Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 20
Keesokan harinya Hazi di antar oleh Arras mengunjungi makam umi Khodijah yang di makamkan tepat di samping makam abi Luqman.
" boleh tinggalkan aku sendiri mas?" tanya Hazi pada Suaminya.
" aku tau kamu perlu waktu, aku enggak akan tinggalkan kamu sendiri, tapi aku akan sedikit menjauh" jawab Arras yang seakan tau apa yang di inginkan sang istri.
" Tapi aku akan lama" balas Hazi.
" Mas tunggu, cerita lah sepuasnya ke abi dan umi, ceritakan apa yang ingin kamu katakan " jawab Arras yang kemudian berjalan sedikit menjauh dari makam kedua mertuanya.
Hazi kembali bergantian menatap pusaran kedua orang tuanya, ia meminta maaf dan mengatakan apa yang selama ini ingin ia sampaikan pada kedua orang tuanya, namun ia tidak punya cukup memiliki keberanian.
Cukup lama Hazi di sana, ia tidak menitihkan air matanya, karena ia sudah berjanji ia akan ikhlas agar tidak memberatkan kepergian kedua orangtuanya.
" Hazi pamit dulu mi...bi..., Hazi juga akan mengembalikan apapun yang bukan milik Hazi" ujar Hazi.
Hazi berbalik dan ia masih mendapati suaminya yang masih menunggu dirinya, Hazi segera menghampiri suaminya.
" Maaf nunggu lama" ujar Hazi.
" Gapapa, sebentar" sahut Arras kemudian meraih tangan Hazi dan membersihkan sisa tanah yang ada di tangan Hazi .
" Pulang, mandi dulu baru kita nyari sarapan ya... dari semalam kamu cuma makan beberapa suap doang "imbuh Arras.
" Iya " jawab Hazi, yang tidak punya tenaga untuk debat dan menolak permintaan suaminya.
Arras kemudian mengajak sang istri untuk pulang, setelah itu membersihkan diri begitu pula dengan Hazi.
Sedangkan pesantren sedang di liburkan dari kegiatan, pesantren akan di ambil alih oleh bulik dan palik Hazi, hingga nanti Hanzzah siap memimpin pesantren.
Karena pesantren ini memang akan di serahkan dan di turunkan pada Hanzzah, Hazi tidak mempermasalahkan itu.
Setelah selesai mandi, Hazi berniat ke bawah, namun saat ia ingin ke bawah,bertepatan dengan suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" kamu mau kemana ?" tanya Arras pada sang istri.
" Ke bawah, mau ambil makan buat mas " jawab Hazi dengan tersenyum simpul.
" enggak jadi makan di luar ?" tanya Arras.
" di bawah banyak makanan, mubazir kalau enggak di makan " jawab Hazi.
" okey, kamu turun dulu kalau gitu, mas ganti baju dulu ya..." sahut Arras.
" Iya, aku udah siapin baju mas di kasur ya.." Balas Hazi kemudian turun di bawah.
Arras tersenyum, entah mengapa ia merasa ada rasa berbeda pada dirinya terhadap Hazi, padahal dulu ia paling kesal dengan Hazi karena sering berebut Lyora .
" Jodoh memang enggak ada yang tau" gumam Arras.
" tolong lembutkan hati istri hamba Ya Allah karena Engkau lah maha pembolak balikan hati dan Jujur saja aku memelikk rasa yang berbeda setelah aku melafaz kan ijab qabul kala itu " gumam Arras.
Kemudian ia masuk ke dalam kamar sang istri sedangkan Hazi di bawah bertemu dengan mertuanya yang baru saja selesai sarapan.
" Hazi.... kamu udah sarapan ? Arras mana?" tanya Bunda Sofia.
" Ini Hazi mau sarapan bun... Mas Arras masih di atas baru saja selesai mandi " jawab Hazi.
" Bunda udah sarapan?" tanya Hazi yang berusaha untuk menjadi memantu yang baik.
" Udah, kamu mau bunda buatin makanan?" tawar Bunda sofia.
" enggak usah bun, Hazi makan apa yang ada aja, Bunda mau kemana ?" sahut Hazi.
" Bunda mau keluar sebentar sama bulik kamu, soalnya Bunda nanti siang harus pergi, ayah masih ada kerjaan, maaf ya... Bunda belum bisa bantu banyak" jawab Bunda Sofia.
" Gapapa bun, makasih banget , maaf Hazi jadinya malah ngerepotin Bunda" ucap Hazi.
" enggak sayang, kamu minta libur suami mu agak panjang, istirahat saja dulu, dari pada di paksa nanti malah enggak fokus kerjanya, nanti bukannya pasien yang kamu suntik tapi kamunya yang ke suntik, cusss gitu" ujar Bunda Sofia yang mencoba menghibur menantunya.
" Bunda bisa aja, kalau gitu Hazi ke dapur dulu ya...bun, mau siapain buat mas Arras juga " jawab Hazi.
" Iya... sana, siapain buat suami mu, dia kalau laper bisa jadi sumala " sahut Bunda Sofia.
Hazi hanya tersenyum kemudian pamit ke dapur, Bunda Sofia menatap kepergian menantunya, beliau merasa iba pada menantunya, di hadapi dengan musibah yang beurutan.
Bunda Sofia memang merasakan masih ada benteng pada menantunya untuk keluarganya, namun beliau memaklumi, karena ia juga melihat sang menantu yang berusaha untuk menerima dengan lapang dada semua ini.
" Bunda ngapain bengong di sini?" tanya Arras yang baru saja turun.
Bunda Sofia yang sedang melamun terkejut dengan kedatangan putranya yang tiba - tiba saja berdiri di depan beliau, " Astagfirullah, kamu ngangetin Bunda aja.Ras".gumam Bunda Sofia.
" Ya... lagian Bunda ngapain, ngelamun di sini sendirian lagi?" tanya Arras.
" Bunda habis ngobrol sama istri kamu, kamu enggak jadi keluar?" sahut Bunda Sofia.
" enggak, Hazi enggak mau katanya di dapur banyak makanan, mubazir kalau enggak ada yang makan " jawab Arras.
"Ras, ingeti pesan ayah sama bunda waktu itu,jaga istri mu, muliakan dia , jangan lupa juga apa yang ayah dan bunda ajarkan selama ini, walau belom ada cinta di antara kalian, dia tetap lah istri , kamu tau kan hukumnya memuliakan istri bagi suami" Nasihat Bunda Sofia pada sang putra, karena kesibukan masing- masing dan baru bertemu kembali di pesantren.
" Iya Bunda ku sayang, Arras janji akan menjaga, merawat da menimang- nimang, mantu bunda " ujar Arras memeluk bundanya.
" Jangan di paksa,kalau Hazi nya belom siap, obati dulu lukanya, isi kekosongannya dan ambil hatinya dulu, jangan karena kamu nafsu bikin istri kamu enggak nyaman di dekat kamu" .
"Emang tampang anak bunda yang ganteng ini kayak gitu? Arras bukan tipe yang akan memaksa jika orangnya tidak mau bun, kalau Arras orang yang kayak gitu, udah lama Arras nikah sana Lyora " sahut Arras.
" Husss malah ngomongin mantan, kalau di denger istri kamu gimana?" .
" Lah... Hazi kan udah tau bun..., dua juga masih sahabatan sama Lyora, ku rasa enggak ada masalah " sahut Arras.
" Udah Sana, samperin istri kamu, oh ya... bunda sekalian nanti mau pamit ya...., lusa ayah harus terbang ke jepang soalnya" ujar Bunda Sofia.
" Bunda ikut?" tanya Arras.
" ikut lah, jadi kamu mending pulang ke rumah dulu ya atau Atthaya yang suruh ke apartemen kamu, Hazi keberatan gak kira- kira?" sahut Bunda Sofia.
" Bukan Hazi yang keberatan tapi anak bunda tuh... kemarin aja cari masalah, masak nyuruh Lyora nginep rumah, katanya dia kesepian di tinggal bunda sama Ayah, enggak boleh main ke apartemen sama Hazi, yah... padahal dia enggak izin sama arras " jawab Arras yang menceritakan kejadian kemarin pada bundannya.
" Iya sih... bunda juga udah denger dari ayah, ya... nanti gampang lah, biar bunda nasihatin dulu, dah... sarapan dulu sana , bunda mau keluar dulu sama bulek mu" sahut Bunda Sofia.
" Okey, hati - hati bun" sahut Arras.
Arras melihat bundanya yang sudah keluar dari ndalem dan ia kemudian berjalan menuju meja makan, ia mencari sang istri di meja makan tapi Arras tidak melihat sang istri.
Arras kemudian menuju ke dapur, ia melihat sang istri yang sedang berbincang dengan adik iparnya,
" Mbak serius?" tanya Hanzzah.
" Dek... yang di jodohin dengan Dokter Arras bukan mbak, tapi mbak mila..." jawab Hazi.
" Kalau mbak jatuh cinta sama Mas Arras ?"tanya Hanzzah, Arras memelih diam dan mendengarkan obrolan Hazi dan Hanzzah.
" Mbak akan kubur perasaan itu, jika pin sudah terlanjur mbak akan pendam, jadi kamu di sini nurut sama bulik ya..., mbak akan cari beasiswa untuk lanjut kuliah lagi dan mengumpulkan uang untuk ganti rugi pada keluarga Dokter Arras " jawab Hazi.
" Tapi sekarang istri mas Arras mbak Hazi bukan mbak mila , kenapa juga mbak harus mikirin mbak mila, bukannya mbak mila yang buat mbak Hazi terjebak dengan ini semua dan menyebabkan umi dan abi ninggalin kita " sahut Hanzzah.
" kamu enggak boleh begitu, ini semua sudah takdir yang Allah tetapkan dan menurut mbak Dokter Arras itu untuk mbak Mila bukan mbak, dan mbak akan mengembalikan apa yang bukan untuk mbak" .
" terus apa arti hidup mbak sebenarnya dan apa yang sebenarnya mbak kejar ?".
" Entah lah , bisa di bilang mbak hanya melanjutkan hidup"