NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Pertarungan di Puncak Gunung Api Tidur

Setelah melintasi Lautan Pasir dan meninggalkan Kota Cahaya yang telah terbebas dari kutukan, perjalanan Cepot dan Dawala terus menuju arah utara. Batu pemberi petunjuk yang mereka terima mulai memancarkan cahaya keemasan yang semakin terang seiring langkah mereka, menuntun menuju rangkaian gunung yang menjulang gagah. Di antara gunung-gunung itu, satu yang paling tinggi tampak berbeda: puncaknya tertutup kabut abu-abu, dan sesekali terlihat asap tipis yang mengepul perlahan.

“Itu adalah Gunung Merapi Tidur,” kata Cepot sambil memandang ke atas. “Konon, di dalam perutnya tersimpan inti api bumi yang menjadi sumber kehangatan dan kestabilan seluruh wilayah di sekitarnya. Jika keseimbangannya terganggu, gunung yang sudah tidur ribuan tahun ini bisa bangun dan melepaskan amarah yang menghancurkan segalanya.”

Semakin dekat mereka mendaki, hawa di sekitar terasa semakin panas dan kering. Tanah terasa bergetar lembut, dan udara terasa berat seolah menahan sesuatu yang besar. Saat mencapai dataran setinggi setengah gunung, mereka bertemu dengan sekelompok makhluk penjaga yang berwujud seperti kera besar namun bertubuh dari batu dan api kecil yang menyala di tubuh mereka.

“Hentikan langkah kalian! Wilayah ini dilarang dimasuki—kekuatan di dalamnya sedang tidak stabil dan berbahaya bagi siapa pun!” seru pemimpin mereka dengan suara yang berat dan bergema.

“Kami datang bukan untuk mencuri atau mengganggu, melainkan untuk membantu menenangkan apa yang sedang gelisah,” jawab Cepot dengan tenang. “Kami membawa tanda dari tempat-tempat yang telah kami bantu pulihkan, dan batu ini menunjukkan bahwa di sinilah keseimbangan sedang terancam.”

Penjaga itu mengamati batu pemberi petunjuk serta cahaya lembut yang keluar dari Golek Pancasona, lalu mengangguk perlahan. “Memang benar, sejak beberapa waktu lalu, aliran energi di dalam gunung ini menjadi kacau. Ada kekuatan asing yang masuk dan mencoba menguasai inti api bumi, ingin mengubahnya menjadi senjata yang bisa menghancurkan apa saja yang tidak ia sukai.”

Mereka pun diizinkan melanjutkan perjalanan menuju puncak dan lubang kawah yang terbuka lebar. Begitu sampai di tepi kawah, pemandangan yang terlihat membuat hati mereka berdebar. Di dasar kawah yang dalam, terlihat cahaya api yang menyala berkobar namun tidak teratur, berputar-putar seolah sedang berjuang melawan sesuatu. Di tengahnya berdiri seorang lelaki bertubuh kekar dengan jubah berwarna merah menyala, memegang tongkat yang ujungnya menyala dengan api yang gelap dan berbahaya.

Ia adalah Ki Murad, yang telah lama mempelajari ilmu menguasai unsur api.

“Akhirnya ada yang datang melihat kehebatanku,” katanya sambil tertawa keras. “Dengan menguasai inti api ini, aku bisa mengatur panas dan dingin di seluruh bumi. Siapa pun yang menentangku akan dibakar habis, dan yang menuruti perintahku akan mendapatkan kehangatan dan kemakmuran!”

“Kekuasaan semacam ini tidak pernah menjadi hak satu orang saja,” tegur Cepot dengan suara tegas. “Api adalah kekuatan yang harus dijaga dengan hati-hati—ia bisa memberi kehangatan dan kehidupan, tapi juga bisa memusnahkan jika dikuasai dengan keserakahan. Kau telah mengganggu keseimbangan yang sudah terjaga selama ribuan tahun!”

Ki Murad tidak mau mendengar nasihat. Ia segera mengayunkan tongkatnya, melepaskan semburan api gelap yang melesat cepat ke arah mereka. Dawala segera melompat mundur, lalu memutar galah bambunya dengan cepat, menciptakan angin kencang yang membelokkan arah semburan api itu agar tidak mengenai mereka.

Sementara itu, Cepot mengangkat Golek Pancasona. Cahaya putih keemasan memancar terang, menyentuh dinding kawah dan menenangkan tanah yang terus bergetar. “Kekuatan yang sejati bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk diselaraskan! Dengarlah, wahai inti api bumi—kembalilah pada tugasmu yang asli, jangan dikuasai oleh keinginan yang salah!”

Namun, api yang sudah terikat oleh mantra Ki Murad tidak langsung tenang. Ia justru menyala lebih besar, seolah terombang-ambing antara dua kekuatan yang berbeda. Ki Murad semakin marah, melepaskan lebih banyak lagi api gelap, hingga seluruh kawah dipenuhi kobaran yang panasnya terasa menyengat kulit.

“Kita harus memutuskan ikatannya terlebih dahulu sebelum bisa menenangkan apinya!” seru Cepot kepada Dawala. “Dekati dia dari samping dan alihkan perhatiannya, biar aku yang memutuskan mantra pengikatnya!”

Dawala mengangguk, lalu berlari melingkar mengelilingi kawah sambil memutar galah bambunya, menciptakan pusaran angin yang melindunginya dari panasnya api. Ia berteriak dan mengarahkan ujung galahnya ke arah Ki Murad, membuat lelaki itu teralihkan perhatiannya dan mengarahkan serangan ke arah Dawala.

Saat kesempatan terbuka, Cepot segera melompat mendekat dan mengarahkan ujung Golek Pancasona tepat ke arah tongkat yang dipegang Ki Murad. Cahaya pusaka itu menyentuh tongkat itu, dan terdengar suara retakan keras. Mantra yang mengikat inti api pun terputus seketika.

Api gelap yang menyelimuti Ki Murad segera lenyap, digantikan oleh aliran energi api yang kembali ke bentuk aslinya—menyala terang namun teratur dan tenang. Gunung yang tadinya bergetar hebat perlahan berhenti bergerak, asap yang mengepul berubah menjadi uap air yang sejuk dan menyebar ke udara.

Ki Murad terjatuh berlutut, seluruh kekuatan yang ia kumpulkan hilang seketika. Ia merasakan panas yang menyengat di tubuhnya sendiri sebagai akibat dari ilmu yang salah ia gunakan. “Apa… yang terjadi? Mengapa kekuatanku hilang?”

“Karena kau memaksakan dirimu menguasai sesuatu yang jauh lebih besar dari dirimu sendiri,” jawab Cepot dengan nada tenang. “Api akan menuruti mereka yang menghormatinya, bukan mereka yang ingin menjadikannya budak. Sekarang kau merasakan akibatnya—panas yang seharusnya memberi manfaat justru membakar dirimu sendiri.”

Ki Murad menunduk dalam rasa malu dan penyesalan. Ia menyadari bahwa ambisinya yang berlebihan hampir saja menimbulkan bencana besar bagi seluruh wilayah di sekitarnya. “Maafkan aku… aku terlalu tergoda untuk menjadi berkuasa, hingga lupa akan batas kemampuanku.”

Dengan bantuan cahaya Golek Pancasona, rasa sakit di tubuh Ki Murad perlahan berkurang. Ia berjanji akan mengabdikan sisa hidupnya untuk menjaga lereng gunung dan mengingatkan siapa pun agar tidak mencoba mengganggu keseimbangan alam.

Saat mereka turun kembali dari puncak, para penjaga batu dan api menyambut mereka dengan rasa hormat. “Terima kasih telah menyelamatkan gunung ini dan seluruh kehidupan di sekitarnya. Sebagai tanda penghargaan, terimalah sebongkah batu bara suci yang menyimpan kehangatan tanpa membakar berlebihan. Ia akan melindungi kalian dari hawa dingin yang ekstrem di perjalanan mendatang.”

Membawa batu itu dan pelajaran baru, Cepot dan Dawala melanjutkan langkah mereka. Sekali lagi mereka mengerti: setiap unsur alam memiliki kekuatan yang luar biasa, namun hanya akan membawa kebaikan jika dijaga dengan rasa hormat dan kesadaran akan batasnya.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!