"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Cahaya fajar Paris perlahan menyelinap masuk melalui celah-celah tirai tipis Katara Suite, membawa pendar keemasan yang lembut dan hangat ke dalam kamar tidur utama. Sisa-sisa hawa dingin musim gugur yang mengetuk kaca jendela sama sekali tidak mampu menembus kehangatan selimut bulu angsa tebal yang membungkus ranjang berukuran king-size tersebut.
Di tengah keheningan pagi yang begitu damai, Gaby perlahan membuka kedua kelopak matanya. Sentuhan sutra kasur yang empuk dan aroma maskulin perpaduan kayu cendana yang teramat akrab langsung menyambut kesadarannya. Rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat Gaby melayangkan pandangan ke bawah, dan seketika itu juga, seulas senyuman paling tulus dan manis merekah di bibir ranumnya.
Di sana, bersandar dengan begitu nyaman di atas dada bidang Gaby, sosok Edgar Emiliano Addison masih terlelap dengan sangat damai.
Pria matang yang biasanya selalu tampil dominan, berwibawa dan memancarkan aura intimidasi yang ditakuti oleh ribuan kolega bisnisnya di seluruh dunia, kini menjelma menjadi sosok yang teramat tenang dan rapuh di dalam kuasanya. Wajah tegasnya tampak rileks; rahangnya yang kokoh tidak lagi mengeras, dan napasnya berembus teratur dengan ritme yang dalam, menerpa permukaan kulit leher Gaby yang sensitif, menimbulkan sensasi getaran halus yang menggelitik.
Satu lengan kekar Edgar melingkar erat di pinggang ramping Gaby, mengunci tubuh mungil istrinya agar tetap menempel tanpa jarak pada tubuh tegapnya yang polos di balik selimut. Gaby membiarkan jemari tangannya yang bebas bergerak lambat, menyusuri helai-helai rambut hitam suaminya yang sedikit acak-acakan pagi ini, lalu turun mengusap lembut garis alis tebal Edgar yang selalu berkerut tajam jika pria itu sedang berpikir keras di balik meja kerjanya.
Mengingat apa yang terjadi semalam, detak jantung Gaby mendadak berdegup maraton kembali. Pipinya terasa memanas, terbakar oleh rona merah alami yang menjalar hingga ke leher.
Semalam, setelah percakapan berat tentang masa depan, anak-anak, dan ketakutan mendalam Gaby akan kehilangan sosok pelindungnya, Edgar telah membuktikan seluruh janjinya lewat tindakan nyata. Di bawah pendar temaram lampu kamar dan saksi bisu keindahan Paris, mereka akhirnya menuntaskan malam pertama mereka yang telah lama tertunda sejak hari pernikahan mereka di Jakarta.
Malam pertama yang tertunda itu tidak berjalan dengan ketergesaan yang kasar, melainkan dipenuhi oleh kelembutan, rasa takzim, dan gairah matang seorang pria dewasa yang memperlakukan wanitanya bak sebuah mahakarya yang teramat berharga. Edgar memanjakan setiap jengkal tubuh Gaby dengan kecupan-kecupan dalam yang menuntut namun sarat akan rasa cinta yang begitu pekat. Pria mahal itu berkali-kali membisikkan kata-kata kepemilikan mutlak di telinga Gaby, menghapus seluruh sisa trauma pengkhianatan masa lalu dan menggantikannya dengan rasa aman yang mengakar sampai ke ulu hati.
Bagi Gaby, penyatuan semalam bukan sekadar pemenuhan kewajiban atas kertas kontrak pernikahan, melainkan sebuah gerbang penyembuhan jiwa yang sempurna. Edgar telah benar-benar meruntuhkan dinding pertahanan terakhirnya, membuatnya menyerahkan seluruh jiwa dan raganya tanpa ada sedikit pun keraguan yang tersisa.
"Eungh..."
Sebuah lenguhan rendah dan serak keluar dari bibir Edgar. Gerakan jemari Gaby di pelipisnya rupanya telah perlahan membangunkan sang penguasa Addison dari tidur nyenyaknya.
Kelopak mata Edgar perlahan terbuka, menampilkan sepasang manik mata elang yang semula sayu karena kantuk, namun sedetik kemudian langsung berkilat fokus begitu menangkap wajah cantik Gaby yang sedang menatapnya dari atas.
Bukannya langsung bangkit atau menjauh, Edgar justru semakin menenggelamkan wajah tegasnya di ceruk leher Gaby, menghirup aroma harum tubuh istrinya dengan tarikan napas yang dalam dan panjang, seperti seorang pria yang telah menemukan candu sejatinya. Cengkeraman lengannya di pinggang Gaby pun semakin mengetat, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada lagi udara yang bisa membatasi kedekatan mereka.
"Selamat pagi, Ratu-ku," bisik Edgar, suaranya terdengar begitu berat, serak khas bangun tidur, dan bergetar seksi tepat di permukaan kulit leher Gaby.
Gaby terkekeh rendah, merasakan getaran suara suaminya yang menggelitik. Ia menepuk pelan pundak kokoh Edgar yang telanjang. "Selamat pagi, Mas. Ternyata seorang Tuan Besar Edgar Addison bisa bangun kesiangan juga jika sedang berlibur."
Edgar mendongak sedikit, menyandarkan dagunya di atas dada Gaby, menatap istrinya dengan seringai tampan yang sangat memikat. Tatapan "bucin" yang semalam sempat membuat Gaby terharu kini kembali hadir dengan intensitas yang jauh lebih pekat.
"Bagaimana aku bisa bangun pagi jika bantal terbaik dan paling nyaman di dunia ini ada di bawah kepalaku?" balas Edgar merayu, mengedipkan sebelah matanya yang membuat debaran di dada Gaby kembali menggila. Ia meraih tangan Gaby, membawa jemari yang melingkar gelang berlian itu ke bibirnya, lalu mengecup punggung tangan istrinya dengan sangat lama. "Bagaimana tubuhmu, Sayang? Ada yang terasa sakit? Maafkan aku jika semalam aku terlalu..."
"Mas Edgar!" potong Gaby cepat, wajahnya kini sudah merah padam sempurna. Ia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya yang bebas karena tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat suaminya yang teramat frontal pagi-pagi begini.
Edgar tertawa rendah, sebuah tawa kepuasan maskulin yang terdengar begitu renyah memenuhi keheningan kamar. Ia menyingkirkan tangan Gaby yang menutupi wajah cantiknya, lalu menggantinya dengan sebuah kecupan singkat namun dalam di bibir manis istrinya.
"Aku hanya mengkhawatirkan keadaan istriku, Gaby. Tidak ada yang salah dengan itu," ucap Edgar lembut, tatapan matanya berubah menjadi teramat dalam dan penuh pemujaan. Ia mengusap pipi Gaby yang masih bersemu merah. "Semalam adalah malam terbaik dalam hidupku, Gaby. Terima kasih karena sudah memercayakan dirimu seutuhnya kepadaku."
Mendengar penuturan tulus Edgar, rasa malu Gaby perlahan memudar, digantikan oleh kehangatan yang menjalar di dadanya. Ia menurunkan tangannya, menatap sepasang mata elang suaminya dengan binar cinta yang tidak lagi ia sembunyikan.
"Aku yang harus berterima kasih, Mas," bisik Gaby lirik, menyunggingkan senyuman termanisnya. "Terima kasih karena sudah bersabar menungguku, dan terima kasih karena sudah menjagaku dengan begitu lembut semalam. Aku... aku merasa sangat utuh sekarang."
Edgar terdiam sejenak, menatap lekat-lekat senyuman di bibir Gaby. Jiwa matangnya bergetar hebat melihat kebahagiaan murni yang terpancar dari wajah istrinya. Detik itu juga, Edgar bersumpah di dalam hatinya bahwa ia akan melakukan apa saja menghancurkan siapa pun yang berani mengusik senyuman itu dari wajah Gaby ke depannya.
Pria yang dulu dikenal berdarah dingin dan hanya peduli pada angka-angka kejayaan korporasi, kini telah benar-benar bertekuk lutut, menjadi budak cinta dari seorang wanita bernama Gaby. Kebucinan Edgar bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas mutlak yang akan mengendalikan setiap langkah hidupnya mulai hari ini.
"Hari ini aku membatalkan seluruh agenda keluar kamar kita, Gaby," ucap Edgar tiba-tiba, menaikkan kembali selimut bulu angsa mereka hingga menutupi bahu Gaby.
"Lho, kenapa, Mas? Bukankah hari ini kita berencana pergi ke Museum Louvre?" tanya Gaby heran.
Edgar kembali merebahkan tubuh besarnya di samping Gaby, menarik istrinya masuk ke dalam pelukan eratnya yang hangat, menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidangnya sendiri.
"Louvre tidak akan lari ke mana-mana, Sayang. Tapi momen pagi seperti ini, di mana aku bisa memelukmu tanpa gangguan sepeser pun dari dunia luar, adalah kemewahan tertinggi yang tidak ingin kubagi dengan siapa pun," jawab Edgar posesif, mengecup pucuk kepala Gaby berulang kali. "Kita akan menghabiskan sepanjang hari ini di atas ranjang ini, memesan layanan kamar, dan membiarkan seluruh Paris tahu bahwa Nyonya Besar Addison sedang sibuk bermanja-manja dengan suaminya."
Gaby tersenyum lebar di dalam dekapan hangat Edgar, melingkarkan kedua tangannya di pinggang kokoh suaminya. Rasa takut akan kehilangan yang sempat menyergapnya semalam kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh keyakinan mutlak bahwa selama ia berada di dalam dekapan pria mahal ini, ia telah menemukan pelabuhan terakhirnya sebuah tempat di mana ia tidak hanya dicintai, melainkan ditinggikan dan diratukan sepanjang sisa hidupnya. Di bawah pendar fajar Paris, kisah baru mereka telah diukir dengan tinta emas yang abadi.