Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. "I Found You"
“Jaga dia. Bukan hanya sebagai penebus rasa bersalah mu, atau kau akan kehilangan untuk kedua kali nya.” Vano mengernyit bingung namun setelah nya ia menegang. Ditatap nya punggung tegak Kevin yang berjalan semakin menjauh.
-
Beberapa hari telah berlalu, Keisha sudah di ijinkan pulang. Vano dengan hati-hati menggendong Keisha dan meletakkannya di atas kasur.
“Aku hanya pendarahan, bukan cacat.” Keisha mengerucutkan bibirnya, Vano tersenyum melihat tingkah kekanakan Keisha, dengan cepat ia cubit hidung mancung Keisha.
“Ingat kata dokter, ok!” Vano mengusap puncak kepala Keisha lalu berjalan ke luar kamar untuk mengeluarkan barang-barang dari mobil.
Sebenarnya ia bisa menyuruh maid, namun pikiran dan hatinya sedang ingin sendiri dan tak mau diusik.
Vano merasa ia harus menjaga jarak untuk beberapa saat dengan Keisha. Bukannya apa, hanya saja perasaannya tengah kacau saat ini dan ia perlu waktu untuk menenangkan perasaan kacaunya.
Di sisi lain, rasa bersalah Keisha semakin besar. Berulang kali ia telah menyiapkan mental untuk berkata terkait Rania pada Vano, namun entah mengapa ada rasa belum siap di hatinya untuk segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya setelah ia mengatakan hal itu.
Terlebih Keisha belum siap menerima penolakan dan kebencian secara langsung yang akan di tujukan oleh adiknya sendiri padanya.
Kepala Keisha pusing memikirkan segala macam hal, dielusnya perut yang sedikit membuncit miliknya.
Sejenak Keisha merasa aneh karena perutnya terasa lebih kecil dari sebelumnya. Saat pikiran Keisha berspekulasi lebih jauh dering ponselnya membuyarkan konsentrasinya.
Anonim: Selamat karena sudah boleh pulang. Jaga bayimu dan jangan lupa perintahku tempo hari. Jika kau berani mengatakan kebenarannya ancamanku untuk membunuh seluruh keluargamu tidak main-main.
Keisha menelan ludahnya susah payah, kepalanya semakin pusing setelah membaca rentetan kalimat pesan yang baru saja di terimanya.
Napasnya memburu menyumpahi Kevin, segera ia berbaring dan menyelimuti seluruh badannya. Tak lama Keisha tertidur dengan perasaan yang tidak bisa dikatakan tenang.
-
Vano baru saja mengabari Bi Minah untuk memberitahu Keisha bahwa dirinya langsung ke kantor dan akan pulang larut malam
Beruntungnya, ketika Vano mengabari Bi Minah, ia juga diberitahu bahwa Kesiha tertidur sedari Vano mengeluarkan barang-barangnya.
Vano tadinya merasa bersalah karena telah meninggalkan Keisha begitu saja namun setelah mengetahui hal itu Vano bernapas lega karena ia bisa beralasan bahwa saat Keisha tertidur ia berangkat ke kantor.
Mobil mewah itu membelah jalanan kota yang lumayan dipadati berbagai jenis kendaraan, Vano dengan mudahnya menyalip mobil-mobil di depannya, ia harus secepat nya sampai kantor.
Setelah lebih dari 20 menit berkutat mengendarai mobil, akhirnya Vano sampai di gedung yang menjulang tinggi yakni gedung perusahaannya. Vano memberikan kunci mobil pada salah satu penjaga untuk memarkirkannya.
Dengan langkah tegas terburu-buru Vano masih tetap terlihat bijaksana dan menawan di mata para karyawannya, banyak dari mereka yang menyapa Vano dan juga beberapa berusaha menarik perhatian Vano.
Akan tetapi Vano tak pernah menggubrisnya bahkan menganggap hal itu hanyalah angin lalu.
Dalam hati Vano, ia telah menanamkan kesetiaan pada istrinya yang ada di rumah, baginya pernikahan adalah hal yang sakral.
Maka dari itu berbagai jenis godaan yang silih berganti mendekatinya tidak ada yang berhasil.
Vano memasuki ruangannya, tak lama setelah ia berhasil menduduki kursi kebesarannya terdengar ketukan dari luar pintu. Vano pun mempersilahkan orang yang ada di balik pintu itu untuk masuk.
“Permisi, Tuan.” Vano mengangguk sebagai jawaban, orang yang tadi mengetuk pintu rupanya adalah lelaki yang bekerja sebagai orang kepercayaan juga detektif suruhan Vano.
“Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?” Tanya Vano setelah orang itu berdiri di depannya.
“Benar dugaan anda, dia masih hidup. Dan saya menemukan keberadaannya.” Vano menahan napasnya, matanya berkaca-kaca mendengar penuturan orang suruhannya itu.
Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak kencang. Orang yang selama ini terus menempati posisi begitu tinggi di hatinya, orang yang ia sakiti demi kebaikan hubungan mereka, orang yang di anggap mati oleh semua orang.
Orang itu masih bernapas, masih berpijak di dunia yang sama. Vano menarik napas dalam agar tidak menitikkan air mata di depan orang suruhannya.
“ini alamatnya.” Vano menyuruh orang suruhannya itu keluar, tak lama setelahnya ia menangis dalam diam.
“Aku menemukanmu sayang, tapi aku belum siap untuk menemuimu. Sudikah kau bertemu denganku?”
Vano merasa kepalanya begitu pening, dadanya sakit memikirkan berbagai hal. Terlebih rasa bersalahnya terhadap kekasih yang terakhir kali ia campakkan lalu terpisah untuk waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar.
-
Waktu berlalu begitu cepat, Rania kini telah mengurangi aktivitasnya dan memfokuskan diri untuk kelahiran putranya. Seperti sekarang ini, setelah selesai menutup laptopnya, Rania berjalan ke dapur untuk membuat susu.
Jam telah menunjukan pukul 3 sore, pekerjaan Rania telah diselesaikan bahkan lebih cepat dari biasanya.
Rania sengaja melakukan itu supaya mendapat waktu luang lebih banyak, ia tidak yakin jika meminta cuti selama 3 bulan karena bahkan tempat kerja yang mengontraknya sebagai editor freelance tidak mengetahui bahwa ia tengah berbadan dua.
Sejak awal Rania telah memutuskan untuk menyembunyikan kehamilannya. Setelah perutnya semakin ketara membuncit, Rania tak lagi keluar rumah karena takut membuat tetangga curiga
Rania belum siap menerima omongan negatif, terlebih ia tidak ingin putranya menjadi bahan olok-olokan tetangga.
Meskipun sepintar apapun Rania menyembunyikan pasti fakta itu akan mencuat juga, ia hanya ingin mengurangi dampak tersebut.
Tok.. Tok.. Tok
Bunyi ketukan pintu membuyarkan lamunan Rania, perasaan was-was mulai mendatanginya. Rania tak pernah menerima tamu seorang pun, tetangganya terletak jauh dari rumahnya.
Rania juga terbiasa menggunakan jasa kurir paket untuk memesan barang-barang keperluannya dan mereka pasti akan meninggalkan paket itu di depan pintu tanpa mengetuk pintunya.
“Apa mungkin Kak Devi? Tapi kenapa harus mengetuk pintu?” Rania bergumam memikirkan siapa yang datang.
Ketukan pintu kembali terdengar. Rania akhirnya teringat kalau kunci yang biasa dipegang oleh Devi hilang beberapa hari yang lalu dan sedang dipesankan pada ahli kunci.
Rania menepuk jidatnya, ia tadi mengunci pintu padahal tadi pagi Devi berkata akan pulang lebih awal dan menyuruhnya untuk tidak mengunci pintu, Devi khawatir jika Rania tiba-tiba mengalami kontraksi atau bahkan melahirkan.
Untuk itu Devi yang selalu waspada pun menyuruh Rania untuk tidak mengunci pintu.
Dengan semangat dan tak lupa senyum yang selalu terpatri di wajahnya, Rania membuka pintu tersebut.
“Kak Dev-”
Degh
Perkataan Rania terputus, senyumnya pun luntur bertepatan dengan sosok yang tertangkap oleh netranya.
Bukan Devi yang berada di balik pintu tersebut melainkan sosok yang sekarang membuat bayi Rania menendang tak nyaman.
“Hai.” Sapa orang tersebut dengan senyum dan raut wajah bersalahnya yang semakin membuat perut Rania sakit tak tertahankan.
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..