Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Dari Teman
Siang ini sangat terik. Jevi baru saja selesai kelas, ia masih duduk di bangkunya, tidak lama Tevi yang juga mengambil jurusan sama sepertinya mendekat, mengamati Jevi yang masih diam meski dosen dan anak-anak lain sudah keluar dari tadi.
Tevi duduk di sebelah Jevi. Melirik Jevi yang belum sadar dengan keberadaannya. "Lo, ada masalah, Je?"
Pertanyaan Tevi baru saja berhasil menyadarkan lamunan Jeviza. Gadis itu menoleh dan menggeleng pelan, tetapi gelengan di kepalanya seakan bukan jawaban. Mulutnya berkhianat karena sudah berucap secara tiba-tiba.
"Lo, pernah pacaran, Tev?"
Pertanyaan langka dan aneh itu seketika membuat Tevi membenarkan kaca matanya. Menatap Jevi dengan selidik. "Lo, lagi suka seseorang, Je? Siapa? Anak mana?"
Jevi memutar bola matanya, sepertinya Tevi tidak pernah pacaran, atau mungkin malah belum pernah menyukai seseorang, selain dilihat dari penampilan Tevi yang memang lebih terlihat sederhana dari pada kedua temannya yang lain. Tevi juga terbilang sangat cuek mengenai lawan jenis. Hampir belum pernah Jeviza mendengar Tevi memuji kakak tingkat atau pun teman kelas mereka.
"Gue pernah suka seseorang," aku Tevi berhasil membuat Jeviza menarik ucapannya tadi.
"Tapi, gue nggak berani confess, dan sekarang gue agak nyesel sih."
Jeviza menatap Tevi dengan serius, berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Tevi, barang kali gadis yang lebih banyak diamnya itu akan bercerita dengannya, tanpa merasa dipaksa.
"Dia, udah lanjut kuliah di luar," wajah Tevi tampak murung membuat Jevi menepuk bahu Tevi pelan, untuk menyalurkan ketenangan pada gadis itu.
"I'ts okay, Vi, nggak masalah, mungkin saja kalian akan dipertemukan dengan versi terbaik kalian nanti."
Tevi menatap Jevi dengan anggukan di kepalanya. Lalu tersenyum tipis, senyum yang terkesan dipaksakan untuk terlihat baik-baik aja.
"Tapi, kemarin, gue liat story dia, Je. Udah ketemu cewek bule, gue yakin banget mereka lagi PDKT."
Jevi langsung menghela napas berat, percintaan Tevi ternyata cukup rumit juga. Sebagai orang baru di kehidupan Tevi, sudah pasti banyak yang belum Jeviza tahu tentang gadis itu.
"Je, lo kalau suka sama orang jangan ragu buat confess ya, sebelum lo nyesel kaya gue."
Jeviza mengangguk saja. Tidak mungkin dia mengatakan alasan dibalik melamunnya dia.
Bukan tentang Jeviza menyukai seseorang, tetapi tentang masa lalunya yang kembali hadir, lalu keduanya terus dipertemukan seakan takdir tahu, jika urusan mereka dua tahun lalu belum sepenuhnya selesai. Ada banyak yang mungkin harus mereka jelaskan satu sama lain.
Jeviza menyampirkan tote-bag miliknya, lalu mengajak Tevi untuk ke kantin sebelum mereka memutuskan untuk pulang.
"Kantin dulu yuk, Vi. Laper," ajak Jeviza diangguki setuju oleh Tevi.
"Bentar, Je. Gue telpon Nau dulu, barang kali mereka masih di kantin," ujar Tevi merogoh ponselnya dari dalam tas.
Jevi mengangguk saja. Ia berjalan beriringan bersama dengan Tevi untuk menuju ke kantin. Naura dan Sisil memang berangkat pagi. Tetapi terakhir kali mengirim pesan jika keduanya masih berada di sekitar fakultasnya. Jarak fakultas Jeviza dan mereka cukup jauh, dan itu salah satu asalan yang membuat mereka selalu bertemu di kantin kampus.
"Gimana? Masih pada di kantin?" tanya Jeviza melihat keraguan pada wajah Tevi.
"Malah mlipir kafe depan mereka, kita disuruh ke sana aja, Je. Lo mau nggak?"
Melihat Jeviza yang tampak keberatan membuat Tevi berusaha meyakinkan. "Sebenarnya jarak kafe depan deket kok, tapi kalau kamu nggak mau, ya udah, kita ke kantin aja, nanti biar gue chat Naura."
"Oke deh, ayo ke sana," balas Jevi membuat Tevi tersenyum tipis.
Keduanya berjalan kaki untuk menuju ke kafe. Seperti yang Tevi katakan tadi, tidak terlalu jauh memang, tetapi di dalam kafe sudah banyak anak kampus yang lain ternyata. Kafe dengan desain modern itu menjadi tempat tongkrongan anak-anak kampus.
"Rame banget ya?" lirih Jeviza membuat Tevi menoleh.
"Ini belum seberapa Je, malam minggu kemarin, anak-anak pada ngumpul di sini, persis seperti bescam."
"Kalian, sering ke sini?"
Tanpa ragu Tevi mengangguk. Di kos terus bosen. Lain kali gue ijin sama kakak lo deh Je, kalau lo mau ikut, lumayan biar nggak suntuk banget."
Jeviza mengangguk antusias, jika diperbolehkan Puspa, Jevi akan senang sekali, itu bisa mengurangi pertemuannya dengan Keandra di rumah itu.
"Apa lagi kalau ada kak Keandra dan temen-temennya, betah banget Sisil sama Naura, pernah mereka pulang sampai jam sebelas cuma buat nungguin kak Kean pulang."
Tubuh Jevi langsung menegang mendengar nama Kean disebutkan. Ia menatap Tevi yang masih berjalan seraya mencari keberadaan Sisil dan Naura di lantai dua outdor kafe.
"Kak Kean, juga sering ke sini?" tanya Jevi ingin memastikan.
Tevi mengangguk dengan mantab, lalu membisikan kata-kata yang membuat Jeviza rasanya ingin memutar balik tubuhnya dan pergi dari situ detik itu juga.
"Iya, yang punya kafe ini kan katanya kak Gio. Tuh lihat, ada kak Kean sama yang lain juga di atas," bisik Tevi membuat tubuh Jeviza menegang seketika.
Jeviza mengikuti Tevi dari belakang menaiki tangga, lalu terdengar obrolan teman-teman Keandra di salah satu meja. Dada Jeviza mulai bergemuruh saat mendengar tawa Kean yang mengudara.
Kok, bisa? Bukannya tadi masih di kamar ya?
Batin Jeviza tidak habis pikir dengan adanya Kean di sana. Seakan Keandra muncul dimana-dimana, dimana kaki Jevi berpijak, di situ ada keberadaan Kean.
"Pantes milih di sini, alasan view-nya bagus, padahal ma caper kan kalian?" ledek Tevi yang ikut bergabung bersama Sisil dan Naura.
"Diem deh Vi, nggak usah brisik kalau udah tau mah," balas Naura.
"Je, ngapain berdiri di situ? Lo lagi bisulan?" suara cempreng Sisil seketika membuat telam-teman Kean yang tadi sedang asik mengobrol langsung menoleh, begitu juga dengan Kean yang melirik pada meja Jeviza.
Kening Kean mengernyit melihat adanya Jeviza yang berdiri kaku di sebelah teman-temannya, sudut bibir Kean sedikit tertarik ke atas melihat bagaimana tegangnya Jeviza saat ini.
"Jeviza, hai!" sapa Janu melambaikan tangannya.
Mau tidak mau Jeviza menoleh, ia menatap Janu dengan senyum. "Hai, kak Janu," balasnya sedikit kaku. Lalu tanpa diminta tatapan mata Jeviza beralih pada Keandra, keduanya sama-sama saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya Jeviza mengalihkan tatapannya dan duduk di sebelah Sisil.
"Lah, buset, kak Janu ke sini woy, bawa minuman sepesial di sini lagi, nyamperin lo pasti je," bisik Naura melihat Januar yang melangkah mendekati meja mereka. Sebelum akhirnya cowok itu berhenti tepat di meja mereka. Persis seperti dugaan Naura tadi.
"Jeviza, suka matcha nggak?"
Sorakan dari meja Januar tadi menggema, begitu juga dengan Sisil dan Naura yang sedikit heboh di mejanya.
"Jawab, je," bisik Sisil gemas sendiri dengan reaksi Jeviza yang terliha kebingungan. Persis seperti gadis bodoh yang sialnya di mata Janu malah menggemaskan.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!