NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~19

Beberapa hari telah berlalu. Sinta akhirnya membulatkan tekad untuk menceritakan segalanya kepada Zia. Ia sudah cukup lama menunggu iktikad baik Charis untuk meluruskan masalah ini sendiri. Namun, sampai detik ini, belum ada penjelasan apa pun dari laki-laki itu.

Siang itu, aktivitas dapur pondok baru saja usai. Zia masih bertahan di posisinya, duduk menekur membaca kitab suci. Hari perlombaan sudah semakin dekat, mendesaknya untuk terus belajar.

"Zi, aku mau ke pasar dulu, ya. Kalau nanti ada yang cari," pamit Salsa yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.

"Oh, iya, Mbak," sahut Zia ramah.

Zia tetap memperlakukan Salsa dengan baik. Berbekal secuil informasi yang ia ketahui, ia memilih meredam prasangka. Ia enggan menebak-nebak tanpa bukti. Hatinya terlalu tulus untuk memelihara benci dan amarah atas dasar kabar burung yang belum pasti.

Begitu langkah Salsa menjauh, Sinta muncul membawa satu teko es jeruk dan sekantong penuh buah jeruk segar.

"Zia! Lihat aku bawa apa. Sini, keluar sebentar," panggil Sinta setengah berbisik. Ia sengaja meletakkan bawaannya di teras luar kamar agar tidak mengusik santri lain yang sedang tidur siang.

"Iya, sebentar." Zia menutup kitabnya. Aroma segar jeruk yang menguar di udara seketika membangkitkan energinya.

"Alhamdulillah, pas sekali. Kepalaku rasanya mau pecah. Minum ini sepertinya bisa bikin otak agak adem," gumam Zia seraya menuangkan es jeruk ke dalam gelas.

"Iya, dong. Aku tahu kamu pasti stres memikirkan lomba. Makanya aku langsung buatkan es jeruk dan bawakan buah kesukaanmu, biar semangat belajarmu balik lagi," ujar Sinta sambil meletakkan kantong buahnya.

"Eh, Zi, yang lain sudah pada tidur, ya?" tanya Sinta memastikan situasi sekitar

"Sudah, semua sudah tidur. Kecuali Mbak Salsa, barusan pamit ke pasar."

"Ke pasar? Jam segini? Ngapain?" kening Sinta mengkerut heran.

"Kurang tahu. Mungkin disuruh Abah untuk membeli sesuatu."

"Oh, begitu..." Sinta mengangguk-angguk. Ia kemudian menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan benar-benar sepi. Dengan suara yang direndahkan, ia bertanya, "Zi... kamu sebenarnya baik-baik saja, kan, sama Mbak Salsa?"

Zia mengembuskan napas berat. Bahunya merosot. "Mau bagaimana lagi, Sin? Aku tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Masa tiba-tiba aku menuduh Mbak Salsa tanpa ada bukti yang valid? Semua ini baru ada di kepalaku. Aku tidak mau mengambil kesimpulan sebelum semuanya jelas. Hanya saja... untuk sekarang, aku memilih menjaga jarak dari Mas Charis. Aku nggak mau berharap lebih lagi. Takut kecewa."

Sinta terpaku. Kalimat tulus yang keluar dari mulut sahabatnya itu justru terasa seperti hantaman keras di dadanya. Ada rasa sesak yang menjalar ketika ia menyadari bahwa dialah yang memegang kebenaran pahit itu.

Sinta dilema. Ia tidak ingin Zia terus-menerus digantung dalam ketidakpastian, tetapi ia juga bingung dari mana harus memulai cerita yang bisa menghancurkan hati sahabatnya.

Sinta meremas jemarinya sendiri. Tatapannya berubah serius.

"Zi... sebenarnya, ada yang mau aku ceritakan."

"Cerita apa?" tanya Zia penasaran. Tangannya tetap sibuk mengupas kulit jeruk.

Sinta menatap pintu kamar yang tertutup, lalu kembali menatap Zia. "Jangan di sini. Kita ke koridor atas saja, yuk? Tidak enak kalau sampai anak-anak kebangun karena suara kita."

"Oke, ayo."

Mereka berdua berjalan lengang menuju koridor lantai atas, menenteng teko dan sisa buah jeruk. Angin siang yang berembus di koridor itu terasa sejuk, kontras dengan gemuruh yang mulai tumbuh di dada Sinta.

Setelah mereka duduk berhadapan, suasana mendadak berubah lengang. Riuh angin seolah senyap seketika.

Zia meletakkan jeruk yang sudah bersih dari kulitnya ke atas piring kecil, lalu menatap Sinta lekat-lekat.

"Gimana, Sin? Mau cerita apa? Kok mukamu tegang begitu?" tanya Zia, mencoba mencairkan suasana dengan senyuman kecil.

Sinta tidak membalas senyuman itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya yang tersisa. Ditatapnya manik mata Zia yang begitu polos tanpa dosa.

"Ini soal Mas Charis, Zi," suara Sinta memelan, tetapi sarat akan penekanan.

"Dan... ini juga soal Mbak Salsa. Kamu harus tahu kejadian yang sebenarnya."

Senyum di bibir Zia perlahan memudar. Udara di sekitar mereka mendadak terasa dingin dan mencekam.

***

Seperti biasa, setelah peluh mereka terkuras habis dalam kegiatan kerja bakti, Zizan, Dafa, dan Ares memilih teras depan asrama sebagai tempat melepas penat. Angin siang yang berembus sejuk terasa begitu nikmat, apalagi ditambah dengan segelas es mangga dan sepiring gorengan hangat yang selalu setia menjadi penyelamat perut mereka.

Dafa menyeruput es mangganya sampai berbunyi nyaring, lalu menoleh. "Eh, Zan, bagaimana kelanjutan urusan Zia sama Mas Charis? Ada perkembangan terbaru nggak?"

Ares yang sedang mengipasi diri dengan buku tulis ikut menimpali. "Iya, iya, bagaimana kelanjutannya? Aku nggak bisa ngebayangin kalau sampai mereka renggang."

Zizan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. "Huft... mana kutahu. Kemarin waktu aku berniat meminta maaf, Zia bilang dia udah nggak papa gitu aja. Mendengar respons begitu, ya udah, aku nggak berani tanya macam-macam lagi. Takut salah ngomong."

"Kalau instingku, sih," Dafa meletakkan gelasnya, memasang wajah sok tahu, "kayaknya ini baru sebatas sepertinya, ya hubungan mereka tidak akan diteruskan oleh Mas Charis. Kalau dinilai dari gaya bicaranya kemarin, dia itu sudah kelihatan capek dan muak."

"Ah, aku nggak peduli lagi. Yang penting kewajibanku untuk minta maaf sudah selesai," potong Zizan. Tanpa ambil pusing, ia langsung menjejalkan sepotong mendoan hangat ke dalam mulutnya, lalu menyandarkan punggung ke tembok dengan pasrah.

Ares menyenggol siku Dafa yang hendak minum lagi. "Melihat kondisi ini, peluang untuk menggantikan posisi Mas Charis di hati Zia sepertinya terbuka lebar, nih. Betul nggak, Bro?" ejek Ares sambil menaik-turunkan alisnya.

Dafa yang baru saja menelan air langsung tersedak. "Uhuk! Uhuk! Heh, aku hampir keselek tahu! Tapi... dipikir-pikir benar juga katamu, Res. Aku sangat setuju!" Kedua cowok itu lantas mengangkat tangan tinggi-tinggi dan melakukan tos selebrasi di depan muka Zizan dengan heboh.

"Setuju, setuju... Apa yang setuju? Sudah, makan saja itu mendoan sebelum dingin!" omel Zizan, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Namun, meski mulutnya sibuk mengunyah, pikiran Zizan tidak bisa dibohongi. Entah mengapa, benaknya mendadak dipenuhi oleh bayangan wajah Zia. "Huft, Zi, semoga kamu baik-baik saja, ya... batin Zizan.

Sesaat kemudian, kesadarannya kembali. Zizan tersentak, lalu buru-buru menepuk jidatnya sendiri agak keras." Astaghfirullah, Zizan! Kenapa sih? Aneh sekali jadi orang. Kenapa tiba-tiba aku jadi memikirkan Zia? Tidak pernah ada dalam sejarah kamus hidupku memikirkan perempuan sampai begini. Ini aneh sekali!.

Untuk mengusir rasa bersalah atas pikiran ngawurnya itu, Zizan kembali menjulurkan tangan ke depan, berniat mengambil mendoan lagi tanpa melihat ke arah piring. Mulutnya bahkan sudah menganga siap mengunyah.

Namun, jemarinya hanya meraba piring kosong. Ia meraba lagi ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak menemukan apa-apa. Zizan mengerjapkan mata, baru menyadari kalau piring mendoan itu sudah lenyap dari tempatnya semula.

Di hadapannya, Dafa dan Ares sudah bergeser mundur sejauh satu meter dengan piring mendoan yang kini berada dalam dekap hangat Ares.

"Wah... keterlaluan kalian ya! Mana mendoannya?!" seru Zizan protes.

"Biarin! Lagian dari tadi melamun terus sampai matanya kosong. Memangnya kita nggak lihat apa?" ejek Ares sambil tertawa puas. "Katanya tadi nggak peduli dan nggak setuju, tapi ekspresi wajahmu itu nggak bisa bohong. Pikiranmu pasti sedang menjawab sendiri dengan mesra. Eaaa... ketahuan!"

Wajah Zizan mendadak memerah karena malu sekaligus kesal. "Ah, diam nggak?! Sini, kembalikan mendoannya!" Zizan merangsek maju, mencoba merebut piring tersebut.

"Eh, tidak semudah itu, anak muda!" Ares dengan sigap langsung mengangkat piring tinggi-tinggi, lalu memutar tubuhnya dan membawa kabur sisa gorengan itu ke halaman asrama.

"Ares! Kasih sini nggak!" teriak Zizan yang langsung melesat mengejar.

Jadilah siang itu koridor dan halaman asrama yang tadinya tenang berubah riuh. Ares berlari zig-zag menghindari sergapan, sementara Zizan terus membuntutinya dengan napas terengah-engah, bertekad menyelamatkan mendoan terakhirnya yang terancam punah.

Sementara itu, Dafa hanya duduk bersila di teras, memegangi perutnya yang kram karena tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan adegan kejar-kejaran konyol kedua sahabatnya itu.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!