Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perusak Suasana
“Sena...” suara Puti Kirai berbisik lembut, ia duduk di tepian dipan bambu yang berderit pelan. “Kau baru saja melewati masa kritis. Sebaiknya istirahat dulu, jangan dipaksa bergerak.”
Sena, yang jiwanya baru saja pulang dari salju dingin Gunung Iga, masih merasa sesak. Ia meringkuk, mencoba menghalau bayangan samar Kaoru.
Dengan gerakan cepat—refleks seorang Shinobi—ia mengusap sisa air mata di sudut matanya, lalu berusaha duduk tegak, mencoba berpura-pura tegar seolah badai di kepalanya sudah reda.
“Putri,” Sapanya pendek. Ia merasa kikuk. Tatapan Puti Kirai begitu dalam dan bening, membuatnya merasa telanjang bulat, seolah seluruh rahasia gelap Hattori Zen bisa terbaca hanya dari garis wajahnya.
Sena memperhatikan pinggangnya sendiri yang dibalut kain bersih. Apa yang salah? Apa ada yang aneh pada tubunya?
Di tengah kebingungannya, Puti Kirai melontarkan pertanyaan yang seketika menghentikan detak jantungnya.
“Kaoru? Apa itu Kaoru? Apakah itu sebuah nama?”
Bagai disambar petir di siang bolong, Sena membeku. Lidahnya kelu. Haruskah ia jujur bahwa ia adalah seorang Jonin Iga yang jiwanya melintasi samudra dan hidup kembali dalam raga seorang remaja yang tewas di Harau? Tidak. Hattori Zen sudah mati terkubur salju. Sekarang yang ada hanya Sena.
“Hamba... hamba tak tahu, Putri,” jawab Sena parau, berusaha menenangkan debar jantungnya. “Hamba hanya bermimpi buruk. Mungkin itu hanya racauan yang tak bermakna.”
Puti Kirai mengangguk perlahan, namun matanya tidak bisa berbohong. Ia tahu Sena sedang membangun dinding rahasia. Tatapannya jatuh pada tangan Sena yang masih menggenggam erat kalung yang tergantung dilehernya. 'Apa kalung itu milik Kaoru?' tanyanya dalam hati.
Ada sedikit rasa nyeri dan sesak yang tak ia pahami muncul di dadanya.
“Ya sudah, berbaringlah. Aku akan membersihkan tubuhmu,” ucap Puti Kirai sambil meraih kain lap dari baskom air hangat.
Sena tersentak, ditarik paksa dari lamunannya. “Ee.. tidak perlu, Putri! Hamba bisa melakukannya sendiri. Anda adalah seorang putri... tidak pantas tangan mulia Anda mengerjakan hal serendah ini.”
Puti Kirai berhenti sejenak, ia menatap Sena dengan senyum penuh rencana. “Apa kamu masih menghormatiku sebagai Putri Dharmapuri?”
“Tentu saja, Putri. Sebagai rakyat, hamba sangat menghormati Anda.” Dahi Sena berkerut. Instingnya mencium ada jebakan di balik pertanyaan itu.
“Kalau begitu, ikuti perintahku sebagai putrimu. Berbaringlah.” Puti Kirai berkata dengan nada final yang tak bisa dibantah. Kemenangan kecil terpancar dari wajahnya.
Sena benar-benar tak berkutik. Seorang pembunuh paling ditakuti di Iga kini menyerah kalah pada perintah seorang gadis. Ia hanya bisa berbaring pasrah.
Puti Kirai mulai menyeka dada Sena dengan gerakan lembut yang penuh keikhlasan. Uap air hangat dan aroma herbal menyeruak, menciptakan suasana yang begitu tenang, hingga Sena hampir lupa bahwa ia sedang dalam pelarian.
Waktu terasa begitu lambat bagi Sena, tapi bagi Kirai, ia ingin berlama-lama dalam keadaan ini.
Sekaan lembut Kirai mengingatkannya kembali pada istrinya, dia terngiang rasa itu lagi sebelum dirinya menjalankan misi terakhir.
(“Anak kita lelaki atau perempuan ya, apa kamu sudah mencarikan nama untuk nya Kaoru?” Tanya Hattori mengelus perut besar istrinya.
Kaoru tersipu malu, pipinya merona, hanya gelengan kecil dengan suara imut malu-malu, “Masa.. Mada..“)
Hattori dalam raga Sena tersenyum getir, tapi Puti Kirai melirik dan menangkap senyum Sena.
Sang putri menunduk menyembunyikan rasa senangnya, jantung nya juga berdebar-debar. Beberapa kali ia menelan salivanya.
“E-hem!”
Sebuah deheman berat tiba-tiba membelah kesunyian bilik itu. Puti Kirai tersentak, kain lap di tangannya nyaris jatuh ke dada Sena. Suasana intim itu hancur seketika.
Datuk Lagang berdiri di ambang pintu bersama Mak Rangkayo. Dua orang pengawal bertopeng harimau berjaga di belakang mereka, diam seperti patung batu.
“Guru? Nenek?” Sapaan itu keluar dengan sangat canggung dari mulut Puti Kirai. Pipinya memerah padam hingga ke ujung telinga. Ia buru-buru berdiri dan mundur beberapa langkah, tak berani menatap mata neneknya.
Mak Rangkayo melangkah masuk. Aura di ruangan itu mendadak berubah dari hangat menjadi sedingin es. Matanya yang tajam langsung mengunci mata Sena—tatapan seorang elang yang sedang menilai sang harimau muda.
“Sepertinya waktu untuk bermesraan sudah habis, Kirai,” ucap Mak Rangkayo dingin, namun ada nada otoritas yang besar di sana. Ia berdiri di kaki dipan Sena. “Tanah Sumatera sedang tidak butuh lelaki yang hanya bisa berbaring. Kita butuh sesuatu yang lebih... tajam.”
Sena memalingkan wajah, menatap Mak Rangkayo dan Datuk Lagang bergantian. Sebuah senyum mencemooh tersungging di bibirnya saat matanya tertuju pada Datuk Lagang—sebuah senyum pahit dari seseorang yang merasa dikhianati.
"Jadi... Datuk mengenal Pasukan Harimau?" Suara Sena rendah, namun tajam seperti sembilu. "Lalu kenapa meminta para remaja Harau untuk tugas yang mempertaruhkan nyawa? Apa kami hanya pion yang bisa dibuang begitu saja?"
Pertanyaan pedas itu menghantam ruangan. Sena merasa dimanfaatkan. Ingatannya kembali pada unit Obake di Iga; para shinobi yang mati demi misi yang ternyata hanyalah sampah pengkhianatan. Ia tak mau menjadi alat untuk kedua kalinya dan itu sumpahnya untuk kehidupan keduanya ini.