NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Merasa Canggung

Saat pria itu mengangkat tangannya, ingin berkenalan pada Elisya. Tiba-tiba laki-laki tadi datang mendekat.

"Horas, Lae." sapanya sambil memukul punggung pria tadi.

Pria itu sedikit heran dengan sapaan itu. Itu terlalu akrab bagi mereka yang sama sekali tak saling mengenal.

"Selamat hari Minggu." Laki-laki itu menyodorkan tangannya padanya.

Dengan refleks, pria itu menerima jabat tangan itu. Sementara Elisya sangat bingung dengan apa yang sedang ia lihat di depannya itu. Semuanya sangat membingungkan dalam waktu yang singkat.

"Hai......" sapa laki-laki itu pada Elisya sambil mendekat berdiri di sampingnya.

Elisya hanya terdiam, belum juga kebingungannya tadi terpecahkan ditambah lagi dengan sikap tiba-tiba laki-laki itu.

Pria yang ingin berkenalan tadi langsung pergi dari dekat mereka, tanpa mengatakan apapun lagi.

"Dasar!!" ucap Laki-laki itu saat melihat pria tadi semakin menjauh.

Elisya yang berdiri di dekatnya hanya ikut melihat ke arah pria tadi yang sudah semakin menjauh tanpa tau apa sebenarnya tujuannya tadi.

"Sekarang memang aneh...." gumam laki-laki itu.

Mendengar kalimat itu, Elisya menoleh pada laki-laki di sampingnya.

"Aneh?" tanyanya penuh heran.

Laki-laki itu seperti tersentak, sadar akan keberadaan Elisya yang begitu dekat dengannya.

"Eh... maaf." ucapnya melangkah sedikit menjauh.

"Saya minta maaf, saya tak bermaksud kurang sopan." lanjutnya menjelaskan.

Elisya tak tau harus mengatakan apa. Dia benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang yang terjadi sampai laki-laki itu meminta maaf. Tapi karna sesuatu yang membingungkan itu, rasa canggung Elisya menghilang.

"Maaf ya," ulang laki-laki itu.

Melihat Elisya yang tetap terdiam, laki-laki itu mengambil kesimpulan sendiri jika Elisya benar-benar marah.

"Saya hanya tak suka ada laki-laki seperti tadi kepada perempuan karna itu......" jelasnya.

"Bentar...... saya sama sekali nggak paham semua ini. Gimana maksudnya ya?" potong Elisya.

"Gimana?" tanya balik Laki-laki itu.

"Hah?"

Keduanya terlihat sama-sama bingung. Dan tiba tiba mereka tertawa kompak. Halaman gereja itu sudah sepi bahkan sudah ada beberapa jemaat yang datang untuk ibadah sesi berikutnya.

Elisya menutup mulutnya, dia tersadar dia sedang berada dimana.

"Kamu pulang sendiri?" tanya laki-laki itu.

"Elora....." batin Elisya mengingat bahwa tadi pagi mereka pergi bersama.

"Hei......?" panggil laki-laki itu saat Elisya langsung terdiam tak menjawab.

"Oh..... iya." jawabnya mengangguk.

"Naik motor sendiri atau.....?"

"Oh, bukan. Saya pesan online."

Laki-laki itu mengangguk pelan. Ingin bicara tapi tak berani.

"Kalau begitu, saya duluan ya......" ucap Elisya melangkah sedikit menunduk.

Baru beberapa langkah, laki-laki itu kembali memanggil.

"Tunggu!"

Mendengarnya Elisya berhenti juga dan berbalik. Laki-laki itu menarik napas panjang sebelum akhirnya mendekat.

"Saya naik motor sendiri." Ucapnya.

"Terus?"

"eh..... sa... sa-saya motor." ucap laki laki itu gelagapan.

"Hah? apa?" tanya Elisya.

"Huh....." laki-laki itu menghembuskan napasnya, lalu berdiri lebih tegak.

"Maksud saya, kita pulang sama aja. Saya antar." ucapnya akhirnya walaupun dengan sedikit wajah memerah.

Elisya tak langsung merespon. Dia berpikir sejenak akan jawabannya.

"Ini bukan modus kok. Ini beda dari orang tadi." laki-laki itu seperti orang yang sedang klarifikasi sehingga mengatakan itu dengan sangat cepat.

"Anggap aja ini KASIH seperti khotbah tadi." lanjutnya tersenyum.

Mendengar dan melihat wajah laki-laki itu, Elisya tersenyum. Laki-laki di depannya itu terlihat seperti orang yang salah tingkah. Tapi Elisya tak merasa ilfeel padanya.

"Loh kenapa ketawa sih?" tanya laki-laki itu bingung.

"Maaf, maaf. Kamu parkir dimana?" tanya Elisya.

Laki-laki itu menunjuk ke sebelah parkir di sebelah kiri gedung gereja.

"Ayok....." ajak Elisya lebih dulu berjalan.

"Hah? Boleh ini?" tanya laki-laki itu masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum tipis tak percaya.

"Dimana?" teriak Elisya.

"Oh....."

Laki-laki itu berlari kecil menghampiri Elisya.

"Kamu tinggal dimana"

"Di jalan Kelapa, gang Melsi" jawab Elisya.

Laki- laki itu mengangguk mengerti. Dia tau dimana alamat itu. Dia pernah ke arah sana.

Di sepanjang perjalanan keduanya saling ngobrol bahkan mereka sama sekali tak merasa canggung. Mereka seperti orang yang sudah saling mengenal. Entah apa yang membuat mereka langsung merasa seperti itu.

"Terimakasih ya....." ucap Elisya saat motor itu berhenti tepat di depan kontrakannya.

"Sama-sama....." balas laki-laki itu masih dengan senyum yang sama. Laki-laki itu masih di atas motornya, dia memakai helmnya kembali.

"Kalau begitu, saya duluan ya." ucapnya sedikit menggeser motornya.

"iya......" balas Elisya sambil melambaikan tangannya.

Saat motor itu mau melaju, senyum Elisya langsung mengendur dan memanggilnya kembali.

"Eh tunggu...... " tangan Elisya seperti hendak menahannya.

Laki-laki itu langsung dengan cepat menghentikan motornya.

"Iya, ada apa?"

Elisya mendekat ke arahnya. "Saya belum tau nama kamu. Masa saya sudah diantar pulang tapi tidak tau siapa yang mengantar saya."

Laki-laki itu membuka helmnya dan mengulurkan tangannya.

"Ryan." ucapnya.

"Elisya...." jawab Elisya menerima salam itu.

"Boleh nomor nya?" tanya laki-laki itu.

"Hah? Nomor?"

Wajah laki-laki itu langsung memerah seperti tadi.

"Gilak...... Ngomong apa sih aku?" tanyanya dalam hati.

Tapi kalimat itu sudah terdengar, tak mungkin juga ia mengelak. Kalau pun iya, perempuan biasanya akan ilfeel dengan tingkah itu. Dan jalan satu satunya mengakui apa sebenarnya yang ia mau.

"Iya.... nomor whatsapp kamu." jawabnya pelan. "Maksudnya biar aku bisa kasih tau kamu dimana kursi yang kosong kalau gereja pagi...."

Penjelasan itu membuat Elisya langsung tertawa. Bukan tawa yang jaim, bukan tawa yang ditahan-tahan tapi tawa yang benar-benar menunjukkan dirinya sendiri.

"Loh..... kenapa ketawa sih?" ucap laki-laki itu ikut juga tertawa kecil.

"Ups......" Elisya menutup mulutnya sebentar. "Okey..... Sini HP kamu." minta Elisya.

"Okey......" laki-laki itu mengambil HP nya dan menyerahkan pada Elisya.

Tanpa ragu Elisya menuliskan nomornya di HP milik laki-laki itu. Tanpa ada gerakan yang menandakan malu-malu atau ada niat untuk iseng tapi Elisya benar-benar memberikan nomor Whatsapp nya yang sebenarnya.

"Sudah ya..... kabari saja kalau ada kursi kosong itu." ucap Elisya sambil mengembalikan HP nya.

"Aman..... aman....." balas laki-laki itu menunduk tersenyum.

"Bye....." ucap Elisya berbalik badan dan langsung masuk ke dalam kontrakannya.

"Lucu......." gumam Ryan sebelum melaju.

Sementara Elisya masih tetap tersenyum sendiri sampai di pintu kontrakannya.

"Cie, cie....."

Elisya langsung balik badan dan melihat Elora sudah berdiri di depannya. Senyum Elisya langsung menghilang berubah jadi wajah datar.

Tanpa bicara apapun, dia berjalan melewati Elora begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!