NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Alfheim

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Pintunya tidak boleh hilang! Aku harus kembali ke rumah Tuan Cedric sebelum dia pulang!" seru Elara panik, suaranya menggema parau di antara keheningan hutan purba tersebut.

Gadis Siren itu terus berlarian tanpa arah, memutari area tempatnya mendarat demi mencari keberadaan pintu lemari yang gaib.

Dengan gerakan nekat, ia mengorek-ngorek semak belukar yang berduri, lalu menyibak kasar tanaman rambat yang menutupi dahan-dahan pohon raksasa di sekitarnya. Kulit tangannya yang putih mulai tergores ranting, namun ia mengabaikan rasa perih itu, terus mencari seperti orang gila.

"Nasibku... kenapa selalu sial terus-menerus seperti ini?! Arghhh!" desah Elara frustrasi sembari mengacak-acak rambut merah ikalnya yang kini mulai berantakan dan dipenuhi remah daun kering.

Ia menghentikan langkahnya yang mulai kehabisan napas. Dengan napas yang memburu, Elara menatap ke sekitar bentangan hutan Alfheim dengan perasaan bingung bercampur waspada tinggi.

Suasana senja abadi di tempat ini memang terlihat sangat indah dan menawan, namun bagi makhluk asing seperti dirinya, keindahan ini justru terasa mencekam dan penuh misteri yang mengancam.

"Sekarang aku harus bagaimana?" bisiknya pada kesunyian alam.

Elara memeluk tubuhnya sendiri, merapatkan gaun biru muda milik mendiang ibu Cedric yang kini sudah sedikit koyak di bagian ujungnya. Ia memasang indra pendengaran dan penciumannya tajam-tajam, mencoba mendeteksi getaran energi di sekitar wilayah tersebut.

"Semoga saja... di tempat asing ini tidak ada makhluk mengerikan seperti Ghoul lagi," rapalnya penuh harap di dalam hati.

Seketika, ingatan buruk tentang makhluk pemakan bangkai berbau busuk yang sempat memburunya saat pelarian dari penjara bawah laut tempo hari kembali melintas, membuat bulu kuduk Elara meremang. Di tengah perut yang keroncongan dan tubuh yang belum pulih total akibat ulah brutal Edgard, bertahan hidup di dimensi magis para Elf hutan dan Dryad ini akan menjadi ujian terberat bagi sang gadis samudra.

Elara menunduk, menatap sepasang kakinya yang polos tanpa alas kaki. Kedua telapak kakinya kini kembali berdenyut nyeri. Luka-luka lama akibat kejadian tempo hari—saat ia dengan nekat berlari mati-matian tanpa alas kaki menembus Hutan Luminara demi lolos dari kejaran makhluk Ghoul—ternyata belum sembuh total.

Sebagai bangsa lautan, kakinya yang baru saja menyesuaikan diri dengan daratan memang masih terasa sangat kaku dan sulit digunakan untuk berjalan.

Namun kini, penderitaannya bertambah. Kulit telapak kakinya yang tipis harus kembali terluka karena tergores batu dan ranting Alfheim. Luka yang semula sudah mulai mengering kini kembali menganga, mengeluarkan tetesan darah segar yang menodai tanah humus.

"Kaki ini benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. Memiliki kaki ternyata sangat merepotkan," gerutu Elara lirih.

Jika saja saat ini ia masih berada di lautan luas, ia tidak perlu repot-repot memikirkan rasa sakit, apalagi harus memakai sandal atau sepatu untuk melindungi diri.

Sambil terus melangkah pelan dengan tubuh yang terpincang-pincang, tangan cantiknya bertumpu dari satu batang pohon raksasa ke pohon lainnya demi menjaga keseimbangan agar tidak kembali ambruk.

"Sebenarnya aku sekarang berada di tempat apa? Kenapa tempat ini sepi sekali? Apa hutan ini tidak memiliki penghuni?" tanyanya bingung, menyapu pandangan ke sekeliling keheningan senja abadi.

Elara sama sekali tidak menyadari bahwa sedari tadi—bahkan sejak detik pertama ia menginjakkan kakinya yang terluka di tanah suci Alfheim—puluhan pasang mata berwarna hijau zamrud tengah mengawasinya dengan ketat.

Tatapan-tatapan tajam itu memandangnya dari balik kerindangan pohon-pohon purba dan semak belukar yang tinggi. Siapa lagi mereka jika bukan pasukan Elf Hutan, penjaga garis depan dimensi Alfheim.

"Seorang ras Siren?" gumam pemimpin pasukan Elf Hutan dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin.

Indra penciumannya yang pekat menangkap aroma khas yang menguar dari tubuh Elara—bau samudra dalam berbalut aroma manis feromon yang samar.

"Bagaimana bisa makhluk kedalaman laut luas berada jauh di dalam dimensi suci kita?"

"Lalu, apakah kita harus menangkapnya sekarang, Ketua?" tanya salah satu penjaga klan Elf yang berdiri di dekatnya, tangannya sudah bersiap pada gagang busur panah kayu mereka.

"Iya. Cepat kepung dan tangkap dia," perintah sang ketua pasukan dengan tegas dan dingin.

"Jangan sampai makhluk asing itu membuat kekacauan atau menodai teritori suci klan kita ini."

Mendengar perintah mutlak dari sang pemimpin, puluhan pasukan Elf Hutan bergerak dengan sangat gesit tanpa suara, keluar secara serempak dari balik persembunyian mereka di antara rimbunnya semak dan pepohonan raksasa.

"Berhenti di sana!" teriak sang pemimpin pasukan, suaranya yang lantang menggema memecah kesunyian Alfheim.

Bersamaan dengan teriakan itu, sang pemimpin menarik tali busurnya dengan gerakan secepat kilat dan melesatkan sebutir anak panah kayu berujung runcing.

Jleb!

Anak panah itu meluncur deras membelah udara dan menancap sangat dalam pada batang pohon besar yang tengah dipegang Elara sebagai tumpuan berjalannya.

Jarak ujung bulu anak panah tersebut hanya beberapa inci saja dari jemari tangan Elara yang gemetar. Sang pemimpin Elf sengaja melesetkan tembakannya, murni hanya untuk menggertak dan menghentikan pergerakan sang Siren asing agar tidak melangkah lebih jauh.

Elara terlonjak kaget bukan main, jantungnya serasa melompat keluar dari rongga dada. Akibat keterkejutan yang luar biasa itu, tubuh ringkihnya refleks bergerak mundur, merapat erat membentur kulit kasar batang pohon raksasa di belakangnya.

Sepasang netra biru jernihnya bergerak liar dan melebar, menatap penuh kewaspadaan pada kerumunan pasukan Elf bersenjata lengkap yang kini telah mengepungnya dari segala penjuru mata angin.

Di bawah kepungan panah yang siap lepas dari busurnya, Elara tahu bahwa melarikan diri dengan kaki yang bersimbah darah adalah hal yang mustahil untuk dilakukan.

"Tangkap penyusup itu dan bawa dia ke penjara istana!" perintah sang pemimpin pasukan dengan nada suara yang sedingin es.

Mendengar kata "penjara", Elara sontak membulatkan sepasang matanya lebar-lebar. Detak jantungnya mendadak berhenti selama sedetik. Rasa trauma yang mendalam selama belasan tahun akibat ditahan di dalam sel bawah laut Abyssal Trench yang gelap seketika kembali melintas, mencengkeram kewarasannya tanpa ampun.

"Jangan! Jangan lakukan itu, Tuan! Aku mohon, aku tidak mau ditahan lagi!" seru Elara dengan suara bergetar, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada untuk memohon belas kasihan. "Aku hanya ingin pulang... Jadi, bisakah Anda membantuku kembali ke tempat asalku? Aku tidak berniat buruk."

"Cepat bawa dia!"

Namun, sang pemimpin tampaknya enggan mendengar penjelasan atau penolakan apa pun dari mulut sang Siren asing.

Dua orang prajurit Elf segera melangkah maju, lalu mencengkeram kedua lengan Elara secara kasar untuk menyeretnya pergi dari sana.

"Tidak, Tuan! Aku mohon, lepaskan aku! Aku tidak mau masuk penjara lagi!" raung Elara, mencoba memberontak dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Namun, usahanya sia-sia belaka. Kekuatan fisiknya yang belum pulih total tidak mampu menandingi kekuatan para pelindung hutan tersebut. Kedua prajurit itu justru semakin mempererat cengkeraman mereka di lengan Elara, mengabaikan setiap jeritan pilu yang keluar dari bibir sang gadis seolah itu hanyalah angin lalu.

Mereka mulai melangkah menyusuri jalanan setapak hutan menuju pemukiman utama klan Elf Hutan, dipimpin langsung oleh sang ketua pasukan di barisan depan. Sementara itu, sisa pasukan lainnya langsung menyebar kembali untuk menjaga pos perbatasan.

Jauh di depan sana, sebuah gerbang kayu besar yang megah mulai terlihat, menandakan pintu masuk menuju area pasar Elf. Di balik gerbang tersebut, berjejer rapi rumah-rumah penduduk unik yang dibangun menyatu dengan pohon-pohon raksasa. Sementara itu, jauh di dataran tinggi yang subur, tampak pemukiman dari berbagai macam klan ras Dryad yang anggun.

Suasana di tempat itu terbilang cukup ramai. Para penduduk tampak berlalu-lalang di sepanjang jalanan pasar, dan beberapa kereta yang ditarik oleh kuda-kuda kekar kerap melintas, menjadi sarana transportasi umum utama di dimensi tersebut.

"Kalian... kalian mau membawaku ke mana sebenarnya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!