NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 - Maybe

Aku masih menatap langit-langit kamar sambil mengingat apa yang Javier lakukan padaku selama ini.

Dia menangkapku saat aku hampir jatuh.

Dia memayungiku saat kami berjalan menuju parkiran.

Dan entah kenapa, dia selalu terlihat memprioritaskanku padahal aku bukan orang yang dia cintai.

Kenapa saat mengingat semua itu ada perasaan aneh yang menyelinap ke dalam hatiku?

Aku langsung menggelengkan kepala.

Tidak!

Tidak mungkin!

Kami hanya dua orang asing yang kebetulan dijodohkan dan akhirnya menikah.

Tidak lebih dari itu.

Aku tidak ingin memikirkan hal-hal aneh lagi.

Aku segera bangkit dari tempat tidur lalu membuka koper yang masih tergeletak di lantai. Satu per satu pakaian dan barang pribadiku mulai memenuhi lemari yang ada di kamar itu.

Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu.

Tok. Tok.

"Nay... aku ke rumah makan, ya." ucap Javier dari balik pintu.

Aku memilih diam.

"Nay... Naya!"

Kesal karena terus dipanggil, aku akhirnya membuka pintu.

"Apa sih? Pergi tinggal pergi aja kok. Ngapain harus nunggu aku jawab? Aku ini bukan benar-benar istri kamu yang wajib dimintai izin."

Javier terdiam beberapa detik.

"Oke."

Hanya itu.

Aku justru terkejut.

Tanggapannya hanya itu?

Javier berbalik lalu berjalan menuju ruang tamu. Namun sebelum keluar rumah, ia sempat menoleh ke arahku.

"Oh iya, di dalam kulkas udah ada sayur sama bumbu-bumbu. Siapa tahu kamu lapar dan pengen masak."

Setelah mengatakan itu, Javier benar-benar pergi.

Aku menatap pintu yang baru saja tertutup.

Entah kenapa aku malah merasa bingung.

Sebenarnya Javier menganggapku apa?

Kadang dia sangat menyebalkan.

Tapi kadang dia juga perhatian dengan cara yang tidak ku mengerti.

Aku kembali menggelengkan kepala.

Tidak.

Aku tidak boleh memikirkan kemungkinan-kemungkinan aneh.

Dengan cepat aku kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaanku membereskan barang-barang yang masih tersisa di dalam koper.

Setelah selesai membereskan barang-barangku, aku menuju dapur dan membuka kulkas.

Benar saja.

Di dalamnya sudah tersedia berbagai bahan makanan, mulai dari sayuran hingga bumbu-bumbu dasar untuk memasak.

Kapan Javier mempersiapkan semua ini?

Aku menutup kulkas lalu berjalan menuju ruang tamu.

Karena tidak tahu harus melakukan apa, aku menyalakan televisi.

Smart TV itu langsung menyala dan menampilkan berbagai aplikasi streaming film serta drama.

Aku mengklik salah satu aplikasi yang biasa kugunakan untuk menonton drama Korea.

Begitu aplikasi itu terbuka, aku langsung masuk tanpa perlu melewati halaman login.

Akun Javier.

Aku terkekeh kecil.

"Ternyata dia langganan juga. Lumayan. Aku jadi nggak perlu bayar langganan sendiri."

Tanpa berpikir panjang, aku langsung memutar drama yang sedang kuikuti beberapa minggu terakhir.

Drama thriller.

Episode terbaru yang belum sempat kutonton.

Baru beberapa menit menikmati drama itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu.

Tok. Tok.

"Permisi..."

Aku langsung mengenali suara itu.

Dengan malas aku bangkit dari sofa lalu membuka pintu.

Di depan rumah sudah berdiri Tara bersama anaknya yang sedang memeluk boneka.

"Halo, Mbak Naya." sapa Tara dengan senyum ramah.

"Ada apa?" tanyaku datar.

"Rena, ayo salim dulu sama tante."

Anak kecil itu langsung menghampiriku lalu mencium tanganku.

Aku membalasnya dengan senyum tipis.

"Saya bosan di rumah, Mbak. Jadi pengen main ke sini. Boleh, kan? Siapa tahu kita bisa jadi teman."

Aku menatapnya beberapa detik.

Entah kenapa aku merasa Tara tidak benar-benar datang karena ingin berteman.

Tapi tentu saja aku tidak mungkin mengusir tetangga yang datang berkunjung.

Dengan terpaksa aku menggeser tubuhku memberi jalan.

"Silakan masuk."

"Terima kasih, Mbak. Ayo, Rena."

Mereka pun masuk ke dalam rumah.

Begitu pintu kututup, aku langsung mematikan televisi yang masih menyala.

"Kenapa TV-nya dimatikan?" tanya Tara.

"Soalnya saya lagi nonton drama thriller. Banyak adegan darahnya. Nggak cocok ditonton anak kecil."

"Oh, Mbak Naya suka thriller?" Tara terlihat terkejut. "Nggak takut?"

Aku menggeleng.

"Nggak. Malah seru. Apalagi kalau psikopatnya ganteng."

Tara langsung tertawa.

"Aduh, Mbak Naya ini."

"Saya justru lebih takut nonton horor. Soalnya suka kebawa mimpi."

"Wah Mbak Naya agak lain, ya."

Aku ikut tertawa kecil.

Mungkin dia benar.

"Mbak Naya baru nikah kemarin?" tanya Tara lagi.

Aku mengangguk.

"Iya."

"Umur Mbak berapa sih?"

"Tiga puluh."

"Wah, seumuran kita dong." Tara tampak terkejut. "Tapi serius, saya kira Mbak Naya lebih muda dari saya."

Aku langsung menatapnya tidak percaya.

"Masa sih?"

"Iya. Serius."

Aku hanya tersenyum kecil.

"Oh iya," lanjut Tara. "Karena kita seumuran, gimana kalau kita ngomong santai aja? Nggak usah pakai mbak-mbakan. Biar lebih akrab."

Akrab?

Dia serius ingin berteman denganku?

Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

"Baiklah."

Senyum Tara langsung melebar.

“Ngomong-ngomong kamu sama Mas Javier kenal di mana?” tanya Tara.

Apa lagi ini?

Kenapa dia ingin tahu sekali tentang aku dan Javier?

Apa yang harus aku jawab?

Aku tidak mungkin mengatakan bahwa kami dijodohkan.

Tiba-tiba aku teringat cerita yang pernah Ayah sampaikan kepada Pak RT.

“Kami kenal di bank.”

“Di bank?” Tara terlihat antusias. “Oh... kayak di film-film gitu? Datang ke bank yang sama, terus saling pandang dan jatuh cinta pada pandangan pertama?”

Hah?

Andai saja seperti itu.

“Bukan.” Aku tertawa kecil. “Aku teller di Sina Bank. Mas Vie itu nasabahnya. Karena dia sering datang ke bank, kami jadi sering ketemu. Lama-lama ya... muncul perasaan di antara kami.”

Astaga.

Rasanya berbohong tentang hubungan aku dan Javier jauh lebih berat daripada menerima perjodohan kami.

“Oh begitu...” Tara mengangguk pelan. “Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu manggil Mas Javier dengan Mas Vie?”

Astaga.

Pertanyaan itu lagi.

“Oh, itu panggilanku buat Mas Javier.” Aku berusaha terlihat santai. “Biar beda aja. Jadi kalau ada yang manggil Mas Vie, dia langsung tahu itu aku.”

“Oh...” Tara tersenyum. “Kayak panggilan sayang gitu ya?”

Ya ampun.

“Itu...” Aku tertawa kecil pura-pura malu. “Iya, bisa dibilang begitu.”

“Kamu beruntung ya. Dapat suami kayak Mas Javier yang ganteng.”

Aku menatapnya sejenak.

Entah kenapa sejak tadi aku merasa Tara terlalu sering memperhatikan Javier.

“Eh, ngomong-ngomong suami kamu ke mana?” tanyaku cepat, mengalihkan topik.

“Suamiku lagi di luar kota. Bulan lalu dipindahkan ke perusahaan cabang.”

“Oh...” Aku mengangguk. “Jadi sekarang kamu cuma berdua sama Rena?”

“Iya. Makanya aku sering kesepian.”

Pantas saja.

“Kalau pulangnya setiap apa?”

“Kadang tiap weekend. Tergantung kerjaannya juga. Tapi dua minggu terakhir belum pulang karena lagi banyak pekerjaan.”

Aku mengangguk pelan.

“Rena umur berapa sekarang?”

“Empat tahun.”

“Berarti kamu nikah umur dua puluh lima?”

“Iya.”

“Wah, muda juga. Umur segitu aku baru mulai kerja di bank. Jangankan nikah, kepikiran pun belum.”

“Menurut orang tuaku malah udah telat.” Tara tertawa kecil.

“Iya sih. Banyak orang yang menganggap umur dua puluh lima udah waktunya nikah. Kamu beruntung nggak ditanya kapan nikah terus-terusan kayak aku.”

“Lha kamu kenapa baru nikah sekarang?”

“Karena baru ketemu jodohnya sekarang.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan secara teknis aku tidak berbohong.

“Wah...” Tara tersenyum. “Kamu benar-benar beruntung. Sekalinya ketemu jodoh langsung dapat yang kayak Mas Javier.”

Aku mengernyit.

Lagi-lagi Javier.

Kenapa dia terus membicarakan Javier?

Bukankah orang yang sudah menikah biasanya lebih suka membicarakan suaminya sendiri?

“Tara...” Aku menatapnya lurus. “Kenapa dari tadi kamu muji-muji suamiku?”

Tara tampak terkejut.

“Ah... itu... karena aku iri.”

“Iri?”

“Iya.” Tara tertawa kecil. “Suamiku nggak seganteng Mas Javier.”

Hah?

“Tara, kamu nikahin suami kamu karena apa sih?”

“Karena dia selalu memprioritaskan aku.”

“Nah, berarti kamu suka dia bukan karena wajahnya, kan?” ujarku. “Bukannya suami yang perhatian dan selalu memprioritaskan kita jauh lebih penting daripada sekadar suami ganteng? Buat apa ganteng kalau toxic.”

“Tapi Mas Javier nggak gitu, kan?”

“Iya. Nggak.”

“Aku sebenarnya pengennya kayak gitu.” Tara tersenyum tipis. “Perhatian tapi ganteng.”

Aku langsung mengernyit.

Semakin kupikirkan, semakin aneh.

Dan sebelum sempat menyaring ucapanku, pertanyaan itu sudah terlanjur keluar.

“Tara... apa kamu suka sama suami aku?”

“Hah?”

Mata Tara langsung membulat.

“Ng... nggak.”

Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini, senyum di wajahnya terlihat canggung.

“Eh...” Ia melirik jam dinding. “Udah jam segini ternyata. Rena harus tidur siang.”

Tara buru-buru berdiri.

“Sayang, ayo pulang.”

Rena yang sedang bermain boneka langsung menghampirinya.

“Kita pulang dulu ya, Tante.”

“Iya.”

Tara tersenyum tipis lalu berjalan menuju pintu.

Beberapa detik kemudian pintu rumah kembali tertutup dan suasana mendadak menjadi sepi.

Aku masih duduk di sofa sambil menatap pintu yang baru saja dilewati Tara.

Aneh.

Kenapa dia terlihat panik?

Apa pertanyaanku tadi benar-benar mengenainya?

Aku mengingat kembali semua yang dia katakan sejak tadi.

Mas Javier ganteng.

Mas Javier perhatian.

Mas Javier baik.

Mas Javier begini.

Mas Javier begitu.

Hampir semua yang keluar dari mulutnya selalu tentang Javier.

Aku mendesah pelan.

Jangan-jangan...

Tidak.

Masa iya?

Tapi kalau memang tidak tertarik pada Javier, kenapa dia terlihat begitu penasaran dengan hubungan kami?

Kenapa dia terlihat kecewa saat tahu Javier sudah menikah?

Kenapa dia terus membandingkan suamiku dengan suaminya sendiri?

Aku menggelengkan kepala.

Mungkin aku terlalu banyak berpikir.

Lagipula Tara sudah memiliki suami dan anak.

Tidak mungkin dia menyukai suami orang.

Benar, kan?

Aku menatap televisi yang sejak tadi mati.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak pindah ke rumah ini, aku merasa kedatangan Tara bukan sesuatu yang sederhana.

Dan entah kenapa aku punya firasat bahwa ini bukan kunjungan terakhirnya.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!