendapatkan kesempatan itu? Apa salahku? Kenapa kamu menutup hati begitu rapat? Aku bukan mereka, Adera. Aku berbeda," tanya Damar dengan nada yang terdengar sedih dan memohon.

Pertanyaan itu membuat Adera terdiam kaku. Mulutnya terkatup rapat. Dia benar-benar tidak bisa menjawab apa-apa. Dia bingung sendiri dengan perasaannya. Dia suka, dia tertarik, tapi rasa takutnya jauh lebih besar daripada keberaniannya.

"Aku..." Adera terbata-bata, tidak menemukan kata yang tepat. "Ah sudahlah! Aku udah gak mau bahas ini lagi!"

Adera menggeleng kuat, mencoba menghalau semua pikiran yang mengacaukan kepalanya.

"Aku udah capek banget sekarang, badan rasanya berat semua. Ayo kita pulang! Udah sore juga," ajak Adera cepat, berusaha mengalihkan topik dan mengakhiri pembicaraan yang membuatnya sesak ini.

Melihat wajah Adera yang terlihat benar-benar lelah dan kacau, Damar tidak tega memaksa atau menekannya lebih jauh lagi. Dia menghela napas panjang, menelan rasa kecewanya demi melihat gadis itu nyaman.

"Baiklah..." jawab Damar lembut, menyudahi diskusi berat itu. "Istirahatlah. Aku antar kamu pulang sekarang."

Damar pun dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Adera, lalu dengan hati-hati mengendarai mobilnya meninggalkan area kampus, mengantarkan gadis yang dicintainya pulang dengan perasaan campur aduk yang rumit.

Adera langsung membuka pintu rumah dan berjalan masuk dengan wajah datar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Damar. Dia benar-benar mengabaikan pria itu seolah tidak ada apa-apa di sana.

"Aku capek ma," ucap Adera singkat tanpa menoleh, lalu langsung berjalan cepat menuju kamarnya dan membanting pintu sedikit.

Damar yang melihat kelakuan gadis itu hanya bisa tersenyum kecut dan menggeleng pelan, namun tetap sopan menyapa orang tua Adera sebelum akhirnya pamit pulang.

Di dalam kamar...

Adera melemparkan tubuhnya ke atas kasur dengan perasaan campur aduk. Belum sempat dia melamun lebih lama, pintu kamarnya terbuka pelan.

Mamanya masuk membawa segelas air putih, lalu duduk di tepi kasur sambil menatap putrinya dengan tatapan lembut namun penuh makna.

"Der..." panggil Mamanya pelan.

"Kenapa Ma?" tanya Adera malas, masih memunggungi ibunya.

Mamanya mengelus rambut Adera perlahan.

"Sayang, dengerin Mama ya..." ucap Mamanya lembut. "Dokter Damar itu anak baik, sopan, dan jelas sayang banget sama kamu. Lihat kan tadi dia nganter sampai depan pintu, bahkan mau kenalan dan pamit sama orang tua dengan sopan sekali."

Adera diam mendengarkan.

"Janganlah jutek atau kasar begitu terus sama dia," lanjut Mamanya menasehati. "Mama tahu kamu pernah sakit hati dan kecewa, tapi jangan sampe karena pengalaman buruk itu kamu nutup hati buat orang yang benar-benar tulus sayang sama kamu. Kasihan lho dia, udah ganteng, punya jabatan, kaya raya, tapi tetep rendah hati dan sabar banget hadapin sikap kamu."

Mama memegang tangan Adera.

"Kadang orang baik itu datangnya tiba-tiba, Nak. Jangan sampai kamu nyesel karena ngebiarin dia pergi cuma karena gengsi atau takut terluka lagi. Coba buka hati sedikit aja, biar dia nunjukin kalau dia beda."

Adera menghela napas panjang, memikirkan setiap kata yang diucapkan mamanya. Di dalam hati, dia tahu Mamanya benar... tapi untuk saat ini hatinya susah menerima orang baru mengingat hatinya sudah hancur.

" Gue tau rasanya tidak dihargai seperti apa, tapi damar terlalu cepat. Hanya bertemu dua kali saja dia langsung ngajak gue nikah, dia kira nikah itu permainan ya". Gumam Adera.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!