Arella atau sering dipanggil Arel adalah siswi tercantik disekolahnya. Banyak sekali cowok tampan yang berbaris ingin menjadi kekasihnya. Namun, entah seperti apa tipe cowok yang disukai oleh Arel. Sejauh ini Arel tidak tertarik pada cowok manapun.
Bahkan Rey saja yang gantengnya luar biasa dan menjadi pangerannya para siswi disekolahnya, ia tolak begitu saja. Selama ini Arel tidak pernah jatuh cinta pada cowok. Entahlah, tidak ada cowok yang menarik perhatiannya sejauh ini.
Sehingga suatu hari, disekolahnya kedatangan siswa transfer dan kebetulan satu kelas dengannya. Awalnya ia biasa saja pada siswa pindahan itu. Namun, semakin Arel sering bertemu dan berbicara dengannya hatinya mulai tergerak dan luluh.
Apakah siswa baru itu adalah tipe yang Arel suka?
Memangnya seperti apa sih tipe cowok yang disukai oleh Arel?
penasaran? Yuk, mampir! Kali aja minat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbuhnya benih cinta
Ketika cinta datang, mereka seolah terhipnotis oleh sesuatu yang indah. Sesuatu yang tidak terlihat tapi, bisa membuatmu seolah terbang tanpa sayap. Sesuatu yang mendebarkan hatimu, membuatmu merasa malu dan membuatmu bahagia. Cinta adalah sesuatu yang sangat kuat. Hal yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Seperti apapun orangnya, seperti apa rupanya. Jikalau hati sudah terjerat dan menjadi sebuah nama cinta. Mereka akan terlihat begitu indah dimata kita.
Hasrat untuk memiliki, usaha untuk melindungi, menerima apa adanya. Percaya dan memahami satu sama lain. Itu adalah cinta yang sebenarnya. Seperti yang kini Arel rasakan. Cinta itu kini telah menjerat hatinya untuk seorang lelaki yang bernama Satrya El. Sosok yang bahkan belum ia kenal lama. Tapi, sosok itu mampu menjatuhkan hatinya, dan menjeratnya dalam cintanya. Hati yang bahkan mulanya tidak tertarik pada lelaki manapun. Bahkan lelaki tampan, keren dan tajir seperti Reyan Dirgadana yang sudah lama ia kenal.
Karena itulah, cinta bukan rencana. Ia terikat oleh takdir. Cinta hadir disaat ia sudah menemukannya. Sebuah kata yang sulit dijelaskan, yang sulit untuk dipahami. Tapi setiap orang merasakan betapa kata itu terasa sangat luar biasa.
"Inikah cinta itu?" ucap Arel dengan senyum yang tidak kunjung meredup. Dalam otaknya terus terlukis wajah dan senyum Satrya. Wajahnya bersinar, jantung tidak berhenti berdegup setiap kali ia memikirkannya.
"Aarrggghhh!! Aku pasti sudah gila!" serunya mulai mengacak-acak rambutnya. Lalu, menekan kedua pipinya dengan kedua tangannya.
"Ini tidak boleh terjadi. Mungkin sedikit olahraga bisa membantu mengalihkan pikiranku," gumamnya bangkit berdiri dan melakukan beberapa gerakan olahraga ringan.
¤☆¤
Hal yang sama kini terjadi pada Satrya EL. Ia begitu bahagianya sehingga berjingkrak-jingkrak dan berjalan sambil menari disepanjang perjalanan rumah. Jika kalian menganggap Satrya memiliki sifat dingin, kalian salah. Dia bukan orang yang suka terlihat sok keren atau jaim. Terkadang ia selalu melihat situasi saat ia harus bersikap.
Langkah Satrya terhenti, ketika ia melihat sosok Devina tengah berjalan berlawanan arah denganya. Satrya tersenyum lebar melihat Devina. Dengan hati yang gembira dan wajah cerah, ia pun menghampiri Devina dengan riang.
"Devina!" panggilnya sambil berjalan kearahnya.
"Oh, Satrya? Oo.. Wajahmu terlihat ceria! Ada apa?" tanya Devina penasaran apa yang membuat Satrya tampak begitu senang.
"Rencanamu sungguh berhasil. Arel sudah memaafkanku," balas Satrya begitu senang terdengar ditelinga Devina.
"Benarkah? Itu bagus dong! Artinya, kamu harus mentraktirku!" seru Devina, selalu saja meminta balasan untuk setiap bantuannya.
"Aeh! Apa sekarang kamu memerasku?" sahut Satrya raut wajahnya langsung memucat.
"Hei, aku tidak memerasmu. Aku kan sudah membantumu, jadi aku hanya meminta balasan. Itu saja."
"Cihhh..! Berarti kamu sama sekali gak ada niat yang ikhlas membantuku. Sama teman sendiri gitu amat! Tapi, yasudahlah. Aku akan mentraktirmu, karena bantuan darimu berhasil. Ayo!" seru Satrya merangkul Devina pergi bersamanya.
Sungguh Devina dibuat gugup dengan sikap akrab yang Satrya tunjukkan padanya. Dan itu membuat jantung Devina berdegup kencang. Dari awal ia memang menyukai Satrya, dan sekarang Satrya malah menjebak hati Devina untuk lebih dekat lagi dan mengunci rapat.
"Jadi, kamu mau makan apa?" tanya Satrya.
"Mmmm... Bagaimana kalau bakso saja? Lebih murah juga lebih mudah dicari."
"Yakin? Kamu gak mau makan yang mahal? Seperti direstaurant mungkin?"
"Aku gak sejahat yang kamu kira, Satrya! Aku kan baik hati, jadi aku akan sedikit meringankan bebanmu. Jika aku meminta makan direstaurant terus kamu gak punya uang, nanti siapa juga yang repot?"
Satrya tertawa kecil mendengarnya. Lalu ia mencubit pelan hidung Devina. "Hei, kamu sedang apa? Aku sulit bernafas tahu!"
"Devina, kau memang gadis yang baik. Karena begitu, lain kali aku akan mengajakmu makan direstaurant yang mahal. Aku janji."
Devina tidak bisa mengontrol detak jantungnya kini.
Ia merasa tersipu malu dengan sikap Satrya padanya. Satrya membuat dua hati terjerat dalam cintanya.
¤☆¤
Langit telah menghitam. Rembulan telah menunjukkan sinarnya. Ditemani para kelap kelip gemintang yang penuh dengan gemerlap. Arel kini terduduk dimeja belajarnya. Mungkin matanya menatap buku yang terbuka. Tapi pikirannya berada ditempat lain. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa fokus dengan belajarnya karena memikirkan seseorang. Ternyata jatuh cinta pun bisa mengganggu aktivitas belajarnya.
"Arel sayang!" panggil Amelia menyadarkan Arel dari angan-angannya.
"Iyah, Bun! Ada apa?"
"Makan malam sudah siap!"
"Iyah, Bun."
Arel bergegas menuju meja makan. Dan melihat hidangan yang sudah tersaji dimeja dengan rapih. Ada goreng ikan, dadar telur dan sayur bayem. Arel tidak pernah pilih-pilih makanan. Apapun yang tersaji dimeja makan, ia pasti menyukainya.
"Tumben, banyak sekali menu makan malam hari ini," ucap Arel.
"Iyah, Bunda sengaja. Karena hari ini, Bunda bertemu dengan klien yang sangat baik."
"Ohh.. Kalau begitu. Seharusnya Bunda mengajakku makan diluar dong!" goda Arel.
"Aeh! Bunda gak punya uang! Makan saja yang ada disini!" balas Amelia geram.
"Arel bercanda Bun. Tapi setidaknya, Bunda harusnya membuat sop iga sapi untuk merayakannya. Bukannya malah sayur bayem."
"Aeh aeh! Sekarang kamu jadi pemilih seperti ini! Cepat makan!"
Arel tersenyum. "Ia Bunda. Jangan marah-marah terus dihari yang baik ini."
"Hari yang baik? Memangnya hal baik apa yang kamu dapatkan hari ini?"
Mendapat pertanyaan itu, Arel langsung tersedak saat melahap suapan pertamanya. Ia pun langsung mengambil air minum dan meneguknya hingga habis.
"Makannya, baca doa sebelum makan."
"Oho.. Oho! Iyah Bunda."
Arel tidak berani menceritakan tentang Satrya pada Amelia. Ia masih belum yakin dan juga sangat malu jika sampai Bundanya tahu tentang perasaanya. Arel berniat akan memberitahu Bundanya, jika ia sudah benar-benar yakin dan pasti. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk jujur pada Bundanya tentang perasaannya pada Satrya.
Telepon Amelia berdering ditengah-tengah aktivitas makan mereka. Segera Amelin menghentikan aktivitasnya saat ini dan beranjak bangun untuk mengangkat telepon. Ternyata dari Bryan Metra.
"Iyah, hallo Metra. Ada apa?"
"Maaf, apakah anda mengenal pria yang punya ponsel ini?"
"Maaf, ini dengan siapa yah?"
"Saya dengan Farhan. Pria yang punya ponsel ini mengalami kecelakaan. Dan kini dia sedang ditangani oleh dokter. Saya tidak tahu harus menghubungi siapa. Jadi saya menghubungi nomor yang dinamai "sayang" dikontaknya. Saya pikir mungkin anda istrinya," terang dari sebrang telepon.
Amelia terkejut dan terbelalak kaget mendengar kabar Metra. Tiba-tiba matanya basah dan berarir.
"Saya akan kesana. Bisa tolong kirimkan lokasi rumah sakitnya?"
"Baiklah, Mbak saya akan kirimkan."
"Terimakasih."
Amelia pun menutup teleponnya. Dan tidak lama sesaat setelah itu pesan sms masuk. Pesan alamat lokasi rumah sakit dimana Metra sekarang sedang berjuang melawan kematian.
"Ada apa, Bun?"
"Bunda harus pergi kerumah sakit. Om Metra, dia kecelakaan."
"Apa? Kalau begitu Arel ikut yah, Bun?"
"Baiklah. Ayo!"
Mereka pun bergegas melaju dan menancap gas menuju rumah sakit. Amelia tampak terguncang dengan kabar yang didapatnya tentang Metra. Bisa Arel lihat kecemasannya dan kegelisahannya terhadap Metra dari sorotan matanya dan disetia air matanya yang terjatuh. Tangannya yang gemetar dan nafasnya yang memburu tidak beraturan. Seolah kecelakaan Metra telah menyakiti seluruh tubuhya, dan juga hatinya saat ini.
Seperti inikah cinta? bathin Arel.
by the way..... thank you so much thor.....
😍😍😍😍😘😘😘😘😘