"Tiga hari untuk melenyapkannya, atau nyawamu taruhannya."
Kenric Vane, algojo paling mematikan dari klan The Void, tidak pernah gagal dalam misinya. Namun, target kali ini berbeda. Dr. Alana Syahira, seorang psikolog cantik yang seharusnya mati dalam kecelakaan tragis, justru menatap tepat ke matanya tanpa rasa takut di ruang eksekusi.
Bukannya memohon ampun, Alana justru mulai membedah kegelapan di jiwa Kenric dengan manipulasi kata-kata yang mematikan. Dia adalah satu-satunya orang yang berani menantang sang predator di sarangnya sendiri.
Di sisi lain, persaingan takhta klan The Void memanas. Sang ayah memberikan syarat mutlak, siapa pun putra Vane yang memiliki istri lebih dulu, dialah yang berhak berkuasa.
Kenric memutuskan untuk melindungi Alana dari kejaran musuh, membawanya masuk ke dalam lingkaran hitam keluarganya. Di bawah perlindungan Kenric, Alana terjebak dalam dunia yang penuh peluru, sementara Kenric terjebak dalam perangkap kata sang psikolog.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 二十
Pagi itu, suasana di dalam sebuah kafe mewah berkonsep privat masih sangat sepi. Cahaya matahari pagi baru saja menyelinap masuk dari sela-sela gorden tipis, namun di salah satu sudut meja yang paling tersembunyi, Kenric Vane sudah duduk diam membeku. Pria itu sengaja datang satu jam lebih awal dari waktu yang tertera di dalam lembar jadwal maut buatan Alana Syahira. Ia duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sepasang mata gelap yang memancarkan aura dingin yang pekat.
Kenric sengaja datang lebih cepat bukan karena ia merasa antusias atau tidak sabar untuk memulai kencan ketiga ini. Sebaliknya, ia datang awal karena sudah berada di ambang trauma psikologis yang cukup berat. Setelah insiden putri musuh bebuyutan di kencan pertama, lalu kejutan medis kencan kedua di mana ia mendadak divonis akan menjadi ayah dari janin berusia enam minggu, Kenric bersumpah tidak akan membiarkan dirinya kecolongan lagi. Ia harus memegang kendali penuh sejak detik pertama sebelum Alana kembali menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.
Tidak lama kemudian, pintu kafe terbuka dan seorang wanita dengan gaun kasual yang modis melangkah masuk. Wanita itu mengedarkan pandangan sampai matanya terkunci pada sosok Kenric. Dengan senyuman manis dan langkah yang dibuat seanggun mungkin, kandidat ketiga pilihan Alana itu mendekati meja dan mendudukkan diri di hadapan sang mafia.
"Selamat pagi Tuan Kenric. Senang sekali bisa—"
"Berdiri." potong Kenric kaku, suaranya yang bariton dan dingin seketika memotong kalimat sapaan manis yang baru saja hendak meluncur dari bibir wanita itu.
Wanita di hadapannya langsung tertegun, senyumannya membeku di udara. "Maaf Tuan?"
Kenric tidak berniat untuk membuang waktu satu detik pun untuk berbasa-basi, mengobrol santai, atau memesan secangkir kopi. Ia langsung menegakkan tubuhnya, merapikan jas hitamnya, lalu menatap sang wanita dengan pandangan tajam tanpa emosi. "Ikut aku sekarang. Kita tidak akan melakukan pertemuan di tempat ini."
Tanpa menunggu persetujuan atau jawaban dari wanita yang kini sedang kebingungan setengah mati itu, Kenric langsung berdiri dan melangkah lebar keluar dari kafe. Mau tidak mau, dengan perasaan campur aduk, wanita itu terpaksa melangkah cepat mengikuti punggung tegap Kenric yang sudah berjalan menuju mobil limosin hitam yang sudah bersiaga di depan lobi.
Tujuan Kenric pagi itu sangat ekstrem dan sama sekali tidak romantis. Mobil mewah itu tidak membelah jalanan menuju tempat rekreasi atau restoran mewah lainnya, melainkan berhenti tepat di depan lobi sebuah rumah sakit swasta berskala besar di pusat kota. Rumah sakit itu bukan tempat sembarangan, pengurus tertinggi dan pemilik saham utamanya adalah salah satu teman dekat Kenric dalam jaringan bisnis.
Begitu turun dari mobil, Kenric langsung menggandeng wanita ketiga itu masuk ke dalam ruang pemeriksaan khusus VIP yang sudah dikosongkan. Tujuan Kenric hanya satu dan sangat sederhana, ia ingin wanita ini menjalani tes medis menyeluruh saat itu juga. Ia tidak ingin di tengah-tengah obrolan nanti, wanita ini mendadak mual-mual lagi dan membuatnya harus menerima ucapan selamat menjadi ayah untuk kedua kalinya sebelum ia sempat menyentuh seujung kuku pun dari tubuh wanita tersebut.
Setelah serangkaian tes darah dan pemeriksaan fisik kilat selesai dilakukan, wanita itu diminta menunggu di ruang observasi, sementara Kenric melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadi temannya, sang dokter pengurus rumah sakit, untuk berbicara empat mata.
Kenric duduk di kursi di hadapan meja kerja temannya dengan ekspresi datar, sementara sang teman sedang menatap layar komputer dan beberapa lembar kertas hasil laboratorium dengan dahi yang berkerut dalam serta wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius.
Teman Kenric mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan kertas berkas tersebut dan menatap sang penguasa The Void dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa prihatin yang mendalam.
"Kenric... aku sudah memeriksa seluruh hasil laboratorium dari wanita yang kau bawa tadi." ujar temannya dengan nada suara yang sangat berhati-hati. "Aku tahu kau membawanya ke sini karena takut kejadian hamil kemarin terulang kembali. Dan ya, aku bisa memastikan bahwa dia sama sekali tidak sedang mengandung atau hamil."
Kenric menaikkan sebelah alisnya, menunggu kalimat berikutnya.
"Tapi..." sang teman menjeda kalimatnya sejenak, menatap Kenric dengan tatapan tidak tega. "Hasil tes darah menyeluruh menunjukkan fakta lain yang sangat mengerikan. Wanita pilihanmu kali ini... dia positif mengidap penyakit HIV/AIDS Kenric. Dan kondisinya sudah mulai memasuki tahap yang membutuhkan perawatan intensif. Lagi-lagi, pilihan dari asisten atau siapapun yang mengatur perjodohanmu ini benar-benar berada di luar prediksi dan sangat berbahaya bagi keselamatanmu."
Mendengar vonis medis yang jauh lebih mengerikan dari sekadar hamil di luar nikah itu, hal yang tidak terduga justru terjadi pada respons Kenric Vane. Jika pada kencan pertama dan kedua ia sempat mengamuk dan syok setengah mati hingga jiwanya serasa terbang, kali ini... tidak ada lagi ekspresi terkejut sedikit pun di wajah tegasnya.
Wajah Kenric benar-benar datar, dingin, dan membeku dalam tahap mati rasa. Saking seringnya ia diberi kejutan-kejutan aneh, ajaib, dan zonk oleh Alana, mental sang dewa kematian tampaknya sudah berevolusi menjadi kebal terhadap segala bentuk kegilaan takdir. Jiwanya sudah sampai di titik numb di mana ia merasa bahwa apa pun yang dipilihkan oleh Alana memang sudah ditakdirkan untuk cacat dari awal.
Kenric berdiri dari kursinya dengan perlahan, merapikan kancing jasnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun mengenai hasil tes tersebut. "Urus dia di sini. Berikan dia perawatan yang sepantasnya." ucap Kenric datar kepada temannya.
Tanpa berniat untuk kembali menemui atau berpamitan kepada wanita ketiga itu, Kenric langsung berbalik badan dan melangkah keluar dari ruang kerja temannya, meninggalkan area rumah sakit melalui pintu belakang dengan langkah yang tenang namun sarat akan keheningan yang mencekam.
Namun, meskipun wajahnya tidak menampilkan ekspresi terkejut dan tetap terlihat dingin di luar, di dalam perjalanan pulang di dalam mobil, dada Kenric sebenarnya bergejolak hebat oleh rasa dongkol dan murka yang teramat sangat luas di dalam hatinya. Jemarinya mencengkeram pinggiran kursi mobil dengan begitu kuat hingga kulit joknya berderit ngilu.
Harga dirinya yang setinggi langit sebagai salah satu pemimpin tertinggi klan The Void yang ditakuti seantero dunia bawah, kini benar-benar telah diinjak-injak, dihancurkan, dan didegradasi sampai ke titik terendah oleh selera serta kecerobohan Alana Syahira yang sangat amat tidak masuk akal dalam menyortir biodata. Bagaimana bisa wanita-wanita mengerikan seperti itu lolos dari sensor Alana?! Kenric memejamkan matanya rapat-rapat, membayangkan kertas jadwal kencan untuk enam hari ke depan yang masih tersisa di rumah, dan seketika itu juga kepalanya berdenyut mengerikan menahan tekanan batin yang luar biasa dahsyat.
kak semangat trz up nya y...✌️