Tiga tahun menyimpan rasa dalam diam bukan hal yang mudah.apalagi kalau orang yang kamu cintai tidak pernah benar-benar melihatmu.
"gue Syakila adzkia putri.hanya ingin satu hal,yaitu bisa bersama kakak kelas yang selalu jadi alasan gue buat datang kesekolah setiap pagi".
Namun,takdir justru mempertemukan dia dengan seorang badboy yang penuh rahasia,namanya Galen athar wijaya.hingga terjadi suatu insiden yang membuat mereka harus menjalin kesepakatan yang dapat menguntungkan satu sama lain.
"Mari kita buat kesepakatan di mana lo harus tutup mulut soal kejadian barusan.dan gue bakal atur lo sama zayyan".
"Lo beneran?tapi sampai kapan?"
"Ya...sampai lo jadian sama dia.setelah itu kesepakatan kita selesai!"ucapnya serius.
"Deal..?"ucapnya mengulurkan tangan.
syakila meraih tangan itu dan kesepakatan pun di mulai.
setelah lama berlalu syakila berhasil dekat dengan zayyan bahkan lebih dari sekedar teman.namun perhatian itu...
kalau penasaran ikutin terus ya kelanjutannya.bye🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit
________
Di bawah rindangnya pohon,angin siang berembus pelan,menggoyangkan dedaunan yang menaungi mereka.
Tak ada suara.
Hanya dua insan yang saling diam dengan isi kepala masing-masing.galen menatap syakila beberapa saat,menatap tatapan gadis itu yang kosong.
Namun tiba-tiba...setetes bening jatuh dari sudut matanya lalu tersadar buru-buru ia mengusapnya.
"Ck."ia langsung membuang muka.
Galen mengembuskan napas pelan.tanpa banyak bicara,ia berjongkok di depan syakila. mengeluarkan botol antiseptik dari saku celana.
Cess!
"Ssstttt...."gadis itu refleks menarik kakinya.tapi dengan cepat galen menahan pergelangan kakinya.
"Diam."
Semprotan antiseptik kembali mengenai luka itu."Uuh..."syakila meringis sambil menggigit bibir bawahnya.
Galen hanya berdecak."Kalau dari tadi lo nggak gerak-gerak,kan udah selesai."ia menempelkan plester pada lutut syakila dengan rapi.
"Udah."setelah itu,galen berdiri lalu duduk agak berjarak.
Syakila masih membuang muka.sesekali ia melirik lututnya yang kini sudah tertutup plester lalu kembali menatap lurus ke depan.
Sunyi.
Beberapa saat kemudian,galen merogoh saku celananya,sebatang rokok dan pemantik berpindah ke tangannya.
Ceklek.
Api kecil menyala.ia menyelipkan rokok itu di bibir,lalu menghisapnya perlahan.asap putih itu mengepul,terbawa angin.
"Lo perokok?"suara syakila memecah keheningan,gadis itu masih menatap ke depan.
Galen hanya diam lalu kembali mengisap rokoknya.
"Sejak kapan?"tanya syakila lagi.
Kali ini galen menoleh,tatapan mereka bertemu.beberapa detik saling diam.namun galen lebih dulu mengalihkan pandangannya,ia mengembuskan asap dari mulutnya.
"Kenapa lo kepo?mau gue ngerokok dari kapan, kenapa gue ngerokok—"seringai tipis terbit di sudut bibir galen."Itu urusan gue,suka-suka gue."
Syakila mendengus pelan."Yaudah."ia ikut terdiam.
Hening kembali menyelimuti.hingga rokok itu habis.laki-laki itu membuang puntungnya ke tong sampah,lalu mengambil satu batang lagi.
Baru saja hendak menyalakan pemantik.
Plak.
Sebuah tangan menahan gerakannya,gadis itu merebut rokok itu begitu saja."Kembalikan."
Bukannya mengembalikan,gadis itu malah meremas rokok itu hingga hancur.
Galen memejamkan mata sesaat lalu mengembuskan napas panjang."Ck.nyusahin."
Syakila kini berdiri tepat di hadapannya."Nggak baik ngerokok,apalagi masih di bawah umur."
Galen memutar bola matanya."Sok iya lo."
Syakila kesal mendengar penuturan galen."Gue cuma ngingetin."ketusnya."Merokok di usia dini itu bahaya,lo nggak pernah baca poster?atau spanduk?isinya selalu sama merokok dapat membunuhmu.lo nggak takut paru-paru lo rusak?terus lo mati muda?"omelnya panjang lebar.
Galen meraup wajahnya frustasi."Udah selesai ceramahnya?"
Syakila mengernyit."Apa lo bilang—"
Belum sempat kalimatnya selesai,galen lebih dulu memotong."Daripada lo sibuk nasehatin gue,sok peduliin gue...."
Ia menghela napas."Mending lo urusin zayyan."nada bicaranya terdengar datar,tapi cukup untuk membuat gadis itu terdiam.
Gadis itu tampak gelisah.bibirnya terbuka,ingin membalas.tapi lagi dan lagi ucapannya di potong galen.
"Zayyan pindah rumah."syakila membeku.
"Apa?"
"Gue nggak tahu jelas.tapi setahu gue sekarang mereka tinggal di daerah pinggir kota."
Syakila hanya menatap laki-laki itu tanpa berkedip.dadanya terasa sesak.
Melihat perubahan ekspresi itu,galen mengembuskan napas pelan.
"Tapi tenang aja.dia nggak pindah sekolah.karna sekolah ini punya bokapnya."
Mendengar itu,bahu syakila yang sempat menegang perlahan mengendur.gadis itu mengembuskan napas lega.
Galen melirik sekilas ke arah gadis itu.sudut bibirnya nyaris terangkat,namun ia segera mengalihkan pandangan."Segitu takutnya kehilangan kesempatan buat ketemu dia?"tanyanya dingin,syakila hanya diam menatap galen yang membuang muka.
_________
Tak terasa...
Motor yang dikendarai galen berhenti di sebuah kawasan pinggir kota.
Syakila turun lebih dulu.begitu melepas helm,matanya langsung menyapu pemandangan di depan.deretan rumah-rumah mewah berdiri rapi di sepanjang jalan.
Setiap rumah dipagari tembok tinggi dengan gerbang besi yang kokoh.pepohonan yang tertata membuat kawasan itu tampak begitu tenang dan asri.
"Wow..."gumam syakila pelan.
Ia belum pernah melihat kompleks perumahan se-elit ini dari dekat.sementara itu,galen masih duduk di atas motornya.ia melepas helmnya perlahan.
Tatapannya lurus ke depan.tanpa banyak bicara, ia turun dari motor lalu mulai berjalan menyusuri jalan kompleks.
Syakila yang kebingungan segera menyusul dari belakang."Galen.mau ke mana?"laki-laki itu tak menjawab.ia terus berjalan dengan langkah tenang.
Hingga akhirnya...
Ia berhenti tepat di depan sebuah rumah yang berdiri paling mencolok.
Rumah itu jauh lebih besar dibanding rumah-rumah lain di sekitarnya.gerbang hitam menjulang tinggi dengan halaman yang luas.bangunan bergaya modern dengan dinding putih bersih berdiri megah di balik pagar.
Galen menatap rumah itu cukup lama.tak salah lagi,ini memang rumah zayyan.
Tapi laki-laki itu justru terdiam.alisnya sedikit berkerut.kenapa ia berada di sini?seharusnya kan dia berada di rumah.
Ia mengembuskan napas pelan.seolah baru sadar motornya membawanya ke tempat ini tanpa ia pikirkan.
Galen melirik ke samping.menatap gadis yang masih berdiri terpaku dengan mata yang berbinar menatap rumah megah itu."Besar banget..."gumamnya lirih.tanpa sadar ia sampai menutup mulutnya tak percaya,wajahnya bahkan dipenuhi decak kagum.melihat reaksi itu,galen hanya mendengus pelan.
'Segitunya,ya...'batinnya.'Cuma gara-gara,ini rumah orang yang dia suka.'laki-laki itu menghela napas kasar.
Galen melangkah menuju gerbang rumah itu.baru beberapa langkah tapi gadis itu buru-buru menarik ujung jaketnya.
"Eh!mau ngapain?"
Galen menoleh singkat."Mau masuk."
"Hah?!"syakila langsung menggeleng cepat.
"Jangan!gue nggak mau kak zayyan tahu kita ke sini."
Galen mendesah pelan."Nyusahin banget lo."kesalnya di depan gadis itu.
Tanpa berdebat lagi,ia justru mengajak syakila berjalan memutari pagar hingga tiba di sisi tembok yang cukup tinggi.
Syakila mengernyit."Ngapain ke sini?"
"Naik.katanya lo mau memastikan."ketusnya.
"Hah?"
Galen berjongkok di depan tembok,lalu menepuk pelan pundaknya sendiri.
"Naik."
Syakila langsung paham maksudnya,tapi..."Emang nggak apa-apa,nih?"
"Tanya mulu lo,cepetan."dengan ragu,gadis itu menaiki pundak galen.kedua tangannya bertumpu di kepala laki-laki itu agar tidak jatuh.
"Udah?"
"Iya."cicit syakila setengah malu.
Galen mulai berdiri perlahan.tapi baru setengah berdiri tubuhnya sedikit oleng.
"Woy!jangan gerak-gerak!"gerutunya kesal.membuat gadis itu refleks memegang kepala galen lebih erat.
"Maaf,maaf."
Galen menutup mata sembai mengeraskan rahang."Astaga...dosa lo seberat apa sih!"
Syakila mendecak."Berisik."dengan susah payah, galen akhirnya berdiri tegak.
Kini kepala syakila sudah melewati tinggi tembok.matanya langsung menyapu halaman rumah dengan rumput hijau yang terawat,ada kolam kecil dan deretan bunga warna-warni.
Hingga tatapannya berhenti di taman belakang.
Zayyan sedang menyiram bunga sambil mengenakan kaus putih sederhana.sinar matahari sore membuat senyumnya terlihat semakin hangat.
Jantung syakila langsung berdegup lebih cepat.tanpa sadar ia mengeluarkan ponselnya.
Cekrek.satu foto berhasil ia ambil.
"Lo ngapain?"tanya galen dari bawah.syakila tak menjawab,ia malah tersenyum sendiri sambil menatap hasil fotonya.
"Dia ada nggak?"
"Ada."jawab syakila yang masih tersenyum memandangi zayyan yang sedang bersenandung.
"Udah belum?"suara galen mulai terdengar kesal.
"Pundak gue pegel.lo pikir badan lo seringan kapas?beratnya pun sama kayak dosa lo."cerocosnya.
Syakila langsung mencibir."Ih.sabar dikit napa."ia kembali mengangkat ponselnya,berniat mengambil satu foto lagi.
Namun tepat saat itu...
Galen mendengar suara langkah kaki dari arah belakang mereka.keningnya langsung berkerut.
"Hm?"perlahan ia menoleh.
BBRRR....
"Woy..."gumamnya pelan.belum sempat ia mengatakan apa pun...
BRAK!
Bersambung~