Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kesembuhan Nenek
Mahesa buru-buru menutup pintu kayu rumah petaknya yang reyot setelah melangkah masuk dari gang. Napasnya masih agak memburu, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena gejolak emosi dan rasa terkejut yang luar biasa setelah tanpa sengaja mementalkan tiga preman kampung tadi hanya dengan satu kibasan tangan. Di balik pintu yang terkunci rapat, ia menyandarkan punggung tegapnya sejenak, menatap telapak tangannya sendiri dengan takjub yang mendalam. Energi murni yang bersemayam di bawah pusarnya kini terasa berdenyut lembut, hangat dan menenangkan, sangat kontras dengan kedahsyatannya saat dilepaskan tadi.
"Gusti Allah... tenaga ini beneran nyata. Kalau tenaga sebesar ini bisa dipakai buat ngusir preman, harusnya... harusnya hawa murni ini juga bisa dipakai buat hal lain yang lebih berguna," gumam Mahesa lirih dengan dahi berkerut, memikirkan instruksi pengobatan yang sempat sekilas ia baca di halaman-halaman akhir Kitab Inti Jagat semalam.
Pikiran Mahesa langsung tertuju pada sesosok wanita tua yang tengah terbaring lemah di atas kasur busa tipis di sudut ruangan. Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini, tampak sedang terbatuk-batuk kecil dalam tidurnya. Wajah renta itu terlihat sangat pucat, dengan gurat-gurat keriput yang mempertegas penderitaannya melawan penyakit paru-paru kronis yang tak kunjung sembuh bertahun-tahun karena keterbatasan biaya berobat.
Mahesa melangkah mendekati kasur tanpa menimbulkan suara sedikit pun, berkat ilmu meringankan tubuhnya yang kian menyatu dengan insting raga. Ia melepas jaket kainnya, lalu duduk bersila di samping kepala sang nenek. Rasa haru dan kesedihan mendalam menyelimuti batinnya melihat dada kurus wanita tua itu naik turun dengan berat, menciptakan suara napas yang tersumbat dan ringkih.
"Nek... Mahesa pulang," bisik Mahesa dengan suara berat dan lembut, pelan-pelan menyentuh punggung tangan neneknya yang terasa dingin dan kasar.
Nenek perlahan membuka kelopak matanya yang mulai kabur oleh katarak. Ia tersenyum tipis, mencoba mendudukkan diri namun tubuhnya yang lemas menolak untuk berkompromi. "Eh, cucuku sudah pulang toh. Kamu... kamu kok kelihatan tegap banget sore ini, Sa? Nenek seperti melihat mendiang bapakmu waktu muda," puji Nenek dengan suara parau yang diselingi batuk berdahak yang cukup parah. Uhuk! Uhuk!
"Nggak apa-apa, Nek. Ini cuma karena Mahesa habis beres-beres tadi. Nenek jangan banyak gerak dulu, tiduran saja," ujar Mahesa pelan, menuntun kembali pundak rapuh neneknya agar berbaring dengan nyaman di atas bantal usang.
Melihat kondisi neneknya yang kian memprihatinkan, Mahesa memantapkan niatnya. Ia memejamkan mata sejenak, mengingat kembali memori visual dari tulisan kuno yang telah diterjemahkan secara ajaib oleh otaknya semalam, 'Hawa murni sejati laksana air kehidupan, mampu mengikis sumbatan, membasuh racun, dan menumbuhkan kembali sel-sel yang telah mati jika disalurkan lewat titik nadi utama.'
"Nek, maaf ya. Mahesa mau coba pijat punggung sama dada Nenek sebentar. Biar napas Nenek bisa agak longgar dan nggak sesak lagi," tutur Mahesa meminta izin dengan nada selembut mungkin, agar tidak memicu kecurigaan wanita tua itu.
Nenek hanya mengangguk lemah, pasrah pada sentuhan cucu tercintanya. "Iya, Le. Punggung Nenek rasanya memang dingin dan kaku sekali dari kemarin."
Mahesa menarik napas panjang melaui hidung, memfokuskan seluruh konsentrasinya pada titik batin di bawah pusar. Secara otomatis, pusaran hangat di dalam perutnya mulai bergerak memutar, mengirimkan aliran energi yang sangat jernih, lembut, dan murni menuju ke kedua telapak tangannya. Perlahan-lahan, sepasang telapak tangan kekar Mahesa mulai memancarkan hawa hangat yang menenangkan, seolah dialiri uap air hangat dari mata air pegunungan.
Ia menempelkan telapak tangan kanannya pada bagian dada atas sang nenek, tepat di atas tulang selangka, sementara tangan kirinya menopang bagian punggung belakang yang sejajar.
"Nek, kalau rasanya agak panas, Nenek bilang ya. Tarik napasnya pelan-pelan saja," bisik Mahesa memandu, mulai menyalurkan sepercik aliran hawa murninya secara bertahap dan teratur ke dalam tubuh renta itu.
Begitu energi murni dari Kitab Inti Jagat merembes masuk melewati pori-pori kulit Nenek, wanita tua itu mendadak tersentak kecil. Matanya yang terpejam tampak bergerak-gerak. "Lho, Sa... kok tanganmu rasanya hangat sekali? Rasanya... rasanya seperti ada air hangat yang mengalir masuk ke dalam dadanya Nenek," ucap Nenek dengan nada takjub yang bergetar, merasakan sensasi nyaman yang belum pernah ia rasakan seumur hidup dari pengobatan medis mana pun.
"Iya, Nek. Ini teknik pijat refleksi baru yang diajarkan teman di kantor. Nenek nikmati saja rasanya, jangan dilawan," bohong Mahesa demi menenangkan hati neneknya, sembari terus mengontrol aliran tenaganya agar tidak terlalu besar. Ia tahu betul tubuh tua neneknya terlalu rapuh jika langsung dihantam energi besar, sehingga proses penyembuhan ini harus dilakukan secara bertahap dan perlahan.
Di dalam rongga dada Nenek, aliran hawa murni Mahesa bekerja dengan luar biasa profesional layaknya jutaan pekerja medis mikroskopis. Energi hijau kekuningan tak kasatmata itu mulai mengikis lendir-lendir kental hitam yang menyumbat saluran bronkiolus, membasuh peradangan kronis yang selama ini membuat paru-parunya infeksi, serta meregenerasi jaringan kapiler darah yang telah rusak akibat usia dan penyakit.
Proses itu berlangsung selama kurang lebih lima belas menit dalam keheningan yang syahdu. Keringat dingin mulai bercucuran di kening tegap Mahesa karena harus menjaga kestabilan kontrol energi yang sangat tipis dan presisi. Tak lama kemudian, wajah Nenek yang semula pucat pasi perlahan-lahan mulai memancarkan rona merah muda yang sehat di kedua pipinya. Napasnya yang semula berbunyi mengorok dan berat, berangsur-angsur menjadi sangat halus, dalam, dan teratur.
Uhuk! Huekk!
Nenek mendadak terbatuk keras satu kali dan refleks bangkit duduk. Mahesa dengan sigap menyodorkan sebuah kaleng bekas yang biasa digunakan untuk tempat meludah. Dari tenggorokan Nenek, keluarlah gumpalan lendir berwarna hitam pekat berbau sangat busuk—itu adalah seluruh sumber penyakit dan racun yang selama ini mendekam di dalam paru-parunya, yang berhasil didorong keluar oleh hawa murni Mahesa.
Setelah mengeluarkan lendir kotor tersebut, Nenek langsung mengembuskan napas panjang yang sangat lega. Ia memegangi dadanya sendiri, menepuk-nepuknya dengan pandangan mata yang membelalak tidak percaya.
"Astaga... Sa! Dada Nenek... dada Nenek rasanya plong banget! Seumur-umur baru sekarang Nenek bisa napas se-enteng ini, rasanya longgar sekali, nggak ada ganjalan sama sekali!" pekik Nenek histeris dengan air mata yang mulai berlinang di sudut matanya karena rasa bahagia yang teramat sangat besar.
Mahesa yang melihat hal itu langsung merasakan gelombang kebahagiaan emosional yang luar biasa membuncah di dalam dadanya. Setitik air mata haru ikut menetes di pipi tampannya. Segala kelelahan, hinaan orang di kantor, dan ketakutan selama ini seolah runtuh seketika melihat mukjizat kesembuhan sang nenek yang terjadi di depan matanya sendiri berkat warisan kitab kuno tersebut.
"Alhamdulillah, Nek. Berarti pijatannya cocok di badan Nenek," sahut Mahesa dengan suara beratnya yang kini terdengar penuh dengan ketulusan dan kelegaan, sembari menyeka sisa air mata di sudut mata neneknya menggunakan kain usang.
Nenek memandangi wajah Mahesa lekat-lekat dari jarak dekat, kali ini pandangannya terasa jauh lebih jernih karena aliran darah ke kepala juga ikut lancar. "Kamu... kamu beneran cucuku Mahesa kan, Le? Kok Nenek ngerasa ada yang beda banget dari kamu. Tapi yang penting... terima kasih ya, Le. Kamu sudah merawat Nenek yang rongsokan begini," tutur Nenek tulus, memeluk erat tubuh tegap Mahesa yang kini terasa kokoh seperti pohon beringin yang siap melindunginya.
"Sama-sama, Nek. Mahesa bakal lakuin apa saja biar Nenek sehat terus," balas Mahesa, mendekap balik tubuh kurus neneknya dengan penuh kasih sayang.
Di dalam rumah petak yang remang itu, malam mulai turun dengan tenang. Penyamarannya sebagai OB culun di siang hari mungkin penuh dengan kepalsuan, namun di tempat ini, di samping sang nenek, kekuatan barunya telah membawa sebuah kebenaran yang paling indah, sebuah kesembuhan dan harapan baru untuk masa depan mereka yang lebih baik.