Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Salah paham
“Non, marah ya sama Bibi?” Bik Ani berjalan menghampiri Ana yang berdiri bersandar pada dinding tembok dapur yang menghadap ke arah taman belakang rumah. “Maafkan Bibi ya, Non. Gara-gara Bibi, Non bertengkar lagi dengan tuan.” Ucapnya penuh penyesalan.
Ana menghela napas, memutar tubuh menghadap bik Ani. Tangannya terulur begitu saja memeluk wanita itu. “Aku gak marah sama Bibi. Lagi kesel aja sama Tuan.”
Mana bisa Ana marah sama bik Ani. Wanita yang begitu baik padanya, yang memperlakukan dirinya layaknya anak sendiri. Di rumah ini selain papa Fitra, bik Ani adalah orang yang peduli pada nasibnya sejak lama. Mengingat itu, Ana makin mempererat pelukannya.
Bik Ani tertawa pelan. “Sabar ya, Non. Kalau tuan emosi, Non jangan suka ambil hati. Biarkan tuan ngoceh, lama-lama juga diam sendiri.”
Ana menyandarkan dagunya di ceruk leher bik Ani yang balas memeluknya sambil mengusap-usap punggungnya. “Peluk Aku, Bik. Aku kangen disayang sama Bibi.” Rengek Ana. Ia memejamkan matanya, meresapi usapan lembut penuh kasih sayang tangan bik Ani di punggungnya.
Merasa lebih tenang, Ana melepaskan pelukannya. Ia kemudian membantu pekerjaan bibi di dapur. Setelah bicara dengannya tadi, Hugo kembali ke kantornya lagi dan belum kembali hingga menjelang malam.
Sudah hampir jam setengah delapan malam, namun Hugo juga tamu yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Meja makan sudah siap dan dipenuhi berbagai jenis masakan, olahan tangan bik Ani. Menurut bik Ani, Hugo dan tamunya sedang dalam perjalanan.
Ana duduk di balkon atas, sambil menikmati pemandangan langit malam. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun yang lebih santai, sederhana namun terlihat begitu manis saat ia memakainya.
Tak berapa lama terdengar derum suara mobil memasuki halaman rumah, Ana mengawasi dari lantai atas. Tampak Hugo turun dari mobil. Ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk kedua orang tamunya.
Seolah merasa diperhatikan, Hugo mengangkat wajahnya. Pandangan keduanya bertemu, untuk sesaat lamanya Ana terpaku menatap penampilan Hugo yang kelihatan begitu tampan dengan jas lengkap yang dikenakannya. Suara manja yang terdengar berikutnya berhasil mengalihkan perhatian Ana. Ia langsung memalingkan muka begitu melihat Livia keluar dari mobil dan langsung menggandeng mesra lengan Hugo.
Ana turun ke lantai bawah, dilihatnya Hugo dan tamunya sudah duduk bersama di meja makan. Ana berjalan menyelinap menuju dapur dan segera bergabung dengan bik Ani. Ia membantu wanita itu menyajikan makanan ke meja.
Livia langsung bersuara melihat kehadiran Ana di dekatnya. Ia dengan sengaja memerintahkan Ana untuk melayaninya makan layaknya seorang putri. Seolah tak senang melihat Ana hanya berdiam diri, Livia kembali menyuruh Ana melakukan perintahnya. Sementara sang mama memilih menikmati makan malamnya sambil terus tersenyum melihat tingkah manja putrinya.
“Ana, sepertinya sup ini mulai dingin. Bisa Kau hangatkan lagi untukku?”
“Siap, Nona. Akan Aku hangatkan lagi untuk Nona, permisi.” Ana mengambil mangkuk sup di atas meja dan membawanya ke dapur, tak lama kemudian ia kembali lagi dengan sup yang sudah dipanaskan.
Ana kesusahan membawa mangkuk panas di tangannya, dan hampir saja tumpah mengenai lengannya. Melihat itu spontan Hugo berdiri ingin membantu, lagi dan lagi Livia menahannya dan menariknya duduk kembali. Syukurlah Ana berhasil melakukan tugasnya tanpa mencederai tubuhnya sendiri.
“Aku dengar di rumah ini banyak terdapat tanaman stroberi.” Livia mulai mengedarkan pandangannya, lalu tersenyum lebar melihat buah yang dimaksud berada di dalam wadah di atas meja bulat. Ia mengarahkan telunjuknya dan meminta Ana mengambilkannya untuknya. “Anaa!”
“Ya, Nona.” Ana menurut, ia melakukan apa yang diperintahkan Livia padanya.
“Terima kasih,” ucap Livia dengan gaya mengejek. Ana diam saja, mencoba bersabar. Berusaha menahan diri dengan tidak membuat keributan, meski hatinya kesal setengah mati atas sikap berlebihan yang ditunjukkan Livia padanya.
“Anaa!”
“Cukup Livia!” sentak Hugo, ia membanting serbet miliknya ke atas meja. “Ana, kembali ke kamarmu sekarang! Dan panggil bik Ani untuk menggantikanmu,” perintahnya kemudian.
“Baik, Tuan.”
Ana menghela napas lega, akhirnya laki-laki itu bersuara juga. Ana pikir Hugo akan terus diam saja melihat tingkah Livia yang semakin lama semakin menyebalkan. Ana bergegas ke dapur untuk menemui bik Ani. Sempat didengarnya Livia mengajukan protes, tapi Hugo tak menggubrisnya.
Makan malam itu berakhir dengan cepat, wajah kesal Livia masih tergambar jelas. Ia menurut ketika diajak Hugo bicara di ruang kerjanya, di sana ia masih kesal dan kembali menanyakan sikap Hugo padanya tadi.
“Kamu marah sama Aku, Kamu gak suka kalau Aku suruh-suruh Ana? Kenapa? Bukannya dia karyawan di rumah ini?”
“Kau tidak bisa melakukan itu pada Ana. Dia asisten pribadiku, bukan pelayan di rumah ini.” Tegas Hugo pada Livia.
“Lalu apa bedanya kalau Aku sekarang memintanya melakukan apa yang Aku perintahkan tadi? Toh kita juga akan segera bertunangan dan menikah nanti, Ana asistenmu juga akan menjadi asistenku nanti?”
“Livia, Kau salah mengartikan sikap baikku selama ini padamu.” Hugo mengembuskan napas kasar, ia tak mengira Livia akan berpikir sejauh itu. “Aku tidak akan menikah denganmu, karena Aku sudah memilik seseorang yang akan menghabiskan hari-harinya bersamaku sampai akhir hidup kami.”
Ana yang hendak kembali ke kamarnya tak sengaja mendengar pembicaraan Hugo dan Livia, ia berdiri sejenak untuk mendengarkan dan terkejut mengetahui niat Livia sebenarnya pada Hugo. Lebih terkejut lagi saat mendengar ucapan terakhir Hugo.
“Siapa wanita itu?!”
Ana terkesiap ketika melihat Livia keluar dari ruang kerja Hugo dengan wajah penuh kemarahan, hampir saja Ana ketahuan menguping kalau saja ia tidak segera bersembunyi. Ana mengusap da danya, meredakan debur jantungnya yang berdetak lebih cepat. Ia menatap punggung Livia yang berjalan menjauh dengan langkah lebar.
“Ana, apa yang Kau lakukan di sana?” Hugo mengerutkan keningnya, merasa aneh melihat Ana bersembunyi di tempat itu. “Hei, apa Kau menguping pembicaraan kami?”
“Ssttt!” Ana menempelkan telunjuk ke bibir, memberi isyarat pada Hugo untuk diam. Lelaki itu menaikkan satu alisnya seraya menggerakkan jemarinya mengikuti gerakan yang dilakukan Ana.
Ana tersadar, wajahnya seketika merona. Ia meringis dan cepat-cepat menjauh dari hadapan Hugo. Tapi Ana kalah cepat, gerakan tangan Hugo sudah lebih dulu menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Mau pergi ke mana, kamarmu letaknya di sebelah sana.”
Ana mendelik kaget, dan itu terlihat jelas dari wajahnya. Hugo tersenyum melihatnya, ia bahkan belum melepas pegangan tangannya. “Kenapa Tuan malah $enyum-senyum?”
Hugo membawa Ana duduk di sofa, ia masih belum melepaskan pegangan tangannya dan menatap wajah Ana lama. “Kenapa Kau mau-mau saja disuruh-suruh Livia tadi? Kau bisa saja menolak perintahnya, tapi tidak Kau lakukan.”
“Aku berusaha bersikap ramah terhadap tamu Tuan yang datang ke rumah ini. Meski sikapnya sedikit menyebalkan, tapi apa yang ia minta masih sangat wajar.” Ungkap Ana, tidak berniat membela Livia atau membuat Hugo terkesan padanya. Sama sekali tidak.
Sebenarnya sulit untuk melakukan hal itu saat ia harus berhadapan langsung dengan dua orang tamu Hugo yang datang dengan membawa sikap permusuhan yang jelas sekali ditujukan padanya. Tapi Ana berusaha melakukannya, seperti permintaan Hugo padanya.
“Livia salah paham, dia pikir Aku akan menikah dengannya.”
“Salah paham? Maksud, Tuan?” Ana menolehkan wajahnya, Hugo lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya.
“Aku katakan Aku sudah punya seseorang yang akan Aku nikahi,” kata Hugo lembut sambil menatap Ana lekat. “Kau sangat tahu siapa orangnya.” Jemari tangan kuat itu bergerak menyentuh rambut panjang Ana, menyelipkan helai yang menutupi sebagian pipinya ke balik telinga Ana.
Wajah Ana memanas, dadanya berdesir aneh merasakan kelembutan sikap Hugo padanya. “Apa wanita itu sudah memutuskan akan menikah dengan Tuan?” tanya Ana dengan suara bergetar.
“Aku sedang berusaha meyakinkan dirinya, membuatnya percaya dan memberikanku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan padanya kalau Aku serius ingin menikah lagi dengannya.”
Sebelum Ana menyadari apa yang terjadi selanjutnya, Hugo sudah menarik pinggangnya dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arahnya. Lelaki itu melabuhkan bibirnya di kelembutan bibir Ana, menangkup wajahnya agar tak berpaling darinya. Ana tak kuasa menolak, ia seolah terbius dengan apa yang dilakukan bibir Hugo.
“Kalian! Apa yang kalian lakukan di sini?!”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹