"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTROKAN DUA ZAMAN
Langit di atas Kota Wadas Putih seolah-olah runtuh. Kehadiran Leluhur Besar Keluarga Li bukan sekadar tekanan fisik, melainkan sebuah dominasi absolut atas ruang dan udara. Kultivasi Ranah Setengah Inti Sejati miliknya menciptakan medan gaya yang begitu pekat hingga gravitasi di sekitar medan tempur terasa berlipat ganda. Para kultivator tingkat rendah yang menyaksikan dari kejauhan mulai berjatuhan satu per satu; telinga mereka berdenging hebat, darah merembes dari lubang hidung, dan paru-paru mereka terasa seperti dihimpit oleh gunung raksasa.
Di tengah pusaran kehancuran itu, Han Feng berdiri tegak.
Jubah cokelatnya berkibar liar, namun kakinya seolah tertanam di jantung bumi. Dari tubuhnya, pendaran cahaya emas murni meluap, membentuk proyeksi transparan seekor naga yang melingkar, melindungi dirinya dari tekanan aura sang Leluhur. Meskipun ia hanya berada di Ranah Pondasi Dasar Level 1, kepadatan Qi Emas miliknya memiliki kualitas "Dewa" yang mampu menahan hukum alam yang dipaksakan oleh lawan yang secara teori berada satu ranah besar di atasnya.
Leluhur Li, yang melayang tinggi di angkasa, menyipitkan matanya. Jantungnya berdenyut tidak nyaman. "Bocah... teknik apa yang kau latih? Pondasi Dasar tidak seharusnya mampu bernapas di bawah tekananku. Kau bukan sekadar jenius, kau adalah anomali yang harus segera dimusnahkan sebelum menjadi bencana bagi dunia ini!"
"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang sudah hampir masuk liang lahat!" Han Feng meraung.
Leluhur Li mendengus dingin. Ia mengangkat tangan kanannya yang keriput ke langit. "Lihatlah kekuatan yang telah kupelajari selama lima puluh tahun meditasi. Tangan Langit Pembalik Takdir!"
Awan mendung yang menggantung di atas kota tiba-tiba berubah menjadi ribuan telapak tangan energi raksasa berwarna putih keperakan. Setiap telapak tangan itu membawa bobot puluhan ton, menghujam bumi seperti meteor yang tak terhitung jumlahnya. Suara dentuman udara yang terbelah terdengar memekakkan telinga.
Han Feng mendongak, matanya berkilat penuh kegilaan. Ia menusukkan jari-jarinya ke udara, memicu ledakan petir emas dari sekujur tubuhnya. "Seribu Pedang Guntur Emas!"
Pedang petir raksasa di tangannya pecah menjadi ribuan bilah cahaya emas yang lebih kecil namun sangat tajam. Bilah-bilah itu melesat ke atas, membentuk formasi pertahanan yang agresif.
BOOM! BOOM! BOOM!
Langit Wadas Putih meledak dalam simfoni kehancuran. Setiap kali telapak tangan energi Leluhur Li menghantam pedang guntur Han Feng, gelombang kejut yang dihasilkan meratakan bangunan dalam radius satu kilometer. Penginapan "Awan Berarak" yang tadinya berdiri megah kini hancur menjadi debu, menyisakan puing-puing yang terbakar. Langit malam berubah menjadi panggung kembang api maut, di mana cahaya perak dan emas saling melahap satu sama lain.
Menyadari bahwa serangan jarak jauhnya tidak bisa menundukkan Han Feng dengan cepat, Leluhur Li kehilangan kesabarannya. Ia melesat turun dari langit, membelah udara hingga menciptakan suara ledakan sonik. Di tangannya kini tergenggam Tongkat Giok Penghisap Jiwa, artefak tingkat tinggi yang memancarkan aura hijau zamrud yang menyeramkan.
Han Feng menyambutnya dengan ledakan kecepatan yang sama. Keduanya berbenturan di tengah udara.
CLANG!
Suara benturan logam dan energi itu menciptakan lubang besar di tanah bawah mereka. Tanah amblas sedalam tiga meter seketika. Mereka bergerak sangat cepat hingga hanya terlihat sebagai dua garis cahaya—hijau dan emas—yang saling bertabrakan berkali-kali.
Tiap kali tongkat giok dan pedang guntur itu beradu, percikan api energi menyambar-nyambar ke sekeliling, menghancurkan apa pun yang tersisa. Han Feng mulai merasakan beban yang luar biasa. Nadinya berdenyut kesakitan; memaksakan Qi Emas Dewa untuk bertarung melawan Ranah Setengah Inti Sejati adalah beban berat bagi tubuh fisiknya yang masih baru saja menembus Pondasi Dasar. Darah segar mulai merembes dari sudut bibirnya, namun setiap tetes darah itu justru membuat api semangat di matanya makin membara.
Sebaliknya, Leluhur Li semakin terkejut. Lengan jubah emasnya telah hangus terbakar oleh panasnya petir emas Han Feng. Ia merasa setiap benturan fisik membuat tangannya mati rasa. Bocah ini... kekuatan fisiknya setara dengan binatang buas purba!
Setelah bentrokan yang memicu ledakan besar, keduanya terpental mundur sejauh lima puluh meter, menciptakan parit panjang di jalanan yang sudah hancur.
Leluhur Li berdiri dengan napas yang sedikit memburu. Rambut putihnya kini berantakan, dan wajahnya yang angkuh kini dipenuhi oleh kemarahan yang bercampur dengan ketakutan tersembunyi. "Siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin ada teknik di daratan ini yang bisa memberikan kekuatan melompat ranah sebesar ini! Jika kubiarkan kau hidup hari ini, Keluarga Li akan rata dengan tanah dalam waktu satu tahun!"
Han Feng berdiri dengan posisi rendah, satu tangannya memegang dada yang terasa sesak, sementara tangan lainnya masih menggenggam pedang petir yang terus berderit. Cahaya emas di sekelilingnya sedikit meredup, namun intensitasnya menjadi jauh lebih padat.
"Orang tua ini punya cadangan Qi yang sangat luas," pikir Han Feng cepat. "Jika aku terus bertarung secara frontal, tubuhku yang akan menyerah duluan. Aku harus memaksanya mengeluarkan serangan pamungkas dan menjebaknya dalam Formasi Pembalik Guntur internal."
Di sisi lain, Leluhur Li pun sedang memutar otak. "Bocah ini tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan mental. Aku tidak punya waktu lagi. Jika ahli dari sekte lain datang karena keributan ini, aku akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hartanya."
Leluhur Li perlahan mulai menggigit lidahnya sendiri, menyemburkan darah ke tongkat gioknya. Esensi jiwanya mulai terbakar. Tubuhnya yang keriput tiba-tiba membengkak, otot-ototnya mengembang, dan kulitnya berubah warna menjadi perunggu kusam. Ini adalah teknik terlarang "Transformasi Dewa Perunggu", yang mengonsumsi sisa umur pemakainya demi kekuatan absolut.
Han Feng melihat perubahan itu dan tahu bahwa momen penentuan telah tiba. Ia menusukkan pedang petirnya ke tanah di bawah kakinya. "Ingin mempertaruhkan nyawa, Tua Bangka? Mari kita lihat siapa yang lebih dulu dijemput oleh dewa kematian!"
Han Feng mulai mengalirkan seluruh sisa Qi Emasnya ke dalam tanah, memicu segel rahasia naga yang telah ia siapkan secara diam-diam selama bentrokan fisik tadi. Garis-garis cahaya emas mulai muncul dari bawah kaki Leluhur Li, membentuk pola formasi kuno yang rumit.
Leluhur Li tertawa gila, suaranya kini terdengar seperti logam yang bergesekan. "Di hadapan kekuatan absolut, formasi apa pun tidak berguna! Mati kau, semut!"
Leluhur Li mengangkat tongkatnya yang kini berubah menjadi raksasa, siap untuk menghantamkan pukulan penghancur dunia. Di saat yang sama, Han Feng melepaskan segelnya, membiarkan energi emas dari bumi meledak ke atas.
Cahaya menyilaukan melahap segalanya. Wadas Putih seolah-olah menghilang dalam ledakan putih yang murni. Tidak ada suara, hanya keheningan mengerikan sebelum segalanya hancur berkeping-keping.
"Satu serangan lagi..." gumam Han Feng di tengah kilatan cahaya tersebut. "Hanya satu dari kita yang akan melihat matahari terbit. Mari kita bertaruh dengan seluruh esensi kita, Leluhur Tua!"
Ledakan itu semakin membesar, menelan sosok keduanya ke dalam pusaran energi yang tak terkendali. Di kejauhan, para murid sekte dan penduduk hanya bisa menutup mata mereka, menunggu siapa yang akan tetap berdiri saat debu sejarah ini mereda
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏