GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. Perhatian yang Tidak Diinginkan
Terik matahari tepat di atas ubun-ubun ketika seluruh rangkaian ujian fisik dan taktik kelompok untuk angkatan Tamtama baru resmi dinyatakan berakhir. Di pelataran tengah barak pelatihan Barat, ratusan pemuda tampak terkulai lemas dengan tubuh yang dibasahi keringat bercampur debu tanah liat yang mengering. Namun, di tengah keletihan massal tersebut, gelombang bisik-bisik kekaguman masih terus mengalir tertuju pada barak hunian nomor empat. Kemenangan sempurna mereka dalam mengeksekusi strategi jepitan lambung telah menempatkan nama kelompok desa itu di puncak daftar penilaian mingguan para perwira menengah.
Mada duduk bersila di tepi lapangan luar, bersandar pada sebatang tiang pancang kayu jati yang kasar. Tangan kanannya tampak sibuk menggosok pergelangan kaki kirinya yang sengaja dibalur lumpur tipis, memasang wajah seorang pemuda desa yang sedang meratapi rasa pegal yang luar biasa di sekujur ototnya (Sandiwara di lapangan terbuka telah selesai dengan hasil yang sangat presisi. Kudamerta telah terpancing sepenuhnya, dan burung merpati pos Singo Barong juga telah membawa namaku ke meja Mahapati. Kini, aku hanya perlu menunggu umpan mana yang akan menyambar terlebih dahulu).
Sesuai dengan perkiraan taktis Mada, langkah kaki yang dinantikannya akhirnya terdengar mendekat. Bintara pengawal pribadi yang malam sebelumnya menjemput Mada kini kembali berdiri di depannya. Pria bertubuh tegap itu tidak lagi membawa wajah dingin, melainkan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa segan yang tersembunyi.
"Prajurit nomor registrasi nol empat puluh tujuh, Mada dari Hutan Tarik," ucap bintara tersebut, suaranya terdengar datar namun tegas di antara kebisingan lapangan. "Senopati Kudamerta memanggilmu kembali untuk menghadap secara pribadi di ruang utama panggung kehormatan timur sekarang juga. Segera bangkit dan ikut aku."
Mada mendongakkan kepalanya dengan gerakan yang dibuat sangat terkejut, membiarkan poni rambutnya yang berantakan menutupi kilatan tajam di sepasang matanya. Ia bangkit berdiri dengan tumpuan kaki yang sengaja dibuat agak goyah, memegangi pinggangnya sambil meringis pelan.
"Siap, Tuan Bintara," jawab Mada dengan nada suara yang dibuat agak cemas dan gemetar. "Apakah ujian taktik kemarin masih memiliki kekurangan sehingga saya harus dipanggil kembali? Saya bersumpah seluruh bimbingan jepitan itu murni karena kami meniru gerakan serigala hutan."
"Jangan banyak bertanya, Prajurit. Senopati tidak suka menunggu," potong bintara pengawal tersebut sembari membalikkan tubuhnya, melangkah cepat membelah kerumunan peserta seleksi.
Mada berjalan mengekor di belakangnya, membiarkan pundaknya merosot ke bawah demi menjaga konsistensi postur tubuh jangkungnya yang kelugu-luguan. Di sepanjang jalan melintasi pelataran tengah, pandangan mata dari beberapa perwira menengah dan instruktur senior tampak terus mengunci pergerakan Mada. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai seonggok daging jangkung yang kosong, melainkan sebagai sebuah teka-teki taktis yang sangat menarik perhatian.
Ketika mereka tiba di ruang utama panggung kehormatan timur, suasana terasa jauh lebih menekan dibandingkan menara pengawas tengah malam sebelumnya. Ruangan luas berlantai batu pualam itu dinaungi oleh atap sutra kuning yang megah. Di tengah ruangan, sebuah meja jati bundar yang bersih tanpa adanya gulungan perkamen ataupun peta wilayah telah disiapkan.
Senopati Kudamerta duduk seorang diri di atas kursi kebesarannya yang berukir kepala naga. Jenderal sepuh itu tidak lagi mengenakan pakaian jarik hitam sederhana, melainkan zirah perang kebesarannya lengkap dengan lempengan besi baja hitam berlapis emas di bagian dada, memancarkan kewibawaan militer yang sangat agung dan menakutkan bagi manusia biasa.
"Hamba, Mada dari Hutan Tarik, menghadap Senopati yang agung," ucap Mada sambil menjatuhkan tubuhnya berlutut, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan kening dengan sikap kepatuhan mutlak seorang abdi rendahan.
Senopati Kudamerta menatap sosok Mada selama beberapa waktu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sepasang mata elangnya yang tajam tampak berkilat, mencoba mendeteksi sekecil apa pun perubahan aura atau sirkulasi energi batin di dalam tubuh pemuda jangkung di depannya. Namun, Mada tetap mengunci rapat seluruh pori-pori spiritual emas Batara Niti Mandala di titik nol, membiarkan tubuh alaminya menerima tekanan batin tersebut murni dengan kekuatan urat daging alaminya yang padat.
"Duduklah di kursi depan saya, Mada," perintah Senopati Kudamerta, suaranya terdengar sangat berat namun memiliki kedalaman resonansi yang menggetarkan udara ruangan.
Mada perlahan bangkit berdiri, memasang wajah yang sangat canggung dan ragu-ragu sebelum akhirnya menduduki tepi kursi kayu jati di depan meja bundar. Ia meremas sepasang tangannya yang penuh dengan kapalan latihan, memandang ke arah permukaan meja dengan pandangan mata yang kosong dan ketakutan yang dibuat-buat.
Kudamerta mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, meletakkan sepasang lengannya yang kokoh di atas permukaan meja bundar. "Dua jam yang lalu, bintara kepercayaan saya kembali dari ruang catatan sipil pusat Trowulan. Dia membawa laporan bahwa seluruh dokumen pendaftaranmu memang sah secara hukum kerajaan. Namun, insting tua saya yang telah melewati puluhan palagan berdarah tetap tidak bisa dibohongi oleh selembar perkamen kulit domba, Mada."
Jenderal sepuh itu menyipitkan matanya, mengunci fokus langsung pada pupil mata Mada. "Siasat jepitan lambung yang kamu sebut sebagai cara menangkap udang sungai atau gerakan serigala hutan kemarin, itu adalah struktur formasi militer elit yang membutuhkan perhitungan matematis yang sangat matang. Seorang anak petani yang menghabiskan seluruh hidupnya memelihara kambing tidak akan mungkin memiliki ketajaman insting untuk membagi pasukan menjadi dua taring jepitan di saat kritis pertarungan tengah sedang hancur berantakan."
Mada menarik napas dalam-dalam, membuat bahunya bergidik pelan seolah sedang menahan ketakutan yang sangat besar di depan sang jenderal.
"Ampun, Senopati," jawab Mada dengan nada suara yang dibuat serak dan bergetar rendah. "Hamba benar-benar tidak berani membohongi Anda. Di dalam Hutan Tarik, jika kami tidak menghitung dengan cermat berapa jumlah langkah babi hutan yang sedang mengamuk, nyawa kami akan melayang dalam sekali serundukan. Ayah saya selalu mencambuk punggung hamba jika hamba salah menakar arah angin saat memasang perangkap rusa, karena menurut beliau angin yang salah akan membawa aroma tubuh manusia dan membuat hewan buruan melarikan diri sebelum jepitan bambu sempat menutup. Hamba hanya menerapkan kebiasaan bertahan hidup di hutan itu ke atas lapangan tanah liat kemarin fajar."
Senopati Kudamerta terdiam mendengar pembelaan Mada yang terdengar sangat konsisten, polos, namun dipenuhi oleh logika alam yang sangat padat. Jenderal tua itu perlahan menarik kembali tubuhnya, bersandar pada sandaran kursinya yang tinggi sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya yang penuh kapalan.
(Luar biasa. Di bawah tekanan zirah kebesaranku yang mampu membuat mental seorang perwira menengah runtuh ketakutan, anak ini tetap tidak menunjukkan riak hawa murni sedikit pun. Kepadatan struktur otot alaminya memang sangat luar biasa tebal untuk ukuran pemuda desa, namun sirkulasi batin spiritualnya tetap kosong melompong seperti manusia biasa yang tidak pernah menyentuh pelajaran Kanuragan Raga sama sekali. Apakah benar dia hanya sebuah keajaiban alam yang lahir dari kerasnya didikan Hutan Tarik?)
Kudamerta mengembuskan napas panjang, membiarkan ketegangan di wajah tuanya sedikit mengendur. Ia mengambil sebuah cangkir tembaga berisi air putih di sampingnya, meminumnya sedikit sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Mada.
"Mada, sore ini saya memanggilmu bukan untuk menghukummu atas kejeniusan udang sungaimu itu," ucap Kudamerta dengan nada suara yang kini berubah menjadi lebih hangat, menyerupai seorang mentor yang sedang berbicara dengan murid pilihan. "Saya telah memutuskan untuk menguji wawasan perangmu secara langsung menggunakan sebuah skema sederhana. Anggap ini sebagai diskusi ringan di antara seorang jenderal sepuh dan seorang calon prajurit baru."
Kudamerta mencelupkan jemari tangan kanannya ke dalam cangkir air, lalu menggoreskan setitik air di atas permukaan meja jati yang bersih, membentuk sebuah lingkaran besar yang dikelilingi oleh tiga garis lurus panjang di bagian atasnya.
"Perhatikan coretan air ini, Mada," kata Kudamerta sambil menunjuk lingkaran di tengah. "Anggap lingkaran di tengah ini adalah sebuah kota kadipaten kecil yang dikelilingi oleh dinding batu setinggi satu penggalah. Kota ini dijaga oleh dua ribu pasukan pemanah yang memiliki persediaan logistik makanan yang cukup untuk bertahan selama enam bulan penuh di dalam benteng. Sementara itu, kamu adalah seorang panglima yang hanya membawa satu ribu pasukan tombak berjalan dari arah lembah bawah bawah. Tidak ada bukit untuk bersembunyi, dan tidak ada jalur sungai untuk memutuskan pasokan air mereka. Bagaimana caramu memenangkan peperangan ini dalam waktu kurang dari satu bulan tanpa harus membuang nyawa pasukanmu di bawah hujan panah dinding benteng?"
Mendengar pertanyaan skema strategi perang tersebut, batin Mada langsung bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Melalui mata sakral Niti Sastra level dua yang diaktifkannya setipis rambut di balik pelupuk mata, ia langsung melihat struktur geografi imajiner yang dijabarkan oleh Kudamerta. Pertanyaan ini sebenarnya adalah modifikasi dari kasus pengepungan benteng timur yang pernah diselesaikan oleh mendiang Patih Nambi di masa awal berdirinya kerajaan Majapahit.
(Kudamerta sedang memasang perangkap taktis yang sangat berbahaya. Jika aku memberikan jawaban militer yang terlalu matang dan terstruktur menggunakan istilah-istilah kitab strategi kuno, penyamaranku akan hancur detik ini juga karena anak petani tidak mungkin mengenal teori pengepungan benteng. Namun, jika aku memberikan jawaban yang terlalu bodoh seperti menerjang lurus, Kudamerta akan kehilangan ketertarikannya padaku dan posisiku sebagai benih ksatria pilihannya akan hilang, membuatku lebih mudah dijangkau oleh pembunuh Singo Barong di dalam barak.)
Mada pura-pura mengerutkan dahinya dengan sangat dalam, menatap coretan air di atas meja dengan wajah yang tampak sangat bingung, bodoh, dan canggung. Ia menggaruk rambut belakangnya berkali-kali, memberikan kesan bahwa otaknya sedang dipaksa bekerja keras untuk memikirkan sesuatu yang berada di luar kapasitas kemampuannya sebagai anak desa.
Setelah membiarkan keheningan berjalan selama tiga puluh hitungan napas penuh, Mada perlahan mengulurkan jari telunjuk kanannya yang kasar dan kotor oleh sisa lumpur lapangan. Ia tidak menyentuh lingkaran benteng tersebut, melainkan membuat satu lingkaran air baru yang berjarak cukup jauh di bagian luar tiga garis lurus milik Kudamerta.
"Ampun, Senopati yang agung," ucap Mada dengan suara yang dibuat sangat lugu dan polos. "Jika hamba adalah panglima tersebut, hamba tidak akan pernah mau berjalan mendekati dinding batu itu untuk ditembak oleh dua ribu pemanah yang sedang kelaparan di atas sana. Itu sama saja dengan menyuruh kambing hutan menyerahkan diri ke dalam sarang macan."
Kudamerta mengangkat alis kirinya, tampak tertarik. "Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan satu ribu pasukan tombakmu, Mada?"
Mada menggosokkan jarinya di atas lingkaran luar yang baru dibuatnya, menghapus sebagian coretan air tersebut hingga menyisakan jalur memanjang yang mengarah ke luar lapangan meja.
"Di dalam hutan, jika ada sekelompok lebah madu yang bersarang di atas pohon yang tinggi dan kami tidak bisa memanjatnya karena batangnya penuh duri, kami tidak akan pernah memukul sarangnya dari bawah," kata Mada sambil mendongak, menatap Kudamerta dengan senyum polosnya yang khas. "Kami hanya perlu membakar semak kering di sekitar akar pohon tersebut agar asapnya membubung naik ke atas. Asap itu tidak akan membunuh lebahnya secara langsung, namun akan membuat udara di dalam sarang menjadi sangat pengap dan panas. Dalam hitungan beberapa hari, lebah-lebah itu pasti akan keluar terbang meninggalkan sarangnya yang nyaman untuk mencari udara bersih di luar hutan. Pada saat mereka terbang keluar dalam kondisi lelah dan terpecah-pecah itulah, kami tinggal memukul mereka satu per satu di atas semak bawah."
Mada menunjuk kembali ke arah tiga garis lurus di luar benteng meja. "Pasukan pemanah di dalam benteng itu memang memiliki banyak makanan, Tuan Senopati. Namun dua ribu orang di dalam ruangan yang sempit pasti membutuhkan kiriman kayu bakar untuk memasak nasi dan pasokan kain bersih dari desa-desa luar untuk membalut luka mereka. Hamba tidak akan menyerang bentengnya. Hamba akan memerintahkan satu ribu pasukan tombak hamba untuk menyebar di seluruh jalur jalan setapak yang menuju ke arah benteng tersebut, melarang siapa pun untuk mengirimkan kayu bakar atau garam ke dalam kota selama dua minggu penuh. Begitu mereka kehabisan kayu untuk memasak dan perut mereka mulai melilit karena memakan beras mentah, mereka pasti akan terpaksa membuka pintu gerbang benteng dan berlari keluar secara berantakan untuk mencari makanan di ladang bawah. Pada detik itulah, pasukan hamba yang sudah bersembunyi di balik pohon ladang tinggal menjatuhkan mereka dengan mudah menggunakan pikulan bambu."
Mendengar penjelasan taktis yang dibungkus dengan analogi asap lebah hutan dan penutupan jalur kayu bakar tersebut, Senopati Kudamerta mendadak terdiam seribu bahasa. Tubuh tegapnya membeku di atas kursi naga, dengan sepasang mata elang yang menatap lurus ke arah goresan jari Mada di atas permukaan meja jati bundar.
Jawaban Mada sangat sederhana, kasar, dan menggunakan istilah-istilah desa yang sangat kelugu-luguan, namun esensi dari strategi tersebut adalah teknik pengepungan logistik total atau yang biasa disebut dalam kitab militer kuno dengan istilah Siasat Membakar Akar Pohon. Sebuah strategi yang mengutamakan kemenangan tanpa harus menumpahkan darah pasukan sendiri di garis depan pertempuran dinding benteng.
"Siapa yang mengajarimu cara berpikir seperti itu, Mada?" tanya Senopati Kudamerta, suaranya merendah dalam ketukan yang sangat pelan namun dipenuhi oleh getaran emosi kecurigaan dan kekaguman yang luar biasa besar bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.
Mada segera menurunkan tangannya kembali, menjatuhkan tubuhnya membungkuk sedalam-dalamnya hingga keningnya kembali menyentuh tepi meja bundar.
"Ampun, Senopati! Hamba bersumpah tidak ada yang mengajari hamba!" seru Mada dengan suara yang dibuat sangat ketakutan setengah mati. "Hamba hanya teringat bagaimana cara mendiang ayah hamba mengusir lebah madu dari pohon jati pedalaman Tarik! Mohon jangan hukum hamba karena hamba menghapus coretan air milik Anda di atas meja ini!"
Senopati Kudamerta menatap sosok Mada yang sedang gemetar palsu di depannya selama beberapa waktu penuh. Jenderal sepuh itu akhirnya menarik napas dalam-dalam, membiarkan seulas senyuman tipis yang sangat misterius tersungging di sudut bibirnya yang berjanggut putih. Ia menyadari bahwa pemuda bernama Mada ini memiliki kualitas kejeniusan alamiah yang terlalu mengerikan untuk sekadar dibiarkan tumbuh menjadi prajurit Tamtama biasa pembawa barang logistik di garis belakang kerajaan Majapahit.
"Berdirilah kembali, Prajurit Nomor 047," ucap Kudamerta sambil bangkit berdiri dari kursi jatinya, membiarkan jubah perang merah besarnya jatuh menjuntai menyentuh lantai pualam. "Diskusi sore ini telah selesai. Jawaban udang sungai dan asap lebahmu telah dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup menghibur batin tua saya."
Kudamerta melangkah mendekati jendela panggung kehormatan, menatap ke arah hamparan kompleks barak militer Barat yang mulai diselimuti oleh kegelapan malam malam pertama akhir pekan. "Kembalilah ke barak hunian nomor empat sekarang juga, Mada. Jaga dirimu baik-baik di sudut gelap itu, karena fajar senin esok, saya sendiri yang akan memindahkan nomor registrasimu dari jalur prajurit biasa ini menuju ke dalam kompleks asrama pelatihan para ksatria pilihan kerajaan yang jauh lebih berbahaya di pusat Trowulan."
Mada menjura hormat sedalam-dalamnya dengan sikap yang sangat patuh dan canggunga, lalu melangkah mundur perlahan meninggalkan ruangan utama panggung kehormatan dengan langkah yang sengaja dibuat terburu-buru seolah-olah ia merasa sangat lega karena bisa lolos dari kemarahan sang jenderal jenderal sepuh.
Namun, begitu pintu kayu jati berukir cakra itu tertutup rapat di belakang punggungnya dan ia berjalan menyusuri koridor setapak yang mulai gelap bersama bintara pengawal, seluruh wajah keluguan, ketakutan, dan kebingungan Mada mendadak lenyap tanpa bekas dalam sekejap mata. Sepasang matanya kembali memancarkan pendaran batin emas yang sangat dingin, tajam, dan penuh dengan kepastian taktis di bawah naungan langit malam Majapahit yang kian hari kian dipenuhi oleh bayangan intrik kekuasaan terbesar di tanah Nusantara.
(Ujian Kudamerta telah resmi berakhir dengan keputusan pemindahanku menuju jalur Akademi Ksatria pilihan pusat. Jalur bawah tanahku kini telah memiliki pelindung politik yang kuat di dalam militer, dan persinggungan langsung pertamaku dengan lingkaran kekuasaan Mahapati kini hanya tinggal menunggu fajar pertama senin esok di pusat kota Trowulan.)
Mada melangkah dengan ritme kaki yang sangat konstan dan teratur kembali menuju barak hunian nomor empat, menutup babak awal perjalanannya dari seorang anak yatim Hutan Tarik untuk bersiap mengguncang seluruh papan catur takdir di jantung kerajaan Majapahit.