Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam di kamar hotel nomor 304 yang sempit itu terasa kian menghimpit.
Amira terus histeris, memukul dan mendorong dada bidang Daniel dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
Ia ingin pria itu lenyap dari pandangannya, membawa pergi semua beban dan rasa rendah diri yang menggerogoti jiwanya.
Namun, Daniel tidak bergerak seinci pun. Menyaksikan kerapuhan Amira yang begitu hebat, rasa takut kehilangan yang teramat sangat menyergap dada sang CEO.
Daniel yang tidak mau kehilangan Amira langsung mencengkeram bahu istrinya dan membungkam teriakan Amira dengan sebuah pengakuan yang jujur dan menggelegar.
Dengan mata yang ikut berkaca-kaca dan suara bergetar, Daniel berteriak.
"Kamu salah, Amira! Aku mencintaimu sejak kita tidur berpelukan di rumah sakit!!"
Napas Daniel memburu setelah kalimat itu lolos dari bibirnya. Untuk pertama kalinya, ego pria itu runtuh sepenuhnya.
Suasana seketika berubah. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan.
Amira seketika mematung. Kamar hotel mendadak sunyi senyap.
Tangan Amira yang tadi memukul dada Daniel kini tergantung lemas di udara.
Rahasia perasaan Daniel yang selama ini tersembunyi di balik sikap dinginnya akhirnya telanjang di depan Amira, menyisakan ketidakpercayaan di mata sang istri.
Amira menggelengkan kepalanya perlahan, air mata masih menetes di pipinya yang pias.
"Kamu bohong, Daniel..." bisiknya parau, tidak berani mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
"Aku tidak berbohong, Amira. Sumpah demi putriku, aku mencintaimu," balas Daniel dengan tatapan mata yang teramat tulus dan mengunci pandangan Amira, meyakinkan wanita itu bahwa tidak ada kepura-puraan lagi di antara mereka.
Rasa sepi, amarah, dan rindu yang bercampur aduk malam itu membuat pertahanan keduanya lebur.
Daniel mendekat dan mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya, menyatukan mereka dalam sebuah kecupan yang dalam, menyalurkan segala rasa bersalah, ketakutan, dan cinta yang selama ini tertahan.
Amira terbuai dalam kehangatan yang tiba-tiba itu, meski hatinya masih diliputi keraguan.
Kemudian Daniel membopong tubuh Amira dengan hati-hati agar tidak menyakiti kakinya, melangkah perlahan sembari menutup pintu kamar mandi dan mengabaikan bisingnya dunia di luar.
Ia membawa Amira ke atas tempat tidur yang bersahaja di kamar hotel itu.
Saat punggungnya menyentuh kasur yang empuk, Amira menahan dada Daniel yang mulai condong di atasnya. Tatapan matanya bergetar.
"Daniel... jangan... nanti kamu menyesal," bisik Amira, takut jika esok hari pria ini akan kembali menganggapnya sebagai orang asing.
Daniel menggenggam tangan Amira, mengecup jemarinya dengan lembut namun penuh komitmen.
"Aku tidak akan menyesal, Amira. Kamu istriku."
Di bawah temaram lampu kamar hotel, Daniel melepaskan pakaiannya dan ia membantu membuka kebaya istrinya yang kotor dengan perlahan dan penuh penghormatan, menyingkirkan semua noda penghinaan yang sempat melekat pada diri Amira malam itu.
Dalam keheningan malam di pinggiran kota, menjauh dari kemegahan status dan bayang-bayang masa lalu, mereka membiarkan dinding pembatas di antara mereka runtuh sepenuhnya.
Kemudian mereka melakukan hubungan seperti layaknya pasangan lainnya, menyatukan jiwa dan raga dalam ikatan pernikahan yang sesungguhnya.
Suasana kamar hotel nomor 304 kini terasa begitu hangat dan tenang, jauh berbeda dari badai emosi yang berkecamuk beberapa jam lalu.
Setelah melakukan hampir satu jam, Daniel memeluk tubuh Amira dengan erat di balik selimut tebal, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya, wanita itu akan kembali menghilang.
Daniel mengecup kening Amira dengan penuh rasa syukur.
"Terima kasih, Sayang," bisiknya lembut, menyalurkan kehangatan yang membuat pipi Amira merona merah.
Amira menyandarkan kepalanya di dada bidang Daniel, mendengarkan detak jantung suaminya yang kini terasa begitu menenangkan.
Memikirkan putri kecil mereka di rumah, Amira mendongak.
"Daniel, beritahu suster kalau kita bermalam di sini."
Mendengar ucapan istrinya, Daniel hampir lupa dan segera mengirimkan pesan kepada suster pengasuh Felia untuk memberi kabar agar orang-orang di rumah tidak panik.
Tidak butuh waktu lama, ponsel Daniel berdenting.
Suster memberitahukan kepada Daniel, kalau Felia sudah makan malam dan tidur di ruang tamu karena bersikeras menunggu kepulangan papa dan mamanya sampai ketiduran.
Daniel mengusap rambut Amira dengan lembut. "Besok pagi, kita pulang," ucapnya memberi tahu.
Amira menganggukkan kepalanya patuh, menyetujui keputusan suaminya. Namun, keheningan malam itu kembali memicu rasa penasaran di lubuk hati Daniel tentang masa lalu wanita yang kini sah seutuhnya menjadi miliknya.
"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Daniel hati-hati.
Amira menatap suaminya lembut. "Apa?"
"Apakah kamu masih mencintai mendiang dua calon suamimu?" Daniel menahan napas sejenak, menanti jawaban yang jujur dari bibir istrinya.
Amira terdiam sebentar, menata hatinya sebelum menjawab.
"Jujur, masih ada rasa. Tapi aku akan belajar untuk mencintai kamu, Daniel," jawabnya tulus, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya.
Daniel tersenyum, ada kelegaan yang luar biasa besar membuncah di dadanya.
"Aku juga, Sayang. Jadi kita sama-sama belajar melupakan masa lalu kita. Dan jangan pergi lagi meninggalkan aku dan Felia, dan panggil aku Mas Daniel ya, Sayang," pinta Daniel dengan nada memohon yang manja, sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
Amira tersenyum geli namun merasa tersanjung. "Iya, Mas, aku janji," jawabnya lembut, meresapi panggilan baru itu.
Daniel kemudian teringat sesuatu dan mengecup pucuk kepala Amira lagi.
"Aku tadi sudah membelikan kamu pakaian, tas, sepatu, sandal," beritahu Daniel tentang belanjaannya yang berada di rumah.
Mata Amira berkaca-kaca, kali ini karena rasa haru.
"Mas, terima kasih. Maaf aku tadi seperti anak kecil," bisik Amira, menyesali keputusannya yang kabur dari restoran karena emosi.
Daniel terkekeh pelan dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Amira.
"Ssshh... Kamu bukan anak kecil. Aku yang masih belum peka kalau aku sekarang sudah punya istri yang cantik."
Amira menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang semakin melebar.
Tiba-tiba, sebuah letupan kepolosan lolos begitu saja dari bibirnya.
"Mas..."
"Hm, ada apa?"
"Ternyata enak ya yang barusan..." ucap Amira pelan dengan wajah yang kini sudah merah padam seperti kepiting rebus.
Daniel membelalakan matanya saat mendengar perkataan dari istrinya.
Ia sama sekali tidak menyangka wanita pemalu seperti Amira bisa mengucapkan hal itu dengan begitu jujur.
Otak jahil Daniel seketika berputar untuk menggoda sang istri.
"Padahal dulu ada yang bilang seperti ini: 'Tidak akan ada hubungan intim antara kita berdua. Pernikahan ini murni untuk Felia,'" ledek Daniel sambil menirukan nada bicara Amira saat awal pernikahan mereka.
Wajah Amira semakin memanas karena malu. Ia langsung menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi seluruh wajahnya.
"Mas, jangan meledekku!" ucap Amira di balik selimutnya, merutuki kelancangan bibirnya sendiri.
Daniel tertawa lepas, suara tawa yang sudah sangat lama tidak pernah terdengar di hidupnya.
Kemudian ia menarik selimut itu perlahan, menatap Amira dengan pandangan mata yang kembali menggelap dipenuhi gairah.
"Sayang, ayo gas ronde kedua!" bisik Daniel serak tepat di telinga Amira, sebelum kembali mengurung tubuh istrinya dalam kehangatan malam yang panjang.