"Ayo kita bercerai!"
Hana tiba-tiba diceraikan oleh Heston karena sang suami mengalami kecelakaan dan amnesia.
Dunia Hana hancur apalagi dia diceraikan dalam keadaan hamil.
Apa yang akan Hana lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Rumit
Kalau yang diharapkan Aston membuat Heston merasa terkejut setengah mati maka lelaki itu berhasil.
Heston sangat syok melihat Hana ada di perusahaan keluarganya.
Sialan kau, Aston!
Hana mengumpat dalam hatinya karena harus menghadapi Heston sepagi ini. Tentu dia sudah memperhitungkan hal ini sebelumnya.
Siap tidak siap, Hana harus menghadapi mantan suaminya itu.
"Selamat pagi, perkenalkan nama saya Hana," ucap Hana seolah tidak mengenal Heston.
"Hana akan bergabung dengan tim perencanaan," tambah Aston.
Heston ingin marah tapi dia harus menahan dirinya.
"Aku CEO di perusahaan ini, walaupun kedudukanku di bawah direktur brengsek itu tetap saja aku atasanmu. Jadi, pergilah ke ruanganku setelah ini," ucap Heston yang ingin bicara berdua dengan Hana.
"Tidak bisa karena direktur brengsek ini sudah memerintahkan Hana untuk menuju bagian personalia, dia harus mendapat identitas karyawannya beserta surat kontrak kerja," timpal Aston.
Kalau diteruskan pasti kakak beradik itu akan terus bersiteru.
Hana harus bisa memutus pembicaraan mereka berdua.
Kebetulan sekali asisten Aston sudah datang menghampiri mereka.
"Maaf, saya harus pergi," ucap Hana berpamitan.
Hana buru-buru pergi mengikuti asisten Aston sebelum interaksi mereka semua menjadi pusat perhatian.
Sebenarnya Heston ingin mengikuti Hana tapi Aston menahan adiknya itu.
"Kau mau kemana?" tegur Aston seraya melirik ke arah lift.
"Banyak pekerjaan yang menanti kita!"
Awalnya Heston hanya diam saja tapi setelah masuk ke dalam lift, dia mendorong tubuh Aston sampai membentur dinding.
"Apa rencanamu sebenarnya?" geram Heston. Dia tidak peduli kalau lelaki itu adalah kakak kandungnya.
"Aku sudah katakan dari awal, walau kau mengingat masa lalumu tidak akan bisa merubah keadaan jadi sekarang yang bisa aku lakukan adalah melindungi Hana," ucap Aston.
Heston sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia mengayunkan tinju ke wajah Aston karena emosi.
"Apa maksudmu? Kenapa kau berbuat sejauh ini?" cecar Heston.
"Apa tujuanmu, Aston? Dan dua anak itu, anak siapa?"
Aston menyeka sudut bibirnya yang terluka, dia tetap mengukir senyum walaupun sudah dipukul seperti itu.
TING!
Pintu lift terbuka, Aston segera memperbaiki penampilannya sebelum keluar.
"Jawaban semua dari pertanyaanmu ada di kepalamu," ucap Aston seraya berjalan keluar dari lift.
Heston melihat punggung sang kakak yang menjauh, dia berusaha mengendalikan diri. Seharusnya memang dia tidak memakai kekerasan.
Sementara di lobi perusahaan, Queen datang untuk berbicara dengan Heston.
Queen langsung masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai atas tetapi dia langsung memencet tombol pintu supaya lift tidak tertutup.
Perempuan itu melihat seseorang yang dia kenal.
"Hana..." Queen keluar dari lift dan menghampiri seseorang itu untuk memastikan.
Hana pada saat itu memang berjalan dengan asisten Aston setelah selesai menghadap bagian personalia.
"Nona Queen..." balas Hana dengan canggung.
"Jadi, benar kau Hana?" Queen merasa kebingungan. "Ada urusan apa kemari?"
"Itu..." Hana jadi salah tingkah tetapi dia harus menjelaskan pada Queen supaya perempuan itu tidak bertanya-tanya lagi. "Saya sudah tidak bekerja di butik dan akan bekerja di perusahaan ini!"
Queen justru tambah kebingungan mendengar penjelasan itu. Rasanya tidak mungkin Hana bisa masuk perusahaan keluarga Heston dengan mudah.
Entah kenapa Queen jadi memikirkan permintaan Heston sebelumnya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Hana berpamitan.
Queen menganggukkan kepalanya, dia menatap Hana sekaligus asisten Aston. Seolah Hana memang diperlakukan secara khusus.
"Apa aku berhak mencurigai Hana?" batin Queen yang ingin menepis segala dugaan di kepalanya.
Lebih baik dia segera menemui Heston.
agak lama yaa nunggu nya