Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Cemburu, Tapi Kehilangan Hak untuk Menjagamu
Jam makan siang akhirnya tiba. Kantin Rumah Sakit Sentral Medika mulai dipenuhi para dokter, perawat, dan tenaga medis yang memanfaatkan waktu istirahat mereka. Di salah satu meja dekat jendela, Kinasih duduk dengan satu nampan makanan bergizi di depannya. Perutnya yang telah memasuki usia kandungan enam bulan tampak semakin membulat, terlihat jelas di balik jas kerjanya yang longgar.
Tak lama kemudian, Dokter Firdaus datang sambil membawa dua gelas jus buah segar.
“Maaf menunggu lama, Dokter Kinasih,” ucapnya ramah seraya meletakkan salah satu gelas tepat di depan wanita itu. “Saya pesan jus alpukat tanpa gula berlebihan. Kata ahli gizi, minuman ini sangat baik untuk ibu hamil.”
Kinasih tersenyum tipis, tatapannya lembut.
“Terima kasih, Dokter Firdaus. Sebenarnya tidak perlu serepot ini.”
“Bukan repot sama sekali. Saya hanya ingin memastikan Ibu dan bayinya di dalam kandungan sehat dan kuat.”
Kinasih mengusap perlahan perutnya dengan gerakan penuh kasih sayang.
“Alhamdulillah, sejauh ini semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja.”
Firdaus mengangguk puas, namun matanya segera tertuju pada piring makan Kinasih yang masih nyaris utuh, hanya tersentuh sedikit.
“Kenapa makannya hanya sedikit sekali?”
“Kok bisa tahu?” tanya Kinasih sambil terkejut kecil.
“Soalnya dari tadi saya perhatikan, sendoknya baru bergerak dua kali saja.”
Kinasih terkekeh pelan, merasa diperhatikan.
“Akhir-akhir ini perut terasa cepat sekali kenyang, meskipun baru makan sedikit.”
“Jangan dibiasakan begitu. Bayinya sedang tumbuh pesat dan butuh banyak nutrisi. Kalau merasa tidak sanggup makan banyak sekaligus, lebih baik makan dalam porsi sedikit tapi sering,” nasihatnya lembut namun tegas.
“Iya, Dokter. Siap dilaksanakan,” jawab Kinasih sambil mengangkat tangan seolah memberi hormat, membuat Firdaus tersenyum.
“Nah, begitu. Sekarang habiskan dulu sayurnya, ya.”
Kinasih menggeleng sambil tersenyum geli.
“Dokter Firdaus ini, seolah sedang menasihati pasien saja.”
“Karena Dokter Kinasih memang saya anggap pasien sendiri, terutama kalau urusannya suka mengabaikan waktu makan dan kesehatan,” balasnya santai.
Mereka pun tertawa kecil. Suasana hangat dan akrab itu membuat beberapa rekan kerja yang lewat sekilas ikut tersenyum melihatnya.
Namun, hanya beberapa meja dari tempat mereka duduk...
Seorang pria duduk sendirian, memegang secangkir kopi yang sudah lama dingin dan tak disentuh lagi.
Kenan.
Tatapannya tak pernah lepas sedikit pun dari sosok Kinasih. Matanya menangkap setiap gerak, setiap perhatian kecil yang diberikan Firdaus: gelas jus yang sengaja dipilihkan, tatapan khawatir saat melihat piringnya masih penuh, hingga senyum yang terus menghiasi wajah mantan istrinya itu.
Rahang Kenan mengeras menahan gejolak di dada. Tangannya mengepal kuat di bawah meja hingga buku-buku jarinya terlihat memutih karena tekanan.
*“Harusnya aku yang mengingatkan dia makan...”*
*“Harusnya aku yang memilihkan makanan terbaik untuknya...”*
*“Harusnya aku yang duduk di sampingnya saat ini...”*
Namun semua itu kini hanyalah rangkaian kata yang diawali dengan “seharusnya”.
Statusnya sebagai mantan suami telah menghapus seluruh haknya. Ia tak memiliki alasan sedikit pun untuk mendekat, apalagi ikut campur urusan pribadi Kinasih sekarang.
Saat Firdaus tanpa sadar menggeser mangkuk sup agar lebih mudah dijangkau Kinasih, dada Kenan terasa terhimpit sesak, seolah tak ada cukup udara untuk bernapas.
“Supnya masih hangat. Coba diminum dulu sebelum dingin, ya,” ujar Firdaus dengan nada lembut.
“Iya,” jawab Kinasih patuh.
“Pelan-pelan saja, jangan tergesa.”
Kinasih menurut tanpa menolak sedikit pun.
Melihat pemandangan itu, Kenan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ada rasa cemburu yang perlahan membakar isi dadanya.
Bukan karena Firdaus melakukan hal yang berlebihan atau salah.
Justru karena perhatian pria itu begitu tulus, wajar, dan penuh tanggung jawab.
Dan perhatian seperti itulah... yang seharusnya menjadi tugas dan hak penuh seorang suami.
Sayangnya...
Kenan telah kehilangan hak itu selamanya sejak hari ia dengan emosi menjatuhkan talak kepada wanita yang paling dicintainya.
Kini ia hanya mampu memandang dari kejauhan, sebagai penonton yang tak berdaya.
Tak bisa mendekat. Tak bisa melarang. Tak bisa mengusir Firdaus. Tak bisa menggenggam tangan Kinasih. Bahkan tak berani mengusap lembut perut yang menyimpan darah dagingnya sendiri.
Dengan napas yang terasa berat, Kenan perlahan berdiri dari kursinya. Sebelum melangkah pergi, ia kembali menatap Kinasih untuk terakhir kalinya, memasukkan pemandangan itu ke dalam ingatannya.
*“Maafkan aku, Kinasih...”* bisiknya lirih, hanya terdengar oleh hatinya sendiri.
*“Aku cemburu... tapi akulah yang dengan tanganku sendiri menciptakan jarak ini.”*
Tanpa berniat mengganggu kedamaian dan kebahagiaan mereka, Kenan berbalik dan segera meninggalkan ruang kantin.
Sementara di meja dekat jendela itu, Kinasih sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi ada sepasang mata yang memandangnya dengan penuh penyesalan, kerinduan yang membara, dan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
Jam dinas akhirnya berakhir. Setelah berganti pakaian, Kinasih keluar dari ruang dokter sambil membawa tas selempang. Dengan satu tangan menopang perutnya yang sudah berusia enam bulan, ia berjalan pelan menuju lobi rumah sakit.
Baru beberapa langkah melangkah keluar dari pintu utama, langkahnya terhenti seketika.
“Mas Kenan…?”
Di dekat pintu lobi, Kenan berdiri santai sambil menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Begitu pandangan mata mereka bertemu, pria itu langsung mengangkat kepala dan tersenyum tipis—senyum yang menyimpan sejuta kerinduan.
“Hai.”
Kinasih hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, lalu segera memalingkan wajah. Ia pura-pura sibuk membuka aplikasi pemesanan kendaraan di layar ponselnya, seolah ingin menghindari percakapan yang tak perlu.
Kenan melangkah mendekat beberapa langkah lagi.
“Mau pulang?”
“Iya.”
“Bareng aku saja. Aku antar.”
Kinasih tetap menunduk menatap layar, jemarinya bergerak lambat.
“Nggak usah, Mas. Saya sudah pesan mobil daring.”
“Aku bisa antar lebih cepat dan aman.”
Kinasih menggeleng pelan namun tegas.
“Makasih, tapi beneran nggak usah repot.”
Suasana mendadak menjadi hening, hanya terdengar suara langkah orang lalu-lalang di sekitar mereka.
Kenan mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan gejolak di dadanya sebelum akhirnya berbicara lagi dengan nada lebih lembut.
“Nash…”
Mendengar panggilan akrab itu, jari Kinasih berhenti bergerak sesaat, tapi ia tetap tidak berani menoleh.
“Aku minta maaf.”
Kinasih diam, tak menjawab sepatah kata pun.
“Aku tahu kamu masih kecewa. Masih menyimpan rasa sakit di hati,” lanjut Kenan dengan suara yang terdengar berat.
Kinasih akhirnya mengangkat wajah, tersenyum tipis—senyum yang justru terasa begitu pahit dilihatnya.
“Udah lewat, Mas. Semua sudah berlalu.”
“Belum buat aku. Belum pernah terasa selesai buat aku,” bantah Kenan dengan tatapan tajam namun penuh luka.
Ia menatap wajah wanita itu lekat-lekat, tak ingin melewatkan satu ekspresi pun.
“Aku nggak pernah punya niat menyakiti kamu. Waktu itu aku menjatuhkan talak hanya karena aku nggak mau kamu ikut hancur terbawa masalah besar yang melilit keluargaku. Aku pikir… itu satu-satunya cara terbaik untuk menyelamatkan kamu dari bahaya.”
Kinasih hanya menatapnya tenang, tanpa ada kemarahan yang meledak.
“Nggak perlu dijelaskan lagi, Mas.”
“Tapi kamu berhak tahu alasannya!”
“Saya tahu atau tidak tahu, hasil akhirnya tetap sama, kan?” balas Kinasih pelan namun tegas.
Kenan terdiam, tak mampu membantah.
Kinasih menarik napas panjang, lalu melanjutkan, “Dari awal kita juga sudah sepakat, bukan?”
Kenan hanya menunduk, menggenggam tangannya erat.
“Kontrak pernikahan itu sudah selesai waktunya.”
Kalimat itu meluncur begitu tenang, namun terasa menghantam dada Kenan jauh lebih keras daripada bentakan sekalipun.
“Saya nggak pernah menyalahkan Mas Kenan atas apa yang terjadi,” tambah Kinasih.
“Kamu bohong.”
“Nggak.”
“Kalau nggak benci, kenapa menjauh?”
Kinasih menggeleng pelan.
“Saya cuma menerima kenyataan. Dari awal pernikahan kita memang ada batas waktu dan aturan yang disepakati. Jadi saat semuanya berakhir… ya saya harus siap melepaskannya.”