Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.
Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.
Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Ia melihat Zidan yang saat itu sedang membuat sepetak lahan yang entah untuk apa.
"Mau ngapain sih pak? Jorok banget mana tanah nya lagi basah," ungkap Clara mendekati Zidan dan memperhatikan apa yang sedang suaminya lakukan.
"Saya ingin menanam stroberi di sini karena memang tanahnya sangat bagus, lihat apa lagi? Ayo cepat bantu," ungkap Zidan sambil melempar sesuatu ke arah Clara.
Itu adalah alat pengali lobang.
"Emangnya bisa begini nanam nya?" tanya Clara kebingungan.
"Coba saja," ungkap Zidan singkat.
Clara yang tidak pernah melakukan pekerjaan kotor pun merasa sangat jijik ia beberapa kali melompat hanya karena ada cacing kecil di tanah.
"Astaga jijik banget," kata Clara awal mula dia mengali lobang di tanah yang sudah di cangkulnya tersebut.
Sementara Zidan hanya menggeleng kepala melihat tingkah Clara.
Namun waktu terus berjalan, Clara mulai menikmati hal baru yang di ajarkan Zidan kepada nya, ia yang tidak pernah melakukan pekerjaan ini mulai merasa kalau itu sangat seru sekali bahkan lebih seru dari apapun.
"Eh ini apaan pak?" Tanya nya yang sedang asyik-asyiknya menanam malah menemukan butiran kecil berwarna putih dan juga sedikit kenyal.
"Sama mama nya kamu jijik, sama telur nya kamu pegang-pegang," ungkap Zidan lagi.
"Maksudnya?" Clara tak juga mengerti dan masih mengumpulkan benda-benda tersebut.
"Itu namanya telur cacing," jelas Zidan lagi.
Seketika Clara terduduk dan segera membuang-buang telur cacing yang sudah ia mainkan tersebut dengan wajah yang sedikit kotor ia terlihat sangat kaget.
Sungguh saat ini rasanya ingin sekali Zidan menertawakan Clara namun dia tidak ingin tertawa di hadapan Clara.
"Kok gak langsung bilang aja sih pak? Malah bertele-tele," kata Clara marah.
"Ya kan saya barusan sudah bilang kalau kamu jijik sama induk nya malah main telur nya," kata Zidan membela diri.
"Tetap aja," Clara tak mau kalah.
"Udah selesai ayo pulang dan segera mandi lihat lah betapa kotor nya kamu," Zidan mengemasi peralatan nya dan kemudian berjalan pergi dari taman belakang.
"Tungguin!" kata Clara yang bergegas bangkit dan mengikuti langkah kaki Zidan.
Mereka terlihat seperti adik dan kakak yang selalu bertengkar kapan saja dan di mana saja.
"Segera lah mandi, setelah itu aku akan mengajak mu ke suatu tempat," kata Zidan lagi.
"Kemana?" tanya Clara bersemangat.
"Ke tempat di mana kau tidak pernah pergi," ungkap Zidan yang kemudian masuk ke kamar nya.
"Tap ..." Belum sempat Clara mengajukan pertanyaan Zidan sudah menghilang dari pandangan nya.
Namun ia terasa sedikit bersemangat kali ini karena mereka akan keluar, jadi liburan hari pertama bagi Clara tak terlalu membosankan.
Setelah membersihkan diri, mengunakan pakaian bagus dan juga merapikan semuanya, Clara pun keluar dari kamar.
Kaki nya bergegas menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai bawah di mana Zidan sudah menunggu nya.
Kali ini Clara mengunakan dress putih selutut dan juga rambut yang di gerai rapih, ia sedikit berdandan cantik hari ini.
Sementara hal yang membuat Clara risih adalah, Zidan juga mengunakan kemeja putih dengan lengan di gulung dan celana hitam, mereka terlihat sedang couple saja.
"Kenapa diam ayo cepat," kata Zidan yang melihat Clara malah berhenti di tengah jalan.
"Kayaknya saya salah pake baju deh pak, boleh ganti dulu gak?" Clara hendak mengganti pakaian nya hanya karena terlihat senada dengan Zidan.
"Tidak perlu, sudah cocok, ayo cepat," kata Zidan tak memberikan waktu lagi.
"Ishh, ngeselin banget," umpat Clara mau tak mau harus mengikuti Zidan.
Mereka pun kembali meningalkan villa, entah kemana tujuan Zidan kali ini, yang jelas membuat Clara penasaran adalah tujuan utama nya.
Tiga puluh menit kemudian mereka pun akhirnya tiba di tempat tersebut.
"Ini? ... Ini pantai?" tanya Clara dengan mata membulat.
"Ya, jangan bilang kamu tidak tau kalau dekat dari sini ada pantai seindah ini," jawab Zidan.
"Ya emang gak tau, mama sama papa gak pernah ngajakin Clara ke sini, ke villa aja setahun sekali," ungkap Clara.
"Mama dan papa mu ternyata sangat sibuk ya," kata Zidan lagi.
"Ya gitu deh," ungkap Clara yang mulai menikmati keasrian alam di pantai tersebut.
"Malam ini kita akan menginap di sini," ungkap Zidan tiba-tiba.
"Hah? Tidur di pantai? Gak Clara gak mau pak, ada-ada aja deh," ungkap Clara kaget dan langsung menolak.
Namun Zidan tidak lagi menjawab nya, ia malah berjalan ke belakang mobil dan membuka bagasi mobil tersebut.
Clara yang mengikuti nya terlihat kaget karena di dalam bagasi mobil terdapat begitu banyak bahan makanan dan juga sebuah tenda.
"Ini kapan bapak bawa nya?" tanya Clara sambil menujuk arah dalam bagasi.
"Saat kamu berdandan begitu lama, lihat sudah banyak orang yang mendirikan tenda, pasti mereka tidak akan kembali dan akan menginap juga," ungkap Zidan sambil mengarahkan pandangan ke arah orang-orang yang sudah mulai mendirikan tenda.
Clara pun menatap ke arah orang-orang tersebut yang memang sedang sibuk menikmati suasana pantai dengan mendirikan tenda dan banyak kegiatan lainnya.
"Tapi kenapa tenda nya cuma satu pak, saya gak mau ya tidur satu tenda sama bapak," kata Clara lagi.
"Di villa hanya ada satu tenda, di sini juga banyak binatang buas Clara, tapi juga kamu tetap ingin punya tenda sendiri aku akan menyewanya," ungkap Zidan sambil mengeluarkan barang-barang yang dia bawa.
"Ngak apa-apa, sewa aja kan bikin tenda nya rame-rame di sini, tenda saya di bikin di samping tenda pak Zidan kan bisa," ujar Clara tetap tidak mau satu tenda.
"Baik kalau itu yang kamu mau," kata Zidan dengan tenang.
Satu jam pun berlalu, berdiri lah dua tenda yang saling berdekatan ya itu tenda Zidan dan juga Clara.
"Yey, akhirnya jadi," kata Clara segera masuk ke dalam tenda nya.
"Hey, mau apa kamu? Bantu saya merapikan bahan makanan dulu," kata Zidan kesal melihat Clara Yangs sedari tadi hanya bermain-main.
"Bawel banget, baru juga mau istirahat, yaudah sini di bantuin," kata Clara yang kemudian mulai membantu Zidan.
Hanya menginap satu malam saja namun begitu banyak bahan makanan yang di bawa oleh Zidan.
Suasana sudah semakin sore dan matahari sudah mulai ingin terbenam, Clara dan Zidan baru saja selesai merapikan tenda dan juga makanan mereka.
"Wahhh the sun has set, pak Zidan kita turun ke pantai ya sekarang saya pengen lihat matahari terbenam dari dekat," ungkap Clara terlihat bersemangat.
"Yaudah ayo, tapi hati-hati," kata Zidan menyetujui keinginan Clara.
Mereka pun turun ke pantai untuk melihat sunset, bukan hanya mereka tapi masih banyak orang-orang lain yang sudah lebih dahulu turun hanya karena ingin berfoto.
Bersambung ....