Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Batu Meteorit Kekosongan dan Nona Arogan
Batu kristal berwarna perak kehitaman itu menggelinding pelan di atas lantai marmer, berhenti tepat beberapa langkah dari ujung sepatu Lin Chen.
Batu itu tidak terlihat istimewa bagi mata orang awam, hanya seperti bongkahan besi tua. Namun, di mata Lin Chen dan gurunya, batu itu memancarkan aura purba yang sangat pekat, aura dari luar dunia ini!
"Hei, pengawal! Ambilkan batu itu!" perintah gadis berbaju sutra merah itu dengan nada tinggi. "Warnanya lumayan unik, cocok untuk dijadikan bandul kalung anjing peliharaanku di rumah."
Gadis itu adalah Liu Ruyan, Nona Muda dari Keluarga Liu, salah satu keluarga pedagang pil terbesar di Ibukota. Di Benua Tengah, mereka yang memakai sutra merah dengan lambang koin emas adalah orang-orang yang tidak boleh disinggung.
"Baik, Nona!" Seorang pengawal berbadan besar, yang kultivasinya berada di tahap Pembangunan Fondasi akhir, langsung melangkah maju untuk memungut batu tersebut.
Sementara itu, gadis kecil berpakaian lusuh yang tadi didorong jatuh menangis tersedu-sedu. Tangannya yang kotor meraih-raih udara. "J-Jangan ambil batu itu... Nyonya, tolong... Itu satu-satunya harta peninggalan ayahku. Aku ingin menukarnya dengan pil penyembuh untuk kakekku yang sedang sekarat..."
"Diam kau, pengemis kotor! Berani sekali kau berteriak di depanku!" Liu Ruyan mendengus jijik, bersiap mengangkat kakinya untuk menendang gadis kecil itu lagi.
Namun, sebelum kaki Liu Ruyan mengenai gadis kecil itu, dan sebelum tangan pengawalnya menyentuh batu kristal tersebut...
Sebuah sepatu kain yang sederhana melangkah maju dan menginjak batu itu dengan pelan.
Pengawal berbadan besar itu mendongak dan melihat seorang pemuda berpakaian pelayan menatapnya dengan wajah sedatar tembok.
"Tanganmu kotor. Jangan sembarangan memungut barang milik orang lain," kata Lin Chen santai.
Lin Chen membungkuk, mengambil kristal perak kehitaman itu. Begitu batu itu bersentuhan dengan telapak tangannya, Inti Bintang Petir di dalam perut Lin Chen langsung berputar liar, seolah-olah singa yang baru saja melihat daging segar.
"Bagus! Sangat bagus!" tawa Guru Lin Tian meledak di kepala Lin Chen. "Energi ruang di dalam batu ini sangat murni! Dengan ini, kau bisa melapisi Inti Bintangmu dan membuat fisikmu menembus batas kebal senjata tingkat Surga!"
Lin Chen menyembunyikan kegembiraannya. Ia tidak mempedulikan pengawal dan gadis arogan di depannya. Ia berjongkok di depan gadis kecil yang menangis itu, lalu tersenyum ramah—sebuah senyum tulus yang jarang ia perlihatkan.
"Adik kecil, siapa namamu?" tanya Lin Chen lembut.
"N-Namaku Xiao Ya, Tuan..." jawab gadis kecil itu ketakutan.
"Xiao Ya, batu ini sangat berharga. Obat apa yang kau butuhkan untuk kakekmu?"
Mendengar itu, Su Yue yang sejak tadi berdiri di belakang Lin Chen melangkah maju. Hatinya yang lembut sebagai seorang alkemis mudah tersentuh. Ia berjongkok di samping Lin Chen dan memegang tangan Xiao Ya.
"Biar Kakak lihat," kata Su Yue. Ia memeriksa denyut nadi gadis kecil itu untuk melihat penyakit bawaan di keluarganya. "Ah, ini racun uap rawa. Kakekmu pasti mantan penambang."
Su Yue mengeluarkan sebuah botol giok kecil dari Cincin Penyimpanannya. "Ini adalah Pil Pembersih Sumsum tingkat tiga. Ini akan langsung menyembuhkan kakekmu dan membuat tubuhnya lebih kuat. Kakak juga memberimu seratus Batu Roh Tingkat Menengah. Gunakan untuk membeli makanan dan pakaian yang layak, ya."
Xiao Ya terbelalak. Pil tingkat tiga dan seratus batu roh?! Baginya, itu adalah kekayaan yang tidak bisa dihabiskan seumur hidup! Gadis kecil itu langsung bersujud sambil menangis penuh syukur. "T-Terima kasih, Tuan! Terima kasih, Kakak Peri!"
"Sama-sama. Sekarang, cepat pulang sebelum ada orang jahat yang merampasnya," pesan Lin Chen, memasukkan Batu Meteorit Kekosongan itu ke dalam sakunya.
Namun, adegan mengharukan itu langsung dirusak oleh suara melengking yang memekakkan telinga.
"HEI! PELAYAN RENDAHAN! BERANINYA KAU MENGABAIKANKU?!"
Liu Ruyan berteriak histeris. Wajahnya merah padam. Sebagai Nona Muda, diabaikan adalah penghinaan terbesar. Ditambah lagi, pelayan itu berani mengambil batu yang ia inginkan!
"Pengawal! Patahkan kaki pemuda itu! Robek mulut gadis jalang di sebelahnya, dan ambil kembali batu itu untukku!" perintah Liu Ruyan dengan mata membelalak marah.
Keempat pengawalnya langsung menghunus pedang dan menerjang ke arah Lin Chen. Hawa membunuh dari kultivator Pembangunan Fondasi langsung menyapu pelataran balai pendaftaran.
Para alkemis muda lain yang sedang mengantre buru-buru menyingkir.
"Habislah pemuda itu. Menyinggung Nona Keluarga Liu sama saja mencari mati di Ibukota!" bisik kerumunan.
Melihat empat pedang spiritual mengarah padanya, Lin Chen bahkan tidak berdiri dari posisi jongkoknya. Ia hanya menoleh sedikit. Matanya yang gelap memancarkan kedinginan yang membuat darah keempat pengawal itu serasa membeku.
Lin Chen mengangkat tangan kanannya dan mengibaskan lengan jubahnya dengan sangat pelan, layaknya sedang mengusir debu.
WUUUSSS!
Sebuah badai tekanan fisik murni meledak dari kibasan lengan jubah itu. Ruang di depan Lin Chen seolah terdistorsi sejenak.
BAM! BAM! BAM! BAM!
Keempat pengawal berbadan besar itu menjerit keras. Tubuh mereka seolah ditabrak oleh gunung baja yang terbang. Mereka terpental mundur belasan meter di udara, memuntahkan darah, dan menabrak pilar marmer balai pendaftaran hingga pingsan seketika!
Suasana langsung hening. Mata semua orang hampir copot dari tempatnya.
Mengalahkan empat kultivator Pembangunan Fondasi... hanya dengan mengibaskan lengan baju?! Sambil berjongkok pula?!
Liu Ruyan ternganga lebar. Wajah angkuhnya seketika berubah menjadi pucat pasi. Langkahnya mundur dengan gemetar. "K-Kau... kau menggunakan sihir apa?!"
Lin Chen berdiri perlahan. Tingginya membuat bayangannya menutupi Liu Ruyan.
"Kau menginginkan batuku?" suara Lin Chen datar, tapi terdengar seperti lonceng kematian di telinga Liu Ruyan.
"B-Beraninya kau menatapku seperti itu!" Liu Ruyan merasa terancam, namun kesombongan bangsawannya menolak menyerah. Ia mencabut sebuah cambuk merah berduri dari pinggangnya. Cambuk itu memancarkan asap beracun yang tebal.
Jurus Cambuk Ular Berbisa!
Liu Ruyan melecutkan cambuknya langsung ke wajah Lin Chen dengan niat merusak wajah pemuda itu.
Lin Chen mendesah bosan. Tanpa menghindar, ia mengangkat tangan kirinya dan menangkap ujung cambuk berduri yang beracun itu dengan tangan kosong!
Tak!
Asap racun dari cambuk itu mencoba meresap ke kulit Lin Chen, namun jangankan menembus, membuat goresan merah saja racun itu gagal total. Kulit baja Lin Chen benar-benar tidak bisa ditembus oleh mainan anak-anak seperti ini.
"Lepaskan cambukku!" jerit Liu Ruyan panik, berusaha menariknya.
"Orang tuamu tidak mengajarimu tata krama di tempat umum," kata Lin Chen dingin. "Biar aku yang mewakili mereka mendidikmu."
Lin Chen menarik cambuk itu dengan sedikit tenaga. Liu Ruyan langsung tertarik maju ke depan, kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya melayang.
Tepat saat wajah gadis arogan itu berada di depannya, tangan kanan Lin Chen melayang lurus.
PLAAAAAKKK!!!
Sebuah tamparan yang sangat jernih dan keras bergema di seluruh pelataran balai pendaftaran.
Kekuatan tamparan itu langsung menghancurkan pertahanan Qi di wajah Liu Ruyan. Gadis itu terlempar memutar di udara, memuntahkan beberapa butir gigi, dan mendarat keras di lantai marmer dengan wajah membengkak sebesar bola.
"Uwaaa... wuu..." Liu Ruyan merintih, air matanya tumpah merusak riasan mahalnya. Separuh wajahnya lumpuh seketika, dan kesombongannya hancur lebur tanpa sisa di depan ribuan mata yang menonton.
Lin Chen membuang cambuk itu ke tanah dengan jijik.
"Jika kau atau keluargamu ingin balas dendam, datanglah padaku. Tapi pastikan kalian membawa peti mati yang cukup untuk seluruh anggota keluarga," ucap Lin Chen dengan tenang, seolah baru saja mengatakan hal yang paling biasa di dunia.
Ia kemudian membalikkan badan, menatap Su Yue yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum pasrah. Baru beberapa jam di kota ini, asistennya itu sudah menampar dua pewaris keluarga besar.
"Ayo masuk, Kakak Senior. Kita harus mendaftar sebelum loketnya tutup," ajak Lin Chen santai.
Su Yue mengangguk, lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam Balai Pendaftaran, meninggalkan kerumunan yang masih membeku dalam keheningan total.
Begitu sosok Lin Chen hilang di balik pintu, barulah kerumunan meledak dalam bisik-bisik yang riuh rendah.
"Astaga... Siapa pemuda berjubah pelayan itu?! Kejam sekali serangannya!"
"Aku baru saja mendapat kabar dari gerbang timur! Tuan Muda Wang Teng juga baru saja ditampar hingga pingsan oleh seorang pemuda yang ciri-cirinya persis dengannya!"
"Gila! Dia menampar pewaris Keluarga Wang dan Keluarga Liu di hari yang sama?! Ibukota Benua Tengah akan gempar malam ini!"
Di dalam Balai Pendaftaran yang mewah dan tenang, Lin Chen menyentuh sakunya. Batu Meteorit Kekosongan itu terasa hangat.
"Guru, seberapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menyerap batu ini?" tanya Lin Chen dalam hati.
"Dengan kekuatan Inti Bintangmu saat ini, butuh waktu semalaman," jawab Lin Tian. "Malam ini, cari penginapan yang tenang. Setelah kau menyerap elemen ruang di dalam meteorit ini, Tubuh Baja akan berevolusi menjadi Tubuh Ruang Hampa. Saat itu terjadi, tidak ada serangan di bawah tahap Jiwa Baru Lahir yang bisa menyentuh bajumu!"
Lin Chen tersenyum tipis mendengarnya.
Sementara itu, Su Yue berjalan menuju meja resepsionis. Di sana duduk seorang pria tua berjubah putih dengan emblem alkemis tingkat empat.
"Permisi, Tetua. Saya ingin mendaftar untuk Turnamen Seratus Api," kata Su Yue dengan sopan.
Tetua itu melirik Su Yue dari balik kacamatanya. Ia melihat lencana alkemis tingkat dua di dada Su Yue dan mencibir pelan.
"Gadis muda, Turnamen Seratus Api bukan tempat bermain. Dari daerah mana asalmu? Apakah kau memiliki surat rekomendasi dari sekte bintang empat atau dari Kuil Suci?" tanya Tetua itu meremehkan.
"Saya dari Sekte Pedang Awan di wilayah pinggiran. Saya tidak punya surat rekomendasi," jawab Su Yue jujur. "Tapi bukankah turnamen ini terbuka untuk siapa saja yang bisa lulus ujian kualifikasi?"
Mendengar kata 'wilayah pinggiran', beberapa alkemis lokal yang sedang mendaftar di sebelah Su Yue langsung tertawa mengejek.
"Hahaha! Alkemis dari pinggiran berani ikut Turnamen Seratus Api? Mereka tahu cara menyalakan api saja tidak?!" ejek seorang pemuda berambut hijau.
Tetua pendaftaran itu mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya. "Tanpa rekomendasi, kau harus melewati Jalur Ujian Api Neraka. Ini adalah tes untuk melihat apakah apimu cukup kuat untuk menahan tekanan tungku legendaris. Sembilan dari sepuluh orang gagal dan apinya padam. Apakah kau yakin ingin membuang waktumu?"
Su Yue tidak goyah. Matanya memancarkan tekad yang kuat. Ia menoleh ke belakang, menatap Lin Chen yang sedang bersandar di pilar sambil tersenyum memberinya semangat.
"Saya sangat yakin, Tetua," jawab Su Yue mantap. "Tunjukkan pada saya di mana ujiannya."