Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Jarak
Agus
online
Hari ini
Gimana kondisi nenek hari ini? Ada perubahan nggak? 11:31 ✔✔
Masih sama aja, Reo. Nenek masih perlu banyak istirahat. Tadi dokter datang, katanya proses pemulihan bakal butuh waktu. 11:31
Maaf banget, Na. Gue beneran nggak enak ninggalin lo sendirian di sana. Gue pengen cepet-cepet ke rumah sakit tapi kerjaan di kantor numpuk banget. 11:32 ✔✔
Udah nggak usah dipikirin. Gue ngerti kok, Rom. Yang penting nenek dalam perawatan yang baik. Lo fokus aja dulu di kantor. 11:32
Makasih, Na. Gue beruntung punya lo. Abis kerjaan kelar, gue langsung ke sana, ya. 11:33 ✔✔
Tenang aja. Gue tahu lo pasti datang. Yang penting lo juga jaga kesehatan.
...****************...
Romeo akhirnya tiba di rumah sakit setelah melewati hari yang panjang. Begitu masuk ke kamar neneknya, ia melihat Tina tertidur di sofa dengan posisi yang jelas nggak nyaman. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang dalam, mungkin akibat berjaga semalaman. Di sisi tempat tidur, nenek Jihan terbaring dengan tenang, kelihatannya sudah lebih baik.
Romeo mendekati Tina pelan, hatinya terasa berat. "Dia pasti capek banget," pikirnya. Ada rasa bersalah yang nggak bisa ia abaikan—bukan cuma karena Tina harus menjaga nenek sendirian, tapi juga karena dia sendiri terlalu terjebak dalam pekerjaan.
Romeo duduk di kursi dekat Tina, menarik napas panjang sambil menatap istrinya yang masih tertidur. Selama beberapa saat, Romeo cuma bisa terdiam. Dia bingung harus gimana. Hari ini, dia sengaja ambil cuti biar bisa lebih lama di sini, tapi rasa bersalah terus menghantuinya, terutama setelah melihat betapa lelahnya Tina.
"Gue harus ngomong sekarang? Atau biarin dulu?" batinnya. Waktu terus berjalan, dan Romeo masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sampai akhirnya, Tina terbangun perlahan. Dia melihat Romeo duduk diam, dengan ekspresi yang susah ditebak. Tina menghela napas. "Kenapa dia diem aja kayak gitu?" pikirnya, mulai kesal.
"Reo, lo kenapa diem aja?" tanya Tina akhirnya, berusaha menahan emosi. Matanya masih setengah sayu karena baru bangun, tapi nada suaranya sudah menunjukkan ketegangan. Romeo sedikit terkejut oleh pertanyaan itu.
"Gue... lagi mikirin sesuatu," jawabnya pelan, menghindari tatapan Tina. Tina bangun dan duduk, menatap Romeo dengan tatapan lelah. "Mikirin sesuatu atau lo ngindar lagi?" tanyanya, nggak bisa lagi menahan rasa kesal.
"Lo nggak tahu seberapa berat gue merasa sendirian di sini. Lo sibuk banget sama kerjaan, Reo. Gue nggak minta banyak, cuma kehadiran lo di sini." Romeo menarik napas berat. Dia tahu Tina benar, tapi sulit rasanya buat ngerangkai kata-kata yang pas. "Apa yang harus gue bilang?" pikirnya.
Semua yang ada di kepalanya terasa kosong. Tapi dia tahu, ini bukan waktunya buat ngelak lagi. "Gue... gue minta maaf, Tin. Gue tahu gue salah karena terlalu fokus sama kerjaan. Gue nggak seharusnya ninggalin lo jaga nenek sendirian. Gue cuma... nggak tahu gimana harus ngadepin semuanya sekarang." Tina menatap Romeo, kecewa. "Ini bukan soal lo nggak tahu gimana, Reo. Ini soal prioritas. Gue tau lo punya tanggung jawab di kantor, tapi gue juga perlu Lo disini. Bukan cuma nenek yang butuh, tapi gue juga." Romeo merasa semakin kecil di depan Tina.
Kata-katanya menyentuh sesuatu di dalam dirinya, bikin dia sadar betapa jauhnya dia dari jadi suami yang diharapkan. Dia pegang tangan Tina, kali ini lebih serius. "Gue janji, Gue nggak akan biarin lo ngerasa sendirian lagi. Maafin gue, Tin."
Tina hanya mengangguk pelan, tapi di matanya, Romeo bisa lihat ada harapan yang muncul kembali. Meski masih banyak hal yang perlu diperbaiki, mereka tahu kalau ini adalah langkah awal buat memperbaiki hubungan yang sempat terabaikan.
...****************...

...****************...
Agus
online
Hari ini
Tinaaa 16:17 ✔✔
Lo dimana? 16:17 ✔✔
Ayo pulang sebentar 16:17 ✔✔
Kita ngomong baik-baik 16:18 ✔✔
Gue di taman 16:18
Iya gue kesana 16:18 ✔✔
Kita pulang dulu 16:18 ✔✔
Adik nenek datang mau jagain, kita pulang katanya istirahat 16:18 ✔✔
Besok kata dokter kalau nenek boleh pulang 16:18 ✔✔
Iya Reo 16:18
...****************...
Malam itu, rumah terasa lebih hening dari biasanya. Cahaya lampu taman yang masuk melalui tirai tipis menoreh bayangan lonjong di lantai ruang tamu. Tina duduk di ujung sofa, jari-jarinya mengulur-ulur pinggir bantal yang sudah aus. Di seberangnya, Romeo menyilangkan kaki di kursi kayu, matanya menatap lantai dengan wajah yang tertutup lelah.
Perjanjian untuk bicara dari hati ke hati sudah sepakat sejak nenek menyuruh mereka pulang lebih awal—suara nenek yang lembut tapi tegas masih mengganggu telinga mereka berdua. Lama tak ada suara selain denting jam dinding di pojok ruangan. Akhirnya, bahu Tina bergetar pelan. Ia menekan bibir agar tidak bergetar, tapi tangisan masih menerobos keluar.
"Reo..." Ucapannya pecah di tengah kalimat. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tapi air mata tetap merembes melalui celah jari. "Gue nggak bisa kayak gini terus."
Badannya sedikit bergoyang karena menangis. "Setiap malam gue tunggu lo pulang, cuma dapet kabar lewat chat aja. Kalau nenek sakit, gue harus sendiri antar-jemput ke rumah sakit, urus administrasi, beli obat..." Ia lepaskan tangan dari wajah, menatap Romeo dengan mata merah karena menangis. "Seperti lo lebih milih kerjaan daripada gue dan nenek."
Romeo mendorong kursinya maju sedikit, tubuhnya jadi lebih tegak. Kedipannya makin lambat, seolah sedang menahan beban yang terlalu berat di pundaknya. Ia mengusap dahinya yang berkeringat meski ruangan cukup dingin, lalu melihat Tina yang menangis di depannya—bahu yang kurusnya tampak lebih menonjol dari biasanya, rambut yang selalu rapi kini kusut di sisi wajah.
Hatinya terasa seperti ditekan batu besar.
"Tin..." Ia menjulurkan tangan lalu menariknya kembali, seolah ragu untuk menyentuhnya. "Gue ngerti rasanya." Suaranya terdengar kasar karena jarang digunakan. "Kerjaannya bukan cuma ngetik di komputer aja. Kadang harus ikutin rapat sampai larut, kalau proyeknya macet, gue harus cari solusi sendiri biar nggak ada yang kehilangan pekerjaan."
Ia menghela napas panjang, pandangannya menembus jendela ke arah kegelapan luar. "Gue nggak pernah sengaja mau ninggalin Lo sendirian."
Tina mengangkat bahu pelan, lalu menyeka air mata dengan bagian saku baju. Ekspresi wajahnya yang tadinya penuh kesedihan kini bergeser ke arah kecewa yang dalam.
"Lo bilang ngerti," ucapnya dengan nada yang lebih tenang tapi menusuk. "Tapi setiap kali gue butuh Lo ada di sini—kalau gue sakit, kalau gue perlu orang yang bisa diajak cerita—lo selalu ada di kantor." Ia menatap langsung ke mata Romeo. "Seperti gue nggak pernah penting buat Lo lagi."
Suasana di ruangan jadi makin kaku. Udara terasa berat dan sulit untuk dihirup. Romeo meremas kedua telapak tangannya hingga buku jari jadi putih. Ia tahu, setiap kata yang keluar dari mulut Tina adalah kebenaran yang ia coba hindari selama ini. Ia sering bilang sibuk karena pekerjaan, tapi benar saja—ia telah absen bukan hanya di sisi fisik, tapi juga di hati Tina.
Ia mendekat dan meraih tangan Tina dengan hati-hati. Tangan Romeo terasa hangat, tapi Tina hanya diam tanpa menanggapi sentuhan itu.
"Maafin gue, Tin." Suaranya lebih rendah dari biasanya, penuh dengan rasa bersalah yang mendalam. "Gue nggak sengaja bikin Lo merasa sendiri. Gue jadi terlalu fokus sama masalah kantornya, sampe lupa Lo juga punya beban sendiri." Ia mengulurkan jari untuk menyeka titik air mata yang masih menempel di pipi Tina. "Gue merasa sendiri juga tidak cukup buat kamu."
...----------------...
Tina memalingkan wajah ke jendela, bahunya bergoyang pelan seiring hembusan napas yang terengah-engah. Air mata masih mengalir deras di pipinya, menyusuri lekukan dagu yang kini terlihat lebih menonjol. Ia mengusap tangisannya dengan bagian lengan baju, tapi basahnya hanya semakin menyebar di kain.
"Gue nggak butuh lo sempurna, Reo." Suaranya serak, tertahan di tengah napas yang tercekik. Ia menggenggam ujung sofa hingga buku jarinya memucat. "Gue cuma butuh lo ada di sini—dengerin cerita gue pas capek, ngerti kenapa gue nangis sendirian di kamar." Ia putar wajah perlahan, tatapan matanya yang merah memotret Romeo dari bawah kelopak mata. "Lo pernah nggak mikirin, berapa kali gue harus nyari taksi sendiri buat antar nenek ke rumah sakit pas hujan deras?"
Romeo terdiam. Cahaya bulan yang masuk lewat celah tirai menerangi titik-titik kelembapan di kelopak matanya. Ia meraih tangan Tina dengan hati-hati, seperti menyentuh barang yang rapuh. Jari-jari nya melingkari telapak tangannya yang dingin, lalu menggenggam erat. Pelipisnya bergetar, dan ia menutup mata sejenak sebelum membukanya kembali.
"Gue janji, Tin—gue bakal lebih ada buat lo." Suaranya terdengar dalam dan tulus, seperti berasal dari dalam dada. Ia menggeser kursinya lebih dekat, badan sedikit membungkuk untuk melihat wajah Tina secara langsung. "Gue tau selama ini gue salah—terlalu fokus sama angka dan jadwal kerjaan, sampe lupa lo juga butuh orang buat ngasih dukungan." Ia menggeleng perlahan. "Lo dan nenek jauh lebih penting dari semua itu."
Tina menatap Romeo dengan mata yang masih basah, tapi kini ada kilatan yang berbeda di dalamnya—secercah harapan yang memudarinya sedikit. Ia tidak menarik tangan nya kembali, malahan mengulurkan jari untuk menyentuh bagian belakang tangan Romeo yang menopang wajahnya. Meski tatapannya masih penuh dengan rasa sakit yang belum hilang, suhu hangat dari tangan Romeo memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya ruangan.
"Gue cuma butuh lo lebih peduli, Re." Suaranya sudah tidak lagi bergetar, terdengar lebih tenang tapi tetap jelas. "Cuma itu aja yang gue mau."
Romeo mengangguk perlahan, ekspresi wajahnya penuh dengan penyesalan yang mendalam. Ia menggenggam tangan Tina lebih erat, lalu mencium bagian belakangnya dengan lembut. Gerakannya lambat dan penuh perhatian, seolah ingin menunjukkan bahwa janjinya bukan hanya omongan kosong.
"Gue janji." Kata-katanya keluar lembut tapi tegas. Ia menyeka titik air mata yang masih menempel di sudut mulut Tina dengan ibu jarinya. "Mulai sekarang, kita bakal makan malam bareng setiap hari kalau bisa. Kalau ada masalah, kita bicara bareng—bukan cuma kamu yang harus nanggung sendiri." Ia menatap mata Tina dengan tatapan yang teguh. "Gue nggak akan pernah biarin kamu merasa sendirian lagi."
Tina mengangguk pelan, bibirnya sedikit bergetar sebelum ia menutup mata sejenak. Air mata terakhir meluncur di pipinya, tapi kali ini bukan hanya karena kesedihan. Meski masih ada rasa sakit yang tersisa di dalam hatinya dan banyak hal yang perlu diperbaiki, sentuhan tangan Romeo dan janjinya yang tulus membuatnya merasa bahwa hubungan mereka masih bisa diselamatkan. Percakapan malam itu adalah langkah awal yang penting untuk membangun kembali apa yang pernah terabaikan.
...****************...
Agus
online
Hari ini
We Tina 16:40 ✔✔
Apa? 16:40
Lagi cuci muka sabar 16:40
Iya 16:40
Ouh iya 16:40 ✔✔
Tadi gak ada morning kiss kan ya? 16:40 ✔✔
Eh bukan deh 16:40 ✔✔
Maksudnya beberapa hari kebelakang 16:40 ✔✔
kiss dulu dong sebelum kita lanjut ngobrol. 😘 16:41 ✔✔
Gak mau 16:41
Yaaah🥺🥺 16:41 ✔✔
...****************...
Agus
online
Gak mau 16:41
Yaaah 🥺🥺 16:41 ✔✔
Besok aja 16:41
BENER YAAAA 😍😍😍 16:41 ✔✔
Pelukan hangat juga nggak bakal nolak sih. 😉 16:42 ✔✔
Pelukan juga ya kan tinaaa? 16:42 ✔✔
Tinaaaa 🥺🥺🥺🥺🥺 16:42 ✔✔
Jangan mulai 16:42
Ya udah, gue tunggu di teras sambil minum teh. Lo tau kan teh sama kue itu nggak enak kalau dimakan sendirian? 16:43 ✔✔
Iya gue kesana 16:43
...****************...