Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Cahaya di Ujung Telapak Tangan
Musim panen tiba membawa sukacita yang meluap-luap di Karimun. Ladang padi menghijau menguning, buah-buahan ranum menggantung di dahan, dan perahu-perahu nelayan pulang dengan jaring penuh ikan segar. Suasana desa begitu riuh, penuh tawa dan syukur, seolah alam pun ikut merayakan damai yang kini terpatri kuat di tanah itu.
Di halaman rumahnya, Laras sedang mengajari Bayu memilah padi yang baru dipanen. Tangan kecil Bayu bergerak canggung namun bersemangat, sesekali ia meniup sekam padi agar terbang terbawa angin. Dika berdiri tak jauh dari sana, tersenyum memandang dua orang yang paling ia cintai. Raka dan Paman Hadi sibuk mengangkut karung-karung ke lumbung bersama pemuda desa, sementara Bibi Sari menyiapkan minuman segar dan camilan untuk mereka yang lelah bekerja.
“Ibu, kenapa kita harus membagi sebagian padinya ke desa sebelah?” tanya Bayu tiba-tiba sambil menatap tumpukan padi yang terpisah. “Bukankah kita juga butuh?”
Laras berhenti sejenak, lalu menyeka keringat di kening putranya dengan ujung kain sarungnya. “Karena kita tidak hidup sendirian, Nak. Jika tetangga kita lapar, maka damai kita pun takkan sempurna. Berbagi bukan berarti kita kehilangan, tapi justru membuat apa yang kita miliki menjadi lebih berharga.”
Bayu mengangguk pelan, seolah mencoba memahami kata-kata ibunya yang dalam. Ia lalu mengambil segenggam padi dan meletakkannya ke tumpukan untuk dibagikan. Tindakan polos itu membuat siapa pun yang melihatnya tersentuh.
Namun damai itu kembali diuji, bukan dari pedang atau pasukan, melainkan dari musuh yang tak kasat mata.
Beberapa hari kemudian, kabar datang dari desa di seberang teluk: wabah demam tinggi mulai menyebar. Orang-orang jatuh sakit secara tiba-tiba, demam tak turun, dan tenaga medis serta obat-obatan sangat terbatas. Warga desa itu mulai panik, dan ketakutan perlahan merembet ke Karimun. Banyak yang menyarankan untuk menutup jalan dan melarang siapa pun masuk dari desa yang terkena wabah itu demi keamanan sendiri.
Malam itu, berkumpullah para tetua desa dan keluarga Laras di balai desa. Suasana tegang dan penuh keraguan.
“Jika kita membuka pintu, bisa-bisa wabah itu masuk ke sini dan menular pada anak-anak kita,” kata salah satu tetua dengan cemas. “Tapi jika kita menutup mata, kita membiarkan saudara kita menderita sendirian.”
Laras berdiri perlahan. “Dulu aku pernah belajar bahwa pertahanan terbaik bukanlah tembok tinggi yang mengunci kita dari dunia luar, melainkan hati yang kuat dan saling menjaga. Jika kita menutup pintu sekarang, kita memang mungkin aman sementara waktu. Tapi kita akan kehilangan jiwa kemanusiaan itu sendiri. Dan tanpa jiwa itu, sekuat apa pun kita, kita tetap lemah.”
Dika menambahkan dengan tenang, “Kita tidak harus terjun tanpa persiapan. Kita kumpulkan semua pengetahuan tentang tanaman obat, kita buat pembatas aman, kita siapkan tempat karantina sementara. Kita bantu mereka tanpa melupakan keselamatan diri sendiri.”
Keesokan harinya, dengan berbekal pengetahuan jamu dari Bibi Sari dan Paman Hadi, serta keberanian yang tak tergoyahkan, Laras, Dika, Raka, dan beberapa relawan berangkat menyeberang ke desa yang terkena wabah. Saat tiba di sana, pemandangan menyedihkan menyambut mereka. Rumah-rumah sepi, orang-orang terbaring lemah, dan kepanikan terlihat jelas di wajah siapa pun yang masih sanggup berdiri.
Tanpa banyak bicara, mereka mulai bekerja. Laras membagi tugas dengan cekatan: sebagian meracik ramuan penurun panas dan penyembuh luka, sebagian menjaga kebersihan lingkungan agar wabah tak semakin menyebar, sebagian lagi memberi makan dan minum kepada mereka yang tak sanggup bergerak. Dika merawat luka dan memberi semangat, sementara Raka memastikan keamanan dan ketertiban agar tak terjadi kepanikan yang tidak perlu.
Hari berganti hari, kelelahan mulai terasa. Beberapa relawan pun akhirnya jatuh sakit, termasuk salah satu pemuda dari Karimun. Namun tak satu pun dari mereka mundur. Laras terus bergerak dari satu rumah ke rumah lain, mengusap kening yang panas, membisikkan kata-kata penyemangat, dan berdoa dalam hati agar kekuatan senantiasa diberikan.
Suatu malam, saat ia sedang merawat seorang anak kecil yang demamnya tak kunjung turun, tiba-tiba ia merasa pusing hebat. Kakinya lemas, dan Dika hampir saja terlambat menangkapnya.
“Laras!” seru Dika cemas. “Kau terlalu lelah. Biarkan aku yang melanjutkan sebentar.”
Laras tersenyum lemah namun tetap teguh. “Aku tidak apa-apa, Dika. Selama masih ada yang butuh pertolongan, aku tidak boleh berhenti. Dulu aku hidup untuk membunuh, sekarang aku hidup untuk menyelamatkan. Biarkan aku menyelesaikan apa yang ku mulai.”
Keajaiban perlahan datang. Kesabaran, perawatan yang tepat, serta doa bersama akhirnya membuahkan hasil. Demam mulai turun, jumlah orang sakit berkurang, dan harapan kembali tumbuh di hati warga desa itu. Saat wabah akhirnya mereda, tak ada kata yang sanggup melukiskan rasa syukur dan terima kasih yang mereka rasakan terhadap Laras dan seluruh rombongan.
Saat hari kepulangan tiba, seluruh warga desa berkumpul di tepi pantai. Mereka membawa hasil bumi dan kerajinan tangan sebagai tanda terima kasih, namun yang lebih berharga adalah air mata haru dan janji persaudaraan yang kini terjalin makin erat.
“Kau datang bukan sebagai ratu yang memerintah, tapi sebagai saudara yang memeluk,” kata kepala desa itu dengan suara bergetar. “Kau mengajarkan kami bahwa keberanian sejati adalah berani hadir saat orang lain lari menjauh.”
Perjalanan pulang terasa sunyi namun penuh makna. Laras duduk bersandar pada bahu Dika, memandangi pantulan cahaya matahari terbenam di permukaan air.
“Kau tahu,” bisiknya pelan, “Dulu aku mengira kekuatanku ada pada apa yang kupegang—pedang, senjata, kekuasaan. Ternyata kekuatanku ada pada apa yang kuberikan—pertolongan, kasih sayang, dan kesempatan untuk bangkit kembali.”
Sesampainya di rumah, Bayu berlari menyambutnya dengan pelukan erat. Laras menggendong putranya tinggi-tinggi, mencium wajah mungilnya berkali-kali. Di sekelilingnya berdiri orang-orang yang ia cintai, lengkap dan selamat.
Malam itu, di bawah sinar rembulan yang bersinar terang, Laras sadar sepenuhnya. Cahaya yang selama ini ia cari bukanlah cahaya kemenangan di medan perang, melainkan cahaya kecil yang terpancar dari kebaikan hati, dari uluran tangan yang tak kenal lelah, dan dari keberanian untuk tetap manusiawi meski dunia pernah memperlakukannya dengan kejam.
Dan di tanah Karimun yang damai itu, kisah sang Mantan Ratu Pembunuh terus dituliskan ulang—bukan lagi dengan darah dan amarah, melainkan dengan tinta kasih sayang yang abadi.
Bersambung...