"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 25
Hari-hari berikutnya, berjalan semakin rumit bagi Dinda. Semakin ia mencoba menenangkan dirinya, semakin banyak hal yang membuat hatinya goyah.
Ervin terus datang. Terus meminta kesempatan. Terus menunjukkan penyesalan yang semakin nyata dari hari ke hari.
Namun luka yang ditinggalkan pria itu juga belum benar-benar sembuh. Dan yang paling melelahkan—Dinda mulai merasa dirinya terjebak di tengah rasa kasihan dan cinta yang belum sepenuhnya mati.
Pagi itu, Dinda sedang membantu ibunya menjemur pakaian ketika suara mobil berhenti di depan rumah terdengar pelan. Wanita itu menoleh sekilas. Dan seperti dugaannya, Ervin kembali datang.
Pria itu turun dari mobil dengan wajah lelah yang semakin terlihat jelas akhir-akhir ini. Kemejanya kusut, matanya sembab. Bahkan... tubuhnya tampak jauh lebih kurus.
Sedangkan ibunya langsung menghela napas kecil. “Ngobrol baik-baik sana,” ujar wanita paruh baya itu sebelum masuk ke dalam rumah.
Kini hanya tersisa mereka berdua di halaman. Dan seperti biasa—suasana langsung terasa canggung.
“Aku ganggu?” tanya Ervin pelan.
“Nggak," singkat. Namun jawaban Dinda terdengar hambar. Tidak lagi sehangat dulu.
Pria itu menelan ludah pahit. Karena perubahan kecil itu terasa sangat menusuk baginya.
“Aku bawain makanan kesukaan kamu.” Tangannya mengangkat paper bag kecil yang sedari tadi ia bawa.
Namun Dinda hanya melirik sekilas. “Makasih.” Tidak ada antusias, tidak ada senyum kecil seperti biasanya.
Dan itu membuat dada Ervin terasa semakin sesak. “Aku boleh masuk?”
Untuk beberapa detik, Dinda hanya diam. Lalu akhirnya, mengangguk pelan. Mau bagaimanapun, Ervin masih memiliki ikatan status dengannya.
*****
Ruang tamu rumah itu kembali dipenuhi keheningan.
Ervin duduk di sofa sambil memperhatikan Dinda yang menuangkan air minum tanpa banyak bicara. Sangat berbeda.
Dulu, wanita itu selalu menyambutnya dengan cerita kecil. Tentang pekerjaan, tentang hal random yang ia lihat di jalan, atau sekadar ocehan ringan yang sering membuat rumah terasa hidup.
Namun sekarang—Dinda terlihat jauh.
“Dinda...” panggil Ervin pelan.
“Hm?”
“Aku boleh tanya sesuatu?” Wanita itu tak menyahuti, hanya menatapnya singkat.
“Apakah...” suara pria itu terdengar berat. “Masih ada sedikit kesempatan untukku?”
Deg.
Jantung Dinda langsung berdetak pelan. Namun kali ini, ia tidak menghindar. Tidak menangis, tidak pula marah. Wanita itu justru terlihat sangat tenang.
Dan entah kenapa—ketenangan itu malah membuat Ervin takut.
“Aku dulu percaya banget sama kamu, Mas.” Kalimat pertama itu langsung membuat dada pria tersebut terasa sesak.
“Sesibuk apa pun kamu, seaneh apa pun sikap kamu... aku selalu berusaha mikir baik.” Dinda menundukkan wajahnya pelan.
“Karena aku sayang sama kamu.” Lanjutnya.
Air mata Ervin mulai menggenang perlahan.
Sedangkan wanita itu melanjutkan kalimatnya dengan suara pelan—“Tapi ternyata semua ketakutan aku bener.”
Deg.
Ruangan terasa semakin sunyi.
“Aku kehilangan banyak hal sejak hari itu.” Tatapan Dinda mulai kosong. “Aku kehilangan rumah yang aku pertahanin mati-matian.”
“Aku kehilangan rasa percaya, dan...” napasnya bergetar pelan. “Aku kehilangan diriku sendiri.”
Tangis Ervin pecah tanpa suara, karena semua kalimat itu benar—sangat benar. Dan dirinya adalah penyebab semuanya.
“Aku tahu aku sampah, Din...” bisiknya serak. “Aku tahu aku jahat.” Ervin mengepalkan tangannya kuat.
"Kamu nggak jahat.” Dinda justru menggeleng. Ervin langsung mengangkat wajahnya cepat. Namun, Dinda tersenyum kecil penuh luka.
“Kalau Mas jahat, mungkin aku bakal lebih gampang benci.”
Kalimat itu sukses menghancurkan pertahanan terakhir Ervin. Karena itulah yang paling menyakitkan—mereka masih saling mencintai.
Namun cinta saja ternyata tidak cukup menyelamatkan semuanya.
“Aku nyesel tiap hari...” suara pria itu mulai bergetar hebat. “Aku rela ngelakuin apa aja asal kamu balik.”
Dinda memejamkan mata sesaat. Dan akhirnya—kalimat yang sejak lama tertahan itu keluar perlahan dari bibirnya.
“Kita pisah aja ya, Mas.”
Deg.
Dunia Ervin seolah berhenti saat itu juga. Pria itu langsung membeku di tempatnya.
Sedangkan Dinda, akhirnya menatapnya lurus dengan mata yang sudah dipenuhi air mata. “Aku capek...” Suara wanita itu terdengar sangat kecil.
Namun, hal itu cukup untuk menghancurkan seluruh isi dada Ervin.
“Aku bener-bener capek.” Dinda kembali terisak. Sungguh, dadanya terasa sangat penuh oleh amarah, dendam, dan sakit hati.
“Din, jangan...” suara pria itu langsung patah. “Jangan ngomong gitu.” Ervin mencoba untuk menghentikan istrinya. Namun,
“Aku udah bertahan semampu aku.” Air mata Dinda jatuh satu per satu.
“Aku udah berusaha jadi istri yang baik, aku berusaha ngerti semua sikap kamu, aku berusaha bertahan meski tiap malam ngerasa sendirian di rumah sendiri..."
Dan setiap kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk Ervin perlahan. Karena semuanya benar—semuanya nyata.
“Sekarang...” suara Dinda bergetar hebat. “Aku cuma pengen tenang.”
Ervin langsung bangkit dari duduknya. Pria itu berlutut di depan Dinda tanpa memedulikan harga dirinya lagi. Tangannya menggenggam jemari wanita tersebut erat.
“Jangan tinggalin aku...”
Tangisnya pecah saat itu juga. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah—Dinda melihat Ervin sehancur ini.
“Aku mohon...” suara pria itu nyaris tidak terdengar. “Aku nggak sanggup hidup tanpa kamu.”
Air mata Dinda semakin deras.
Karena melihat laki-laki yang ia cintai menangis di hadapannya ternyata jauh lebih menyakitkan dibanding yang ia bayangkan.
Namun luka di dalam dirinya juga terlalu besar.
“Aku juga nggak pernah pengen semua jadi begini...” lirihnya sambil menangis. “Tapi aku nggak bisa pura-pura baik-baik aja terus.”
“Kasih aku kesempatan terakhir.”
“Aku udah terlalu banyak ngasih kesempatan, Mas.” Kalimat itu langsung membuat Ervin kehilangan suara.
Benar. Dinda sudah memberinya terlalu banyak kesempatan. Dan semuanya justru berakhir semakin hancur.
“Empat tahun aku nunggu kita punya kehidupan yang bahagia,” lanjut wanita itu lirih. “Tapi sekarang tiap lihat kamu... yang aku inget malah sakitnya.”
Tangisan Ervin semakin pecah. Pria itu menundukkan wajahnya di pangkuan Dinda seperti orang kehilangan arah. Dan untuk pertama kalinya—ia benar-benar sadar bahwa dirinya mungkin akan kehilangan wanita itu selamanya.
“Aku cinta sama kamu...” bisiknya hancur. “Aku masih cinta banget sama kamu, Din.” Air mata Dinda jatuh tanpa henti ketika mendengar pengakuan suaminya.
“Sama, aku juga..."
Tubuh Ervin langsung membeku. Namun kalimat berikutnya justru menghancurkannya lebih dalam.
“Tapi cinta aja ternyata nggak cukup buat bikin aku tetap bertahan.”
Dan saat itu—untuk pertama kalinya,
Ervin benar-benar merasakan bagaimana rasanya kehilangan rumah yang selama ini selalu menunggunya pulang.