Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 - Aku di Sini
Pesan Keiko tidak masuk karena ponsel Kelvin sudah mati sejak mobil hitam itu meninggalkan gerbang SMA Bina Bangsa.
Setelah mengantar Keiko sampai lobby, Kelvin sebenarnya hendak kembali ke kelas untuk mengambil helm. Baru dua langkah melewati parkiran, dia melihat Alphard hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Mobil itu terlalu bersih untuk halaman sekolah yang baru diguyur gerimis. Kacanya gelap, bannya masih mengilap, dan sopir yang turun dari kursi depan langsung membuat Kelvin ingin berbalik.
Pak Hendra berdiri di sana dengan kemeja putih rapi dan wajah yang selalu sulit dibaca.
"Pak Kelvin," katanya pelan. "Pak William meminta Anda pulang."
Kelvin memasukkan tangan ke saku jaket. "Gue ada urusan."
"Beliau bilang malam ini."
"Kalau gue bilang nggak?"
Pak Hendra tidak menjawab. Hanya matanya yang bergerak sebentar ke arah gerbang sekolah, tempat beberapa murid mulai melirik karena mobil itu terlalu mencolok. Kelvin tahu taktik itu. William Susanto tidak perlu datang sendiri untuk membuat orang merasa dipermalukan. Dia cukup mengirim mobil, orang, dan suasana yang mengatakan bahwa penolakan Kelvin akan menjadi tontonan.
Kelvin mengeluarkan ponsel. Ruang chat dengan Keiko masih terbuka. Pesan terakhir yang dia kirim hanya `Jangan lupa minum`. Belum ada balasan.
"Pak William meminta ponsel dimatikan selama perjalanan," kata Pak Hendra.
Kelvin tertawa tanpa suara. "Takut gue lapor polisi?"
"Saya hanya menyampaikan."
Untuk beberapa detik, Kelvin menatap layar ponsel. Foto profil Keiko kecil di sudut atas, wajahnya tersenyum lembut, seperti tidak pernah tahu bagaimana cara membuat dunia bising. Jempol Kelvin menggantung di atas keyboard.
Dia ingin menulis sesuatu. Apa pun. Jangan tunggu. Aku ada urusan. Kalau sakit, telepon Bu Tuti.
Tapi di depan gerbang, dua murid kelas lain sudah berbisik sambil memotret mobil. Kelvin mengunci layar, mematikan ponsel, lalu masuk ke kursi belakang tanpa membanting pintu.
Mobil melaju keluar dari Bandung menuju tol. Pak Hendra duduk di kursi depan, diam seperti patung. Di luar jendela, lampu jalan mulai menyala satu per satu. Kelvin bersandar, menatap bayangannya sendiri di kaca. Di pantulan itu, wajahnya terlihat tenang. Terlalu tenang.
Dia benci pulang.
Bukan karena rumah William Susanto tidak nyaman. Rumah itu besar, dingin, wangi kayu mahal dan pembersih lantai. Setiap sudutnya disusun untuk menunjukkan uang. Lampu gantung, tangga lebar, sofa yang tidak pernah diduduki sembarangan. Tapi bagi Kelvin, rumah itu selalu terasa seperti ruang tunggu sebelum hukuman.
Mereka sampai di Jakarta saat malam sudah turun penuh.
Di ruang tengah, Ethan Susanto berdiri di anak tangga dengan piyama bergambar mobil. Anak itu memegang boneka kecil dan menatap Kelvin dengan mata mengantuk.
"Kelvin?" panggilnya ragu.
Kelvin berhenti sebentar. Nada suaranya melembut tanpa dia rencanakan. "Tidur, Ethan."
"Papa marah?"
Sebelum Kelvin sempat menjawab, suara William Susanto datang dari ruang kerja.
"Kelvin."
Satu kata. Cukup untuk membuat Pak Hendra menunduk dan Ethan mundur setengah langkah.
Kelvin berjalan ke ruang kerja.
William berdiri di belakang meja besar, masih memakai kemeja kantor. Di depannya ada map sekolah, beberapa lembar nilai, dan satu foto yang dicetak dari entah mana. Foto itu memperlihatkan Kelvin di kantin SMA Bina Bangsa, duduk bersama Keiko, Bagas, dan Dimas. Dari sudut pengambilan, jelas itu bukan foto resmi sekolah.
"Jadi ini kegiatanmu di Bandung?" tanya William.
Kelvin melirik foto itu. "Belajar."
"Belajar?" William mengambil lembar nilai, mengetuk angka dengan ujung jari. "Dari ranking sampah naik sedikit, kamu pikir itu prestasi?"
Kelvin tidak menjawab.
"Saya kirim kamu ke Bandung bukan supaya kamu bermain keluarga dengan anak-anak tidak jelas." Suara William tetap datar. Justru itu yang membuat setiap katanya terasa seperti benda tumpul. "Nama Susanto bukan mainan."
"Gue nggak pernah minta nama itu."
Tangan William berhenti di atas meja.
Kelvin tahu kalimat itu akan dibayar mahal, tetapi lidahnya sudah telanjur bergerak. Di dalam saku, ponsel matinya terasa berat. Dia tiba-tiba teringat Keiko mungkin sudah sampai rumah sakit. Mungkin dia akan mengirim pesan. Mungkin dia akan menunggu.
Kelvin mengeluarkan ponsel, hendak menyalakannya.
"Saya belum selesai bicara."
"Gue cuma cek pesan."
"Dari siapa?" Mata William turun ke ponsel itu. "Gadis di foto?"
Kelvin menggenggam ponsel lebih erat.
William berjalan memutari meja. Sepatunya tidak bersuara di karpet tebal, tetapi setiap langkahnya membuat udara ruang kerja menyempit.
"Kamu bahkan tidak tahu posisi sendiri." William berhenti di depan Kelvin. "Kamu lahir dari perempuan yang membuangmu. Kamu besar karena nenekmu kasihan. Setelah nenekmu mati, siapa yang memberi kamu makan? Siapa yang membayar sekolahmu?"
Kelvin menatapnya. "Kalau mau dihitung, kirim invoice aja."
Tamparan itu datang cepat.
Kepala Kelvin terdorong ke samping. Tidak ada adegan besar, tidak ada teriakan. Hanya bunyi pendek telapak tangan mengenai kulit, lalu rasa panas menjalar dari pipi ke rahang. Dari pintu, terdengar Ethan menarik napas kecil sebelum Pak Hendra cepat menutup pintu ruang kerja.
William mengambil ponsel dari tangan Kelvin.
"Orang seperti kamu tidak butuh gangguan."
"Balikin."
"Gangguan membuat lumpur merasa dirinya pantas naik ke meja makan."
Kelvin mengangkat wajah. Matanya gelap.
William tersenyum tipis. "Ya. Kamu cuma lumpur, Kelvin. Kalau bukan karena darah Susanto, kamu bahkan tidak layak berdiri di rumah ini."
Ponsel itu dilempar ke lantai marmer.
Retaknya terdengar lebih keras daripada tamparan tadi.
Kelvin bergerak tanpa pikir. Dia membungkuk untuk mengambilnya, tetapi sepatu William lebih dulu menginjak layar yang sudah pecah. Sekali. Dua kali. Kaca berderak. Cahaya ponsel padam sepenuhnya.
Di kepala Kelvin, yang muncul bukan wajah William.
Yang muncul adalah kotak chat Keiko.
Kalau dia mengirim pesan, pesan itu tidak akan sampai.
"Mulai minggu depan, kamu pulang setiap akhir pekan," kata William. "Saya tidak mau dengar kamu bergaul dengan orang-orang yang membuatmu lupa diri. Setelah lulus, kamu ambil jurusan yang saya tentukan. Kamu akan belajar membantu Ethan mengurus perusahaan. Itu satu-satunya fungsi yang masih bisa kamu pakai."
Kelvin menatap pecahan ponsel di lantai. Di antara retakan kaca, pantulan wajahnya terbelah menjadi beberapa bagian.
"Dengar?"
Kelvin menelan rasa logam di mulutnya. "Dengar, Bos Susanto."
William menatapnya lama, lalu menunjuk pintu. "Keluar."
Malam itu Kelvin tidur di kamar tamu lantai dua, bukan kamar lama yang sudah lama dikunci. Pak Hendra datang diam-diam membawa kantong es kecil dan plester. Kelvin tidak bertanya apakah itu perintah William atau rasa bersalah Pak Hendra sendiri.
"Ada luka di tangan," kata Pak Hendra.
Kelvin baru sadar telapak tangannya berdarah tipis. Mungkin terkena serpihan kaca saat dia mencoba mengambil ponsel.
"Nggak usah."
"Pak Kelvin harus sekolah besok."
Kalimat itu membuat Kelvin tertawa pendek. Sekolah besok. Seolah malam ini hanya gangguan kecil, seperti hujan yang membuat jalan macet.
Pak Hendra tetap meletakkan kantong es di meja. "Kartu SIM-nya saya simpan. Mungkin masih bisa dipakai kalau nanti ada ponsel pengganti."
Kelvin menatap kantong kecil di telapak tangan Pak Hendra. Sesuatu di dadanya yang sejak tadi keras tiba-tiba bergerak sedikit.
"Thanks."
Pak Hendra mengangguk, lalu keluar.
Kelvin tidak tidur. Menjelang subuh, dia duduk di tepi ranjang, menatap kartu SIM yang terlalu kecil untuk menyimpan semua hal yang ingin dia jawab. Di Bandung, Yuan Yuan pasti mengeong di dekat pintu kontrakan karena dia tidak pulang. Di rumah sakit entah mana, Keiko mungkin sudah mengira dia sengaja menghilang.
Saat mobil mengantarnya kembali ke Bandung, langit masih abu-abu. Kelvin tidak membawa ponsel. Hanya kartu SIM di dompet, buku pelajaran, dan pipi yang masih menyimpan bekas panas.
Di kelas XI-IPA 4, kursi Kelvin kosong sampai bel pertama hampir berbunyi.
Keiko duduk di sebelah kursi itu dengan seragam bersih, tetapi wajahnya lebih pucat daripada kemarin. Bu Tuti berhasil menghilangkan noda bubur, namun tidak bisa menghapus cara Keiko terus melirik pintu. Bagas yang biasanya ribut juga menahan suara.
"Bang Kel belum balas chat gue juga," bisik Bagas. "Tumben banget."
Dimas menatap pintu. "Mungkin ada urusan."
Keiko menggenggam pulpen. Di layar ponselnya, pesan semalam masih centang satu.
Pintu kelas terbuka saat Pak Arif hendak memulai absen.
Kelvin masuk.
Rambutnya sedikit basah oleh kabut pagi. Seragamnya rapi, tetapi sudut bibirnya merah, dan di dekat rahang ada bekas samar yang tidak mungkin berasal dari tidur salah posisi. Pak Arif melihatnya, tatapan beliau mengeras sesaat, lalu melanjutkan absen seolah memberi Kelvin ruang untuk duduk lebih dulu.
Kelvin duduk di samping Keiko.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya suara kursi bergeser pelan, lalu napas Kelvin yang sedikit lebih berat dari biasa.
Keiko menoleh. "HP kamu?"
"Rusak."
"Kamu baik-baik saja?"
Kelvin melihat wajahnya. Matanya turun ke bibir Keiko yang lebih pucat, ke jari yang sejak tadi menekan perut, lalu kembali ke matanya.
"Kamu dulu," katanya. "Kemarin di rumah sakit gimana?"
Keiko terdiam.
Dua orang yang sama-sama berbohong dengan kalimat `nggak apa-apa` akhirnya saling menatap tanpa kalimat itu keluar.
Pak Arif mulai menjelaskan materi di depan kelas. Bagas membuka buku dengan hati-hati, Dimas menendang pelan kaki Bagas agar tidak bertanya macam-macam. Di tengah suara spidol menulis di papan, Kelvin merobek sudut kertas dari buku catatannya.
Dia menulis sesuatu dengan pulpen hitam, lalu menggeser kertas itu ke bawah buku Keiko.
Keiko menunduk.
Di kertas kecil itu hanya ada tiga kata.
**Aku di sini.**
Keiko menggenggam kertas itu di bawah meja. Kelvin tidak melihat ke arahnya lagi, seolah kalimat itu bukan hal penting. Tapi bahunya tetap dekat, cukup dekat untuk membuat ruang kelas yang penuh suara tiba-tiba terasa bisa ditinggali.
Untuk hari itu, mereka tidak perlu cerita semuanya.
Mereka hanya perlu tahu satu sama lain masih duduk di kursi yang sama.