Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Tika, staf administrasi junior, melangkah masuk dengan ragu-ragu sambil membawa beberapa map biru. Matanya sempat melirik ke arah Kirana yang kini sudah berdiri tegak di posisi sekretaris klasiknya, lalu beralih ke Radit.
"M-maaf mengganggu, Pak Radit, Nona Kirana," Tika berdeham kecil, mencoba mencairkan atmosfer ruangan yang mendadak terasa canggung. "Ini adalah berkas penyesuaian anggaran untuk proyek koridor timur yang baru saja dialihkan ke bawah pengawasan langsung CEO. Tim keuangan membutuhkan tanda tangan Anda sore ini agar dana pertama bisa segera dicairkan ke vendor".
Radit mengambil pulpen emasnya, menarik map-map tersebut ke hadapannya. Sebelum menandatanganinya, dia melirik ke arah Kirana dengan senyuman tipis yang sarat akan arti tersembunyi.
"Sekretaris Kirana, apakah Anda sudah memeriksa lembar analisis resiko untuk dokumen ini?" tanya Radit dengan nada menguji yang biasa dia lakukan dulu.
Kirana menaikkan sebelah alisnya, mata bulatnya berkilat lucu di balik lensa kacamatanya.
"Sudah, Pak Radit. Seluruh mitigasi resiko hukum dan finansial sudah saya selesaikan sejak jam sepuluh pagi tadi. Anda hanya perlu menandatanganinya tanpa perlu khawatir akan adanya... interupsi dari pihak ketiga".
Radit terkekeh pelan, lalu menggoreskan tanda tangannya di atas kertas tebal tersebut dengan gerakan mantap. Dia menyerahkan kembali map itu kepada Tika yang langsung menerimanya dengan anggukan takzim sebelum bergegas keluar dari ruangan.
Setelah pintu kembali tertutup, Radit bersandar di kursinya, menatap Kirana dengan pandangan penuh kemenangan.
"Jadi, Sekretaris Utama Kirana Larasati," ujar Radit, suaranya melembut saat menyebut nama lengkap wanita itu. "Berhubung semua dokumen penting hari ini sudah selesai ditandatangani, dan tim IT kita sudah memastikan tidak ada lagi 'bom waktu' digital yang tersisa di server... Apakah kita bisa mulai membahas rencana keberangkatan kita ke Bali akhir bulan nanti?"
Kirana berjalan mendekati dinding kaca, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang kini tampak begitu cerah di bawah langit biru. Untuk pertama kalinya, masa depan tidak lagi terlihat seperti untaian resiko yang harus dia kalkulasi, melainkan sebuah petualangan baru yang siap dia jalani.
"Tentu saja, Radit," Kirana berbalik, tersenyum lepas tanpa beban sedikit pun. "Tapi dengan satu syarat. Jangan biarkan Ibu Sofia memasukkan agenda rapat kerja ke dalam susunan acara pertunangan kita".
Radit tertawa lepas, sebuah suara renyah yang memenuhi seluruh ruangan CEO, menandakan bahwa badai telah sepenuhnya berlalu, dan lembaran baru kehidupan mereka telah resmi dimulai.
___
Transisi dari ruangan Sekretaris Utama menuju ruang kantor Direktur Operasional di lantai 29 ternyata tidak semulus yang Kirana bayangkan. Meskipun faksi Pak Baskoro sudah lumpuh total dan surat keputusan pengangkatannya sudah ditandatangani langsung oleh Radit dengan cap resmi perusahaan, aroma resistensi tetap tercium pekat di lantai korporat.
Hari Senin pertama pasca-kepulangan mereka dari Bali, Kirana berdiri di depan pintu kaca buram bertuliskan 'Chief Operating Officer — Kirana Larasati'. Dia tidak lagi membawa map kulit hitam sekretarisnya, melainkan sebuah tas kerja kulit buatan desainer lokal yang elegan. Pakaiannya hari ini adalah setelan celana panjang dan blazer berpotongan tegas berwarna zamrud, tanpa kacamata tebal yang biasa dia gunakan sebagai tameng.
"Selamat pagi, Ibu Kirana," sapa seorang wanita muda bernama Alia, sekretaris baru yang ditunjuk untuk membantunya. Alia tampak sedikit tegang, tangannya agak gemetar saat menyerahkan berkas laporan pertama. "Ini... draf agenda untuk rapat dengar pendapat dengan para Kepala Divisi regional koridor timur pukul sepuluh nanti, Bu".
Kirana mengambil berkas tersebut, memberikan senyuman hangat untuk menenangkan sekretaris barunya.
"Terima kasih, Alia. Tolong siapkan juga berkas audit fisik lahan yang sempat tertunda dua minggu lalu".
Begitu masuk ke dalam ruang kerjanya yang baru, yang luasnya hampir menyamai ruangan Radit namun dengan dekorasi yang lebih feminin dan minimalis. Kirana langsung meletakkan tasnya dan memeriksa dokumen di atas meja. Di lembar pertama agenda rapat, sebuah nama langsung membuat alisnya bertaut tajam.
*Amar Wijaja* Kepala Divisi Regional Koridor Timur.
Amar adalah seorang veteran di Baskara Group yang telah mengabdi selama hampir lima belas tahun. Dia dikenal sebagai orang yang netral selama konflik Radit dan Pak Baskoro, namun semua orang di lantai eksekutif tahu bahwa Amar adalah pria dengan ego patriarki yang sangat tinggi. Bagi pria seperti Amar, melihat seorang mantan sekretaris muda berusia dua puluh tujuh tahun tiba-tiba melompat menjadi bosnya langsung adalah sebuah penghinaan tak tertulis.
Tok... Tok...
Pintu ruangannya diketuk, dan sebelum Kirana sempat mempersilakan masuk, pintu itu sudah terbuka. Radit melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelapnya, sambil membawa dua cangkir kopi panas di tangannya.
"Bagaimana rasanya duduk di kursi baru, Direktur Kirana?" goda Radit, meletakkan salah satu cangkir kopi di atas meja kerja Kirana, lalu mendudukkan diri di kursi yang ada di hadapan meja tersebut.
Kirana mendongak, ketegangan di wajahnya sedikit mencair saat melihat kekasihnya.
"Kursinya terlalu empuk, Pak CEO. Dan ruangannya terlalu sepi tanpa suara ketukan pulpenmu yang menyebalkan itu".
Radit tertawa renyah, bersandar pada sandaran kursi. Namun, binar usil di matanya dengan cepat berubah menjadi tatapan serius saat melihat dokumen yang sedang dipegang Kirana.
"Kamu sedang membaca profil Amar Wijaja?"
"Ya," Kirana mengangguk, memutar layar tabletnya agar Radit bisa melihatnya. "Rapat pertama saya sebagai COO adalah dengan dia dan timnya dalam waktu satu jam lagi. Saya tahu ini tidak akan berjalan mudah. Amar memegang kendali atas seluruh mandor dan pembebasan lahan di koridor timur selama tujuh tahun terakhir. Dia punya akar yang kuat di sana".
Radit menyesap kopinya, matanya menyipit penuh kalkulasi. "Amar memang bersih dari aliran dana ilegal Baskoro berdasarkan audit kita kemaren, tapi dia tipe orang yang tidak suka diperintah oleh orang yang dianggapnya 'anak kemaren sore'. Dia sengaja mengajukan rapat dengar pendapat ini di hari pertamamu untuk menguji mentalmu, Kirana".
Radit menegakkan tubuhnya, mengulurkan tangan di atas meja untuk menggenggam jemari Kirana sejenak, untuk memberikan dukungan moral yang nyata.
"Ingat, kamu tidak berdiri di sana sendirian. Gunakan gaya analisismu yang kejam itu untuk memotong egonya sebelum dia sempat menembakkan peluru pertamanya".
Kirana membalas genggaman tangan Radit, seulas senyuman penuh tekad terukir di wajah anggunnya.
"Jangan khawatir, Radit. Saya menghabiskan waktu lima tahun untuk mempelajari cara Anda menghadapi orang-orang keras kepala seperti dia. Saya tahu apa yang harus saya lakukan".
Pukul sepuluh tepat. Ruang rapat Divisi Operasional lantai 29 dipenuhi oleh hawa dingin AC yang mendadak terasa mencekam. Enam orang kepala sub-divisi regional sudah duduk rapi, sementara Amar Wijaja duduk di ujung meja dengan melipat tangan di dada, memancarkan aura ketidaksenangan yang sangat kentara.
Begitu Kirana melangkah masuk ke dalam ruangan, tidak ada satu pun dari mereka yang berdiri untuk menyambutnya, sebuah pelanggaran etika protokol korporat yang sengaja dilakukan untuk menjatuhkan mental Kirana di menit pertama.
Kirana tidak memprotes. Dia berjalan dengan langkah anggun menuju kursi pimpinan rapat di ujung meja yang lain, meletakkan tabletnya dengan ketukan yang cukup keras hingga memecah keheningan ruangan.
"Selamat pagi, semuanya," Kirana membuka rapat dengan nada suara yang jernih, stabil, dan penuh otoritas. "Karna waktu kita sangat berharga, mari kita langsung masuk ke agenda utama. Evaluasi keterlambatan progres pembangunan tahap dua di koridor timur".
Amar Wijaja menegakkan duduknya, berdeham keras sebelum memotong ucapan Kirana dengan senyuman sinis yang meremehkan.
"Maaf, Ibu COO yang baru," kata Amar, menekankan kata 'baru' dengan intonasi yang mengejek. "Sebelum kita membahas progres teknis yang rumit di lapangan, saya rasa ada hal yang lebih mendasar yang perlu kita luruskan di ruangan ini. Lapangan koridor timur itu keras. Isinya adalah konflik premanisme, sengketa mafia tanah, dan negosiasi birokrasi yang kotor. Kami di sini menghormati keputusan Pak Radit, tapi... Apakah seorang wanita yang terbiasa mengurus jadwal harian dan menyeduh kopi di lantai eksekutif benar-benar mengerti apa yang terjadi di lumpur proyek?"
Dua orang kepala sub-divisi di samping Amar tampak menahan senyum, mengangguk setuju atas keberanian bos mereka yang langsung menyerang latar belakang Kirana sebagai mantan sekretaris.
Kirana tidak terkejut. Serangan personal seperti ini sudah dia prediksi sejak di rumah Radit semalam. Dia tidak membalas dengan kemarahan. Sebaliknya, Kirana justru menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap Amar Wijaja dengan pandangan mata yang sangat tenang namun sedingin es.
Jari-jemarinya mengetuk layar tablet, dan sedetik kemudian, layar proyektor besar di belakangnya menyala, menampilkan grafik pengeluaran dana taktis Divisi Regional Timur selama tiga tahun terakhir.
"Saya sangat menghargai kekhawatiran Anda mengenai lumpur proyek, Pak Amar," ujar Kirana, suaranya sangat datar namun memiliki daya tekan yang luar biasa. "Dan karena saya sangat peduli pada 'lumpur' tersebut, saya menghabiskan akhir pekan kemaren untuk memeriksa setiap sen dari pengeluaran dana taktis yang Anda tanda tangani".
Kirana memperbesar salah satu poin data di layar proyektor.
"Di sini tertera pengeluaran sebesar empat miliar rupiah untuk biaya 'koordinasi keamanan' dengan organisasi masyarakat lokal di area Cikarang sepanjang tahun 2025. Masalahnya adalah... organisasi masyarakat yang Anda sebutkan di dalam kuitansi ini sudah resmi dibubarkan oleh pemerintah sejak tahun 2024".
Suasana ruang rapat seketika berubah menjadi senyap, seolah-olah seluruh oksigen di dalam ruangan itu mendadak disedot keluar. Wajah Amar Wijaja yang tadinya merah karena sombong, kini mendadak berubah menjadi kaku dengan rahang yang mengeras.
"A-apa maksud Anda?" desis Amar, matanya menyipit tajam. "Itu adalah biaya lapangan yang tidak semuanya bisa dicatat secara administratif dengan rapi!".