NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Rumah yang Mulai Terasa Hangat

Pagi hari menyambut mansion Dimitri dengan sinar matahari yang cerah.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Rubi bangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang.

Saat membuka mata, ia sempat bingung karena merasa tidur lebih nyenyak dari biasanya.

Kemudian ia teringat kejadian semalam.

Alexander yang meninggalkan pekerjaannya.

Alexander yang duduk di samping tempat tidur.

Alexander yang mengusap perutnya sampai ia tertidur.

Memikirkan hal itu membuat pipi Rubi langsung memanas.

"Kenapa aku jadi memikirkannya terus sih..."

gumamnya pelan.

Ia menutupi wajah dengan selimut sebentar sebelum akhirnya memaksa dirinya bangun.

Namun saat duduk di tepi ranjang, pandangannya tertuju pada sofa dekat jendela.

Di sana terdapat selimut yang terlipat rapi.

Rubi mengernyit.

Semalam ia terlalu mengantuk untuk mengingat semuanya, tapi sekarang ia mulai menyadari sesuatu.

Jangan-jangan Alexander benar-benar tidur di kamar ini?

Pikiran itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Saat turun ke ruang makan, aroma makanan hangat langsung menyambutnya.

Beberapa pelayan terlihat sibuk menata meja.

Di ujung meja, Alexander sudah duduk seperti biasa.

Membaca laporan sambil menikmati kopi pagi.

Melihat pemandangan itu, entah kenapa Rubi tersenyum kecil.

Aneh.

Dulu kehadiran Alexander selalu membuat suasana terasa tegang.

Sekarang justru terasa biasa.

Nyaman.

"Pagi."

sapa Rubi.

Alexander mengangkat kepala.

Tatapan dinginnya yang biasa terlihat oleh dunia langsung sedikit melembut.

"Pagi."

Rubi duduk di kursinya.

Salah satu pelayan segera menyajikan sarapan.

Suasana hening beberapa saat.

Sampai akhirnya Rubi memberanikan diri bertanya.

"Kamu tidur di kamarku semalam?"

Alexander terlihat tenang.

"Iya."

Jawaban yang terlalu santai.

Rubi hampir tersedak jusnya sendiri.

"Hah?"

"Kau sudah tidur saat itu."

"Aku tahu!"

kata Rubi cepat.

"Maksudku... kenapa?"

Alexander menatapnya seolah pertanyaan itu aneh.

"Kau sedang tidak tenang."

"Itu bukan alasan untuk begadang semalaman."

"Aku tidak begadang."

jawab Alexander.

"Aku tidur."

Kali ini Rubi benar-benar kehilangan kata-kata.

Entah kenapa membayangkan Alexander tidur di sofa kamarnya membuatnya semakin malu.

Sementara Alexander terlihat sama sekali tidak terganggu.

Setelah sarapan, Alexander harus pergi ke kantor.

Namun sebelum berangkat, ia memberikan beberapa instruksi kepada kepala keamanan.

Rubi yang kebetulan lewat mendengar sebagian percakapan mereka.

"Tingkatkan pengawasan di gerbang timur."

"Baik, Tuan."

"Jangan ada orang asing yang masuk tanpa izin."

"Siap."

Ekspresi Alexander terlihat serius.

Sangat serius.

Dan itu membuat perasaan tidak nyaman yang sempat hilang kembali muncul.

Begitu pria itu selesai berbicara, Rubi menghampirinya.

"Masalah itu belum selesai?"

tanyanya.

Alexander tahu persis masalah apa yang dimaksud.

Ancaman yang selama ini mereka cari.

Ia menghela napas pelan.

"Belum."

Rubi menggigit bibir bawahnya.

"Berbahaya?"

Untuk beberapa saat Alexander tidak menjawab.

Lalu akhirnya berkata,

"Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu."

Jawaban itu tidak benar-benar menjawab pertanyaannya.

Tetapi cukup membuat Rubi mengerti.

Situasinya memang serius.

Siang hari.

Rubi memutuskan menghabiskan waktu di ruang bayi yang sedang dipersiapkan.

Ruangan itu berada tidak jauh dari kamar utama.

Beberapa minggu terakhir para pelayan mulai mengisinya dengan berbagai perlengkapan.

Tempat tidur bayi.

Lemari kecil.

Mainan.

Dan berbagai barang lucu lainnya.

Rubi tersenyum melihat semuanya.

Sulit dipercaya.

Beberapa bulan lalu ia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang bekerja di kafe.

Sekarang ia sedang menunggu kelahiran seorang bayi di mansion keluarga terkaya di Eropa.

Hidup memang aneh.

Tangannya menyentuh perlahan salah satu boneka kecil berbentuk beruang.

"Kamu beruntung sekali."

bisiknya pada bayi dalam kandungannya.

"Semua orang menunggumu lahir."

Saat itu pintu ruangan terbuka.

Kepala pelayan masuk sambil membawa beberapa kotak.

"Nyonya muda."

"Oh?"

"Barang-barang baru untuk kamar bayi."

Rubi langsung tersenyum antusias.

"Boleh lihat?"

"Tentu."

Mereka kemudian membuka kotak-kotak tersebut bersama.

Ada pakaian bayi kecil berwarna putih dan biru.

Kaos kaki mungil.

Topi lucu.

Dan berbagai perlengkapan lainnya.

Rubi sampai tidak bisa berhenti tersenyum.

"Lucu sekali."

Kepala pelayan ikut tersenyum melihat reaksinya.

Sudah lama mansion ini tidak dipenuhi suasana hangat seperti sekarang.

Dan sebagian besar perubahan itu terjadi sejak Rubi berubah.

Sore hari.

Alexander akhirnya pulang lebih cepat.

Begitu memasuki mansion, langkahnya langsung menuju ruang bayi.

Karena salah satu pelayan memberitahunya bahwa Rubi berada di sana.

Dan benar saja.

Saat pintu dibuka, ia menemukan Rubi sedang duduk di lantai sambil melipat pakaian bayi.

Pemandangan sederhana itu membuat langkahnya berhenti.

Untuk sesaat.

Tanpa alasan yang jelas.

Rubi yang menyadari kehadirannya langsung menoleh.

"Kamu sudah pulang."

"Iya."

Alexander masuk ke dalam.

Tatapannya berpindah ke pakaian-pakaian kecil di sekitar Rubi.

"Kau yang mengaturnya?"

"Iya."

jawab Rubi bangga.

"Lihat ini."

Ia mengangkat sepasang kaos kaki bayi yang sangat kecil.

Alexander memandang benda itu.

Lalu membandingkannya dengan ukuran tangannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bingung bagaimana sesuatu bisa sekecil itu.

Rubi tertawa melihat ekspresinya.

"Kamu lucu."

Alexander mengangkat alis.

"Aku?"

"Iya."

Biasanya orang-orang takut melihat Alexander Dimitri.

Namun saat ini pria itu terlihat seperti ayah baru yang tidak tahu apa-apa tentang bayi.

Dan itu cukup menggemaskan.

Alexander menghela napas kecil.

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Malam hari.

Mereka makan malam bersama seperti biasa.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Lebih hangat.

Lebih santai.

Bahkan beberapa pelayan mulai menyadari perubahan itu.

Dulu meja makan keluarga Dimitri selalu terasa formal dan dingin.

Sekarang sesekali terdengar tawa Rubi.

Dan meski Alexander jarang tertawa, ia tidak lagi terlihat terganggu oleh suara tersebut.

Justru sering memperhatikannya diam-diam.

Setelah makan malam selesai, mereka duduk di ruang keluarga.

Rubi sedang membaca buku.

Sementara Alexander bekerja menggunakan laptop.

Pemandangan sederhana.

Tetapi terasa seperti keluarga sungguhan.

Sampai tiba-tiba Rubi meringis kecil.

Alexander langsung menoleh.

"Ada apa?"

"Bukan apa-apa."

"Bayi?"

Rubi mengangguk.

"Dia aktif lagi."

Tanpa berpikir panjang, Alexander langsung berpindah duduk di sampingnya.

Lalu meletakkan tangan di atas perut Rubi.

Seolah itu hal yang biasa dilakukan.

Dan mungkin memang sudah menjadi kebiasaan baru mereka.

Beberapa detik kemudian.

Tap.

Gerakan kecil itu terasa.

Alexander langsung fokus.

Sedangkan Rubi memperhatikan wajah pria itu diam-diam.

Ada sesuatu yang berubah.

Dulu Alexander hanya memperhatikan bayi itu karena tanggung jawab.

Sekarang berbeda.

Ia benar-benar menantikannya.

Dan melihat itu membuat hati Rubi terasa hangat.

Sangat hangat.

Namun di balik ketenangan tersebut, tak seorang pun menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikan mansion Dimitri dari kejauhan.

Seseorang yang mulai kehilangan kesabaran.

Dan kali ini, ia tidak berniat hanya mengirim pesan peringatan.

Ia sudah memutuskan langkah berikutnya.

Langkah yang akan mengubah kehidupan Rubi dan Alexander selamanya.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!