Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bu Ratih Datang
Tok.
Tok.
Tok.
Mereka menoleh bersamaan.
"Siapa yang datang?"
"Entahlah, biar aku yang lihat." Darwin membuka pintu.
Bu Ratih berdiri di depan rumah sambil membawa dua kantong plastik. Napasnya sedikit terengah, mungkin karena berjalan cukup jauh.
"Syukurlah, sudah sampai."
"Iya, Bu. Silahkan masuk." Kinan menyambut wanita tua itu.
Bu Ratih menggeleng. "Aku tidak akan lama. Ibu-ibu di balai desa masih beres-beres." Ia menyerahkan kantong pertama kepada Kinan.
"Ini ada beberapa baju."
Kinan menerimanya dengan bingung.
"Baju anak saya." Bu Ratih tersenyum kecil. "Dia sekarang kerja di Bandung. Badannya kurang lebih sama denganmu. Sebagian mungkin agak longgar."
Kinan membuka sedikit isi kantong itu. Beberapa potong pakaian yang sudah dicuci rapi. Kaos, celana panjang dan daster.
Tangannya berhenti di atas lipatan kain. "Terima kasih, Bu."
"Itu cuma buat sementara. Kalau nanti sudah sempat ke pasar, beli yang baru." Kinan mengangguk pelan.
Bu Ratih lalu menyerahkan kantong satunya kepada Darwin. "Kalau yang ini punya suami saya dulu."
Darwin membukanya. Dua kaos polos, satu celana panjang dan handuk yang masih wangi sabun. "Masih bagus, Bu."
"Namanya juga disimpan di lemari."
Darwin tersenyum. "Terima kasih."
Bu Ratih melambaikan tangan kecil. "Jangan terima kasih terus." Ia kemudian mengangkat sebuah rantang bertingkat yang sedari tadi dibawanya di tangan kiri. "Ini yang lebih penting."
Darwin langsung menerima rantang itu. "Apa isinya?"
"Nasi." Bu Ratih tersenyum bangga. "Lauk juga ada. Jangan malam pertama di rumah baru malah kelaparan."
Darwin tertawa pelan. " Bu Ratih tahu apa yang sedang kami khawatirkan. "
"Makanya Ibu antarkan." Bu Ratih melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. Tatapannya bergantian kepada Darwin dan Kinan. "Mulai besok, anggap rumah ini rumah kalian sendiri."
Ia tersenyum hangat. "Tapi mulai besok juga, kalian harus mulai memikirkan hidup."
Darwin mengangguk mantap. "Iya, Bu."
Bu Ratih tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan halaman.
Darwin berdiri di ambang pintu sampai sosok perempuan itu menghilang di tikungan jalan. Baru setelah itu ia menutup pintu. Rumah kembali sunyi.
Ia meletakkan rantang di atas meja tua. Ketika tutupnya dibuka, aroma nasi hangat, sayur bening, tempe goreng, dan ayam kecap memenuhi ruangan yang sejak tadi terasa kosong.
Darwin mengambil dua piring yang tadi ditemukan di lemari dapur. Piringnya sudah tua, tetapi masih bersih. Ia menyendokkan nasi ke piring Kinan lebih dulu. "Kita mulai dari makan."
Kinan menerima piring itu tanpa protes. Mereka duduk berhadapan di meja kayu yang mulai kusam. Tidak ada lilin ataupun bunga. Tidak ada makan malam romantis seperti pasangan pengantin baru.
Darwin menghabiskan suapan terakhirnya lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Enak."
Kinan mengangguk pelan. "Iya."
Tidak ada lagi yang dibicarakan. Mereka membereskan meja bersama. Darwin mencuci piring, sementara Kinan mengelap lalu menyusunnya kembali ke rak kayu yang catnya mulai mengelupas.
Rumah itu kembali sunyi. Darwin melirik ke arah ruang depan. Lalu ke arah kamar. Hanya ada satu pintu. Ia berjalan ke sana dan mendorongnya perlahan.
Kamar itu sederhana. Sebuah ranjang kayu ukuran sedang. Kasur tipis. Dua bantal. Satu lemari tua di sudut ruangan. Tidak ada lagi perabotan lain.
Darwin berdiri cukup lama. "..."
Kinan ikut melihat ke dalam. "..."
Mereka saling menoleh. Darwin menggaruk tengkuk. "Sepertinya..."
Kinan mengangguk pelan. "Cuma satu."
"Iya." Hening lagi.
Darwin menoleh ke ruang depan. "Mungkin di tempat lain ada tikar?"
Mereka mencari beberapa menit. Lemari. Gudang kecil. Bawah meja. Hasilnya nihil. Darwin kembali ke kamar sambil mengembuskan napas.
"Baiklah." Ia menunjuk ranjang. "Kau tidur di situ."
Kinan mengangkat pandangan. "Lalu kau?"
"Di lantai."
Tatapan Kinan bergeser ke lantai semen yang polos. "Itu bukan tidur." Ia kembali menatap Darwin. "Itu latihan jadi kerupuk."
Darwin terkekeh. "Aku pernah tidur di tempat yang lebih parah."
Kinan tidak membalas. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu menekan kasurnya dengan telapak tangan. Kasurnya ikut mengeluarkan bunyi berderit.
Kreek...
Darwin mengangkat alis. "Kasurnya protes."
"Bukan kasurnya."
"Lalu?"
"Ranjangnya."
Darwin ikut menekan sedikit.
Kreeeek...
Mereka sama-sama terdiam.
Darwin berdeham. "Kalau aku tidur di bawah, nanti suara ranjang ini tetap terdengar setiap kali kau bergerak."
Kinan menatapnya datar. "Maksudmu?"
"Maksudku... tetangga bisa salah paham."
Kinan memandang ranjang itu lagi. Lalu memandang dinding yang sangat tipis. "..."
Darwin menutup mulut, berusaha menahan senyum. "Aku baru sadar."
"Apa lagi?"
"Kalau ranjang ini bunyi tengah malam..."
Kinan langsung menyela. "Diam."
Darwin malah terkekeh. "Aku belum selesai."
"Sudah cukup."
"Aku cuma mau bilang, nanti Bu Ratih mungkin mengira kita benar-benar menjalankan tugas sebagai pengantin."
Wajah Kinan memanas. Ia mengambil bantal lalu melemparkannya.
Buk.
Bantal itu tepat mengenai dada Darwin. Darwin menangkapnya sambil tertawa. "Refleksmu bagus juga."
"Kau banyak bicara."
"Baik." Darwin meletakkan bantal itu kembali. Ia menarik napas. "Kalau begitu..." Ia menunjuk sisi kiri ranjang. "Kau di sana." Ia menunjuk sisi kanan. "Aku di sini."
Kinan menggeleng. "Harus ada jarak."
Darwin berpikir sejenak. "Pakai guling?"
Kinan langsung mengangguk. "Iya."
Darwin membuka lemari tua di sudut kamar. Sebuah guling terselip di rak paling bawah. "Nah, ketemu." Ia membaringkannya memanjang di tengah ranjang. "Perbatasan resmi."
Kinan menatap guling itu, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Lucu."
"Yang penting efektif."
"Menganggap dirimu berbahaya?"
Darwin menggeleng pelan. "Aku menganggap kita sama-sama canggung."
Hening sesaat. Kinan tidak menanggapi lagi. Ia hanya naik ke ranjang dari sisinya. Darwin mematikan lampu. Kamar seketika tenggelam dalam gelap.
Ranjang tua itu sesekali berderit setiap kali salah satu dari mereka berganti posisi.
Guling pembatas masih berada di tengah. Setidaknya... pada awalnya.
...
Darwin menggeliat dalam tidur. Di sisi lain, Kinan juga tanpa sadar bergeser mencari posisi yang lebih nyaman.
Guling itu perlahan terdorong. Lalu jatuh.
Bruk.
Tidak ada yang terbangun.
Beberapa saat kemudian...
Darwin mengernyit. Kenapa bantalnya hangat?
Tangannya refleks merangkul lebih erat.
Di saat yang sama, Kinan mengerutkan dahi. Bantal ini...Keras sekali. Ia malah memeluk balik tanpa membuka mata.
Beberapa detik berlalu.
Darwin perlahan membuka mata. Gelap. Namun wajah seseorang hanya berjarak beberapa senti.
"..."
Kinan ikut membuka mata. Tatapan mereka bertemu.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
"TUNGGU!"
"AAAA!"
Keduanya melonjak bersamaan. Ranjang tua itu berbunyi keras.
KREEEKK!